Senin, 04 Januari 2010

Sebuah Amanat

Dahulu kala hiduplah seorang nelayan yang sangat miskin, dia berada di tengah-tengah perkampungan Bani Israel yang terkenal bersikap patuh terhadap tuntunan kitab Taurat yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. Hidupnya kian hari kian berat dirasa. Sanak saudaranya seakan membiarkan begitu saja kehidupannya yang serba compang-camping ini. Padahal Hari Raya sebentar lagi akan tiba. Maka terbayanglah pakaian anak-anaknya yang belum berganti itu. Makanan apa pula yang harus dipersiapkan untuk menghadapi hari libur total itu kalau uang saja hanya cukup untuk dimakan setiap hari tanpa ada sisa, bahkan sering mengutang pula. Maka jalan satu-satunya adalah mencari pinjaman pada seorang karib yang jauh di seberang sana. Kawan itu terkenal sebagai tukang kayu yang sukses. Kehidupannya bagaikan bermandi uang. Itulah roda kehidupan, dimana pada sekali waktu seseorang dalam keadaan murah rizkinya. Namun di saat yang lain terkadang garis hidupnya harus berlawanan apa yang telah dijalani semula. Namun dalam hidup ini, mereka yang kesulitan tidaklah akan terus dalam kesulitan. Sedangkan yang bahagia juga tidak akan selamanya bahagia.
Fa inna ma’al ‘Usri Yusron Inna Ma’al ‘Usri Yusron
(badai pasti berlalu)
Maka pak Nelayan tadi dengan terpaksa akhirnya harus bertandang ke rumah karibnya untuk meminjam uang seribu dinar. Ternyata nasib baik masih mau menyertai dirinya. Karibnya itu bertepatan ada di rumah dan mempunyai simpanan uang yang cukup, sehingga ketika pak Nelayan itu mengutarakan maksud kedatangannya, segera saja dia berkenan memberi pinjaman. Namun demi bersikap hati-hati, karibnya itu mengatakan:
“Adakah kau membawa dua orang saksi yang akan menjadi saksi terhadap peminjaman ini, kawan?.”
“Oh, saya kira Allah akan cukup sebagai saksi mengenai transaksi ini,” begitu jawab pak nelayan.
“Mungkin kau memberikan suatu jaminan ?,” tukas si tukang kayu pula.
“Allah cukup sebagai jaminan aktivitas kita,” begitu jawab pak Nelayan.
“Kau memang benar kawan,” sambung karibnya pula.
Keduanya betul-betul telah bertawakal kepada Allah dan berserah diri bulat-bulat kepada-Nya. Maka setelah berbincang-bincang begitu lama sambil menikmati kudapan yang telah disediakan oleh isteri karibnya itu, pak Nelayan pun segera berpamitan pulang dengan menaiki sampannya dengan berhias wajah ceria dan percaya diri dalam menghadapi Hari Raya yang akan segera datang.
Setelah Hari Raya berlalu, dan ikan di laut pun sudah musimnya panen. Pak Nelayan kali ini betul-betul meraup keuntungan yang sama sekali tidak diduga. Hasil perharinya saja berlipat dua sampai tiga kali dari pada hari-hari biasa. Hasil jerih payahnya itu setiap hari pun dikumpulkan untuk melunasi hutangnya dengan segera agar tidak menjadi beban hidup dan menguruskan badan.
Setelah uang sudah terkumpul seribu dinar, sang Nelayan segera pergi ke tepi pantai dengan maksud bertandang ke rumah karibnya itu untuk membayar hutang. Namun rencana tinggal rencana. Ombak lautan kali ini betul-betul membahayakan, padahal tidak ada jalan darat yang menuju rumah karib itu. Pak Nelayan hanya termenung dan bersusah hati, jangan-jangan karibnya begitu mengharapkan pembayaran hutang itu. Apa lagi hutang itu memang telah jatuh tempo, dan dia tidak sudi jika sampai mendapat predikat pengkhianat. Kepalang basah untuk kembali membawa uang ke rumah lagi. Akhirnya dia nekad mengambil sebatang kayu kemudian dibelah dua, dimana uang seribu dinar itu di taruh sedemikian rupa di antara belahan kayu itu, lantas dia membuat surat untuk karibnya itu yang diselipkan bersama uang tadi. Yang terakhir kayu belahan itu di rapatkan kembali dan diikat kuat, setelah itu dia segera menuju tepi laut seraya mengatakan:
“Ya Allah!, Engkau telah mengetahui terhadap utangku dahulu, dimana karibku itu meminta saksi dan jaminan. Ketika itu aku katakan bahwa Engkau sudah cukup sebagai saksi dan jaminan. Ternyata dia pun menerima dengan senang hati. Namun sekarang aku menemui kesulitan untuk bertandang pada karibku itu. Untuk itu uang ini aku titipkan kepada-Mu, ya Allah, sampaikanlah kepada karib yang baik itu .”
Setelah ucapan do’a selesai, dia segera melemparkan batang kayu itu ke laut disertai dengan bertawakal kepada Allah, kemudian beranjak pulang untuk segera beristirahat dari penatnya.
Beberapa hari kemudian, si karib itu betul-betul mengharapkan kehadiran sang Nelayan tadi, karena memang kebutuhan rumah tangganya sudah cukup mendesak. Berkali-kali dia keluar rumah, siapa tahu karibnya itu datang membayar utang yang telah dipinjamnya.
Maka ketika di pagi yang sangat cerah, ia sengaja pergi ke pantai untuk menikmati pemandangan indah samudera sambil mencari kayu sebagai bahan meubeler yang menjadi pekerjaannya. Tiba-tiba saja dia melihat sebatang kayu agak besar yang menepi. Maka kayu itu segera dipungut dan dibawa pulang. Namun alangkah terperanjatnya, ketika kayu itu dilepas ikatannya ternyata berisi uang seribu dinar dan surat dari sang Nelayan yang menyatakan bahwa uang itu sebagai pembayaran hutangnya. Karib itu heran yang tiada habis-habisnya, betapa sumpah yang telah diikrarkan kedua belah pihak dalam transaksi dahulu begitu mujarab.
Beberapa minggu kemudian, sang Nelayan pun segera bertandang ke rumah karibnya itu dengan membawa uang seribu dinar lagi, karena dia tidak yakin bahwa uang yang dihanyutkan dahulu akan sampai pada karibnya. Setelah keduanya dapat bertemu, segera saja masing-masing menceritakan pengalamannya yang aneh itu. Keduanya lantas berpelukan dan memuji syukur kepada Allah atas bukti yang telah menambah tebal iman mereka. Tidak lupa keduanya pun bersujud untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang begitu besar tercurahkan pada diri mereka.



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar