Senin, 04 Januari 2010

Meniru Perilaku Anjing

Dikisahkan bahwa guru Al-Junaidi yang bernama Ibnul Karibi pernah diundang seseorang pada suatu hajatan. Namun ketika Al-Karibi telah datang, lelaki itu selalu beralasan bahwa jam undangannya dirobah. Terpaksa Ibnul Karibi pulang kembali. Hal itu berlangsung sampai tiga kali. Baru pada kali yang keempat, lelaki itu mempersilahkan Al-Karibi untuk duduk.
Ternyata ketika tuan rumah mengetahui kesabaran Al-Karibi, dengan segera ia menciumi telapak kakinya seraya menumpahkan tangis yang sedalam-dalamnya setelah mengetahui kesabaran sang guru itu.
“Mengapa tuan bertindak begitu arif ketika saya perlakukan tidak layak tadi,” begitu tanya si tuan rumah setelah menyeka air matanya.
“Aku telah berusaha untuk memberi pelajaran pada nafsuku agar selalu merendah. Hal itu telah berjalan selama dua puluh tahun sehingga sekarang menjadi sebuah sikap sebagaimana apa yang kau lihat sendiri, ia laksana seekor anjing. Nafsuku itu akan segera beranjak pergi jika saja diusir, dan juga akan segera mendekat jika saja dipanggil. Dengan demikian jika saja kau memanggilku lima puluh kali, kemudian kau usir lima puluh kali pula, kemudian kau panggil lagi, maka aku tetap akan memenuhi panggilanmu, aneh.”
Pernah pula Ibnul Karibi singgah di suatu desa, namun tiba-tiba saja penduduk desa itu menyambut dengan begitu hormat sehingga beliau disibukkan oleh berbagai seremonial yang dipandangnya sangat memuakkan. Hal ini yang membuat hati beliau tersiksa. Maka segera saja beliau memasuki pemandian umum, kemudian mencuri sehelai baju yang sangat bagus dan segera dikenakan, kemudian ditutupi dengan bajunya sendiri. Maka melangkahlah ia dengan berjinjit sedikit demi sedikit berlagak sebagai pencuri profesional. Keruan saja orang-orang kampung segera menangkapnya kemudian dipermak begitu rupa sampai babak belur. Akhirnya beliau dikenal masyarakat sebagai pencuri. Barulah pada tahap yang demikian ini nafsunya bisa tenang, tidak bergejolak dan merajuk lagi.
Demikian para auliya’ Allah dalam memberi pelajaran kepada nafsunya sehingga Allah memalingkan mereka dari pandangan dan pujian para makhluk, kemudian berpaling pula dari nafsunya sendiri. Sikap seperti itu akhirnya bisa membentuk sebuah jiwa yang selalu memandang kepada Allah. Sedangkan nafsu dan makhluk telah menyingkir darinya sehingga tidak ada lagi penghalang antara dia dengan Sang Pencipta, begitu dekat.
Rasulullah mengatakan :
Barang siapa beramal selama empat puluh hari secara ikhlas, maka hatinya akan menjadi sumber hikmah yang akan selalu tampak pada ucapannya (HR. Ibnu Adiy dari Abu Musa).



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar