Minggu, 03 Januari 2010

Rasulullah Saw Menggigit Punggung Wanita

Rasulullah Saw Menggigit
Punggung wanita


Nama sebenarnya adalah Hunfa, tapi orang lebih mengenalnya sebagai Assyaimaa' binti Al-Harits. Ia adak putri sulung A1-Harits yang beristrikan Halimah As Sa'diyah. Halimah As Sa'diyah tercatat dalam sejarah sebagai wanita yang menyusui Rasulullah Saw. Dengan demikian, Assyaima’ adalah saudara susu Rasulullah.
Saat bayi Muhammad dibawa oleh Halimah ke rumah mereka, Assyaimaa' menyambutnya dengan gembira. Bayi itu telah membuatnya jatuh hati sejak pertama memandangnya. Cerita ibunya tentang keajaiban yang dialaminya dalam perjalanan membawa anak itu membuat Assyaimaa' semakin menyayangi bayi tampan itu.
Setiap hari Assyaimaa' membantu ibunya mengasuh bayi itu dan mencukupi segala keperluannya. Itu semua dilakukannya dengan senang hati. Kehidupan Asyaimaa' dan keluarganya membaik sejak kehadiran bayi Muhammad di tengah-tengah mereka. Mereka hidup berkecukupan dan tentram. Hari demi hari berlalu, bayi itu tumbuh menjadi anak kecil yang menyenangkan. Semakin hari, rasa kasih sayang di dalam hati Assyaimaa' semakin besar. Sampai akhirnya, tiba saatnya untuk berpisah dengan adik kecil yang sangat dicintainya. Pada usia dua tahun, Muhammad harus dikembalikan kepada orang tuanya di Mekah. Assyaima’ melepas kepergian Muhammad dengan sedih. Tetapi kesedihannya tidak berlangsung lama. Ketika ibunya kembali, ternyata Muhammad juga kembali bersamanya. Keluarga Muhammad memutuskan untuk memperpanjang masa pengasuhan. Ia merasa sangat gembira. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya sangat menyayangi Miuhammad. Barangkali karena keberkahan yang dibawanya untuk keluarga Assyaimaa' atau karena cahaya yang selalu memancar dari wajahnya.
Suatu ketika, Abdullah, adik Assyaimaa' pulang sambil berteriak-teriak memanggil kedua orang tuanya untuk menolong Muhammad. Menurut Abdullah, dua orang lakilaki berbaju putih telah datang dan menangkap Muhammad. Mereka melakukan sesuatu atas dirinya. Assyaimaa' dan ibunya segera berlari menuju ke tempat Muhammad berada. Di sana mereka menjumpai Muhammad dalam keadaan pucat dan lemah. Muhammad kemudian bercerita bahwa telah datang dua orang berbaju putih yang membelah dadanya. Assyaima’ dan ibunya terkejut namun mempercayainya, sebab mereka tahu Muhammad tidak pernah berdusta.
Sejak itu, kekhawatiran akan tejadi apa-apa pada diri Muhammad menerpa Assyaimaa' dan keluarganya. Akhimya, mereka memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada keluarganya. Asyaima’ dengan berat hati terpaksa merelakan kepergian Muhammad. Kali ini ia mengetahui bahwa Muhammad tidak akan pemah kembali lagi ke tengah-tengah keluarga mereka. Ia akan kehilangan bocah kecil yang sangat disayanginya itu untuk selamanya.
Waktu berlalu dengan cepat. Muhammad kecil yang dulu diasuh Assyaimaa' dengan penuh kasih sayang telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang utusan Allah SWT. Kenabian dan dakwah Muhammad Saw mendapat perlawanan dari orang-orang kafir. Hijrahnya Rasulullah Saw serta berbagai pertempuran yang dialaminya tidak pernah luput dari perhatian Assyaimaa' Ia selalu mengikuti berita tentang adik tercintanya. Pada tahun kedelapan hijrah, kabilah Assyaimaa' bersatu dengan kaum Quraisy dalam memerangi kaum Muslimin. Sebagian anggota kabilah Assyaimaa' berhasil ditawan oleh kaum Muslimin, termasuk Assyama'. Saat bertemu dengan Rasulullah Saw, segera Assyaima’ berteriak," Wahai Rasulullah!, ini Huzafah binti Al-Haris, saudaramu..."
Mendengar suara Assyaima’, Rasulullah menghampirinya. Tetapi ia sudah tidak mengenalnya lagi. Karena itu Rasulullah saw bertanya, "Apa tandanya? Terangkanlah!”
“Kau tidak ingat, kau pernah menggigit punggungku saat aku menggendongmu dulu," jawab Assyaima'. Rasulullah Saw tertawa mendengar jawabannya dan kemudian membebaskannya.
Assyaimaa' menyatakan keimanannya di hadapan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memberi hadiah kepada Assyaimaa' dan mengembalikannya ke kampung halamannya. Setelah Rasulullah Saw wafat, beberapa anggota kabilahnya kembali murtad, namun tidak dengan Assyaimaa' Dengan teguh ia mempertahankan keimanannya sampai akhir hayatnya.





Batu di Tengah Jalan

Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada di jalan di Ghazna, ibu kota negerinya, India. Dilihatnya seorang kuli mengangkut beban berat, yakni sebongkah batu yang didukung di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu, Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:
"Jatuhkan batu itu, kuli."
Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu. Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif, terpaksa menjawab.
"Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak bisa dibatalkan oleh
perintah yang sama derajatnya. Sebab kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu itu di situ.
Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orang masih menghormati perintah raja.
Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanya berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisah itu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusaha mempertahankan kekuasaannya. Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadap perintah, betapapun tidak menyenangkannya. Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisa memahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkan batu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakan gangguan, dan kemudian membiarkannya berada di sana. Mahmud mengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi dan sekaligus menyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkan dogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan. Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencari kebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar