Senin, 04 Januari 2010

Wanita Yang Hidup di Dalam Kubur

Seorang ibu dari kaum Bani Israel mempunyai seorang anak yang hidupnya selalu sakit-sakitan, wanita itu Nadzirah namanya.
Hati seorang ibu akan begitu berduka mengetahui buah hatinya dirundung penderitaan, begitu pula akan berbahagia dikala anaknya tampak ceria. Begitu lamanya anak itu berbaring di tempat tidur hingga ibunya bernadzar:
“Demi Allah, jika saja anakku sembuh dari sakitnya, aku akan sanggup dikubur selama tujuh hari tujuh malam,” begitu ucapnya.
Lambat laun anak itu pun sembuh total dan normal seperti keadaan semula, namun wanita iu ternyata melalaikan nadzar yang telah disumpahkannya. Begitu ringan dia mengucapkan namun betapa berat melaksanakan sebagaimana sikap kebanyakan kaum Yahudi.
Pada suatu malam, si ibu tadi merasa didatangi seseorang yang mengatakan:
“Tunaikan janjimu dengan segera. Dan kalau tidak, maka tunggu saja saatnya bencana akan memporak-porandakan kehidupanmu,” begitu suara itu menggetarkan batinnya.
Maka pagi-pagi sekali dia memanggil anaknya dan mengutarakan terhadap mimpi yang dialaminya semalam. Dan tampaknya anak itu juga mendukung si ibu untuk menunaikan apa yang telah diikrarkan. Maka dengan kebulatan hati dan dan menguatkan tekad serta mempersiapkan keamanan seperlunya, dia menyuruh anaknya untuk menguburkannya hidup-hidup. Liang kubur itu akan dipasangi dua bilah bambu yang setiap ruasnya dilobangi begitu rupa sebagai jalan pernapasan.
Maka anak itu pun segera membuat liang kubur sesuai dengan perintah sang ibu. Dan setelah si ibu tadi betul-betul siap, sebelum memasuki liangnya dia mengucapkan do’a:
“Ya Allah, aku telah berusaha untuk menunaikan nadzarku kendati dengan hati galau. Namun pintaku ya Allah, hendaklah Engkau jaga diri ini dari segala mara bahaya yang akan mencelakakanku,” ucap wanita itu yang sebenarnya merasa takut juga.
Begitu do’a itu selesai diucapkan, dia langsung berbaring dalam liang lahat kemudian sang anak memasang dua potong bambu yang dihubungkan ke atas. Tidak lupa seutas benang dipegang dan dihubungkan ke atas pula sebagai tanda si ibu masih bernyawa jika saja sewaktu-waktu benang itu masih bergerak sebagai alat komunikasi dengan anaknya yang di atas. Kubur itu kemudian ditutup dengan papan dan diuruknya dengan tanah sampai rata seraya berdo’a agar ibunya selamat sampai waktu penggalian kembali.
Setelah pengurukan itu selesai, beberapa saat kemudian sang ibu tadi merasakan adanya cahaya tepat disebelah kepalanya, dimana setelah ditengok ternyata terdapat sebuah terowongan yang menuju ke sebuah taman, dan di situ ada dua orang wanita yang sedang duduk.
“Wahai ibu, ke sinilah!,” begitu panggilan dua wanita tadi.
Tiba-tiba saja terowongan itu melebar hingga si ibu itu bisa mendekati keduanya. Di dekat taman itu ada sebuah kolam yang begitu jernih. Lantas si ibu itu berjabatan tangan dengan keduanya. Namun betapa heran, keduanya tidak menjawab salam sepatah pun.
“Mengapa kalian tidak mau menjawab salam, padahal tadi kalian bisa memanggilku,” tanya si ibu dengan tertegun.
“Salam merupakan sebuah ibadah dimana kami sudah tidak bisa dan sudah tidak diterima ibadahnya, dalam arti ibadah sudah tidak bermanfaat lagi bagi kami,” jawab kedua wanita itu.
Selanjutnya si ibu tadi duduk di samping keduanya. Sesaat kemudian datanglah seekor burung yang langsung hinggap di kepala salah seorang dari kedua wanita itu dengan mengibaskan sayapnya begitu lama dengan maksud mengipasi wanita itu agar merasa sejuk. Namun tidak lama pula, datang lagi seekor burung yang langsung hinggap di kepala wanita yang lain. Burung yang terakhir ini selalu mematuk kepala wanita yang dihinggapi hingga banyak sekali darah yang keluar. Sebenarnya wanita itu telah berusaha sekuat tenaga untuk menghindar namun usaha itu selalu sia-sia, mengherankan!. Tertegun si ibu melihat kejadian ini hingga segera bertanya:
“Wahai kawan!, mengapa ada seekor burung yang selalu mengipasimu hingga hidupmu tampak begitu ceria?,” tanya si ibu.
“Dulu ketika aku hidup di dunia, aku selalu berusaha agar suamiku bahagia. Terbukti memang demikian sehingga ketika aku mati, dia tetap menyintaiku. Ternyata setelah aku di dalam kubur ini, Allah memberi kemuliaan yang begitu berharga bagiku,” begitu jawab wanita baik budi itu.
Selanjutnya si ibu tadi bertanya pada wanita sebelahnya:
“Dan kau mengapa tampak bermuram durja, berbeda sekali dengan kawanmu ini, dimana siksaan tidak henti-hentinya kau terima?,” tanya si ibu.
“Sebenarnya ketika di dunia aku termasuk wanita yang rajin sekali mengerjakan kebajikan, hanya saja aku sering menyalahi dan menyakiti suamiku. Sedangkan ketika aku mati, dia begitu membenciku hingga kematianku dianggap sebagai pelepas penderitaannya. Namun Allah masih menaruh belas kasihan terhadapku dimana kuburku masih berupa taman surga sebagai balasan kebajijkanku tadi. Sementara itu aku masih mendapat siksa sebagai balasan kesalahanku pada suamiku. Nanti setelah ibu keluar, tolonglah ibu sudi menceritakan nasibku ini pada suamiku dan mintakan maaf padanya, sebab Allah tidak akan menghentikan siksaan ini selama suamiku belum memaafkan,” begitu jawab wanita yang satunya.
Kemudian si ibu tadi menanyakan nama dan alamat suaminya dengan harapan bisa menemukannya sehingga pesan-pesan tadi bisa disampaikan.
Setelah tujuh hari berlalu, kedua wanita itu pun mengatakan:
“Ibu hendaknya segera pulang dan memasuki kubur kembali, sebab anak ibu sudah waktunya untuk menggali kubur guna menemukan ibu kembali.”
Maka segera saja si ibu itu kembali, dan ketika itulah bertepatan sang anak menggali untuk mengeluarkannya hingga nyawanya masih bisa diselamatkan dan pulang kembali bersama-sama.
Peristiwa aneh ini begitu cepat tersiar ke seluruh penjuru hingga banyak sekali orang yang berziarah kepadanya. Berita ini pun sampai pada sang suami yang isterinya tersiksa tadi. Tidak ketinggalan, dia juga berziarah pada si ibu. Dan setelah mengenalkan diri seraya menyebutkan nama isterinya, segera saja si ibu itu menceritakan keadaan sang isteri hingga suami itu terharu dan merasa kasihan serta meratapi nasibnya. Seketika itu pula dia langsung memaafkan seluruh kesalahan sang isteri.
Ketika malam telah tiba, si ibu bermimpi melihat wanita malang itu dimana dia mengatakan:
“Aku sekarang telah terlepas dari penderitaan dan siksaan kubur yang selama ini kualami. Semua ini tiada lain karena jasamu wahai ibu. Namun aku tidak bisa lagi membalas kebajikanmu. Semoga saja Allah memberi maaf atas segala dosa-dosamu dan dilipat gandakan pahala seluruh amal baikmu.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar