Senin, 04 Januari 2010

Tangis-tangis Ketika Maut Menjemput

Ketika Salman Al-Farisi mendekati kematian, ia tampak berderai air mata. Maka segera saja seseorang mengatakan:
“Tuan, apakah yang menyebabkan tuan menangis begitu panjang?.”
“Aku tidak menangisi dunia yang aku tinggalkan, namun karena teringat dengan janji Rasulullah Saw, dimana pada suatu ketika beliau mengatakan:
“Hendaklah bekal seseorang dari kalian ketika mati cukup sebagaimana bekal orang yang mengembara.”(HR.Hakim dan Ahmad – Shahih).
Dan ketika Salman telah wafat, maka seluruh harta benda yang ditinggalkan tidak lebih dari tujuh belas dirham.
Ketika Abu Hazim mendekati kematiannya, ia pun menangis sehingga mengundang iba orang-orang yang berada di sampingnya. Maka ia segera mengatakan:
“Sekali-kali aku tidak menangis karena menyesali berbagai dosa. Namun aku khawatir sekali jika saja telah melakukan perbuatan yang aku sangka tidak mengandung sebuah resiko atau ringan resikonya di akherat nanti, padahal perbuatan itu mengandung resiko berat.”
Ketika Ibnul Mubarak mendekati kematiannya, ia mengatakan pada seorang sahayanya yang bernama Nashrullah:
“Taruhkan saja kepalaku di atas tanah dengan tanpa diberi alas”.
Hal ini yang membuat sahaya tersebut menaruh duka yang amat dalam, sehingga tangisnya sulit diredakan. Namun Ibnul Mubarak segera menghentikan dengan sebuah pertanyaan:
“Apa yang menyebabkan kau menangis!.”
“Aku teringat kehidupan tuan yang cukup dengan berbagai kenikmatan. Namun mengapa sekarang tuan harus dijemput maut dalam keadaan yang begitu papa.”
“Jangan kau ulang kalimat seperti itu, lebih baik kau diam. Sebab aku selama ini memohon kepada Allah agar bisa mati dalam keadaan miskin,” begitu sahut Ibnul Mubarak.
“Talqinlah aku, jangan kau ulangi talqin itu selagi saya tidak mengatakan kalimat yang lain,” sambung Ibnul Mubarak lagi.
Pada suatu keasempatan Ja’far bin Nashir bertanya kepada Bakran Ad-Dinawari selaku pelayan dan murid setia Syeikh Asy-Syibali:
“Apa yang diucapkan Syeikh Syibali ketika ajal menjemputnya?.”
“Asy-Syibali mengatakan,” jawab Bakran, “Baru-baru ini aku mendapatkan uang satu dirham dari hasil yang tidak benar. Maka segera saja aku bersedekah sampai beberapa ribu dirham agar si empunya satu dirham itu memaafkan diriku. Itulah yang telah membuat hatiku risau.”
Sejenak kemudian Asyi-Syibali mengatakan lagi:“Wudhukanlah aku, sebab saat ini sudah waktunya menjalankan shalat fardhu,” begitu pinta Asy-Syibali.
“Maka segera saja,” kata Bakran, “Ia aku wudhukan, namun ketika itu aku terlupa untuk menyela janggutnya yang tebal itu. Segera saja dia menarik tanganklu untuk menyelanya agar amal-amal sunnah tidak tertinggalkan, kendati ketika itu mulutnya telah terkatup erat.”
Mendengar keterangan seperti ini, air mata Ja’far tidak lagi bisa dihentikan, dimana segera saja ia menyergah:
“Bagaimana pendapatmu mengenaui seorang lelaki yang ketika matinya sedikit pun tidak pernah meninggalkan sebuah sunnah yang menjadi adab syari’at, bukankah ia mesti husnul khatimah!.”
Sebagian ulama lagi ketika menghadapi maut, isterinya tidak henti-hentinya berderai air mata. Maka segera saja ia menghentikan dengan sebuah pertanyaan:
“Apa yang menyebabkan kau menangis, wahai isteriku?.”
“Aku sangat kasihan melihat dirimu, kanda.” sahut isterinya pula.
“Hendaklah kau mengasihani dirimu sendiri, sebab aku telah mengantisipasi dan mempersiapkan diri menangisi peristiwa di hari ini semenjak empat puluh tahun yang lalu,”sahut sang suami.
Dikatakan pula kepada Ruwaim ketika maut akan menjemputnya:
“Mengucaplah kalimat Laa ilaaha illal’lah.”
“Aku tidak bisa mengucap apa pun selain kalimat itu.” jawab Ruwaim singkat.
Semoga dalam akhir, kita diperi predikat husnul khatimah sebagai dambaan setiap Muslim.



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar