Senin, 04 Januari 2010

Wanita Di Bukit Kan’an

Dzin Nun Al-Mishry mengatakan:“Pada suatu malam aku keluar dari lembah Kan’an, namun setelah mendaki sebuah bukit, aku berjumpa dengan kelebatan bayangan hitam yang mengucapkan sebuah ayat:
Dan tampaklah bagi mereka siksaan Allah yang belum pernah mereka perkirakan (Az-Zumar: 47).
Setelah itu aku mendengar tangis panjang, dan setelah aku dekati ternyata seorang perempuan tua yang mengenakan jubah bulu dengan sebuah kantung yang berada di tangannya. Dengan tanpa terkejut wanita itu mengatakan: “Siapa kau!.”
Maka segera aku jawab: “Saya seorang pengembara”.
“Wahai lelaki, adakah jika seseorang telah dekat dengan Allah itu bisa disebut mengembara atau terasing,” begitu sergahnya.
“Mendengar ucapan ini air mataku tak tertahankan lagi. Namun dengan tegas pula ia mengatakan:
“Mengapa kau menangis!.”
“Ucapanmu seakan menjadi pengobat risauku yang selama ini aku alami. Begitu manjur terapi itu aku rasakan,” kilahku lagi dengan mengusap air mata.
“Jika saja kau bersikap benar, mengapa kau masih menangis,” lanjut wanita itu seakan memojokkan sikapku.
“Adakah seseorang yang bersikap jujur dan benar itu tidak boleh menangis,” sergahku untuk berapologi.
“Jelas tidak boleh,” sebuah jawaban tegas yang mengagetkan diriku.
“Mengapa demikian?,” kejarku pula.
“Sebab tangis itu akan melepaskan beban hati, sehingga jelas akan mengarah kepada kegembiraan,”begitu dia menjawab dengan penuh falsafah.
Dijawab demikian itu aku hanya diam dan akhirnya aku ucapkan selamat jalan.

Dikisahkan pula oleh Abdullah, seorang lelaki yang terkenal shalih yang memiliki seorang hamba wanita Ethiopia:
“Pada suatu hari hamba wanita itu aku ajak untuk berbelanja di sebuah pasar. Ia aku suruh menunggu di sebuah pojok. Dan setelah kebutuhan itu telah berhasil aku dapatkan, segera saja aku kembali ke tempat sahaya tersebut untuk menjinjing barang-barang belanja. Namun betapa mendongkolnya, sahaya itu kabur entah kemana. Akhirnya seluruh barang itu aku angkut sendiri ke pundakku menuju rumah yang jaraknya cukup jauh. Di sepanjang jalan hatiku terus mengumpat dan menggerutu. Maka setelah sampai di rumah, sahaya itu ternyata telah lebih dahulu pulang dan berbaring di balai bambu dengan enaknya. Menyadari akan kemarahanku, segera saja ia mengatakan:
“Tuan, janganlah tuan tergesa-gesa marah kepadaku. Hendaknya tuan menyadari bahwa tadi tuan telah menyuruhku untuk menunggu di suatu tempat yang aku lihat tidak terdapat seorang pun yang berdzikir kepada Allah. Hal inilah yang menjadikan hatiku khawatir, jangan-jangan siksaan Allah turun di tempat itu atau tanah yang menjadi tempat berpijak mereka akan segera tenggelam. Untuk itu aku segera pulang lebih dulu.”
Mendengar ucapan seperti ini hatiku seketika menjadi luluh, malah segera aku katakan:
“Hari ini kau merdeka”.
Namun betapa anehnya, dia malah mengatakan:
“Betapa licik sikapmu itu, tuanku. Selama ini aku selalu melayanimu dan menyembah kepada Allah. Dengan demikian aku mendapat dua pahala. Namun sekarang, aku harus kehilangan separoh pahala”.
Betul-betul aneh !.

■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar