Selasa, 29 Desember 2009

Memilih Makanan Bergizi

Memilih Makanan Bergizi


Masa balita hingga usia sekolah merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan paling pesat bagi seorang anak. Karena itu, pemberian makanan sehat sangat diperlukan agar tumbuh dan kembangnya tak terganggu. ASI serta makanan bergizi cukup dan seimbang kata kuncinya.
Tubuh Zaki tampak terlalu kecil untuk ukuran usia 4 tahun Bobotnya hanya sekitar 8 kg. Rambutnya kemerahan dan tumbuh kurang subur. Anak ini diduga kekurangan gizi sejak kecil. Tak ubahnya seorang anak yang berumur 2 tahun. Tinggi badannya tidak sampai 100 cm. Maklum, orang tuanya pemulung dan tinggal di daerah kumuh yang banyak tumpukan sampah.
Itu contoh ekstrem.
Tubuh seorang anak, terutama balita, yang kekurangan gizi memang tidak akan tumbuh sempurna. Secara mental pun demikian, mengingat pertumbuhan serta perkembangan otak anak sejak dalam kandungan sangat dipengaruhi oleh pasokan zat gizi.
Otak manusia mulai dibentuk pada awal kehamilan dan berkembang dengan pesat sampai dengan saat bayi lahir. Setelah lahir perkembangan otak tetap berlangsung cepat. Ketika lahir, bobot otak bayi hanya 400 g, pada usia 18 bulan sudah menjadi 1.000 g. Dua periode pertumbuhan atau loncatan pertumbuhan pesat pertama terjadi selama trimester ketiga kehamilan sampai 6 bulan setelah kelahiran. Pada masa ini perturnhuhan kepala bayi, yang mencerminkan pertumbuhan otak bayi, berlangsung pesat. Kemudian berangsur-angsur berkurang dan akhirnya terhenti pada usia 2 - 3 tahun. Penambahan sel-sel otak akan terhenti pada usia 6 bulan. Setelah itu, hanya bobot dan ukuran sel-sel otaknya yang bertambah.
Karena itu, periode penting im harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan memberikan zat gizi berkualitas baik dalam jumlah yang cukup. "Perlu diingat, kesempatan ini tidak akan terulang kembali. Kekurangan gizi pada rnasa pesat pertumbuhan dan perkembangan otak ini dapat menurunkan jumlah sel otak bayi 15% - 20%. Hambatan pertumbuhan otak pada akhirnya akan mengurangi kecerdasan bayi."
Sebenarnya cara termudah dan termurah, cukup dengan memberikan ASI yang meru pakan makanan ideal dengan komposisi tepat serta sesuai dengan kebutuhan bayi. Dalam ASI terkandung nutrisi-nutrisi khusus, seperti protein (zat putih telur) untuk pertumbuhan serta perkembangan sel otak, asam lemak utama (70%) untuk pertumbuhan otak dan jaringan saraf, laktosa yang berperan dalam pengembangan susunan saraf pusat, dan sebagainya. Selama 4 - 6 bulan pemberian ASI, diharapkan bayi tumbuh optimal, dengan kualitas sangat prima. Namun sang ibu yang berperan memberikan ASI harus pula mendapatkan gizi cukup dari makanan sehari-hari. Ibu berasal dari lingkungan sosial ekonomi rendah seperti ibu Zaki tadi, sering kali kualitas ASI-nya kurang menjanjikan lantaran kualitas makanannya kurang memenuhi syarat kesehatan.

v Prioritaskan ASI
Sementara itu untuk mengetahui normal-tidaknya pertumbuhan anak, bisa digunakan penilaian pertumbuhan fisik dengan klasifikasi: bobot badan terhadap tinggi badan, bobot badan terhadap umur, serta tinggi badan terhadap umur. Misalnya, anak usia 9 tahun yang kurang gizi tampak sama tinggi dengan anak berusia 6 - 7 tahun. Dengan menggunakan ukuran standar sebagai pembanding, kita dapat mengetahui serta menilai status gizi anak tersebut.
Menurut FAO/WHO Expert Committee, bila terjadi kekurangan bobot badan terhadap tinggi badan, berarti keadaan gizinya saat ini akut. Sedangkan bila terjadi defisit tinggi badan terhadap umur, kurang gizinya kronis (kurang gizi akut pada masa lampau), sehingga perlu diketahui sejarah gizi anak tersebut.
NCHS (National Center for Health Statistic) menilai pertumbuhan anak dengan menggunakan persentase terhadap median. Bila bobot badan terhadap tinggi badan lebih dari 90% terhadap median, status gizinya termasuk baik, 81 - 90% termasuk sedang, dan 71 - 80% status gizinya kurang. Sedangkan 70% atau di bawahnya dimasukkan dalam status gizi buruk.
Selain itu, status gizi juga bisa diukur dengan indikator persentil. Bobot badan terhadap tinggi badan pada persentil 75 - 25 termasuk normal, persentil 10-5 malnutrisi sedang, dan kurang dan persentil 5 termasuk malnutrisi berat.
Douglas (1950), seorang peneliti dari Inggris menyatakan, bayi yang diberi ASI akan lebih cepat berjalan dibandingkan yang tidak. Peneliti lain, Rigan dan Gladen (1993), juga membuktikan hal serupa. Mereka pernah memantau perkembangan 855 bayi yang baru lahir sampai usia sekolah. Pemeriksaan perkembangan dilakukan pada usia 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan, 2 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun. Secara statistik anak yang memperoleh ASI yang berkualitas baik, paling tidak selama 6 bulan, perkembangan kognitif, daya ingat, serta kemampuan bahasanya lebih tinggi daripada yang tidak mendapatkan ASI berkualitas baik.
Setelah ASI tidak lagi diberikan, anak tetap perlu mengkonsumsi makanan yang memenuhi syarat dari segi kualitas maupun kuantitas agar anak tetap tumbuh sehat dan bugar. "Makanan anak hendaknya yang memenuhi kecukupan energi dan semua zat gizi, sesuai usianya. Susunan hidangan disesuaikan dengan pola menu seimbang, kebiasaan makan, dan selera makan anak." Hal lain yang tak kalah penting dalam tumbuh kembang seorang anak adalah kebersihan perorangan dan lingkungan.
v Makanan Sehat Anak Sekolah
Setelah pemberian AS! ber-akhir, bisa dilanjutkan dengan susu botol yang mengandung unsur linoleat yang dibutuhkan bagi perkembangan otak. Bubur susu yang memenuhi gizi anak juga bisa diberikan. Bubur susu selain mengandung kalsium, juga zat-zat gizi lain seperti berbagai vitamin, protein, lemak, dan karbohidrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Bila anak sudah mulai sekolah, makanan sehat dibutuhkan untuk memelihara da-ya tahan tubuh anak dari serangan berbagai penyakit. Makanan sehat juga diperlukan untuk membangun persediaan zat gizi yang dibutuhkan selama proses pertum-buhan rnasa pubertas dan dewasa kelak.
Para ahli menggolongkan bahan makanan dalam tiga kelompok utama yang harus seimbang: kelompok sumber tenaga, kelompok sumber zat pembangun, dan kelompok sumber zat pengatur. Tentunya kebutuhan energi anak dari golongan 10 - 12 tahun relatif lebih besar dibandingkan dengan golongan 7 - 9 tahun. Pertumbuhan anak usia 10 - 12 tahun lebih cepat, terutama dalam hal pertambahan tinggi badan. Namun, kebutuhan gizi mereka juga berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Kebutuhan nutrisi anak laki-laki lebih banyak ketimbang perempuan, karena anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik. Namun, anak perempuan yang sudah haid (11 - 13 tahun) memerlukan protein dan zat besi yang lebih banyak.
Selain energi, anak juga membutuhkan zat-zat gizi lain. Paling tidak diperlukan 40 jenis zat gizi guna proses tumbuh selanjutnya. Sayangnya, anak sekolah acapkali lupa makan pada waktunya. Anak yang demikian kadang kala bisa mengalami kurang gizi. Padahal kekurangan zat gizi dapat mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit dan menghambat pertumbuhannya.
v Hindari Kekurangan Vitamin
Pendenta KEP (Kurang Energi Protein) seperti Zaki, mempunyai bobot serta tinggi badan di bawah standar normal seusianya, disertai kelainan fisik seperti rambut tumbuh kurang subur, perut membuncit, dan sebagainya. Hasil pemeriksaan laboratorium pun menunjukkan kondisi di bawah standar normal.
Umumnya, KEP disebabkan kurangnya konsumsi sumber energi (beras, jagung, sing-kong, mi, dan sebagainya) serta sumber protein (daging, ayam, ikan, kacang-kacangan, dan sebagainya), kekurangan vitamin A serta men-erita anemia. Akibatnya, si anak mengalami kekurangan tenaga, kemunduran pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Mereka cenderung lamban. dalam menerima pelajaran sekolah
Anak dikatakan mengalami anemia bila kadar Hb (hemoglobin) dalam darah kurang dari 12 g/100 ml. Data Survai Kesehatan Rumah Tangga 1992 menunjukkan, prevalensi (tingkat kejadian) anemia gizi pada anak sekolah di Indonesia sekitar 24 – 35%. Penyebabnya kebanyakan akibat kekurangan zat besi dan asam fosfat yang seharusnya tak terjadi bila makanan sehari-hari beraneka ragam dan memenuhi gizi seimbang.
Sumber makanan kaya besi pada protein hewani seperti hati, ikan, daging, mudah diserap tubuh. Sedangkan sumber makanan nahati sebagai sumber zat besi mudah diperoleh dari sayuran berwarna hijau. Namun, kekurangan zat besi bisa juga bisa akibat infeksi seperti cacingan, atau malaria.
Pada anak yang menderita kekurangan vitamin A, penglihatannya akan kurang sempurna pada senja hari, daya tahan tubuh menurun, dan bila dewasa kelak dikhawatirkan mengalami gangguan fertilitas (kesuburan). Kekurangan ini bisa dihindarkan bila anak cukup mengkonsumsi sayuran hijau atau buah-buahan berwarna kuning jingga.
Defisiensi juga sering terjadi pada iodium. Kekurangan mineral tersebut banyak terjadi pada anak di lingkungan yang air dan tonahnya kurang mengandung iodium. Akibatnya, anak menderita gondok (pembengkakan kelenjar tiroid), perkembangan mental dan intektual serta pertumbuhan fisiknya terhambat.
Dalam memilih makanan yang beragam macamnya, khususnya di daerah perkotaan, perlu dipenuhi persyaratan gizi seimbang. Bila tidak, seringkali di kalangan anak sekolah daerah perkotaan timbul masalah kegemukan (obesitas). Di sini pola makan tak seimbang atau berlebihan tidak disertai olahraga teratur. Bila tidak cepat ditanggulangi, dikhawatirkan anak akan menghadapi masalah psikososial. Umpamanya, rendah diri, sering dikucilkan, diejek, dan sebagainya. Dampak jangka panjangnya, mereka mudah terkena penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, darah tinggi.

v Sayuran dalam bubur saring
Selain makanan pokok yang nilai gizinya seimbang, anak juga bisa diberi makanan dari susu yang mengandung protein, karbohidrat, lemak serta beberapa vitamin. Memang, tidak ada bahan makanan dengan zat gizi sempurna yang bisa menandingi susu. Sebab itu, alangkah baiknya anak diberi aneka ragam jenis makanan. Sejak dini hendaknya diperkenalkan pada berbagai jenis makanan dalam satu kelompok makanan sumber zat gizi tertentu. Jika ia tidak menyukai jenis makanan tertentu, hendaknya tetap bisa mendapat penggantinya. Misalnya, kalau anak tidak menyukai daging merah sebagai sumber protein, dia diberi ayam atau ikan sebagai gantinya.
Batasi konsumsi lemak dan minyak dalam makanan sehari-hari (tidak lebih dari 25% dari kebutuhan energi). Namun, ikan selalu dianjurkan karena mengandung asam lemak Omega-3 (asam lemak esensial) yang berperan memelihara jaringan saraf guna mencegah penyumbatan lemak pada dinding pembuluh darah.
Hendaklah anak dihindarkan dari ngemil terlalu banyak, apalagi yang banyak mengandung garam dan gula. Garam dalam jangka panjang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Sedangkan gula kelak bisa merusak gigi, menyebabkan kegemukan ataupun diabetes. Sebagai pengganti gula, bisa diberikan buah-buahan segar, susu, atau jus buah. Kalsium dalam susu baik untuk pertumbuhan gigi dan tulang. Makanan siap santap (fast food), hendaknya dibatasi karena mengandung rendah serat, rendah vitamin, dan mineral, tapi tinggi kalori, kolesterol, garam, dan lemak. Padahal, serat sangat penting untuk membantu proses pencernaan bahkan mencegah penyakit jantung, kanker, dan kolesterol tinggi.
Banyak anak tidak menyukai sayur karena mungkin. kurang dibiasakan sedini mungkin. Padahal, indera pengecap anak mulai berfungsi pada usia 2 - 3 bulan. Saat diberikan makanan tambahan, anak mulai dapat diperkenalkan dengan berbagai rasa makanan termasuk sayuram Pemberian sayuran dapat dimodifikasi dalam berbagai bentuk variasi. Misalnya, bubur saring dicampur bayam atau kangkung. Bila anak mulai tumbuh giginya, bisa dicoha diberi sayur bayam atau sup sayuran yang terasa sedap.
Peran orang tua untuk mengarahkan anak mengkonsumsi makanan sehari-hari dengan gizi seimbang memang sangat penting. Kesehatan anak masa kini, adalah cermin kesehatan anak masa mendatang.

v Pedoman Gizi Seimbang

Untuk menjaga agar tumbuh kembang anak bisa berlang-sung baik, beberapa hal berikut bisa dicoba.
§ Biasakan makan pagi sebelum sekolah. Menu seimbang bermanfaat untuk menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi anak.
§ Bawa bekal makanan sehat ke sekolah.
§ Pesan jajan yang bersih, sehat, dan bebas lalat.
§ Makan aneka ragam makanan mengandung sumber zat tenaga, zat pembangun, dan pengatur serta susu. Ditam-bah buah dan sayuran.
§ Makan makanan utama secara teratur setiap hari. Camilan dipilih yang padat gizi dan seimbang (jangan tinggi kalori, lemak, gula, garam, dan kolesterol).
§ Pilih makanan yang aman bagi kesehatan (terhindar kuman, tidak tercemar zat kimia yang berbahaya).
§ Sertakan makanan sumber zat besi, terutama untuk remaja putri.
§ Gunakan garam beryodium yang aman, disimpan dalam wadah kaca.
§ Jangan mudah terpengaruh iklan.
§ Minum air bersih dalam jumlah cukup (8 gelas sehari).
§ Jaga bobot badan ideal (tidak kurang, tidak lebih).
§ Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik teratur.
§ Biasakan anak membaca label makanan kemasan agar tahu tanggal kedaluwarsanya dan kandungan zat di dalamnya.
§ Beristirahat dan tidur cukup setelah kegiatan seharian.
§ Segera berkonsultasi dengan dokter bila terjadi gangguan kesehatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar