Minggu, 27 Desember 2009

Nabi Daud Kena Marah

Nabi Daud Kena Marah

Bani Israel betul-betul mengalami kejayaan ketika tampuk kerajaan dipegang Nabi Daud, dan mengalami puncaknya ketika Nabi Sulaiman menggantikan sang ayah. Nabi Daud merupakan figur yang banyak memiliki kelebihan, diantaranya beliau ahli memproduksi baju perang dari besi, dimana lempengan besi akan meleleh ketika berada ditangannya, suaranya begitu merdu, hingga ketika bertasbih akan dikelilingi berbagai burung, gunung-gunung , hewan liar dan pepohonan. Kitab Zabur telah diberikan Allah kepada beliau. Namun sebagai manusia, beliau tidak terlepas didera berbagai ujian. Dalam hal ini ujian terberat dan terpahit tidak lain adalah skandal asmara dengan seorang wanita isteri panglimanya sendiri – Uria bin Hanan. Kita telah maklum dimana ujian yang satu ini telah banyak menjungkalkan tokoh-tokoh terkenal, tidak luput pula pernah menimpa Nabi Yusuf ataupun Rasulullah dengan isteri beliau ‘Aisyah hingga terkenal dengan haditsul ifki atau Zainab binti Jahsy, namun berhubung mereka itu merupakan figur-figur pilihan Allah, pada akhirnya keselamatan pula yang diperoleh. Ujian seperti ini tampaknya tidak pandang bulu, baik terhadap mereka yang pandai, berilmu, bodoh, berpangkat atau pun lainnya, sebagaimana Nabi Daud sendiri, beliau merupakan figur ahli ibadah, baik dengan banyaknya shalat, zikir ataupun puasa sunnah, hingga kita mengenal istilah puasa Daud, ya’ni sehari puasa dan sehari lagi berbuka, begitu seterusnya sepanjang tahun.

Kitab Allah dipersandangkannya.
Ghaibullah akan pandangnya.
Alam lahut akan kandangnya.
Pada ghairah huwa tempat pandangnya.

Zikrullah kiri kanannya.
Fikrullah rupa bunyinya.
Syurbah tauhid akan minumnya.
Daim bertemu dengan Tuhannya.

‘Arasy Allah akan pangkalnya.
Janibullah akan taulannya.
Baitullah akan sangkarnya
Menghadap Allah dengan sopannya.

Demikian Syeikh Hamzah Fansuri As-Samathrani menggambarkan kehidupan mereka yang selalu dekat kepada Allah.
Pada suatu hari Nabi Daud begitu suntuk membaca kitab Taurat dengan suara yang mendalu-dalu hingga hatinya begitu tersentuh, jiwanya bergetar dan tubuhn ya ikut gemetar. Namun ketika usai membacanya, nun disebelah bilik hatinya itu ada suatu noktah kotoran yang bila diterjemahkan akan berbunyi :
” Dimuka bumi ini tidak akan ada seseorang yang lebih banyak peribadatannya dibanding dirinya.”
Perasaan seperti ini segera saja mendapat teguran keras dari Allah SWT :
“ Hai Daud, naiklah ke gunung di sebelah kerajaanmu itu, akan kau temui seseorang yang telah menyembahKu selama tujuh ratus tahun. Kendati seperti itu dia masih sering menangisi dirinya tersebab suatu perbuatan yang menurut penilaiannya termasuk dosa, padahal itu bukan dosa dalam pandanganKu. Dengarlah hai Daud ! Pada suatu hari dia naik keatas loteng rumahnya dimana lantai atasnya terdiri dari papan yang berjajar hingga seringkali debu dan kotoran lainnya berjatuhan dari sela-sela lantai itu. Ketika itulah lelaki tadi tidak mengerti kalau ibunya berada di lantai bawah dimana menurut perkiraanya karena ulahnya itu dia terkena debu yang berjatuhan dari loteng atas .Ia lantas menyesal yang tiada akhir sampai saat ini. Itulah sosok yang lebih banyak peribadatanya dari pada dirimu sendiri, pergilah kau kesana dan temuilah dia, berilah kabar gembira bahwa Aku telah mengampuninya.” begitu Allah memperingatkan hambaNya.
Segera saja Nabi Daud menyamarkan diri dan keluar dari kerajaannya untuk menemui orang tadi. Setelah pendakian gunung dilakukan beberapa lama, akhirnya beliau dapat menemukannya. Ternyata lelaki itu begitu kurus hingga tulang belulangnya tampak hanya terbungkus kulit namun ibadahnya jangan ditanya lagi. Nahif namanya. Nabi Daud lantas mengucapkan salam padanya, dimana Nahif langsung bertanya :
“ Siapa anda ?. “
“ Saya hamba Allah, Daud.” begitu jawab Nabi Daud merendah.
“ Seumpama tadi saya mengerti bahwa anda itu Daud, tentulah aku tidak akan menjawab salam anda, tidak pula aku perkenankan memasuki gubuk reot ini.” sergah lelaki itu dengan sengit, lantas dia mengatai lagi:
“ Betapa memalukan Daud, dirimu pernah terjatuh dalam kesalahan fatal, namun rupanya kau tidak segera memohon ampunan. Maaf aku tidak menyombongkan diri. Pada suatu hari aku naik keatas loteng rumahku, ketika itu ibuku berada dilantai bawah. Karena hentakan kakiku itu, lantai atas bergetar hingga debu berjatuhan dimana menurut perkiraanku telah mengenai ibuku. Demi melihat kejadian itu aku segera turun dan melarikan diri dengan penuh penyesalan sampai ke tempat ini. Peristiwa itu terjadi tujuh ratus tahun yang lalu, namun aku belum mengerti apakah ibuku itu marah atau tidak. Itulah kesalahanku yang betul-betul kusesali, dimana sampai kini permohonan ampunku belum berhenti agar Allah melimpahkan ridhaNya padaku dan melapangkan hati ibuku. Penyesalan itu yang membuat makanku tak enak, tidur pun tak nyenyak bahkan tidak sempat lagi untuk makan dan minum, jangan-jangan siksaan Allah akan ditimpakan pada diriku. Untuk itu wahai Daud, segeralah anda beranjak dari tempat ini agar ibadahku tidak terganggu olehmu.”
Begitulah Nabi Daud didera ucapan yang menyakitkan hingga tidak mampu menahan haru dan linangan air matanya. Dan setelah ada kesempatan, Nabi Daud pun segera menyampaikan apa yang dipesankan Allah.
“ Wahai Nahif, Allah mengutusku kepadamu untuk menyampaikan kabar bahwa Dia telah mengampunimu, Dia dalam keadaan ridha, sedangkan ibumu kini telah wafat dalam keadaan begitu berharap agar kau mendapat ridha Allah, dia begitu ridha terhadapmu, Nahif. Dikabarkan pula bahwa ketika kau naik keloteng atas, ibumu tidak berada dilantai bawah, apa lagi terkena debu dari hentakan kakimu.”
Demi mendengar penuturan Nabi Daud ini, Nahif tampak tersentak dan segera mengatakan :
“ Demi Allah, aku sudah tidak perlu hidup lagi setelah semuanya menjadi jelas. Ya Allah, wafatkanlah aku sekarang juga.”
Sesaat kemudian badan Nahif itu terlihat lunglai. Dan setelah dibangunkan ternyata dia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Begitulah sikap hamba-hamba pilihan Allah, dimana sebuah dosa kecil sudah dianggap sebuah gunung yang akan runtuh menimpa dirinya. Sebaliknya mereka orang bodoh dalam menghadapi berbagai dosa besar yang diperbuat, mereka seolah hanya dihinggapi lalat, dimana akan mudah terusir dengan lambaian tangan sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar