Selasa, 29 Desember 2009

Peristiwa Bi’ru Ma’unah

Peristiwa Bi’ru Ma’unah





Kesedihan akibat perang Uhud masih menyelimuti kaum Muslimin di Madinah. Ditambah lagi dengan terbunuhnya enam sahabat Nabi oleh pengkhianatan Hudzail dari Banu Lahyan yang telah meminta Rasulullah agar beliau sudi mengirimkan guru-guru agama kepada kabilahnya untuk mengajarkan agama Islam. Bencana ini telah membuat kesedihan kaum Muslimin semakin dalam.
Pada saat Rasulullah dan para sahabat memikirkan cara yang terbaik untuk menghukum pengkhiatan Hudzail itu, maka datanglah Abul Barra’ alias Amir bin Malik dari kabilah Banu Amir. Sebenarnya Rasulullah telah mengajaknya memasuki agama Islam, namun ia secara halus menolaknya. Meskipun demikian ia menunjukkan sikap yang bersahabat dengan Islam. Sehingga pada sekali kesempatan ia mengatakan kepada Rasulullah :
“Wahai Muhammad, hendaknya ada sebagian dari para sahabatmu yang dapat diutus ke Nejed untuk mengajak mereka menerima ajaranmu itu. Saya berharap sekali agar mereka bisa menerima”.
“Saya akan menjamin keselamatan mereka”. begitu sambung Abul Barra’ lagi.
Abul Barra’ merupakan figur yang sangat dihormati, ditaati dan didengar perkataannya oleh kaumnya. Dengan demikian siapa pun yang telah diberi perlindungan olehnya, tak perlu khawatir akan diserang oleh pihak-pihak lain.
Setelah mendapat informasi peluang pengembangan dakwah itu, Rasulullah segera mengirimkan empat puluh orang sahabatnya. Mereka dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amir dari Banu Sa’idah. Maka berangkatlah mereka bersama-sama sampai di dekat Bi’ru Ma’unah, yaitu daerah yang dekat dengan sumur yang terkenal itu. daerah ini terletak di antara daerah Banu Amir dan Banu Sulaim.
Al-Mundzir yang bertindak sebagai pemimpin lantas mengutus Haram bin Milham untuk menyampaikan surat Rasulullah Saw. kepada Amir bin Thufail selaku pimpinan kabilah Banu Sulaim yang berisi ajakan memasuki agama Islam. Tapi, jangankan masuk Islam, dibacanya pun oleh Amir bin Thufail surat terserbut tidak. Malahan Haram bin Milham si pembawa surat itu dibunuhnya. Suatu pengkhianatan telah terjadi !.
Kemudian Amir bin Thufail segera meminta bantuan kepada Banu Amir untuk membunuh para sahabat Rasulullah yang lain, namun Banu Amir menolak, karena para sahabat itu masih dalam perlindungan Abul Barra’. Ketika permintaan ini tidak ditanggapi, Amir bin Thufail segera meminta bantuan pada kabilah-kabilah lainnya. Kali ini permintaan itu mereka penuhi.. Seagera saja para sahabat Rasulullah itu mereka kepung dari segala penjuru.
Setelah melihat keadaan yang genting ini, Al-Mundzir segera memerintahkan kawan-kawannya untuk mencabut pedang dan mempertahankan diri. Maka terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Antara empat puluh orang Islam melawan ratusan orang dari berbagai kabilah di bawah satu komando, Amir bin Thufail. Hampir semua sahabat Rasulullah Saw. itu syahid terkecuali dua orang yang masih hidup, yaitu Ka’ab bin Zaid yang luka berat dan dikira sudah mati, namun dengan susah payah akhirnya dia bisa kembali ke Madinah. Seorang lagi yang dibiarkan hidup oleh Amir bin Thufail, yaitu Amr bin Umaiyah, karena menurut keyakinannya ia masih terikat hubungan darah dengan ibunya.
Dalam perjalanannya menuju Madinah, Amr bin Umaiyah bertemu dengan dua orang yang diperkirakan ikut menyerang para sahabat Rasulullah itu. Ternyata kedua orang itu dari kabilah Banu Amir dan dari golongan Abul Barra’ yang terikat perjanjian bertetangga baik dengan Rasulullah. Dengan demikian masalah itu harus diselesaikan dengan diat (ganti rugi).
Bukan main sedih hati Rasulullah ketika mendengar syahidnya tiga puluh delapan sahabatnya. Beliau begitu marah terhadap pengkhianatan Amir bin Thufail. Pengkhianatan ini menurut prediksi beliau tidak terlepas dari ulah Abul Barra’.
“Ini adalah perbuatan Abul Barra’, “kata Rasulullkah Saw.”, sejak semula saya sudah merasakan berat hati dan kekhawatiran.”
Namun ternyata Abul Barra’ juga merasa amat terpukul atas pelanggaran Amir bin Thufail ini, karena diri Abul Barra’ juga ikut tersangkut di dalamnya. Pengkhiatan ini juga di dengar oleh anak Amir bin Thufail, yakni Rabi’ah. Seketika itu juga Rabi’ah segera bertindak menuntut balas atas pengkhiatan ayahnya itu. Ia mengambil tombaknya, kemudian Amir bin Thufail segera dilibasnya dengan tombak itu sehingga tewas..
Malapetaka yang telah menimpa tiga puluh delapan sahabat Rasulullah itu telah membuat kesedihan yang begitu mendalam di hati beliau. Sehingga sebulan penuh, setiap akhir shalat Shubuh, beliau tidak pernah meninggalkan do’a yang terkenal itu, qunut nazilah, dengan maksud agar Allah memberi balasan terhadap mereka yang telah membunuh para sahabat itu. Demikian pula seluruh kaum Muslimin turut merasakan kepedihan malapetaka yang telah menimpa saudara seagama yang telah dikirim sebagai juru dakwah itu. Kendati mereka percaya bahwa mereka telah gugur sebagai syuhada’ dan akan memperoleh surga sebagai balasannya.
Peristiwa Bi’ru Ma’unah itu merupakan peringatan bagi kaum Muslimin agar selalu berhati-hati dalam menghadapi pedaya orang-orang kafir dan orang musyrikin. Sebagaimana Allah telah mensinyalir sikap mereka itu :

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS. 5 : 82 ) ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar