Kamis, 24 Desember 2009

Abiu, Buah yang Terasa Wah

Abiu, Buah yang Terasa Wah

Rasanya lebih enak daripada durian montong. Yang dimaksud bukan durian super, namun buah dario famili Sapotaceae, alias sawo-sawoan. Abiu namanya.
Pouteria caimito, nama baru dalam daftar buah favorit. Seseorang bisa ketagihan setelah merasakannya di kebun buah buahan Tropical Farm, Malaysia. Pertama kali mencicipi terasa tak istimewa. Namun, setelah kali kedua lidahnya langsung cocok dengan komposisi rasanya. Ditentenglah 2 bibit abiu berumur 5 bulan ke kebunnya di Cipanas, Cianjur. Tak lebih dari 2 tahun, buah-buah ranum berwarna kuning pun bermunculan di ranting- ranting.
Seseorang bisa menikmati panen abiu 2 kali setahun. Sekitar Februari dan Mei, abiu dipastikan selalu ada di lemari pendinginnya. Daging putih lembut memang lebih lezat jika disajikan dingin. Buah yang berukuran rata-rata sebesar genggaman orang dewasa itu berkulit kuning mengkilap kala ranum. Aromanya harum menggoda hidung seolah mengisyaratkan kelezatannnya.
Rasa segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek, abiu biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok. Sesuap demi sesuap> tak terasa 10 buah berbobot 300 g bisa habis sekali makan.



Bukan orang terbatas saja yang mengakui kelezatan buah asli Amazon itu. Saking jarangnya, belum bisa dijumpai di pasar swalayan. Kendati banyak orang telah merasakannya. Ketika berkunjung ke Taman Wisata Mekarsari Bogor, pengunjung bisa mencicipi abiu. Rasanya sama seperti buah di Tropical farm Terbukti setiap musim panen, buah-buah matang langsung habis diserbu di poho sampai tak sempat dijajakan di toko buah Gara-gara mencicipi abiu, para pelanggan banyak yang selalu ingin menanam setelah membuktikan nikmatnya.
Kerabat sawo-sawoan itu memiliki karakter yang mirip dengan para kerabatnya. Pohon berkayu itu mampu mencapai tinggi 15 meter. Buahnya yang berbentuk lonjong sampai membulat berukuran panjang 6-12 cm dengan bobot 300-700 g. Buah abiu ada yang ujungnya bulat, ada pula yang lancip rnembentuk nipple.
"Abiu memiliki banyak kesamaan dengan sawo duren (Chrysophyllum cainito. Dari ukuran, bentuk, dan tekstur daging buah abiu, memang mirip kenitu - sebutan sawo duren di Jawa. Dagingnya sama-sama berwarna putih susu dan kulitnya mengkilap. Perbedaannya antara lain dari bentuk tajuk. Abiu bertajuk piramid, sedangkan sawo duren membulat.

"Tajuk abiu mirip cemara sehingga bagus untuk tabulampot. Dari segi warna kulit, abiu lebih potensial dikembangkan karena warnanya sangat cerah dan menarik. Kulit kencang berwarna kuning mengkilap memang terlihat lebih cantik jika dibanding warna sawo lain yang biasanya berwarna cokelat, hijau, atau ungu gelap. Aromanya lebih harum clan rasanya lebih enak. "Salah satu kelemahan abiu kadar getahnya agak tinggi. Tapi itu tak jadi soal jika konsumsinya 2 hari setelah petik;" katanya.

v Cepat berbuah
Buah yang adaptif di iklim tropis clan subtropis itu tumbuh subur mulai dari dataran rendah seperti Jakarta sampai dataran tinggi. Cepat berbuah adalah salah satu keistimewaan utama abiu dibanding keluarga Sapotaceae lainnya. Umur 2 tahun, tanaman asal biji mulai bebunga. Dua bulan kemudian, bunga menjadi buah berwarna hijau dan berangsur kuning cerah kala masak.
"Abiu berbuah rata-rata setelah 2 tahun. Padahal sawo umumnya bisa lebih dari 5 tahun bila berasal dari biji," tutur A F Margianasari, kepala Bagian Produksi Buah di Taman Wisata Mekarsari.

Ada 300 pohon berbagai umur yang sudah beberapa kali dipanen pengunjung taman wisata yang berada di ketinggian 70 m dpl itu. Tahun ini total panen, Juni – Agustus mencapai 3 ton. Buah lezat itu semuanya habis dengan harga jual yang masih tergolong murah Rp10.000/kg.
Sifat genjah juga yang membuat bibit dan tabulampot abiu laku keras. Sebanyak 400 bibit umur 5 bulan hasil semaian dari biji milik Taman Wisata Mekarsari ludes tahun ini. Di pameran FloraFauna Lapangan Banteng pada Agustus lalu, Eddy menjual 50 bibit dan 3 pohon umur 2-3 tahun. Eddy memperoleh biji dan bibit pertama kali dari Taman Wisata Mekarsari.


Abiu itu berasal dari kebun Alan Carle di Queensland, Australia. Kolektor tanaman buah tropis itu memberikan sejumlah buah hasil panen di kebunnya pada rekannya, Jeoff Fowler-kolektor tanaman. Sama seperti pencicip buah lainnya, Jeoff Fowler terpikat dengan rasanya yang lezat. Sampai akhirnya saat datang ke Indonesia pada 2007 ia membawakan biji-biji abiu untuk rekannya, Gregory Garnadi Hambali.
Jeoff Fowler merekomendasikan buah keluarga Sapotaceae itu layak dikembangkan di Indonesia. Ada 9 tanaman abiu di kebun Greg yang tumbuh dari biji-biji itu. Pakar botani di Bogor itu tak semata menanam untuk koleksi sendiri, tapi juga menyebarkannya ke rekan-rekannya. Dari situlah buah ash Amazon itu menyebar ke kebun penggemar atau kolektor tanaman buah tanahair.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar