Kamis, 24 Desember 2009

Wanginya Bunga Kenanga

Wanginya Bunga Kenanga


Setiap upacara adat yang memerlukan bunga, wajib menyertakan bunga kenanga, di samping mawar dan melati. Bukan karena bau dan bentuknya, tapi karena semacam apa boleh buat! Ketua Panitia Perumus Adat zaman Ken Arok dan Ken Dedes dulu hanya menemukan kenanga sebagai bunga yang memenuhi syarat.
Walaupun pada zaman kemudian ada bunga lain yang merasuki budaya Jawa, seperti cempaka kuning, kemboja putih, sepatu merah, dan anggrek totol-totol, tapi bunga kenanga tetap dipandang lebih resmi untuk upacara. Bentuk bunga kenanga sebenarnya amburadul. tapi kerena baunya sedap sekali, ia dipakai secara luas dalam tiap acara dan upa cara adat Jawa.
Bentuk bunganya agak aneh. Mahkotanya panjang-panjang seperti pisau lanset, sedangkan kelopaknya yang juga panjang, lebih melebar dan membulat telur. Ujungnya mengeriting. Baik kelopak maupun mahkota bunga akan berwarna hijau kalau masih muda, tapi kuning kalau sudah tua. Kalau sudah mekar, mahkota ini menyebar bebas dan keriting tidak beraturan. Seandainya tidak berbau harum dan berwarna kuning, kita tak akan mengira bahwa barang yang amburadul itu. sekuntum bunga.
Harumnya ada yang pro, dan ada yang anti. Mereka yang tidak senang mengatakan bahwa bau kenanga seperti bau kuburan. Biang keladi bau kuburan ini ialah minyak asiri berupa ester geraniol asam asetat, dan ester linalool asam bensodt. Di muka hidung orang Barat, keduanya tercium nyaman, lembut, dan sopan. Inilah yang tidak ditemukan pada bunga lain yang datang kemudian, seperti cempaka, kemboja, sepatu, dan anggrek.

Para ibu tradisional kita ada yang mencampur bunga kenanga dengan iris-irisan daun Pandan wangi, bunga mawar dan melati dalam kobokan berisi minyak kelapa, yang kemudian direbus sambil ditutup dan dibiarkan sampai mendidih. Sesudah dingin, sari bunga yang larut dalam minyak itu dipakai sebagai hair lotion merek "Cem-ceman" di daerah country.
Tapi kegunaan bunga kenanga lebih banyak sebagai campuran bunga tabur daripada cem-ceman. Dengan mawar merah dan melati putih, kenanga hijau atau kuning membentuk kembang telon yang ditabur di pusara orang yang tidak keberatan ditaburi bunga. Baunya harum. Inilah yang terkenal sebagai bau kuburan.
Kalau sudah memasuki bulan Ruwah, menjelang bulan Puasa, banyak sekali bunga kenanga yang dipakai untuk tabur bunga ini, sehingga harganya melonjak. Orang menabur bunga pada waktu itu. Selama bulan Puasa berikutnya, orang tidak pantas mengirim bunga. Harga kenanga akan melonjak lagi pada hari raya Idul Fitri, kalau para peziarah mau menabur bunga lagi. Mereka merayakan kemenangan mengatasi ujian percobaan. Tampaknya adat seperti itu amat sesuai dengan perilaku Rasulullah Saw. Pernah ketika beliau ketika berkunjung ke sebuah kubur, beliau menancapkan pelepah kurma basah (mungkin ketika itu tidak didapatkan bunga).
Dari Ibnnu Abbas Ra mengatakan: Rasulullah Saw. Pernah melintasi dua kubur seraya mengatakan: Dua penghuni kubur ini sedang disiksa. Keduanya disiksa bukan terasebab dosa besar. Yang pertama, tersebab dia tidak menutupi diri ketika kencing. Dan yang kedua tersebab suka mengadu-adu. Kemudian beliau mengambil pelepah kurma, lalu membelahnya dua bagian dan menancapkan pada masing-masing kubur itu. Melihat perilaku ini para sahabat pun bertanya: Wahai Rasulullah! Mengapa engkau berbuat yang demikian? Beliau menjawab: Aku harapkan siksaan keduanya diringankan, selama kedua pelepah itu belum kering.
(HR. Bukhari dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor 211).

Kenanga sebagai bunga tabur tidak ada yang menataniagakan. Awal tahun 1997 sudah sekitar Rp 2.000,- per kg di kebun petani. Sedangkan minyak kenanga hasil penyulingan petani sudah setinggi Rp 100.000. Tetapi bagi kita, harga setinggi langit tidak menjadi soal, karena dalam bulan-bulan suci semacam itu umumnya banyak sekali beredar uang THR, bonus, dan hadiah Lebaran. Hanya bagi pengusaha minyak kenanga, lonjakan harga itu memprihatinkan.
Kenanga cebol berbentuk peruntungan yang akan diperoleh kalau mengekspor minyak kenanga nanti akan menipis. Padahal mereka tidak mampu bersaing membeli bunga mahal untuk disuling minyaknya. Pabrik penyulingan pun terpaksa beristirahat pada masa-masa prihatin itu.
Di luar bulan Ruwah dan Syawal, harga kenanga anjlok tak ada yang bertanggung jawab lagi. Maka, sekaranglah giliran kaum penyuling minyak yang harus aktif lagi memborong bunga untuk membuat stok minyak kenanga, menghadapi paceklik bunga berikutnya. Turun-naiknya harga inilah yang membuat orang enggan menanamkan modalnya ke perkebunan kenanga, meskipun permintaan minyak Java cananga oil untuk ekspor menanjak terus.

v Pohon tua
Bunga yang turun-naik itu berasal dari pohon yang kebanyakan sudah tua. Ditanamnya hanya di pekarangan dan halaman rumah para petani, di antara pohon kelapa dan buah-buahan yang lain. Kebanyakan di dataran rendah, seperti desa-desa sekitar Serang, Cirebon, Boyolah, Magetan, Blitar, Trenggalek. Pohon kenanganya sendiri kebanyakan sudah setinggi 20 m atau lebih. Cabangnya mudah sekali Patah. Karena itu, anak-anak sebaiknya dilarang memanjat pohon kenanga

Kalau sampai ada cabang yang patah, bukan hanya anak itu yang luka dan perlu biaya perawatan yang tidak perlu, tapi juga banyak sekali tunas bunga kenanga yang hilang sebelum berkembang. Seharusnya pohon yang sudah tua itu. ditebang saja untuk diremajakan. Selain sudah sangat berkurang bunganya, pohon tua juga makin sulit dipetik bunganya karena tingginya batang. Tapi meremajakan kenanga sebaiknya di lahan perkebunan, dengan bibit baru dan cara bertanam yang modern, seperti yang dilakukan di Mauritius, Reunion, dan Kepulauan Comoro. Tidak di halaman rumah lagi yang terpencar-pencar jauh.
Sebagai bibit masih tetap dipakai jenis kenanga pohon Canangium odoratum forma macrophylla, yang daunnya besar agak membulat dan batangnya bisa setinggi 20 m itu juga, tetapi pada umur 3 tahun ia dipangkas supaya tumbuhnya tetap rendah.
Oleh taksonomis lain, kenanga dideskripsi sebagai Cananga odorcita, sehingga dalam beberapa buku ia disebut dengan nama yang menganga" Tapi kemudian karena kesepakatan bahwa nama Latin yang berlakuadalah nama yang pertama-tama (paling dulu) diberikan orang, maka dalam buku-buku terbitan kemudian, kenanga disebut sesuai nama aslinya lagi Canangium odoratum.
Pemangkasan dilakukan kalau tanaman sudah kira-kira setinggi 3,5 m. Batang dipotong di tempat setinggi 2 m dengan gergaji, dan lukanya ditutup dengan parafin supaya tidak kena infeksi bakteri dan cendawan kalau diguyur hujan. Ia akan menumbuhkan cabang baru di tempat pemotongan yang selamat ini. Cabang baru ini kalau sudah mulai besar perlu. diberati dengan batu (atau diikat ke bawah) agar menumbuhkan tunas ranting yang baru lagi di tempat setinggi itu pula. Setelah ranting-ranting tumbuh, cabang yang dikat ke bawah itu dipotong ujungnya. Karena dipangkas seperti ini, pohon kenanga tidak akan ngacir tumbuh ke atas, tapi melebar ke samping dan tetap rendah. Cukup rendah untuk memudahkan pemetikan bunga nanti. Pemilihan bunga yang sudah masak sempuma juga bisa dilakukan lebih cermat.
Bibit kenanga dapat diperoleh dari Dinas Perkebunan Rakyat Daerah setempat. Kenanga dibibitkan dari biji yang bulat dan keras kulitnya. Begitu keras, sampai perlu waktu lama untuk berkecambah. Karena itu, biasanya biji ini diampelas dulu (atau dikikir) kulitnya, sehingga air mudah meresap ke dalam biji, setelah disemaikan. Rekayasa ini akan mempercepat berkecambahnya biji menjadi bibit kenanga. Di samping kenanga pohon yang dipaksa menjadi bekek (cebol) ini, di kalangan pekebun memang ada kenanga yang dari sononya sudah bekek, Canangium odoratum forma genuina. Batangnya hanya bisa setinggi 3 m, sampai disebut kenanga perdu. Daunnya agak lancip. Kenanga bekek kadang ditanam dalam pot sebagai bagus-bagusan di halaman rumah. Tapi di Filipina, ia pemah diusahakan secara komersial untuk disuling minyaknya sebagai ylang-ylang yang menghasilkan duit banyak. Itu dulu. Sekarang Filipina sudah kalah dengan Mauritius.
Ylang-ylang juga rata-rata pada umur 5 tahun, pohon kenanga dapat dipetik bunganya yang cukup banyak. Berbunganya sepanjang tahun, kalau tempat tumbuhnya tidak kekurangan air. Kalau dilanda kekeringan kemarau panjang, ya apa boleh buat, pohon itu mogok tidak mau berbunga. Dalam keadaan normal kita dapat mengatur pemanfaatannya yang cerdik cendekia. Kalau harga pasaran sedang "gila" karena permintaan di dalam negeri sedang tinggi (seperti pada hari-hari raya), bunganya dilempar ke pasar dalam negeri, dengan organisasi pemasaran yang yahud, baik di pasar grosir seperti Rawabelong, Jakarta Barat, agen distribusi di pasar-pasar, maupun pengecer di depan kuburan.
Sebaliknya, kalau harga dalam negeri anjlok karena konsumen tidak berminat berebut beli kembang kenanga lagi, bunga kita suling minyaknya untuk dijual kepada para eksportir yang menangani minyak kenanga. Penyulingan ini sebaiknya tidak dilakukan asal-asalan seperti dulu, tapi dengan siasat dan tindakan yang cermat, serta alat penyulingan yang lebih canggih. Dulu minyak kenanga dipandang sebagai minyak kelas dua, dan hanya dipakai untuk mengharumkan sabun mandi yang lembut. Padahal, bunga yang sama, kalau disuling dengan baik dan benar bisa menghasilkan minyak ylang-ylang seperti tanaman yang diusahakan di Filipina dan Mauritius iuga.

Sialnya, pada penyulingan masa lalu, minyak ylang ylang ini sudah banyak yang menguap, sebelum bunga kenanga disuling. Penguapan itu karena bunga yang sudah dipetik tidak segera disuling, tapi ditimbun dulu di tempat pengepul bunga (agar terkumpul cukup banyak dulu) sebelum akhimya disuling.
Para importir minyak asiri di luar negeri menyayangkan hal ini. Karena itu, kita kini dianjurkan untuk membangun pabrik penyulingan di tengah-tengah kebun kenanga, dan bukannya di kota yang jauh dari kebun seperti dulu, dan mengerahkan para pengumpul bunga sebagai pengumpul perantara. Bunga yang akan disuling pun harus dipetik pagi-pagi benar, ketika minyak asiri yang berbau harum belum banyak yang menguap. Bunga juga harus dipilih yang memang sudah masak sempurna berwarna kuning. Bukan sembarang bunga yang masih hijau dan kuning muda. Dulu, ketika tanaman berupa pohon yang tinggi, memang sulit menganjurkan para pekebun agar hanya memetik bunga yang sudah kuning masak saja, tapi sekarang (kalau kebun kenanga berisi tanaman yang rendah semua), imbauan untuk memilih dan memetik bunga yang memenuhi syarat itu pasti bisa dilakukan dengan mudah.
Bunga yang terkumpul juga harus segera disuling dalam keadaan segar, belum layu. Hasil penyulingan berupa minyak ditampung dalam botol kemasan yang lehernya sengaja dibuat panjang menyempit. Jadi esternya yang harum tidak gampang terbang menguap, tapi cenderung berada dalam minyak terus.
Kalau alat penyuling itu tidak asal-asalan.seperti dulu, tapi benar-benar dibuat yang betul, hasil pabrik yang canggih, niscaya bunga kenanga akan mampu menghasilkan minyak ylang-ylang yang amat berharga untuk pembuatan minyak wangi, di samping minyak kenanga yang lebih rendah mutunya untuk pembuatan sabun mandi yang harum mewangi. Minyak ylang-ylang-nya akan disuling lebih dulu pada hari pertama, dan minyak kenanganya yang lebih beratakan disuling. pada hari kedua dan ketiga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar