Minggu, 27 Desember 2009

Bahram si Penyembah Api.

Bahram si Penyembah Api.

Haji merupakan ibadah spesifik yang menjadi dambaan setiap Muslim, namun setiap apa saja yang disebut ibadah, itu wajib diikhlaskan untuk menghormat Allah saja, bersih dari segala niat duniawi. Hal ini jika seseorang masih berharap pahala Allah diakherat nanti. Dengan demikian dalam berhaji tidak diperbolehkan ada niat supaya mendapat gelar “H” sebagaimana tidak ada gelar bagi seseorang yang rajin menjalankan shalat dengan gelar “ M ” maksudnya mushalli ataupun “ S ” ( shaim) untuk orang yang rajin berpuasa. Dan jikalau gelar itu tidak dicari, namun secara spontan masyarakat menyematkannya, hal ini tidaklah mengapa bahkan boleh jadi akan membawa dampak positif. Sebagaimana jika seseorang sebelum melaksanakan haji itu jarang melakukan shalat, maka boleh jadi setelah haji dia akan rajin melakukannya karena menyesuaikan dengan gelarnya itu atau karena kesadarannya meningkat drastis. Dan akan menjadi kehormatan tersendiri bila suatu desa atau kota banyak yang berhaji dimana akan sebagai indikasi atas kemakmuran kawasan itu. Kondisi seperti ini lebih dicintai Rasulullah Saw. Dimana beliau pernah bersabda :
“ Sesungguhnya Allah itu sangat menyintai seorang hamba yang selalu menepati janji, berusaha sekuat kemampuan untuk selalu bertakwa dan rajin membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan jalan yang halal dan kaya.”
Dimusim haji itulah hamba-hamba Allah dari berbagai ras dan bangsa berkumpul mejadi satu, baik yang berkulit hitam, kuning, putih atau sawo matang. Dan baik dari para pejabat atau rakyat jelata. Mereka mengumandangkan suara yang sama, bervisi sama dan menuju Tuhan yang sama dan bepakaian ihram yang sewarna mengingatkan diri ketika berkumpul di mahsyar nanti.
Pada suatu kesempatan dimusim haji, pergilah seorang yang bernama Ibnul Mubarak ke Makkah Al-Mukarramah dari rumahnya di Baghdad. Betapa khusyu’ dia berhaji kali ini, nikmat rasanya berkhidmah kepada Allah didekat RumahNya yang mula-mula dibangun dimuka bumi ini, namun lama-lama dimalam itu dia merasa capai dan letih sehingga tertidur didekat Hijir Ismail. Dan dalam tidurnya itu dia melihat Rasulullah Saw. menyuruhnya :
“ Wahai Ibnul Mubarak, jika kau telah kembali ke Baghdad hendaklah kau cari kampung begini, jalan begini, rumah nomor sekian dan carilah sampai ketemu seorang yang bernama Bahram yang beragama Majusi pengikut Zoroaster itu (menyembah api). Sampaikan salam dariku untuknya. Katakan pula bahwa Allah meridhai hidupnya.” begitu mimpi itu menyuruhnya dengan jelas.
Malam itu pula aku terbangun dengan terkejut penuh keheranan dan dari lisanku meluncur ucapan reflek la haula wala quwwata illa bil’Lahil ‘aliyyil ‘azhim dan hatiku mengatakan bahwa itu mimpi buruk yang disampaikan syetan. Maka segera saja aku bangkit mengambil air wudhu dan melakukan shalat sunnah dan kuteruskan dengan berthawaf sampai kelelahan hingga aku tertidur lagi. Namun kali ini aku bermimpi lagi persis sebagaimana yang pertama.. Akhirnya dengan galau kuselesaikan ibadah hajiku dan kuputuskan untuk segera kembali ke Baghdad mencari orang yang namanya Bahram yang kudapatkan dalam mimpi.
Setelah sampai di Baghdad, mimpi itu ternyata menjadi ganjalan hatiku yang setiap saat selalu hadir dalam ingatan. Maka segera saja kutelusuri jalan-jalan kota Baghdad dan memang aku temukan kampung yang sesuai dengan petunjuk mimpi itu. Akhirnya aku temukan sebuah rumah yang dihuni oleh seorang yang sudah tua dimana aku perkirakan bahwa rumah itulah yang sesuai dengan gambaran dalam mimpi itu. Dan setelah kusampaikan salam, akupun bertanya :
“ Benarkah ini rumah pak Bahram ?.”
“ Anda betul sekali.” jawab orang tua itu.
Setelah berbincang-bincang seperlunya, aku pun bertanya lagi.
“ Adakah bapak mempunyai suatu amal dimana menurut Allah termasuk suatu kebajikan yang bernilai tinggi ?.” tanyaku
“ Oh, saya kira itu benar adanya.” tukas Bahram.
“ Amal apa itu, ya Bahram ?.” tanyaku lagi.
“ Begini, setiap hari itu selalu ada orang yang datang kemari untuk meminjam uang kepadaku, dimana aku kenakan bunga yang hanya cukup untuk menyambung hari tuaku.” jawab Bahram.
“ Oh, itu termasuk renten dan riba yang diaharamkan Allah, wahai Bahram.” sergahku.
Kemudian aku tanyakan lagi :
“ Adakah amal kebajikan lainnya ?.”
“ Ya, ya, masih ada. Aku ini mempunyai delapan anak, empat pria dan empat lagi wanita. Demi agar hartaku ini tidak beralih ketangan orang lain, maka aku kawinkan saja empat wanita itu dengan empat pria saudaranya.” Bahram dengan bangga menuturkannya.
“ Wah, itu aneh pula dan termasuk perbuatan yang dilarang Allah, wahai Bahram.” tegasku.
Terus aku bertanya lagi :
“ Masih adakah kebajikan yang lain ?.”
“ Oh masih, masih. Dimana ketika resepsi perkawinan delapan anakku itu, kuundang orang-orang Majusi tidak kurang dari seribu orang yang hadir hingga resepsi itu berjalan dengan meriah sekali dan tampak empat pasang mempelai itu sangat berbahagia.” dengan terkekeh-kekeh Bahram menuturkan.
“ Itu juga dilarang wahai Bahram, sebab perbuatan apapun yang dilarang maka seluruh insfratruktur yang mendukungnya akan ikut terlarang juga.” jelasku lagi.
“ Adakah kebajikan selain itu wahai Bahram.” cecarku lagi.
“ Oh masih, masih. Aku m empunyai seorang puteri yang cantik sekali, aku kira tidak adalah gadis didaerah ini yang bisa menandingi kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Setelah begitu lama aku mencarikan jodoh, akhirnya aku meyakini tidak ada seorang pemuda yang akan tampak serasi dengan puteriku itu, maka puteriku itu aku kawin sendiri, dimana ketika resepsi perkawinannya berlangsung, aku undang lebih dari seribu pemeluk Majusi memberikan ucapan selamat menempuh hidup baru kepadaku. Mereka begitu bahagia tampaknya.” kali ini dengan gelak tawa Bahram menuturkannya.
“ Wah, edan sampean, ini sudah menyerupai kipat.” tukasku.
“ Apa itu kipat.” sambungnya.
“ Ya kaki empat alias binatang.” sambungku sengit.
“ Adakah amal yang lain lagi.” tanyaku lagi.
“ Oh masih banyak, wahai Ibnul Mubarak !. Dimalam pertama pengantinku selagi aku merasakan nikmatnya berbulan madu, datanglah seorang wanita dari pemeluk agama anda dengan alasan meminjam korek api untuk menyalakan lampu yang dia bawa. Kemudian pulanglah dia dengan membawa lampu itu. Namun setelah dekat rumahnya, dia matikan lampu itu dengan sengaja kemudian kembali mengetuk rumahku dengan alasan meminjam korek api lagi. Kejadian ini berlangsung sampai tiga kali dimana pada kali yang terakhir aku betul-betul menjadi curiga, jangan-jangan dia sebagai mata-mata rampok yang akan menguras habis hartaku. Seterusnya aku ikuti dia sampai didekat rumahnya. Kemudian aku intip apa yang dilakukan dirumahnya. Betapa kasihan ternyata dia ternyata seorang janda yang beranak banyak. Dan ketika dia masuk itu seluruh anaknya merengek kelaparan.
“ Wahai ibu, adakah ibu datang membawa makanan sekedar untuk mengisi perut dimana kami sudah tidak berdaya lagi.” begitu rintih anak-anaknya.
Dengan bercucuran air mata si ibu mengatakan :
“ Aku begitu malu meminta sesuatu kepada selain Allah, apalagi terhadap tetangga kita, Bahram sebagai penyembah api selaku musuh Allah itu.” begitu kata si ibu tadi.
“ Kalimat itu aku dengar jelas sekali. Ketika itu pula aku bergegas kembali ke rumah. Aku kumpulkan makanan dan buah-buahan yang masih tersisa hingga ada satu nampan penuh, kemudian kubawa ke rumah si janda itu. Betapa senangnya wanita itu dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepadaku.” tutur Bahram.
“ Ini baru suatu kebajikan wahai Bahram !. Ketahuilah saya datang kesini untuk menyampaikan kabar gembira kepadamu.” sambungku.
Kemudian aku ceritakan mimpiku ketika berhaji di Makkah sejelas-jelasnya. Demi mendengar ucapanku itu air matanya mengalir dengan terisak-isak dan kemudian ia mengcapkan “ Asyhadu anla ilaha illal’Lah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulul’Lah lalu lemas dan pingsan. Setelah kubangunkan, ternyata dia telah mati. Kami pun merawat jenazahnya secara Islami. Setelah janazah itu sudah siap untuk diberangkan ke pemakaman, maka aku sempatkan memberi nasehat pada para hadirin :
“Saudara-saudara sekalian ! dermakanlah hartamu, niscaya akan diganti Allah dengan yang lebih baik. Terbukti Bahram ini karena kedermawanannya, sikap itu telah merobah dia dari musuh Allah kepada kekasihNya, padahal sebelumnya dia tidak mengenal Tuhan Yang Esa. Para dermawan akan lebih dekat kepada Allah dari pada mereka yang pelit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar