Minggu, 27 Desember 2009

Hadad dan Jamilah

Hadad dan Jamilah

Menjelang petang hari bertamulah seorang lelaki yang bernama Hakim dengan seorang tokoh masyarakat, Alim namanya. Setelah dipersilahkan duduk, si Hakim itu pun mengatakan :
“ Wahai tuan guru, saya mempunyai tetangga tukang pandai besi, Hadad namanya. Selama ini masyarakat telah mengetahui dengan mata telanjang, dimana jikalau dia bekerja maka besi panas yang ditaruh diatas tungku itu tidak diambil dengan jepit atau pun peralatan lainnya, namun langsung dipegang dengan tangannya. Aku sendiri heran sekali ilmu apa yang dipakai. Mau bertanya langsung, aku khawatir dia tersinggung. Apalagi aku sebagai tetangganya, dimana jika saja dia sakit hati sekali saja maka dikhawatirkan hubungan harmonis yang selama ini terjalin akan terganggu. Untuk itu aku mohon jika tuan ada kesempatan, bertandanglah kerumah Hadad, dia pasti mau menjelaskan perihalnya itu kepada tuan.
“ Insya Allah aku akan pergi kesana, hingga jika keistimewaan itu dari ilmu yang hak, aku akan bisa ikut menimbanya. Namun jika dari ilmu batil, aku akan segera menasehatinya hingga dia mau bertaubat.” begitu kata si Alim.
“ Terima kasih, aku nanti juga mohon diberi pengetahuan tentang ilmu itu jika saja termasuk hak dan sekarang aku mohon pamit.” tukas Hakim seraya mohon diri.
Maka pada suatu pagi, berangkatlah si Alim itu kerumah Hadad menyaksikan apa yang dikatakan lelaki tamunya kemarin dan memang benar adanya. Dengan sabar dia menunggu Hadad hingga menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu baru si Alim mengucapkan salam seraya mengatakan :
“ Bolehkah malam ini saya menginap dirumahmu agar kita puas berbincang-bincang.”
“ Oh, silahkan dan akan ku terima dengan senang hati.” jawab Hadad.
Setelah agak sore, si Alim itu pun diajak untuk memasuki rumahnya seraya menyantap makanan yang telah disediakan sambil berbincang-bincang sampai malam. Dan pada malam itu sengaja si Alim tidak tidur untuk melihat amal apa saja yang dikerjakan Hadad hingga memiliki karamah yang begitu aneh. Sampai menjelang pagi, ternyata tidak ada keistimewaan amal-amal tertentu darinya hingga si Alim bergumam :
“ Mungkin saja dia menutupi amalnya ketika saya disini, akan kucoba semalam lagi.” kata si Alim.
Pada malam kedua juga tampak seperti biasa dimana Hadad tidur pulas dari waktu setelah ‘isya’ sampai menjelang pagi dan tidak dilihat dia bangun malam, pendeknya dia hanya mengerjakan shalat fardhu saja. Maka si Alim terpaksa bertanya dengan berterus terang padanya dipagi hari :
“ Wahai saudaraku, masyarakat telah menyaksikan kehebatanmu. Dan setelah kusaksikan sendiri ternyata memang benar adanya, namun setelah kulihat peribadatanmu tampaknya biasa-biasa saja. Apa yang menyebabkan dirimu semulia itu. Apakah karena ilmu atau yang lain ?.”
Mendengar pertanyaan itu Hadad begitu tenang, malah bersenyum simpul penuh arti dengan dicampuri rona yang menunjukkan malu sedikit, namun dia langsung mengatakan:
“ Wahai saudaraku, keistimewaan itu kudapat dari sebuah liku-liku kehidupan yang penuh ujian ini. Pada mulanya aku mempunyai seorang tetangga sebelah yang begitu cantik, cantik sekali hingga mataku sulit terpejam karenanya, Jamilah namanya. Seringkali aku menggoda dan merayunya, namun agamanya begitu kokoh, tidak goyah sedikitpun.
Maka datanglah masa-masa sulit, tahun paceklik yang betul-betul sulit mencari makan dimana pada suatu hari dari pintu rumahku terdengar diketuk seseorang. Dan setelah kubuka, betapa berbinar mataku, hatiku riang alang kepalang, ternyata tetanggaku yang jelita itu didepan mataku. Namun belum sempat kurayu dia mengatakan :
“ Wahai saudaraku, telah dua hari ini aku tidak menemukan makanan. Demi kemurahan hatimu hendaklah kau sudi memberiku apapun yang bisa mengganjal perutku.” begitu dia meratap.
Namun aku sebagai umumnya laki-laki, ratapan itu malah membuat nakalku kambuh dimana dia malah kuledek :
“ Bisa-bisa saja, asal… asal kau mau denganku sebentar saja, tidak lama kok, sungguh tidak lama.” jawabku nakal.
“ Oh, lebih baik maut menjemputku, saudaraku ! dari pada aku berlaku maksiat.” jawabnya tegas.
Wheladalah, nyaliku menjadi ciut dan dengan kecut kutolak kedatangannya hingga dia kembali kerumahnya lagi dengan tangan hampa, entah ketika itu aku begitu tega menyiksanya. Dan setelah dua hari dia pun datang lagi meminta belas kasihanku dan aku jawab pula seperti semula yaitu aku akan memberinya dengan syarat kemauanku itu diterima. Sejenak kemudian hatiku berbunga-bunga, ternyata dia mau memasuki rumahku dan langsung menuju tempat tidur. Namun tampaknya dia telah lemah sekali, suaranya terdengar lirih. Melihat kondisinya yang demikian itu segerea saja makanan aku taruhkan dipangkuannya kemudian kulihat air matanya berlinang membasahi pipi yang telah tampak pucat. Sampai begitu lama makanan itu hanya dipangkuan dimana akhirnya dengan suara terputus-putus dia mengatakan :
“ Bisakah makanan ini disedekahkan karena Allah ?.” tanya Jamilah.
“ Oh, jelas tidak. Komitmen pertama tetap aku pegang.” jawabku masih bersikap ketus.
Betapa terperanjatku, dia pun beranjak pulang kerumahnya dan makanan itu ditinggalkan begitu saja, tidak sedikit pun dirasakan, aku pun ngacir tidak mendapatkan apa-apa.
Esoknya lagi dia datang kembali. Kali ini suaranya hampir tak terdengar, jalannya gemetaran seraya mengatakan :
“ Saudaraku, sudilah kiranya kau menolongku, selama ini betul-betul aku telah berusaha untuk meminta sesuap nasi pada orang lain, namu tidak kutemukan selain engkau. Adakah makanan buatku yang akan kau berikan dengan jalan sedekah karena Allah.” begitu pintanya.
“ Ya, namun berilah kesempatan padaku untuk menikmati apa yang ada pada dirimu kendati hanya sebentar saja.” begitu sahutku tanpa belas kasihan.
Kemudian dia memasuki rumah dan duduk ditempat tidur seraya menundukkan kepala meratapi nasib yang menimpanya. Sialnya ketika itu sudah tidak ada makanan yang tersisa hingga aku terpaksa bangkit untuk menanak nasi. Maka segera tungku aku nyalakan dan dalam sekejap saja makanan itu berhasil aku hidangkan didepannya. Namun kali ini rasanya hatiku luluh mendapat hidayah Allah SWT. dimana hati kecilku memberontak dengan mengatakan :
“ Wahai badan ! betapa celaka diri ini. Wanita ini merupakan sosok yang lemah, lemah akalnya, lemah phisiknya juga lemah agamanya, namun begitu tegar membela kehormatan dirinya kendati didera kelaparan yang hampir saja merenggut nyawanya. Sedangkan kamu, wahai badan, selalu ingin berbuat maksiat kepada Allah. Betapa lancangnya dirimu menghadapi api neraka.”
Setelah terjadi pergolakan batin ini aku pun sempat berdo’a :
“ Ya Allah, aku bertaubat kepadamu dari segala ulahku selama ini. Sekarang aku tidak akan mendekatinya untuk berbuat maksiat kepadaMu, kuatkanlah imanku.”
Setelah selesai berdo’a, aku toleh dia seraya kukatakan padanya :
“ Makanlah dan puaskan sampai kenyang dan jangan khawatir aku akan menodaimu, sekarang semua itu kuberikan ikhlas karena Allah.”
Mendengar ucapan ini dia hanya tertegun tidak mau makan dan malah mendongakkan kepalanya seraya berdo’a :
“ Ya Allah, jika saja dia benar-benar ikhlas, maka hindarkanlah dia dari keganasan api, baik didunia atau pun diakherat.” begitu do’a itu kudengar dengan jelas.
Namun setelah itu kutinggalkan dia makan sendiri sepuas-puasnya. Sementara itu aku pun kembali membuat sabit yang belum selesai kukerjakan. Namun tiba-tiba sebuah bara memercik persis dibawah kakiku, herannya aku tidak merasakan panas dan kulihat pula telapak kakiku, ternyata juga tidak terluka, aneh. Sejenak kemudian aku segera memasuki rumah seraya kukatakan padanya :
“ Saudaraku, bahagiakan hatimu, hari ini do’amu begitu mustajabah, hal itu telah terbukti pada diriku.”
Mendengar ucapanku ini dengan segera dia bangkit meletakkan piringnya dan langsung bersujud syukur kepada Allah. Pada saat itu dia kudengar mengatakan :
“ Ya Allah, Engkau telah memperlihatkan kehendakku pada lelaki ini, untuk itu aku berharap, sudilah kiranya Engkau mengambil ruhku sekarang juga.”
Tertegun aku mendengarnya. Namun setelah beberapa saat, dia pun terjatuh. Setelah kuperhatikan ternyata dia telah meninggal dunia, berarti ketika sujud itulah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Itulah asal mula badanku tidak terbakar wahai Alim, dimana sampai sekarang masih berlangsung seperti ini. Dengan demikian keistimewaanku ini bukan dari ilmu hitam , putih atau coklat yang bisa dipelajari, namun dari berkah sebuah do’a orang yang menderita. Sebagaimana para ulama telah mengatakan bahwa do’a ketika dalam penderitaan akan lebih diperhatikan Allah dari pada ketika dalam kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar