Kamis, 24 Desember 2009

Croton, Dulu Disingkirkan, Kini Dinaikkan

Croton, Dulu Disingkirkan, Kini Dinaikkan

Puring, dengan bahasa yang agak keren menjadi croton, yang tampaknya, semakin Anda tidak mengerti dengan sebuah istilah, maka sebuah barang akan bernilai semakin melangit. Itu hanya rumor belaka, kalau bukan malah menjadi trend bisnis atau yang lain.
Croton memang disebut-sebut-sebagai maskot baru tanaman hias di tahun tikus. "Sejak 2 bulan terakhir harga-nya terdongkrak naik 2 - 3 kali kata Handry Chuhairy, pemilik Hans Garden di Alam Sutera, Tangerang. Menurut Handry sebetulnya puring pernah menjadi incaran para penggermar setahun silam. Namun, ketika itu pesona puring tergilas anthurium yang memang tengah naik daun. Apalagi puring impor asal Thailand yang didatangkan secara besar-besaran banyak stres dan rusak.
Menurut H. Ali Nasrudin banyak keunggulan puring yang tak ditemui pada tanaman hias daun lain."Variasi warna beragam, dalam 1 tanaman bisa terdapat 4—5 warna," kata pegawai di sebuah kantor pemerintahan di DKI Jakarta itu. Sebut saja oscar yang berwarna hijau, kuning, merah, merah muda, dan merah kehitaman. Beragam warna pada 1 tanaman itu bahkan sulit ditemui pada aglaonema, tanaman hias daun yang dikenal kaya warna. Bentuk daun puring juga beragam mulai dari bulat hingga bentuk trisula dan keriting.

Beragam corak, warna, dan bentuk puring itulah yang menjadi daya tarik kolektor. Apalagi belakangan croton (sebutan puring di mancanegara) banyak didatangkan dari India dan Thailand. "Itu memperkaya jenis yang beredar," kata Ferdian AS SSi, pemilik Suhika Flora Indonesia di Sawangan, Depok. Dari India croton bangalore menjadi maskot. Daun besar selebar telapak tangan orang dewasa dan bersosok kompak. Di Jakarta Selatan, sepot bangalore berdaun 10 dibandrol Rp4-juta alias Rp400.000 per daun. Pendatang dari India yang tak kalah cantik ialah leopard dan red spider. Dari Thailand, narapirom dan bangkruei
Hingga saat ini tak ada yang tahu pasti dari mana croton berasal. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia II menyebut puring berasal dari Maluku. Namun, ia iuga menyebut puring banyak ditemukan di Pulau Jawa dengan beragam nama. Di tanah Sunda disebut katomas, tomas, dan puring. Di Jawa, puring, dan di Madura, karoton atau karotong. Anggota keluarga Euphorbiaceae itu juga ditemukan di Kalimantan (uhung dan dolok), Sulawesi (dendiki dan balenga semangga), dan Papua (abam atau kama).


Di wilayah nusantara itu puring tak hanya dikenal sebagai tanaman pagar dan pekuburan. Pucuk daun dipakai sebagai lalapan dan obat tradisional. Pada 1660 Georgius Everhardus Rumphius, botanis asal Jerman melaporkan daun puring dapat dimakan sebagai sayur. Daun yang muda berasa agak kemanis-manisan.
K Heyne menyebutkan orang melayu menggunakan gerusan akar puring untuk mengobati penyakit kelamin seperti rajasinga atau sipilis. Sementara akar dan kulit batang dipakai sebagai zat penyamak kulit. Dari sejumlah literatur terbaru ditemukan gudang puring tak hanya di Indonesia. Tercatat 2 wilayah lain yang dikenal sebagai gudang keragaman puring. Asia dan Kepulauan Pasifik bagian timur. Artinya, India yang termasuk Asia memang habitat asli croton. Menurut Ir Slamet Budiarto, dari PT Godong Asri, Depok, tanah India kaya puring daun lebar. Sebut saja anaconda dan jonson. Jenis daun kecil asal India dengan puring lokal seperti anting. Sedangkan Thailand didominasi puring seperti bang kruei dan berpunuk.
Menurut Handry datangnya puring India dan Thailand ke Indonesia malah mendongkrak pamor puring lokal. "Dulu puring lokal tak dilirik. Sekarang dipotkan oleh pekebun dan dilahirkan dengan menyematkan nama. Mereka turut menjadi buruan kolektor," kata mantan atlit renang itu. Empat puring lokal tak bernama yang bersalin rupa menjadi mutiara, miss Indonesia, miss universe, dan rembulan.

Di Pakulonan dan Lengkong, Serpong, Tangerang, banyak pekebun melakukan hal itu. Sebut saja Suharta dan Tirtayasa. Keduanya bergerilya mengumpulkan puring lokal dari pelosok, memperbanyak, lalu mengepotkannya. Di tangan mereka puring yang tadihya diabaikan menjadi tanaman koleksi bernilai jutaan rupiah.
Mutiara misalnya, sepot setinggi 30 - 40 cm itu dibandrol Rp2-juta. Sedangkan miss Indonesia dan miss universe dipatok di atas Rp5-juta. "Kita berburu ke rumah-rumah penduduk, dan menemukan tipe ini yang tergolong langka," kata Tirtayasa. Fenomena itu mengingatkan pada aglaonema no name yang cantik tapi tak dilirik. Ia baru menjadi kebanggaan kolektor setelah disematkan nama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar