Kamis, 24 Desember 2009

Mencium Semerbak Nilam

Mencium Semerbak Nilam

Nilam sama sekali bukan nila (nama jenis ikan). Ia merupakan salah satu dari 150 200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 - 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial.
Minyak atsiri (atau asiri) juga disebut minyak eteris atau minyak terbang (essensial oil atau volatile). Dinamai demikian karena mudah terbang (menguap) pada suhu kamar (25°C) tanpa mengalami dekomposisi. Aroma minyak atsiri umumnya khas, sesuai jenis tanamannya. Bersifat mudah larut dalam pelarut organik, tapi tidak larut air.
Tanaman nilam punya julukan keren Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth, alias Pogostemon mentha. Aslinya dari Filipina, tapi sudah dikembangkan juga di Malaysia, Madagaskar, Paraguay Brasil, dan Indonesia. Gara-gara banyak ditanam di Aceh, lantas juga dijuluki nilam aceh. Varietas ini banyak dibudidayakan secara komersial.
Sampai saat ini Daerah Istimewa Aceh, terutama Aceh Selatan dan Tenggara, masih menjadi sentra tanaman nilam terluas di Indonesia (Ditjen Perkebunan, 1997). Disusul Sumatra Utara (Nias, Tapanuli Selatan), Sumatra Barat, Bengku1u, Lampung, Jawa Tengah (Banyumas, Banjarnegara), dan Jawa Timur (Tulungagung). Umumnya; masih didominasi perkebunan rakyat berskala kecil.
Varietas lainnya, Pogostemon heyneanus, berasal dari India. Juga disebut nilam jawa atau nilam hutan karena banyak tumbuh di hutan di Pulau Jawa. Ada lagi Pogostemon hortensis, atau nilam sabun (minyak atsirinya bisa untuk mencuci pakaian). Banyak terdapat di daerah Banten, Jawa Barat, sosok tanamannya rnenyerupai nilam jawa, tapi tidak berbunga. Atsiri penyumbang devisa Sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi, nilam bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan ekspor nonmigas. Terbukti minyak nilam telah tercatat sebagai penyumbang terbesar devisa negara ketimbang minyak atsiri lainnya. Volume ekspor minyak nilam periode 1995 - 1998 mencapai 800 - 1.500 ton, dengan nilai devisa AS $ 18 - 53 juta. Sementara data terbaru menyebutkan, nilai devisa dari ekspor minyak nilam sebesar AS $ 33 juta, 50% dari total aevisa ekspor minyak atsiri Indonesia. Secara keseluruhan Indonesia memasok lebih dari 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Nuryani Y, 2001).

Berdasarkan laporan Marlet Study Essential Oils and Oleoresin (ITC), produksi nilam dunia mencapai 500 - 550 ton per tahun. Produksi Indonesia sekitar 450 ton per tahun, kemudian disusul Cina (50 - 80 ton per tahun). Produk atsiri dunia yang didominasi Indonesia, antara lain nilam, serai wangi, minyak daun cengkih, dan kenanga.
Sebelum diekspor, minyak nilam biasanya ditampung oleh agen eksportir. Harga minyak nilam di pasaran lokal (di tingkat agen eksportir) berkisar Rp 200.000,- - Rp 250.000,- per kg (di New York, AS $ 14 - 23,5). Negara tujuan ekspornya meliputi Singapura, India, AS, Inggris, Belanda, Prancis. Juga Jerman Swiss, dan Spanyol.
Adakalanya petani (terutama yang tidak punya alat penyuling) menjual daun nilam dengan harga Rp 2.000, per kg (kering) atau Rp 400, per kg (basah). Penampungnya tidak lain petani pemilik ketel penyuling. Dulu, sebelum petani mengenal alat penyuling, yang diekspor adalah daun kering nilam. Alat penyuling mulai dikenal tahun 1920-an. Minyak nilam Indonesia sangat digemari pasar Amerika dan Eropa. Terutama digunakan untuk bahan baku industri pembuatan minyak wangi (sebagai pengikat bau atau fixative parfum), kosmetik, dan sebagainya. Komponen utama minyak nilam (diperoleh dari penyulingan daun nilam) berupa pachoully alcohol (45 - 50%), sebagai penciri utama. Bahan industri kimia penting lain meliputi patchoully camphor, cadinene, benzaldehyde, eugenol, dan cinnamic aldehyde.
Sebuah referensi menyebutkan, minyak nilam bisa untuk bahan antiseptik, antijamur, antijerawat, obat eksem dan kulit pecah-pecah, serta ketombe. Juga bisa mengurangi peradangan. Bahkan dapat juga membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur). Makanya minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma. Juga bersifat afrodisiak: meningkatkan gairah seksual.
Bukan cuma minyak nilamnya yang bermanfaat. Di India daun kering nilam juga digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani. Malahan air rebusan atau jus daun nilam, kabarnya, dapat diminum sebagai obat batuk dan asma. Remasan akarnya untuk.:obat rematik, dengan cara dioleskan pada bagian yang sakit. Bahkan juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala. Remasan daun nilam dioleskan pada bagian yang sakit.

v Daun muda lebih berminyak
Kadar minyak atsiri nilam bervariasi, tergantung pada varietasnya. Nilam aceh (Pogostemon cablin), karena tidak berbunga, kadar minyaknya tinggi (2,5 - 5%). Begitu pula sifat minyaknya disukai pasar. Nilam jawa (P. heyneanus) karena berbunga, kadar minyaknya rendah (0,5 - 1,5%). Komposisi minyak atsirinya kurang diminati. Sedangkan nilam sabun (P. hortensis), kadar minyaknya 0,5 - 1,5%, dan jenis ini kurang disukai pasar.
Minyak terbang ini terbentuk melalui proses metabolisme di dalam tanaman. Bagi tanaman nilam, minyak atsiri ibarat feromon yang mampu menarik kehadiran serangga penyerbuk. Sekaligus aromanya dapat mengusir serangga perusak tanaman. Yang pasti, ia berfungsi sebagai makanan cadangan bagi tanaman itu.

Pada dasarnya semua bagian tanaman nilam, sejak dari akar, batang, cabang, dan daun, mengandung minyak terbang. Tapi umumnya mutu rendemen dari akar dan batang nilam lebih rendah daripada daunnya. Demi kelangsungan hidup si tanaman, yang lazim dipanen, ya, daunnya.
Mengingat yang dipanen daunnya, pertumbuhan vegetatif tanaman nilam diupayakan seoptimal mungkin. Kuncinya, ada pada pemupukan, baik pupuk organik (kompos) maupun anorganik (buatan). Yang paling banyak menyimpan minyak atsiri lazimnya tiga pasang daun termuda. Nah, untuk memperbanyak pertumbuhan daun-daun muda bisa dengan cara pemangkasan.
Tanaman dianggap matang dan siap panen kalau sudah berumur enam bulan atau 5 - 8 bulan. Bagian yang dipanen, cabang dari tingkat dua ke atas. Sekitar 20 cm di atas tanah. Biasanya disisakan satu cabang di tingkat pertama untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru. Tiga bulan kemudian (bulan ke-9), cabang dan anakan haru dipanen kedua kalinya. Periode panen berikutnya seliap selang tiga bulan. Hasil panen bisa mencapai 3,5 - 4 ton daun nilam kering, kalau kondisi tanaman bagus.
Pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak atsiri tinggi (2,5 - 5%). Pemetikan siang hari membuat daun kurang elastis dan mudah robek. Juga transpirasi (penguapan air) daun lebih cepat sehingga kadar minyak atsirinya berkurang. Alatnya.bisa berupa sabit, gunting, atau parang tajam.
Nilam yang sudah dipanen dipotong-potong 3 - 5 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam (pukul 10.00 - 14.00). Setelah itu diangin-anginkan di atas para-para yang teduh, sambil dibolak-balik 2 - 3 kali sehari selama 3 - 4 hari hingga kadar airnya tinggal 15% (ini kondisi siap suling). Pengeringan tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat membuat daun rapuh dan sulit disuling. Terlambat kering, daun menjadi lembap dan mudah ditumbuhi jamur. Akibatnya, rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan menurun.

v Tanamannya kurang dikenal
Di mancanegara komoditi olahan nilam (minyak nilam), sangat populer. Dunia mengakui Indonesia (terutama Aceh) sebagai penghasil utama minyak nilam. Tetapi anehnya, tanaman nilam kurang dikenal oleh masyarakat kita. Ini barangkali karena sosok tanamannya memang tidak menarik. Ditilik dari segi botani tanaman, nilam termasuk tanaman herba semusim. Tumbuh tegak setinggi 0,5 - 1 m. Percabangannya banyak dan bertingkat mengitari batang (ada 3 - 5 cabang tiap tingkat), dan berbulu. Radius cabang melebar sekitar 60 cm. Batangnya berkayu dan berbentuk segi empat dengan diameter 10 - 20 cm, berwarna keungu-unguan. Sedangkan daunnya hijau tersusun dalam pasangan berlawanan. Berbentuk bulat lonjong, panjang 10 cm, lebar 8 cm, dengan ujung agak meruncing. Tangkai daun sekitar 4 cm. berwarna hijau kemerahan. Nilam bisa tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun dataran tinnggi (0 -1.200 m dpl). Tapi ia akan tumbuh baik pada ketinggian 10 - 400 m dpl. Nilam tidak haus air, tapi juga tidak tahan kering. Menghendaki suhu 24 - 28°C, tapi lembap (lebih dari 75%). Curah hujan merata sepanjang tahun (2.000 - 3.500 mm per tahun).

Untuk pertumbuhan optimal, nilam perlu cukup sinar matahari. Namun bisa tumbuh baik di tempat yang agak terlindung. Karena itu bagus saja ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain. Di lereng kaki Gunung Ceremai (200 - 1.000 m dpl), di daerah Kuningan (Jawa Barat), nilam ditumpangsarikan dengan tanaman jagung. Juga tidak protes kalau ditanam di sela-sela lamtoro gung, kelapa, atau karet.
Kondisi tanah datar atau miring (lereng) tidak masalah, yang penting subur dan berdrainase baik. Tanah liat, tanah berpasir, dan berkapur kurang disukai. Tanah tergenang memudahkan tanaman nilam diserang cendawan Phytoptora. Musuh lainnya, yakni serangga perusak daun, nematoda, penyakit buduk, busuk batang, luka batang, dan gejala defisiensi. Juga ulat pemakan daun, ulat penggulung daun, dan belalang.
Nilam diperbanyak dengan stek yang diambil dari batang atau cabang cukup tua, berdiameter 0,8 - 1 cm.. Panjang stek 15 - 23 cm. Setidaknya berisi 3 - 5 mata tunas atau tiga helai daun. Stek bisa langsung ditanam di kebun. Lebih baik ditanam dulu di tempat pembibitan, baru dipindahkan ke kebun begitu muncul akar dan tunas baru (3 - 4 minggu). Satu lubang tanam diisi 1 - 3 stek (bibit). Jarak tanamnya mulai dari 30 x 100 cm, 50 x 100 cm, hingga 100 x 100 cm, tergantung kesuburan dan jenis tanah. Sebaiknya, dilakukan pada awal musim hujan. Peluang usaha nilam cukup bagus, Anda tertarik?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar