Minggu, 27 Desember 2009

Dampak Negatif Kafein

Dampak Negatif Kafein


Sejatinya, semua ciptaan Tuhan di bumi bermanfaat buat manusia. Api, air dan sebagainya, siapa tak kenal kemaslahatannya? Kecuali tentunya, kalau dikonsumsi tanpa kendali. Hukum alam ini juga berlaku untuk kafein, yang lama dikenal sebagai zat penyuntik energi ekstra buat tubuh yang loyo. Tapi, awas lo, kalau kelebihan, berpotensi mengundang penyakit akut.
Anda pasti masih ingat gonjang-ganjing beberapa merek minuman penambah energi, yang dipaksa mundur dari peredaran beberapa waktu lalu, lantaran mengandung 80% kafein. Kalau ditilik lebih jauh, kasus tadi sebenarnya cuma satu dari sekian banyak kontroversi yang mengiringi kafein. Di banyak negara, zat yang mayoritas terdapat dalam kopi, cola, dan coklat ini bahkan kerap disebut "heroin berskala kecil," karena begitu gampangnya membuat orang nambah dan nambah lagi.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sendiri tegas menetapkan, kandungan kafein dalam minuman penambah energi tak boleh melebihi 50 mg. Jika dikonsumsi lebih dari itu, dalam jangka panjang, peminumnya bisa kena penyakit jantung, darah tinggi, ginjal hingga penyakit gula. Termasuk risiko abortus untuk wanita hamil.
Penelitian terakhir lebih serem lagi. Konon, kafein juga berpotensi mengundang stroke. Gawat juga, ternyata!

v Energi Ekstra dan Penggembira
Melihat problem yang ditimbulkan, kafein memang sudah menjadi masalah dunia. Sebuah situs negeri Paman Sam mencatat 90% warga Amerika melanggani kafein, yang masuk dari berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi saban harinya. Mereka juga mencatat, lebih dari separuh orang dewasa AS menelan minimal 300 mg kafein per hari. Jumlah yang gampang diperoleh hanya dengan menenggak sekitar tiga cangkir kopi atau coke. Saking populernya, mereka menobatkan kafein sebagai the most popular drug in the USA.
Padahal, disadari atau tidak, tiap 360 mg cola (hampir ada di semua merek soft drink) mengandung sekitar 40 mg hingga 60 mg kafein. Kopi bisa lebih banyak lagi, mencapai 80 mg hingga 100 mg per cangkir. Paling sedikit, tentu saja teh yang "cuma" menyimpan kandungan 20 mg hingga 30 mg per cangkir. Tapi angka-angka tadi bukannya harga mati, karena tingginya kandungan kafein berkaitan erat dengan kualitas bahan dan proses pengolahannya.
Dalam kamus medis, kafein memang masuk golongan zat yang punya kemampuan menstimulasi otak. Kalau dipisahkan dari zat-zat lainnya, pemilik nama lain trimethylxanthine ini aslinya berbentuk bubuk putih, dengan rasa agak pahit. Namun ajaib, penenggaknya bak mendapat kekuatan ekstra untuk berperang melawan rasa lelah, diiringi munculnya semangat tinggi dan perasaan gembira. Kafein juga dikaruniai kemampuan memacu detak jantung dan meningkatkan produksi urine.
Singkat kata, kafein memang menjanjikan kebugaran jangka pendek yang banyak dicari orang. Bahkan kalangan medis pun kerap memanfaatkannya sebagai campuran obat-obatan. Obat flu misalnya, biasanya dilengkapi kafein untuk menyeimbangkan dorongan rasa kantuk yang muncul. Belakangan, dicoba pula sebagai campuran obat asma. Namun dalam praktik sehari-hari, kafein lebih sering dimanfaatkan untuk menciptakan efek penambah energi dan menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi.
Tengok saja para pelajar dan mahasiswa, yang begitu percaya kopi bisa membuat mata tak mengantuk, meski dipakai belajar semalam suntuk. Bahkan ada orang yang mewajibkan dirinya minum kopi tiap pagi, agar lebih gesit beraktivitas. Jika tak menyeruput kopi, tubuhnya loyo bak tak makan seminggu. Sebuah fenomena yang bukan sekadar sugesti belaka, tapi bisa dijelaskan secara ilmiah.
Mengapa kafein membuat tubuh selalu siaga? Begini kira-kira ceritanya: Salah satu yang membuat orang mudah tertidur, adalah peran senyawa adenosine dalam sel otak. Jika zat ini terikat oleh receptornya, secara "otomatis" akan memperlambat aktivitas sel tubuh. Juga menyebabkan pembesaran pembuluh darah (dibutuhkan saat tidur, agar jumlah oksigen yang tersuplay lebih banyak). Nah, di sinilah letak kehebatan kafein. Dia ternyata dapat menyaingi fungsi adenosine, terutama dalam membuat ikatan dengan receptor. Namun beda dengan hasil ikatan pendahulunya, buah karya kafein justru tidak memperlambat gerak sel tubuh. Seiring makin banyaknya bubuk putih yang terserap masuk, lambat laun sel tubuh akan cuek terhadap perintah-perintah adenosine. Soalnya, receptornya di otak lebih sibuk bergumul dengan kafein.
Lain perkataan, kafein membalikkan semua pola kerja adenosine, sehingga tubuh bukannya mengantuk, tapi malah siaga satu. Bersamaan dengan itu, muncul perasaan segar dan gembira, pupil mata terbuka lebar, jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah naik, otot menegang, sementara hati melepas gula ke aliran darah yang nantinya makin menguatkan terbentuknya energi ekstra.

v Mirip Kartu Kredit
Sayangnya, harga yang harus dibayar untuk mencapai kebugaran semu itu tidak bisa dibilang murah. Bahkan buat orang tertentu, taruhannya nyawa. Untuk jangka panjang, konsentrasi kafein bisa menimbulkan masalah.
Jika terbiasa mengonsumsi kopi dan sejenisnya, sekali saja absen, tubuh akan merasa cepat lelah dan depresi. Laporan terbaru dari kongres European Society of Cardiology menyebut kafein sebagai penyebab pengerasan pembuluh darah yang bisa memicu serangan jantung dan stroke. Gejala yang biasa disebut aterosklerosis ini bisa berlangsung selama dua jam setelah kopi diminum. “Peringatan terutama ditujukan buat penderita tekanan darah tinggi," sebut Dr. Charalambos Vlachopoulos dari RS. Henry Dunant, Athena, Yunani. Sebab, secangkir kopi berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 - 10 mm.Hg. Jika diikuti pengerasan pembuluh darah, risiko pasien darah tinggi terkena serangan jantung dan stroke menjadi lebih besar ketimbang manusia "normal."
Kebiasaan mengonsumsi kafein juga menyebabkan tubuh berutang istirahat dan tidur. Sebuah lembaga penelitian di Amerika Serikat pernah mencatat, setengah dari kandungan kafein yang diminum, ternyata sanggup bertahan selama enam jam dalam tubuh. Jadi, jika Anda minum dua gelas kopi (sekitar 160 mg - hingga 100 mg) pada pukul 03.00 dinihari, pada pukul 09.00 pagi kafein tadi masih tersisa sekitar 80 mg. Cukup untuk membuat mata susah terpejam.
Bisa saja memaksakan diri tidur, tapi tingkat kenyenyakannya pasti berkurang. Defisit ini akan terus bertambah, jika kebiasaan ngopi tak berubah. Dari hari ke hari, defisit makin menumpuk dan mengurangi kadar fit tubuh. Begitu tak ada stimulasi (kopi) lagi atau memang berniat berhenti mengonsumsi, "batere" langsung drop. Lucunya, banyak di antara mereka kemudian berpaling lagi ke kopi. Inilah lingkaran setan kafein, yang memberi kesan peminumnya "kecanduan."
“Satu lagi, buat mereka yang punya tubuh sensitif, bakal mudah mengalami overstimulasi. Minum kopinya mungkin cuma beberapa teguk, tapi bisa tiba-tiba panik dan jantung ber debar-debar dengan irama tak beraturan," tegas Dr. Emon lagi. Jadi, gangguan kafein tak hanya ditentukan oleh dosis (banyaknya kafein yang dikonsumsi), tapi juga tingkat kesensitifan seseorang alias lebih bersifat individual.
Memang sulit menentukan berapa dosis ideal konsumsi kafein per hari. Selain perbedaan kadar sensitivitas tiap individu, makanan dan minuman mengandung kafein bukanlah jenis yang bisa terus menerus dikonsumsi. Kan jarang ada orang yang sanggup minum cola tiga gelas berturut-turut.
Emon juga meyakini, pengonsumsi kafein sebenarnya bukan pecandu. Karena hubungan ketergantungan yang tercipta tidak sama dengan pecandu narkotika misalnya. Meninggalkan kafein relatif lebih mudah. Ini 'kan soal kebiasaan dan komitmen untuk hidup normal tanpa stimulan.
Perbedaan lainnya, kecanduan terhadap heroin dan obat-obatan terlarang, efeknya bisa dirasakan semua orang. Siapa pun individunya, pasti ketagihan jika terus dicekoki putau. Sebaliknya, tak semua orang berpotensi jadi pecinta kafein. Meski dicekoki secara paksa, tak dijamin bakal langsung kecanduan. Karena, sekali 1agi, dampaknya lebih bersifat individual.
Makanya, tak seperti narkotika yang peredarannya sembunyi-sembunyi, kopi dan sejenisnya tetap bisa dijual bebas. Kalau pun ada yang mesti diperhatikan menyusul kasus tingginya kadar kafein dalam energy drink, adalah inisiatif pemerintah untuk memaksa para pembuat minuman tadi membuat peringatan dampak mengonsumsi obat-obatan tadi dalam jangka panjang. “Ya, mirip peringatan yang tercantum pada bungkus rokoklah," simpul Emon. Ia mengibaratkan pemakai kafein sebagai pengguna kartu kredit yang doyan ngutang. Saat kantong kosong, kartu terus digesek untuk membeli barang. Begitu juga dengan badan, saat mata mengantuk dan tubuh loyo, bukannya diajak beristirahat, malah dipaksa "berhutang segar" pada minuman penambah energi, kopi dan sejenisnya. Padahal, jika makin menumpuk, utang tadi bisa tak terbayar. Kalau utangnya berupa uang, 'kan bisa minta dispensasi dan penundaan pembayaran pada bank bersangkutan. Tapi bagaimana jika badan yang sengsara? Bukankah kata orang, nyawa itu tak ternilai harganya?
Nah, bagaimana dengan mereka yang telanjur berutang? Obat satu-satunya, perlakukanlah tubuh secara normal. Jika memang ngantuk, ya tidur. Kalau lelah, beristirahatlah. Enggak usah ngutang energi ke lain tempat," sambung Emon. Artinya, makan minumlah kafein secara cerdas (tahu kadar dan bahayanya) serta ingat dampak negatifnya jika sudah mulai melampaui batas. Itu kalau mau tetap jadi penikmat kafein yang sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar