Minggu, 27 Desember 2009

Ketika Dilanda Obesitas

Ketika Dilanda Obesitas



Siapa yang tak gemas melihat bocah balita berbadan gemuk. Tangan rasanya gatal kalau tak mencubit pipinya yang kayak bakpau. Namun kalau badan subur itu keterusan sampai usia akil baligh, apalagi anak itu perempuan, orang tua jadi kebingungan sendiri. Selain karena mengurangi estetika penampilan, kegemukan yang terus berlanjut pada anak-anak bisa mendatangkan secara dini berbagai penyakit orang tua. Berikut ini disajikan apa itu kegemukan, cara menilainya, bagaimana mengatasinya yang dikemukakan oleh dokter dalam dan luar negeri.
Badan gernuk berisi sering kali berkorelasi dengan tingkat kemakmuran. Belakangan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, jumlah anak-anak, dari usia balita hingga belasan tahun, yang tubuhnya kelewat gemuk cenderung meningkat. Pendataan oleh poliklinik gizi IKA FKUI-RSCM tahun 1980 - 1987 mengungkapkan adanya 102 kasus kegemukan pada anak, 59,8 % di antaranya terjadi pada anak 6 - 12 tahun dan sebagian besar berasal dari DKI Jakarta (Kompas, 25 Maret 1995).
Contoh lain di Eropa - ambil misal Jerman – satu dari delapan anak mengalami obesitas. Di kota-kota besar negara itu lebih-lebih lagi, satu dari sepuluh anak kelebihan bobot 30% dari yang normal. Di Amerika Serikat, jumlah anak dan remaja yang kelebihan berat bertambah dua kali lipat dalam masa 30 tahun terakhir. Di Hongkong, penelitian dr. Sophie Leung dari Chinese University's Paediatric Department menunjukkan, 13,4% anak laki-laki dan 10,5% anak perempuan berusia 5 - 18 tahun dalam kondisi gendut. Sampai usia 11, satu dari setiap lima anak lelaki sekarang dalam keadaan gemuk.
Dalam penelitian sebelumnya, dr. Leung menemukan anak-anak Hongkong memiliki tingkat kolesterol darah tertinggi di dunia setelah Finlandia. Begitu juga di Inggris, berdasarkan The Third National Health dan Nutrition Examination Survey, dikutip Cathy Suehisa dalam informasi Internet "Watching Your Child's Weight", sampai Maret 1995, 20% remaja pria dan 22% remaja wanita mengalami kegemukan.

v Membuat Orangtua Bingung
Sampai usia tertentu anak yang badannya gemuk memang bikin gemas. Kehadirannya selalu mengundang kegembiraan dan kelucuan. Namun bagi si anak tubuh gembrot bukan kemauannya. "Masa depan gua suram nih," begitu gumamnya andaikata dia sudah memahami keadaan tubuhnya. Memang, kalau gendutnya keterusan, si anak mengandung potensi bermacam masalah. Di masa kecil ia bisa jadi bahan olok-olok teman sebayanya, dan ini dapat merusak perkemhangan mentalnya. "Si anak merasa dijauhi teman-temannya, harga dirinya merosot, citra dirinya anjlok, sehingga rasa percaya dirinya pun menipis," kata dr. Larry Hammer dari Packard Children's Hospital, AS.
Kalau gemuknya kelewatan, jalannya pun jadi rada susah. Paha bagian dalam bisa lecet karena saling bergesekan. Persendian di bagian panggul atau pangkal paha bisa terserang nyeri akibat menahan beban yang terlalu berat (padahal untuk menanganinya sering kali diperlukan tindakan pembedahan). Lalu saat sedang tidur, hocah gendut sering menghadapi gangguan, di antaranya sesak napas. Kelak ketika dewasa, dia sangat berpotensi mengidap penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes, stroke dini, asma, rieurodermitis, alergi, dan masalah-masalah persendian. Bahkan bukan tak mungkin penyakit orang tua itu menyerang anak-anak yang kebangetan gemuknya.
Mula-mula kondisi anak macam itu memang bikin bangga orang tuanya. Namun pada titik-titik tertentu justru acap merepotkan. Mencarikan pakaian untuknya tidak mudah. Mesti memberi dukungan mental yang merosot akibat diolok-olok. Kalau gemuknya keterusan, ortu jadi kebingungan dan "terpaksa" meluangkan waktu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli gizi untuk menurunkan berat badan anaknya. Sesudah itu harus membiascikan si anak menjalani pola hidup sehat.

v Sama Bobotnya, Beda Gemuknya
Menurut dr. Leane, M.Sc., dokter ahli gizi, untuk menilai anak kegemukan atau tidak, perlu dilihat proporsi dan kecenderungannya berdasarkan kondisi tubuh orang tuanya. Kalau tubuh ortunya tergolong melar, si anak punya kecenderungan menjadi gemuk. Proporsi pertambahan bobot badan anak ada patokannya. "Pada usia 1 tahun bobot badannya 3 kali bobot badan lahir. Selanjutnya, sampai masa puber, pertambahannya 2 - 2,5 kg per tahun," jelas Leane. Sampai usia 5 tahun masih bisa digunakan patokan grafik pada kartu menuju sehat (KMS).
Ada periode di mana pertumbuhan anak laki-laki berbeda dari anak perempuan, yakni sejak lahir hingga umur setahun dan mulai puber. Pada waktu SD, wanita tumbuh lebih cepat ketimbang pria. Setelah puber, akan dikejar lagi oleh yang laki-laki. Untuk orang dewasa, bobot badan biasanya dibedakan atas bobot badan normal (BBN) dan bobot badan ideal (BBI). Bagi pria atau wanita BBN setelah 35 tahun adalah tinggi badan (sentimeter) dikurangi 100. Sedang BBI diperoleh dengan mengurangi BBN sebescir 10%-nya. BBI ini mencerminkan nilai keindahan bentuk tubuh. Wanita sering kali malah ingin bobotnya di bawah hobot badan idealnya.
Ada lagi lagi patokan lain yang disebut Body Mass Index (BMI). Lembaga Kesehatan Nasional AS menganggap, BMI itu cara terbaik memperkirakan bobot ideal. Indeks ini diperoleh dari bobot badan (kilogram) dibagi nilai kuadrat tinggi badan (meter). Pada wanita angka indeks yang diinginkan antara 21 - 23 dan pada pria 22 - 24.
Kelebihan bobot badan pada wanita terjadi bila angka indeks mencapai angka 27,5, sedangkan pada pria 28,5. Jika angka tersebut sudah mencapai 31,5 (pada wanita) atau 33 (pada pria), maka kegemukan itu sudah mencapai tahapan serius. Penggunaan BMI untuk balita memang helum ditemukan. Namun, untuk anak-anak sampai remaja sudah ada. Di AS, BMI sudah digunakan oleh Hammer LD dkk. dalam penelitian untuk membuat kurva BMI standar bagi anak dan remaja. Dr. Facharzt Gadi M. Maqbool dari King Faisal University, Dammam, Arab Saudi, kemudian melakukan studi perbandingan data tadi dengan BMI anak berusia 6 - 16 tahun di propinsi bagian timur Arab Saudi.
Meski patokan-patokan dalam menemukan bobot badan ideal tersedia, namun diakui menentukan kegemukan atau tidaknya seorang anak lebih sulit ketimbang pada orang dewasa atau remaja. Kegemukan pada anak memang dapat ditentukan dengan sederhana, yakni dengan melihat bentuk tubuhnya. Namun, cara ini bisa pula keliru.. Michael D. Lebow, dalam bukuny'a Child Obesity: A New Frontier of Behavior Therapy menggambarkan kesalahan penentuan kegemukan sederhana berdasarkan penimbangan hadan seperti ini.
Ada dua anak berusia 11 tahun, masing-masing bobotnya 50 kg dan tingginya 142 cm. Yang satu sosok bocah yang bermain hoki di musim dingin, sepakbola di musim semi, dan berenang di musim panas, menyenangi pertandingan sepakbola (Amerika), sangat senang bermain kejar-kejaran, lari-larian, dan petak umpet, dia tipe anak tak bisa diam. Anak yang satunya juga cinta atletik, tapi kesenangannya itu sebatas menonton TV. Dia benci olahraga keras, dia mencari olahraga tontonan, dia bukan tipe anak yang tak bisa diam.
Walaupun kedua bocah itu sama bobot dan tingginya, sosok mereka berbeda. Mereka mengenakan celana dengan nomor berbeda karena hocah yang pendiam jauh lebih gemuk ketimbang anak yang aktif. Bobot mereka cukup tinggi, meskipun sama, menunjukkan tingkat kegemukan yang berbeda. Jadi, penimbangan melibatkan komponen lemak dan nonlemak, mungkin membuat orang tua salah dalam menentukan bobot badan anak mereka berada dalam rentang bobot badan yang diinginkan atau tidak. Untuk meyakinkan sebaiknya datang ke dokter untuk dilakukan pengukuran skinfold (lipatan kulit), kulit dan lapisan otot pertama dari trisep dan otot daerah perut. Ini merupakan penentuan kandungan lemak yang lebih baik dari sekadar menimbang.

v Pentingnya Konsumsi Sayuran
Kegemukan sebenarnya bisa merupakan akibat penumpukan lemak dan atau kelebihan cairan dalam sel. Dalam proses seseorang menjadi gemuk, jumlah sel akan bertambah terus. Tapi ada waktunya penambahan jumlah sel bakal berhenti, lalu ukurannya hertambah. Kelebihan lemak terjadi karena makanan, terutama sumber karbohidrat, yang masuk dan diubah menjadi tenaga tidak digunakan. Karena tidak dimanfaatkan, lalu disimpan menjadi lemak.
Dari sudut metabolisme tubuh, anak gemuk sebenarnya metabolisme tubuhnya baik. Sementara, pada anak kurus kemungkinan laju metabolismenya terlalu cepat dan penyerapannya kurang bagus.
Prof. Bertold Koletzko, dokter anak pada poliklinik anak Universitas Munchen, Jerman, melihat kegemukan sebagai buah kesalahan makan yang menjadi kebiasaan. Pada dasarnya setiap bayi tahu takaran makanan yang dibutuhkannya. Namun, tidak semua ibu mampu menangkap sinyal itu. "Banyak ibu berpendapat, kalau bayi menangis, itu tandanya lapar, sehingga mereka langsung menjejalinya dengan ASI atau susu botol. Padahal, bayi mungkin menangis karena sakit perut, bosan, atau takut gelap, misalnya," kata Koletzko. Hal yang sama terjadi pada anak gemuk. Tadinya mereka tidak ingin gemuk, tapi sang ibu menjadikan mereka gendut.
Pola makan memang faktor yang lebih domman sebagai penyebab kegemukan ketimbang faktor keturunan. Ini terutama terjadi di kota-kota besar. Dia mengamati, banyak ibu yang bekerja ingin memberikan kesenangan atau kepuasan pada anak dengan memberi makan. Kasarnya, karena mereka punya rasa bersalah terhadap anak, kalau pulang mereka membawakan makanan. Atau, kalau ada waktu sepulang kantor mereka mengajak anak mereka ke tempat-tempat makan. Makanan enak dan bersih bagi anak adalah makanan cepat saji. Kita tcihu, makanan enak itu lemaknya tinggi. Itulah penyebab anak kelebihan bobot hadan dan makin tidak menyukai sayur.
Yang merupakan unsur ketiga dalam pola makan 4 sehat 5 sempurna, sebetulnya tidak enak. Pada umumnya anak-anak yang suka sayur memang sejak kecil ditanamkan hahwa sayur itu sehat, Misalnya, makan wortel supaya matanya bisa bagus. Penanaman itu secara tidak sadar terserap oleh anak sehingga kegiatan makan bukan karena enaknya, tapi karena ada tujuan menjadi sehat.
Kalau para ibu bekerja dari anak-anak diserahkan pada pembantu, yang tidak diberi Oengetahuan baik, maka agar mau makan, anak-anak itu diberi makanan enak. Bukan berarti dengan begitu anak hdak sehat. Tetapi yang jelas, pola makannya berubah. "Anak dikasih daging, lemak. Lamakelamaan sayuran jadi berkurang sampai tidak ada. Padahal komponen sayur itu bikin sehat.
Kebiasaan ngemil makanan kecil yang banyak mengandung gula dan terigu menyumbang terjadinya obesitas. Seperti diketahui, terigu merupakan sumber karbohidrat yang mestinya dihindarkan. Demikian juga dengan gula. Sidney Leung, ahli gizi sebuah kursus pelangsingan tubuh di RS Kwong Wah, Hongkong, pun menilai, makanan kecil merupakan salah satu penyebab kegemukan pada anak-anak di sana. “Orang tua dan kakek-nenek suka memberi anak-anak makanan kecil tinggi lemak dalam jumlah terlalu banyak sebagai suguhan atau imbalan," ungkap Leung. "Mereka menjanjikan pada anak-anak, jika mendapat nilai A di sekolah atau dapat menyelesaikan PR, si anak akan mendapat imbalan. Mereka pikir memberi makan anak-anak dalam jumlah banyak merupakan bentuk ungkapan cinta mereka," tambahnya.

v Biang Keladinya Kurang Gerak
Tingginya kadar lemak makanan yang dikonsumsi anak-anak juga dituduh Sidney Leung sebagai bagian dari biang keladi timbulnya kegemukan. Ketika Sidney Leung menanyai setiap keluarga tentang makanan anak-anak mereka, makanan tertentu disebut-sebut secara tetap. Dia menemukan paling banyak anak makan daging yang terlalu banyak mengandung lemak pada menu utamanya. Daging babi goreng atau panggang, sosis dan ayam goreng dimakan setiap hari.
The New York HospitalCornell Medical Center's Nutrition Information Center, dalam jaringan Internet Parenting News edisi 22 November 1996 menyatakan, peningkatan yang tajam dalam konsumsi minuman ringan bergula ikut memberi andil dalam peningkatan 21% jumlah kegemukan antara anak usia belasan tahun dan anak remaja. Lembaga itu. menyatakan konsumsi minuman ringan bergula oleh anak berusia 6 - 11 tahun dua kali lipat lebih sejak 1978.
Peningkatan dramatis dalam konsumsi ininuman berkalori tinggi antara anak-anak dan remaja belasan tahun ini, menurut laporan tersebut, terjadi pada masa yang sama dengan terjadi penambahan jumlah anak-anak dan remaja yang mengalami kegemukan. Disebutkan pula, "Asupan berbentuk cair secara serius berpengaruh kuat terhadap diet anak Amerika secara keseluruhan," kata dr. Barbara Levine, penulis laporan dan kepala lembaga itu.
Selain faktor makanan dan minuman, aktivitas fisik juga punya andil dalam terjadinya kegemukan pada anak. Dalam suatu penelitian terhadap anak berusia 12 - 17 tahun, William Dietz, M.D., Ph.D., dan Steven Gortmaker, Ph.D. dari New England Medical Center di Boston menemukan, menonton TV dan kegemukan sering terjadi bersamaan. Prevalensi (kejadian) kegemukan remaja ini bertambah sampai 2% untuk setiap jam penambahan waktu menonton TV
Sementara Rebecca Wong, ahli fisioterapi kursus pelangsingan RS Kwong Wah, Hongkong, juga menyebutkan orang tua sebagai faktor kunci yang membuat anak kurang gerak. Mereka sering kali tanpa sadar mengarahkan anak menjadi malas. Lihat saja, beberapa di antara anak-anak itu begitu manja. Mereka tidak tahu cara mengikat tali sepatu dan mengenakan pakaian. Mereka juga dilindungi secara berlebihan. Jika melihat mereka sedikit kecapekan, orang tua segera menyuruh mereka duduk dan beristirahat.
Paksaan orang tua agar anak sukses di sekolah, kata Wong, juga membuat anak-anak kurang banyak bergerak. Kecakapan intelektual sepertinya lebih penting ketimbang prestasi fisik. Begitu mulai masuk sekolah dan menjalani ujian, mereka tidak memberikan anak waktu luang untuk melakukan banyak aktivitas fisik. Beberapa keluarga berpendapat, pergi ke luar rumah untuk bermain itu berbahaya, membuat mereka bakal belajar hal-hal buruk. Orang tua tidak mengajak mereka keluar dan menganjurkan mereka untuk bermain permainan komputer. Jemari mereka mungkin benar-benar bugar tapi lainnya tentu saja tidak.

v Kursus dan Klinik
Untuk mengembalian kondisi tubuh anak gembrot menjadi ideal bukan pekerjaan mudah. Perlu kesabaran dan ketelatenan si anak dan orang tua. Aspek yang mesti disentuh dalam upaya pelangsingan tubuh anak ini meliputi gizi, medis, dan aktivitas fisik.
Sayangnya, di Indonesia saat ini belum ada lembaga yang khusus membantu penanganan anak-anak gendut. Namun, di Hongkong, Murnau (Jerman), dan Xiao Tangshan (RRC) telah dibuka kursus atau klinik yang mendidik anak gemuk untuk menjalankan pola hidup sehat. Menurut Dr. Robert Yuen Karngai, dokter anak kursus pelangsingan tubuh di RS Kwong Wah, Hongkong; kursus ini dimaksudkan untuk sebanyak mungkin mendidik ulang mereka dan orang tuanya. Orang tua diminta hadir selama kursus berlangsung. Kursus di RS Kwong Wah didukung oleh tim dokter anak, ahli diet, dan ahli fisioterapi. Programnya terdiri atas pelajaran kebugaran dan nutrisi, serta kelas olahraga. Kursus diarahkan pada pendidikan tentang makan sehat jangka panjang dan kegunaan olahraga rutin. Dengan mengubah kebiasaan makan dan olahraga sekarang, kami berharap mereka bakal terhindar dari penyakit yang berhubungan dengan kegemukan di kemudian hari," ujar Wong.
"Kami tidak menekankan pada penurunan berat badan. Soalnya, cukup berbahaya melakukan diet ketat sementara mereka masih dalam masa pertumbuhan. Kenaikan berat badan tentu sulit dihindarkan dalam masa pertumbuhan ini. Yang kami inginkan adalah menghambat kenaikan berat badan yang terlalu cepat sehingga mereka akan tumbuh ke atas, tidak ke samping," demikian dr. Yuen.
Kursus berlangsung 9 kali selama 4 minggu. Setiap latihan berlangsung dua jam. Untuk meningkatkan kekuatan jantung, latihan bisa ditambah 10 sampai 40 menit setiap kali hadir. Sebelum dan sesudah latihan, kadar lemak dan tingkat kebugaran dites untuk mengetahui perbedaannya. Berat dan tinggi badan diukur untuk menentukan BMI. Untuk mengetes lemak digunakan arus listrik dari Body Composition Analyser. Kekuatan jantung pun dapat diukur sementara si anak lari di atas treadmill. Sebelum kursus, anak dilatih berlari. Yang paling bugar maksimal mampu berlari selama 10 menit. Anak yang paling tidak gemuk kurang dari 6 menit. Saat pemanasan mereka mesti mengelilingi lapangan basket beberapa kali. Namun, di antara mereka cuma mampu melakukan dengan diselingi jalan kaki dan hanya sekali-kali lari sejauh 30 m. Di bawah terik matahari, sekitar 30 ÂșC, latihan biasanya ditambah. Dengan begitu, selang beberapa menit keringat mereka bercucuran.
Anak-anak juga diberi latihan stretching (peregangan). Latihan ini kadang sulit bagi anak-anak gemuk tertentu. Misalnya anak yang "tidak mempunyai" leher akan sulit memutar kepala atau kesulitan lain kalau mereka harus berlatih meraih ibu jari kaki. Meskipun sulit melatih anak-anak yang masih sangat muda usianya (3 - 4 tahun), para ahli fisioterapi di sana berusaha membuat latihan-latihan yang menyenangkan, sehingga anak-anak tidak merasakan latihan ini sebagai siksaan, tapi suatu permainan menyenangkan. Umumnya yang dirasakan berat buat mereka adalah berlari, loncat, serta kompetisi bola basket. Namun, semangat berkompetisi justru memunculkan energi sebenarnya yang tersembunyi di balik anak-anak ini. Saat itulah terjadi pembakaran lemak.
Tak begitu banyak berbeda, klinik di Murnau juga didukung oleh dokter anak, psikolog, pendidik sosial, ahli gizi, ahli fisioterapi, dan guru. Di sana, selama enam minggu anak-anak bertubuh subur diberi kiatkiat menurunkan bobot badan. Meski harus berdiet 1.000 kalori, mereka senang karena boleh ikut mengolah makanan yang hendak disantap. Hasilnya, anak-anak yang bobotnya di atas 100 kg dapat menurunkan timbangan tubuhnya 14 kg selama enam minggu. "Anak-anak memang lebih bersemangat. Tapi enam minggu berada di klinik tentunya tidak cukup jika tidak diteruskan di rumah," kata Wilhelm Rasthofer, psikolog klinik itu.

v Hilangkan Kebiasaan Ngemil
Apa yang dilakukan di tempat kursus itu, bisa pula dilakukan di rumah. Yang perlu diperhatikan, upaya itu perlu dilakukan secara bertahap. Penuruan bobot hadan secara drastis justru membahayakan si anak. Penurunan bobot badan yang baik adalah 1 - 1,5 kg per minggu. Kalau tambah olahraga bisa 2 kg per minggu. Lebih dari itu tidak bagus. Dia bakal lemas, efek sampingannya besar.
Cara yang digunakan untuk mengembalikan bobot badan ke kondisi normal lebih mengutamakan pengaturan makanan. Metode ini sebenarnya alamiah. Tidak ada orang gemuk kalau dia tidak makan berlebihan. Dengan demikian biasanya lebih efektif memakai pola makan, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.
Pertama-tama si gemuk mesti membuang dulu kebiasaan ngemilnya. Untuk orangorang yang gemuk karena ukuran selnya yang bertambah gampang menguruskannya, yakni dengan menghentikan kebiasaan ngemilnya. Kemudian mereka dibiasakan makan setiap 3 jam. Akhirnya, mereka diupayakan untuk menjaga keseimbangan input dan output. Penghentian kebiasaan ngemil sebenarnya lebih ditujukan pada makanan kecil bertepung atau bergula tinggi. Pilih tahu atau tempe saja, pasti sehat deh. Asal jangan tempetahu yang dibungkus dengan terigu. Kalau memungkinkan, boleh juga diisi daging, macam tahu isi. Memang, untuk itu biayanya lebih mahal ketimbang makanan dari tepung.
Minuman ringan seperti Coke juga sangat tinggi kalorinya juga perlu dihindari. Diet Coke boleh. Tapi sekali-kali saja. Jangan dibiasakan, karena kalau tidak ada Diet Coke, dia akan ambil yang biasa. Laporan The New York Hospital-Cornell Medical Center's Nutrition' Information Center dalam Parenting News juga menyarankan agar dokter anak, ahli gizi, orang tua dan care providers berupaya mengajari anak cara memilih minuman sehat sebagai bagian penting dari diet seimbang dan bergizi. Termasuk di dalamnya mengganti jus buah-buahan atau soda dengan air bila dianggap perlu. Pusat itu juga menyarankan untuk mencampur minuman manis dengan air mineral untuk mengurangi pengaruhnya.
Kepada anak perlu disampaikan dua pesan, berhentilah makan malam bila kalian ingin makan pencua mulut dan Hentikan makan makanan terlalu manis bila kalian tidak ingin gemuk. Jumlah hidangan yang disajikan hendaknya lebih sedikit ketimbang biasanya. Makanan pencuci mulut sebaiknya didahulukan sebelum menu utama. Diupayakan pula untuk menahan keinginan makan di luar rumah. Kalau mau keluar rumah, hendaknya anak diberi makanan ringan terlebih dahulu di rumah, supaya ketika di luar rumah si anak tidak banyak minta jajan.

v Batasi Sumber Karbohodrat
Pengaturan diet dengan cara menentukan takaran kalori makanan umumnya sulit dilakukan. Yang bersangkutan atau orang tua si anak mesti menimbang nasi dan lauk pauknya. Untuk orang akademisi di bidang ilmu gizi bisa melakukannya. Nasinya berapa gram, lauknya berapa gram, mereka sudah tahu. Tapi untuk orang awam mungkin susah. Apalagi untuk orang kerja.
Karenanya, cara yang lebih praktis adalah dengan membatasi makanan berkarbohidrat tinggi. Di dalam tubuh, karhohidrat dipecah menjadi energi yang berguna untuk metabolisme, pemecahan zat-zat makanan. Makanan sumber karbohidrat itu di antaranya nasi atau makanan dari tepung terigu, seperti roti atau mi, juga bubur. Bubur ini lebih gawat dibandingkan dengan nasi. Pada bubur, dinding sel beras sudah hancur. Begitu dinding selnya pecah, makanan tersebut jadi mudah diserap, dan gula darah cepat naik. Si anak pun cepat lapar lagi.
Pengendalian makanan sumber protein tak perlu terlalu ketat. Kalau karbohidrat dibatasi, protein dan lemak tidak bisa dipecah. Bagaimana harus dipecah kalau tenaga untuk memecahnya saja tidak ada. Pilih yang praktisnya saja. Kalau dia sakit ginjal, maksimum 40 g protein, sekali makan hanya boleh makan 1 butir telur ayam, 1 potong daging, tempe, atau tahu. Pagi 1 potong, siang 1 potong, malam pun 1 potong.
Penurunan bobot badan terbaik untuk anak dilakukan dengan memperbanyak konsumsi sayuran. Begitu pula dengan orang dewasa, terutama yang takut naik kolesterol darahnya. Selama dia masih mau makan sayur, lebih baik ia disuruh makan sayur banyak. Proteinnya cukuplah. Jangan terlalu banyak makan daging. Makan lebih banyak tahu, tempe, ikan, atau ayarn tanpa kulit. Umumnya ternak berkaki empat menyusui mengandung kolesterol tinggi
Bila menemukan pasien kegemukan yang tidak menyukai sayur. Mau dikasih makan apa? Karbohidrat sudah dikurangi, masak disuruh makan daging atau protein saja? Protein tinggi memiliki risiko pada orangorang tertentu. Efek sampingannya ke ginjal kurang baik. Tapi kalau dikombinasi dengan sayur, jadi baik. Sayur akan membuat kita gampang kenyang, tahan lama, dan kalorinya tidak terlalu banyak.
Penderita kegemukan juga dianjurkan tidak mengkonsumsi buah-buahan secara serampangan. Buah-buahan sebetulnya ada 2 macam, manis dan kurang manis. Tentunya yang makin banyak airnya makin bagus. Tetapi yang banyak air pun banyak yang manis. Itu yang tetap perlu dihindari, karena dalam buah manis terdapat fruktosa yang tetap menjadi glukosa di dalam darah Begitu juga dengan madu, yang mengandung gula dalam bentuk fruktosa dengan kadar tinggi. Kalau kita makan madu, badan kita terasa segar. Tapi, kalau secara fisik tidak dipakai, ya bisa jadi gemuk juga.
Lemak juga tidak dilarang, asal tidak untuk diminum. Kalau untuk menggoreng saja silakan, karena kita berada di daerah tropis. Kalau tanpa lemak, kulit jadi kering. Vitanihi A, D, E, dan K juga memerlukan lemak untuk bisa larut. Kalau tak ada lemak, vitamin jadi tidak terserap. Meski begitu perlu diingat, lemak merupakan senyawa dengan rumus bangun panjang sekali, sehingga pemecahannya susah. Kalau lemak terlulu banyak, hati bekerja lebih berat.
v Hati-hati dengan Obat!
Penggunaan obat-obatan juga masih boleh digunakan sebatas dalam dosis terbatas dan terkontrol oleh dokter. Obat-obatan yang diberikan biasanya sebatas amphetamin. Pengalaman menunjukkan, obat itu tidak bikin pusing dan efek sampingnya mengurangi keinginan untuk makan sehingga terjadi pemecahan lemak (tubuh). Amphetamin menyebabkan jalannya metabolisme tidak dipacu besar sekali, karenci itu efek sampingannya tidak dirasakan.
Bila ada dokter yang memberi amphetamin dengan dosis tinggi, orang tua si anak mesti mengkonsultasikannya dengan si dokter. Dosis tinggi bisa mengkibatkan jantung berdebar-debar. Jantung berdenyut terns seperti mesin tak dihentikan. Padahal seharusnya ada basal metabolisme. Saat istirahat, jantung juga "istirahat".
Obat-ohatan lain yang juga biasa digunakan adalah obat-obatan diuretik. Namun, jenis ini biasanya digunakan sebagai jalan pintas. Dengan obat itu, pasien menjadi sering kencing. Lalu, sel menjadi kecil, karena cairan sel berkurang. Tentu saja dia jadi kurus. Soalnya, sel cepat mengecil. Tapi efek sampingan diuretik ini besar. Kalau dia sakit ginjal, ginjalnya bakal terserang. Jamu-jamu pelangsing, sifat diuretiknya juga besar.
Obat-obatan lainnya yang biasanya digunakan sebagai jalan pintas adalah laksans. Dengan laksans, makanan yang diberikan tidak sempat diserap tapi langsung dibuang. Seperti halnya diuretik, jenis obat ini juga herbahaya, bisa menyebabkan terjadinya dehidrasi. Ini sering terjadi. Kalau pengontrolannya tidak ada citau dia sensitif terhadap obat ini, dia bisa mati.. Segera setelah menghentikan penggunaan obat ini pasien segera gemuk lagi.
Pada anak-anak atau remaja, obat diuretik sebaiknya tidak digunakan. Apalagi bagi mereka yang suka minum teh. Yang terbaik adalah pengubahan. pola makan. Mereka 'kan banyak gerak. Dr. Hammer juga menyatakan, jangan pernah beri anak pil diet. Appetite supressants (obat penekan nafsu makan) hanya akan merampas vitamin dan mineral penting yang diperlukan anak-anak untuk tumbuh.

v Matikan TV lalu Jalan Kaki
Pengaturan diet yang dilakukan untuk anak gemuk akan memberikan hasil lebih baik bila disertai dengan aktivitas fisik yang lehih banyak ketimbang sebelumnya. Bentuknya bisa permainan, kegiatan lain yang mebuat anak aktif secara fisik, atau olahraga.
Sebaiknya orang tua bijaksana dalam memberikan waktu kepada anak untuk menonton TV. Kegiatan ini sangat membuat anak pasif. Cara termudah untuk mengurangi ketidakaktifan adalah mematikan pesawat TV (khususnya saat programnya bukan jatah mereka). Hampir setiap kegiatan lainnya memerlukan energi lebih banyak ketimbang nonton TV" kata dr. Dietz. Yang penting, penderita harus bergerak sebanyak mungkin," jelas dr. Hermann Mayer, dokter anak dan kepala klinik pelangsingan di Murnau, Jerman. Jalan kaki di musim salju, bersepeda di musim panas, dan kegiatan apa saja bisa menurunkan berat badan. Mereka juga bisa masuk pusat kebugaran untuk memperkuat otot, berenang, atau melakukan olahraga lainnya. Perlu diingat, olahraga atletik atau olahraga pertandingan bukanlah jenis yang nyaman bagi mereka. Kalau berlari, kaki mudah terkilir, sementara sepakbola membuat napas mereka terengah-engah. Bersepeda dan berenang merupakan olahraga yang baik bagi mereka.
Para peneliti sepakat, jalan kaki merupakan aktivitas paling aman, membakar kalori cukup banyak, mudah dilakukan, murah, dan dapat dilakukan di mana saja. Jalan kaki juga merupakan olahraga yang rendah intensitasnya sehingga mampu dilakukan mereka yang gemuk. Tapi, hagi yang kelewat subur jalan tidak begitu cocok karena bisa menimbulkan masalah pada otot, tulang, dan persendian. Bagi mereka berenang merupakan aktivitas yang baik. Aktivitas fisik di dalam air lebih kecil kemungkinannya menyebabkan cedera.
Bila anak memilih berlatih jalan, berdasarkan penelitian Peter Davis, Ph.D., dianjurkan melakukannya sebanyak mungkin yang bisa dilakukannya. Paling sedikit tiga kali sepekan. Sementara program ciptaan Universitas Minnesota menganjurkan latihan 3 - 4 kali sepekan masing-masing paling cepat selama 30 menit. Patokannya, dalam setiap latihan si anak haruslah masih dapat berbicara dengan normal.
Dengan program diet yang baik dan melanjutkan pola hidup aktif diharapkan kegemukan dapat teratasi. Yang berpotensi gemuk pun bisa terhindar dari pemekaran tubuh ini. Anak-anak pun jadi lebih giat belajar, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, dan tak menjadi bahan olokon teman sebayanya. Yang lebih menggembirakan, masa depannya menjadi lehih baik karena rentetan penyakit akibat kegemukan enggan menghadang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar