Rabu, 23 Desember 2009

Investigasi dalam Pengembaraan

Sebuah indikasi untuk membedakan ulama dunia dan ulama akhirat, bahwasannya ulama akhirat cenderung tidak mengejar kenikmatan yang bersifat duniawiyah (hedonisme), rumah mewah, kendaraan luks atau busana-busana indah dan perabot rumah tangga yang serba mutakhir. Mereka cenderung bersikap sederhana dan bersahaja. Sifat-sifat mereka akan mirip sekali dengan para ulama salaf sehingga kebutuhan hidup mereka hanya dipenuhi dengan sekedar cukup. Sikap seperti inilah yang akan menambah mereka lebih dekat kepada Allah. Keadaan semisal itu pula yang telah diterapkan oleh Abdullah Al-Khawash yang menjadi karib Hatim Al-Asham.
Abdullah Al-Khawash mengatakan:
“Pada suatu hari aku memasuki wilayah kota Ray (Iran Utara) bersama-sama dengan Hatim Al-Asham yang berada pada sebuah rombongan yang berjumlah tidak kurang dari tiga ratus dua puluh orang. Keseluruhannya bertujuan satu, ingin menunaikan ibadah haji. Kebanyakan dari anggota rombongan itu mengenakan jubah dari kain kasar tanpa membawa bekal, baik berupa air minum atau pun persediaan makanan. Setelah sampai di kota Ray, kami segera singgah di rumah seorang pedagang kelontong yang terkenal sangat santun terhadap orang-orang miskin. Menginjak di malam hari, kami dijamu dengan makanan yang cukup untuk mengganjal perut kami, namun ketika pagi hari, pedagang itu mengatan pada Hatim.
“Maaf tuan, adakah saya diizinkan untuk mengunjungi salah seorang ulama faqih panutan kami yang sekarang sedang sakit?,” begitu si tuan rumah malah minta izin untuk pergi pada Syeikh Hatim.
“Bertandang dan mengunjungi orang sakit,” sahut Hatim, “termasuk amal yang sangat mulia, sedangkan melihat pada wajah faqih akan bernilai ibadah.”
“Kalau demikian izinkanlah aku untuk pergi bersamamu,” sambung Hatim lagi.
Si tuan rumah merasa gembira setelah Hatim mengutarakan maksud kehendaknya itu, karena akan mendapat kawan dalam menempuh perjalanan ke rumah si faqih.
Faqih yang dimaksud itu tiada lain adalah Muhammad bin Muqatil yang menjabat Menteri Kehakiman di kota Ray.
“Ketika kami,” kata Hatim, “telah memasuki halaman rumahnya, ternyata kediaman hakim itu mirip dengan sebuah istana yang cukup mewah. Arsitektur bangunannya terlihat indah dengan pintu yang sangat artistik pula. Sejenak kemudian ada seseorang yang memanggil kami mempersilakan masuk. Sampai di dalam, betul-betul rumah itu begitu indah, berteras luas dan bersih. Tata ruangnya bagus dan dilengkapi dengan terali dan gordin yang begitu menakjubkan. Sampai di sini aku sangat takjub dan keheranan, lalu kami di persilahkan memasuki ruang tamu, di mana Muhammad bin Muqatil berbaring di situ. Lagi-lagi aku dibuat takjub karenanya, seluruh ruang itu di tutup dengan hamparan permadani indah, dan Muhammad bin Muqatil ditunggui seorang pelayan yang tidak henti-hentinya mengipasi dengan sebuah kipas tangan yang sangat cantik, dan sebuah sapu alat mengusir lalat tampak di sampingnya. Pelayan itu segera mempersilakan kami untuk duduk di bagian arah kepala. Dengan ramah, kawanku yang pedagang itu bertanya mengenai sakitnya, namun ketika itu aku masih tetap berdiri, sehingga Muhammad bin Muqatil mengisyaratkan agar aku segera duduk.
“Aku tidak ingin duduk,” kata Hatim segera menjawabnya.
“Barangkali Anda mempunyai sebuah keperluan,” sahut Muhammad bin Muqatil dengan menyeringai.
“Ya, begitulah,” sahut Hatim kembali.
“Apa itu?,” sambung Muhammad lagi.
“Ada suatu masalah yang ingin aku tanyakan kepada tuan,” sergah Hatim lebih lanjut.
“Kalau begitu silakan secepatnya Anda bertanya,” tukas Muhammad kembali.
“Sebelum pertanyaan aku utarakan, aku mohon tuan duduk sebentar saja agar suasananya lebih mendukung,” begitu alasan Hatim.
Segera saja Muhammad bin Muqatil mengikuti kehendak Hatim, ia segera duduk dengan dibantu oleh pelayannya.
“Dari mana ilmu yang tuan miliki ini?,” kata Hatim mulai mencecar.
“Oh, jelas dari mereka yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya, mereka orang-orang tsiqqah (bisa ditanggung validitas ucapannya),” begitu jawab Muhammad yang tampak menyelipkan kebanggaan di raut mukanya.
“Dari mana mereka memperoleh berbagai disiplin ilmu itu?,” kejar Hatim lagi.
“Tentu dari para sahabat Rasulullah,” jawab Muhammad selanjutnya.
“Dari mana para sahabat Rasulullah itu memperoleh ilmu-ilmu tersebut?,” tanya Hatim seakan bersikap bodoh.
“Jelas dari Rasulullah, sedangkan Rasulullah memperolehnya dari Jibril As. dan Jibril memperolehnya dari Allah Azza wa Jalla,” begitu Muhammad menjawab dengan cepat untuk menghindari pertanyaan yang bertele-tele.
“Apa yang telah diajarkan,” desak Hatim selanjutnya, “Rasulullah kepada para sahabatnya? Apa pula yang diajarkan para sahabat pada orang-orang tsiqqah. Kemudian apa pula yang diajarkan orang tsiqqah kepada tuan? Apakah tuan pernah mendengar bahwa di rumah mereka berisi aneka ragam kemewahan dan terhampar permadani halus yang luas? Adakah tuan lebih terhormat daripada mereka di sisi Allah?,” begitu cecar Hatim membuat merah telinga Muhammad bin Muqatil.
Dengan gagap Muhammad menjawab: “Oh, sekali-kali tidak.”
“Kalau demikian, apa yang telah pernah tuan dengar dari sikap hidup mereka?,” begitu Hatim memojokkan lagi.
“Orang yang bersikap zuhud di dunia akan lebih senang hidup sederhana dan mengutamakan kehidupan akhirat. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah,” sambung Muhammad dengan muka agak memucat ketika menyadari ia terpojok.
“Bagi tuan, siapakah yang tuan ikuti, adakah Rasulullah dan para sahabatnya dan orang-orang shalih yang lain? Ataukah tuan suka mengikuti Fir’aun dan Namrudz selaku orang pertama yang membangun gedung dengan batu merah? Wahai ulama suu’, orang-orang sepertimu itulah figur yang sering dikaca orang-orang bodoh yang amat menyintai dunia, sehingga mereka banyak yang mengatakan:
“Orang-orang alim saja sikapnya seperti itu, apakah aku tidak lebih buruk daripada mereka?”
Setelah itu Hatim keluar dari hadapan Muhammad dengan mengucapkan salam secara singkat dan bergegas pergi. Setelah peristiwa ini, sakit Muhammad bukan menjadi sembuh, namun malah bertambah parah.
Kejadian aneh ini rupa-rupanya segera tersiar di masyarakat Ray, sehingga ada seseorang yang segera menghadap pada Hatim seraya mengatakan:
“Sesungguhnya At-Thanafisi jauh lebih mewah daripada Muhammad bin Muqatil, tentu tuan akan lebih tertarik untuk melihatnya!”
Mendengar ucapan orang tersebut, Hatim terperangah dan sangat tertarik untuk membuktikan kabar tersebut. Maka segera saja Hatim berangkat menuju rumah At-Thanafisi. Dan setelah sampai di halaman rumahnya, ia mengucapkan salam untuk diizinkan memasukinya. Dan Hatim segera melancarkan aksinya.
“Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada tuan,” pancing Hatim, “begini tuan, saya merupakan orang asing yang belum begitu mengenal agama. Dengan demikian saya akan sangat senang jika tuan sudi mengajari dasar-dasar agamaku dan kunci sahnya shalatku. Ajarkanlah kepadaku, bagaimana caranya aku berwudhu untuk mengerjakan shalat!”
“Baiklah, aku akan mengajari Anda sebaik-baiknya,” begitu jawab At-Thanafisi.
At-Thanafisi pun menyuruh pembantunya untuk memgambilkan bejana tempat air, kemudian segera jongkok mempraktekkan wudhu, di mana setiap anggota badan yang dibasuh diulang tiga kali. Setelah itu ia mengatakan:
“Demikianlah cara wudhu yang benar.”
Selanjutnya Hatim segera ingin mengikuti cara At-Thanafisi berwudhu, seraya mengatakan:
“Bolehkan aku mengambil air wudhu dari tempat tuan, dengan maksud agar aku segera bisa mempraktekkannya di hadapan tuan, agar lebih meyakinkan dan sesuai dengan ajaran yang tuan kehendaki?,” begitu kata Hatim.
At-Thanafisi pun bangkit dari tempatnya, lalu Hatim mengambil alih tempat itu dan segera berjongkok seraya mempraktekkan wudhu. Namun ketika sampai membasuh lengan, ia membasuhnya masing-masing empat kali.
“Hai, bagaimana Anda!, perbuatan Anda yang demikian itu termasuk berlebihan (israf),” demikian seru At-Thanafisi.
“Bagaimana aku berlebihan?,” sergah Hatim.
“Tadi Anda membasuh ke dua belah tangan, masing-masing empat kali,” tukas At-Thanafisi.
“Masya Allah!, bagaimana tuan menuduhku berlebihan hanya karena mempergunakan air sepenuh telapak tangan, sementara tuan mempergunakan fasilitas semegah ini tidak tuan katakan berlebihan,” begitu sodok Hatim sehingga membuat At-Thanafisi kelimpungan.
Maka ketika itu juga At-Thanafisi menyadari bahwa permintaan Hatim untuk diajari berwudhu itu bukan sebagai maksud utama, namun Hatuim bertindak sebagai tester. Selanjutnya At-Thanafisi segera beranjak memasuki rumah dan tidak pernah keluar lagi sampai empat puluh hari lamanya. Rasain elhoh… !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar