Kamis, 24 Desember 2009

Rasa Alpukat yang Menggoda

Rasa Alpukat yang Menggoda


Siapa yang tidak mau menikmati buah pokat, sebenarnya rugi. Buah asal Meksiko, Guatemala, dan daerah sebelah selatannya sampai Pegunungan Andesini kalau sudah masak, bukan main lembut dan halusnya. Rasanya netral. agak gurih. Kalau diberi raraosan berbau nyaman seperti kopi luwak, atau sirup ganas, walaah! Nikmatnya!
Orang Inggris menikmati buah avocado sebagai salad, sampai buah itu terkenal sebagai salad fruit.

v Gara-gara Lemak
Akan tetapi selain karena rasanya, buah itu dulu juga dicari-cari karena tinggi kadar lemaknya (6,5 g tiap 100 g bahan yang dapat dimakan). Dibandingkan dengan susu sapi yang lemaknya hanya 3,5 g. Buah itu merupakan summber lemak nabati yang penting di daerah pegunungan sebagai pengganti lemak buah kelapa.
Entah siapa yang mulai khawatir, tak tersebut dalam sejarah. Tiba-tiba buah itu di jauhi. Alasannya, ya kadar lemak yang tinggi itu. Tubuh bisa menjadi gembrot dan kegemukan yang membuat orang takut kebanjiran kolesterol dalam darah, dan ini berisiko menimbulkan stroke. Sialnya, buah apokat juga didakwa meningkatkan kadar kolesterol, karena mengandung laurostearat sampai 70%. Lemak ini lemak jenuh seperti palmitat dalam minyak kelapa. Awal tahun '90-an kita dilanda kekhawatiran makan minyak kelapa, dan menggantinya dengan minyak jagung dan kedelai yang kurang lezat. Gara-gara kolesterol. Untung kemudian ada yang mengingatkan bahwa buah apokat itu mengandung lemak oleat, sampai- kira-kira 30%. Lemak ini tidak jenuh, dan menjadi semacam penyelamat, seperti lemak monounsaturated fatty dalam buah zaitun dan biji kacang-kacangan. Ia demen mengikat senyawaan lain, karena dalam molekulnya ada ikatan rangkap yang sewaktu-waktu bisa lepas, lalu mengikat senyawaan lain ini. Antara lain mengikat kongsi lemak-protein, low density lipoprotein (LDL) yang terkenal sebagai kolesterol jahat. Waaah, apokat yang semula dijauhi lalu dikatakan "mampu menurunkan kolesterol jahat"
Ke dalam lemak apokat itu juga terlarut vitamin E dan ko-enzim glutation (suatu peptida yang mengandung asam-asam amino glutamat, glisin, dan sistein yang terkenal bersikap antioksidan, sampai menghambat proses pernuaan. Kulit kita tetap halus, licin, dan lembap, kalau makan buah apokat sebuah sehari. Selama persedian masih ada!
v Pokat Mentega
Pohon yang masih kerabat kayu manis dari suku Lauraceae ini dimasukkan dari Meksiko sekitar tahun 1750 ke Jawa Barat sebagai Persea gratissima. Di daerah itu ia disebut jambu Walanda, karena yang mendatangkannya orang Belanda, dan buahnya yang seperti pir dibayangkan sebagai jambu. Tetapi orang Belanda sendiri menyebutnya advocaat, sama dengan julukan seorang pengacara. Buah itu kemudian terkenal sebagai apuket. Nama Indonesianya yang resmi ialah apokat, tetapi orang Jawa menyebutnya lebih ringkas pokat. Nama latin yang masuk ke Betawi ahad XVIII itu dalam perkembangannya kemudian diubah menjadi Persea americana, yang berlaku sampai sekarang.

Varietas yang dimasuki pertama kali itu dibudidayakan di daerah Pasar Minggu sebagai apokat hijau panjang dan dikenal sehagai apokat Pasar Minggu. Di antaranya juga ada yang dibudidayakan di daerah pegunungan yang lebih tinggi daripada Pasar Minggu. Di Lembang (lereng Gii nung Tangkuban Perahu) di disebut apokat lembang, dan yang ditanam di Tawangmangu - Gereng Gunung Lawu), terkenal sebagai apokat Tawangmangu. Keduanya disebut apokat mentega, karena daging buahnya lebih kuning dan pulen daripada apokat Pasar Minggu yang daging buahnya lebih putih, sampai disebut juga apokat susu.
v Tidak Cocok
Sampai sekarang, buah apokat Indonesia hanya ditanam di kebun pekarangan kecil-kecilan. Belum pernah ada yang dikebunkan secara besar-besaran seperti di Kalifornia, Afrika Selatan, Australia, dan Israel. Soalnya, permintaan pasar akan buah itu tidak bisa diandalkan, dan pohon itu memang unik. Masaknya putik betina dari bunga yang mekar pagi antara pukul 08.00 - 12.00) tidak bersamaan dengan benang sari jantan. Sialnya, putik betina ini cuma sebentar bersedia "terima tamu". Sesudah itu. ia mogok, tidak mau buka pintu lagi. Bunganya masih mekar, tetapi putiknya sudah layu.
Ketika esok harinya giliran benang sari jantan yang bangun (masak) dan siap tempur menyerbu ke putik betina, namun putiknya sudah tutup kemaren, hanya beberapa bunga yang putiknya kebetulan bangun agak kesiangan di sana, masih bisa diserbuki oleh serbuk sari jantan yang bangun agak awal, tetapi itu tidak banyak. Jadi kalau kita menanam varietas apokat semacam itu satu batang saja di kebun pekarangan, maka hasil buahnya tidak memuaskan.

Untung ada sekelompok varietas lain yang putik betinanya resmi bangun kesiangan. Antara pukul 14. 00 - 18.00. Benang sari jantannya juga bangun terlambat, pada esok harinya, antara pukul 08.00 - 12.00. Kalau varietas yang resmi "bangun siang" ini ditanam bersama varietas yang "bangun pagi" dalam satu kebun, maka huahnya membludak. Soalnya, putik yang kesiangan dari varietas kelompok kedua itu diserbuki oleh serbuk sari siang dari varietas kelompok pertama, yang bunganya mekar pagi-pugi sehari sebelumnya.
Varietas kelompok pertama yang terkenal antara lain varietas hijau panjang, hijau bundar, merah panjang dan benik. Sedangkan varietas dari kelompok kedua antara lain Collinson, Fuerte, dan Ganter. Tetapi varietas hijau panjang yang sudah lama sekali dibudidayakan Belanda di daerah Pasar Minggu, ada yang direkayasa dengan menyambung batang atas asal pohon yang putiknya bangun pagi, dengan batang bawah asal pohon yang henang sarinya bangun pagi juga. Bibit hasil sambungan ini dapat menghasilkan bunga yang baik putik maupun benang sarinya sama-sama masak antara pukul 08-00 - 12.00 pada batang pohon yang sama. Ia mampu menghasilkan buah sendirian di kebun tanpa teman kencan. Di kalangan penggemar tanaman hias dan arsitektur pertamanan, pohon apokat dipakai sebagai peneduh kaligus penghias taman, karena mudahnya membentuk tajuk daun yang bagus. Ditanam dalam pot dan dipupuk yang cukup setelah dipangkas agar tetap bekek. Tanaman itu juga dapat menghasilkan buah dompolan yang unik sebagai bagus-bagusan di taman indah halaman rumah.

v Harus Diperam Dulu
Ada pendapat, pohon apokat baru bisa berbuah lebat sesudah habis daunnya, karena diganyang ulat sampai gundul. Kalau belum gundul, tak mungkin berbuah lebat. Karena itu, biar saja ulat-ulat meratulela. Sebetulnya tidak perlu membiarkan ulat merajalela, gitu! Apokat yang tidak dicukur gundul juga bisa berbuah lebih, asal sudah cukup umur. Empat tahun kalau berasal dari bibit sambungan, dan 6 tahun kalau berasal dari biji. Musim bunganya jatuh pada musim kemarau Agustus - September, dan buahnya baru dapat dipetik 6 - 7 bulan kemudian, sekitar Februari - Maret, kalau sudah masak pohon agak sulit diketahui.tandanya.

Perubahan warna kulit antara buah yang mentah dan yang masak, hanya sedikit. Kalau buah mentah itu hijau tua yang mengkilat, ia akan berubah menjadi hijau kusam kalau sudah masak. Buah yang kulitnya merah ungu kecoklatan lehih sulit lagi. Dari muda sampai tua, tetap saja begitu. Tandanya masak hanya berupa bunyi kelotak-kelotak kalau buah itu dikocok.
Buah apokat ini juga aneh! Selama ia dibiarkan menggantung dengan tangkainya yang masih utuh daunnya, ia tidak akan masak-masak. Ada hormon tertentu dalam daun yang menghambat proses pemasakan. Tangkai yang daunnya masih ada 5 helai baru memasakkan buah dalam sebulan, tetapi tangkai yang sudah gundul sama sekali, sudah bisa memasakkan buah dalam 18 hari. Makin banyak daun, makin lama buah itu bertahan di pohon. Sifat ini kemudian dimanfaatkan oleh para pekebun apokat di Amerika untuk menyimpan buah di pohon. Semacam kulkas alarmi Tunggu sampai harga pasaran hagus, baru dipanen dari kulkas di kebun!
Berbeda sekali dengan di Indonesia! Beherapa butir buah yang sudah berbunyi kelotak-kelotak, atau sudah berubah warna hijaunya, sudah dipakai sebagai tanda untuk panen buah seluruh pohon. Tidak peduli apakah harga pasaran sedang anjlok, atau sedang tinggi, pohon tetap dijual borongkan kepada tengkulak tukang tebas. Orang ini juga tidak peduli, apakah buah yang diborong dengan harga bantingan itu sudah masak atau masih mentah. Kita sebagai konsumen tidak ditawari buah yang masak siap santap, tetapi selalu yang masih mentah mengkilat!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar