Kamis, 24 Desember 2009

Lettuce Head untuk Pasar Lokal

Lettuce Head untuk Pasar Lokal


Whalah, la gambarnya seperti gobis, gitu! Kadung mikir panjang dan takjub mendengar namanya yang sudah tidak bau desa lagi. Atau malah kayak sawi yang kalau di Jawa Timur bukan sawi, namun malah lebih rendah lagi, besai, untuk membedakan dengan sawi yang kadang batangnya meninggi kalau tidak terburu dijebol untuk masuk ke perut.
Lettuce head kini makin digemari konsumen lokal. Namun demikian sayuran elit ini baru banyak dijumpai di pasar swalayan besar. Meskipun pasarnya masih terbatas, petaninya sering kewalahan memenuhi permintaan, terutama di musim hujan. Tak heran harganya jadi melambung sampai Rp 8.000,00/kg di salah satu pasar swalayan top di Jakarta.
Dari bermacam jenis lettuce yang banyak di pasaran, lettuce head sativa adalah yang paling banyak peminatnya. Sayur ini banyak banyak digunakan masakan Eropa yang bertebaran di negeri ini.


Sayuran ini juga digemari di restoran Cina yang saat ini juga tak terhitung jumlahnya. Sekarang sayuran yang dulu hanya diminati orang Eropa ini justru banyak dicari konsumen lokal, yang mulai gemar makanan yang praktis dan relatif cepat dihidangkan. Bukan hanya restoran, hotel berbintang di Jakarta seperti Hilton, Grand Hyat, Mandarin, dan Arya Duta selalu minta dikirim lettuce secara rutin sebanyak 40-50 kg setiap hari dari Pusat Koperasi Hortikultura (KPH). Permintaan ini mungkin akan meningkat dengan datangnya turis luar negeri.
Petani di Cipanas, Ciwidey, dan Lembang, sudah menanam lettuce sejak 10 tahun yang lalu. Bahkan Tatang, pe tani sekaligus pedagang pengumpul di kampung CiburialLembang sudah 20 tahun me= nanam saytuan ini. Menurut Tatang, konsumen lettuce head terus meningkat sejalan dengan tumbuhnya hotel-hotel internasional dan banyaknya turis yang datang ke Indonesia. Petani ini sekarang mampu mengirim lettuce sampai ke Surabaya, Yogya, dan Denpasar. Minimal ia harus mengirim 150 kg/hari. Sebelum petani di Bali banyak yang ikut menanam lettuce head, Tatang mampu memasok sampai 500 kg/hari.
Lain halnya dengan Ujang MD, petani di desa CibogoLembang, setiap hari ia harus mengirim paling tidak 500600 kg ke pasar Induk Kramat Jati. Menurut Ujang setibanya di pasar Induk, lettuce head itu disalurkan ke hotel-hotel, pasar swalayan dan restoran yang ada diJakarta oleh para suplayernya. Sedangkan Frans, petani di Malang mengaku sering kewalahan memenuhi permintaan konsumen, padahal produksinya tiap hari mencapai 300 kg.

Selain langsung ke petanl, permintaan lettuce head ini juga berdatangan ke Koperasi Pemasaran Hortikultura (KPH), paling sedikit 500 kg/hari sejak tahun 1991. Permintaan sayuran antik ini baru datang dari lima hotel berbintang di Jakarta. Sementara menurut Ir. Rully TY, manajer produksi KPH, permintaan dari salah satu pasar swalayan di Jakarta baru tujuh outlet yang bisa dipasoknya sebanyak 50-60 kg/hari. Selain itu, baru satu restoran yang dipasoknya sebanyak 5-10 kg/hari. Sedangkan permintaan dari perusahaan catering terpaksa belum terlayani. "Kalau bicara soal trend untuk masa yang akan datang, penanaman lettuce head harus diperluas, karena hotel tidak hanya lima, outlet tidak hanya tujuh, dan restoran tidak hanya satu," tutur Rully TY kepada Trubus.
Hero yang merupakan salah satu pasar swalayan terbesar dan memiliki 15 outlet juga memerlukan lettuce head yang diakui paling laris ketimbang jenis lettuce lainnya. Menurut Million, buyer fresh fruit and vegetable Hero, untuk memenuhi tiap outletnya ia harus menyedi.akan 5-10 kg/hari. "Untuk lakasi tertentas, artinya di lingkungan elit kebutuhan per outlet bisa lebih dari 10 kg," ungkap Million. Namun seringkali Hero mengalami kesulltan mendapatkan lettuce head, terutama di musim hujan. "Saat-saat sepertf ini kami benar-benar sering mengalami kekosongan," keluh Million. Ternyata kekurangan lettuce head juga dialami Rully TY, kalau tiap hari ia bisa memasok 500 kg, pada saat musim hujar. KPH hanya mampu mengirim seadanya saja.
Harga sering berfluktuasi, seperti layaknya komoditas pertanian lainnya, fluktuasi harga terjadi juga pada lettuce head. "Ini disebabkan pengadaan barangnya yang berfluktuasi," kata Ujang MD. Bila musim kemarau produksinya

v Budidayanya Gampang
Lettuce head dapat tumbuh balk dl dataran sedang sampai tinggi, atau sekitar 600-1.200 m dpl. Sayuran Ini pun blsa ditanam dl tanah tegalan maupun lahan sawah yang bar pH 6-6.5. Menurut pengalaman petani di Lembang, pada waktu musim kemarau sebaiknya tanaman lni ditanam di lahan sawah, sedangkan di musim hujan sebaiknya di tanah tegalan untuk menghindari kelebihan air yang menyebabkan pembusukan.
Keperluan benih 50 g per ha. Benih yang akan ditanam sebaiknya disemaikan dulu pada lahan seluas 5 m2 yang telah diberi pupuk kandang 'matang' sebanyak 2 kuintal. Kemudian ditutup dengan mulsa dan disiram seperlunya. Dua hari kemudian mulsa dibuka, clan dibiarkan sampai seminggu lamanya.

Langkah selanjutnya bibit yang tumbuh dimasukkan ke dalam polybag yang terbuat dari Oaun pisang yang telah berisi campuran tanah clan pupuk kandang. Bila tanaman telah berdaun lima helai (sekitar 20 hari dalam polybag), bibit siap dipindahkan ka lahan tetap.
Sebelum ditanami, lahan perlu dioiah dulu agar gembur, kemudian diratakan. Baru kemudian dibuat guludan selebar 45 cm dan tinggi 30 cm. Jarak antar guludan 20 cm. Jarak antar tanaman 40 cm clan jarak antar baris 65 cm. Bibit-bibit itu ditanam pada lubang yang sudah diberi pupuk sebanyak 20 ton/ha. Kemudian ditimbun sampai batas leher akar.
Pemupukan pertama dilakukan 10-14 hari setelah tanam. Pupuk yang digunakan NPK dengan dosis 250 kg/ha, dibenamkan di sekitar tanaman sedalam 5 cm. Pemupukan kedua diiaku kan pada saat tanaman berumur 30-35 hari dengan jenis clan dosis yang sama. Tapi diberikan sekitar 10 cm dari canopi tanaman.
Penyemprotan pestisida dilakukan dari mulai tanam sampai umur 45 hari atau 5 hari menjelang panen. Dengan selang waktu 3 ban sekali di musim hujan clan seminggu sekali di musim kemarau. Pestisida yang digunakan biasanya yang bisa mencegah penyakit lodoh akibat banyak hujan, seperti Polyram, Anthracol dan sebagainya. Untuk mencegah serangga digunakan insektisida seperti Ambus atau Dursban dengan dosis sesuai label kemasan.
Perawatan yang juga perlu dilakukan adalah penyiraman. Sebelum tanam an berumur 20 hari penyiraman dilakukan 3 hari sekali, tetapi setelah itu cukup seminggu sekali. Penyiangan pun hanya perlu dilakukan jika di sekitar tanaman terlihat ada gulma yang tumbuh.

Pada umur 50 hari lettuce head sudah dapat dipanen. Panen yang baik dilakukan 5 hari sekali. Dengan demikian lettuce head yang dipanen tidak terlalu tua atau muda. Lettuce head yang diingini konsumen adalah yang segar, bebas dari noda hitam atau berlubang akibat penyakit dan hama. Diameternya sekitar 10-15 cm.melimpah, sebaliknya di musim hujan produksi sayuran antik ini menurun drastis. Pada saat hujan dari 2.000 tanaman, paling-paling hasilnya 2-3 kuintal. Sedangkan di musim kemarau bisa mencapai satu ton, bahkan lebih," ujar Tatang.
Dengan demikian waktu musim hujan (November - Januari) saat produksi rendah, harga secara otomatis terkatrol naik. Bila pada saat 'normal' harga Rp 500,00-Rp 600,00/ kg, maka pada masa sulit seperti ini bisa melonjak sampai Rp 2.500,00 dari petani. Sementara jika permintaan banyak tetapi barangnya sangat sulit didapat, Hero sanggup menjualnya dengan harga Rp 8.000,00/kg. Tapi pernah juga harga jatuh menjadi Rp 200,00/kg bila musim panen raya. Biasanya harga melonjak pada waktu menjelang hari Natal dan Tahun Baru. Menurut Million maupun Rully TY, pada saat itu permintaan bisa menirigkat sampai 20%, tapi barangnya sering sulit didapat. Ternyata pelonjakan permintaan sampai 20% juga dialami Tatang pada bulan April Juli tahun 1991.
Target produksi yang tidak tercapai di musim hujan disebabkan oleh mudah busuknya tanaman ini, terutama busuk pada akar atau sering disebut penyakit lodoh. "Bila musim kemarau satu buah lettuce head bisa mencapai ½ kg, di musim hujan hanya 1/3 kg," tutur Ujang MD. Selain hasilnya berukuran kecil, tanaman ini gampang diserang hama dan penyakit hingga produksi dan kualitasnya turun. Bibit lettuce selama ini masih diintroduksi, "Akibatnya pernah juga produksi turun karena benihnya tidak ada di pasaran," ungkap Ujang.
Ternyata dalam situasi bagaimanapun menanam lettuce head menguntungkan petani, seperti yang dialami Ujang MD. Dengan biaya Rp 1.500.000,00/ ha, dan produksi mencapai 7.5 ton/ha, saat 'normal' harga Rp 600,00/kg, Ujang mampu mengantungi keuntungan bersih Rp 3.000.000,00 hanya dalam waktu 2 bulan. Sayur baru memang patut untuk dicoba, sebagaimana kabarnya beberapa wisatawan Eropa yang berkenalan dengan mangga arumanis di hotel berbintang lima, mereka terpesona dan menganggap buah itu exotic. Kita di Losmen Bintang Tujuh menganggapnya biasa-biasa saja. Beberapa abad yang lalu, ketika mereka merasakan betapa nikmatnya buah pisang ambon yang harum itu, mereka pun diwartakan kagum. Kok ada buah surga seperti itu, sampai Linnaeus menyebutnya Musa paradisiaca? Kita hanya heran, pisang saja kok dikagumi!

v Jadi "antik"
Kini keadaannya terbalik. Sesudah kita makmur ' "menjelang lepas landas" dan bebas (tapi bertanggung jawab) memasukkan benih lettuce, zucchini, okra, daikon, rhubarb, kohl rabi, broccoli ke bumi Indonesia, para konsumen kita juga menganggap sayuran baru itu eksotik tapi penduduk pribumi dari negeri asal sayuran itu menganggapnya biasa-biasa saja. Sejak itu, pasar pasar swalayan kita makin banyak mempopulerkan sayuran asing, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, ketika orang-orang (baik asing maupun "domestik") sempat memanfaatkan waktu senggangnya untuk berbelanja sendiri ke pasar ber-AC dan ber- WC. Meskipun tidak dikenal begitu luas, sayuran baru itu mengalir di depan kita, karena yang mencari mereka memang makin banyak. Bukan karena "tak kenal atau kenal" (maka tak sayang atau sayang), tapi karena sayuran eksotik itu membuat cara berbelanja menjadi semacam petualangan yang menarik. Baru melihat nama-nama mereka berikut bentuk masingmasing yang aneh itu saja sudah tertarik. Apalagi membaca harganya.
"Masak daikon dijual sebelas ribu sekilo! Apa istimewanya?" tanya seorang pengunjung pasar ber-AC dan ber-WC di hari Minggu santai itu. Istimewanya ialah, barang itu habis juga dalam dua hari: Sabtu dan Minggu. Mungkin karena diborong untuk persediaan satu minggu berikutnya, oleh perusahaan catering yang merantangi orang-orang asing. Daikon, Raphanus sativus varietas longipinnatus yang bentuknya seperti lobak raksasa itu, (dengan garis tengah 5 cm dan panjang 30 cm) dimasak sop atau diacar, tapi di dapur Indonesia dimasak soto. Baunya seperti lobak Raphanus sativus varietas hortensis kita, tapi lebih lembut dan gurih.
Daikon adalah varietas musim dingin dari radis, Raphanus sativus, yang tumbuhnya lebih dari semusim, sehingga perawatannya lebih lama sampai jadi mahal. Karena harganya yang menarik, beberapa pengusaha hortikultura yang jeli kemudian tidak mengimpor sayuran itu lagi, tapi benihnya, lalu menanamnya di pegunungan yang sejuknya sama dengan negeri asalnya, yaitu Jepang. Maka terbinalah pasar yang makin lama makin ramai. Minat yang tergugah dan permintaan yang meningkat ailayani dengan suplai yang cukup. Para petani Lembang dan Cipanas yang bekerja sama menanam sayuran itu, senang-senang saja diajak memanfaatkan peluang bisnis itu. Mereka agak sulit menyebut sayuran baru itu "sayuran eksotik", lalu menyebutnya "sayuran antik". Lebih lancar meluncur dari mulut, meskipun istilah antik itu berlawanan maknanya dengan pengertian "baru", tapi mereka tidak peduli.

v Lebih bergengsi
Masuknya sayuran baru itu agaknya memang "terpaksa" diterima (semacam apa boleh buat), karena wajib mengiringi masakan asing yang kita terima enaknya dan gengsinya. Lettuce untuk masakan selada, misalnya. Masakan ini kita serap dari Eropa, yang jelas tidak masuk akal kalau dihidangkan tanpa daun selada. Dulu, selada dihias agar menarik dengan daun selada kropsla alias head lettuce, yang hijau muda berseri-seri, tapi kini lebih menarik lagi kalau ia dihias dengan leaf lettuce. Ada yang keriting (curly lettuce) dan ada yang merah pucuk daunnya tapi hijau pangkalnya (colour lettuce).
Lettuce ialah selada Lactuca sativa juga, tapi kita kurang bergengsi kalau menyebutnya "selada". Istilah selada itu sudah pernah dilempar di atas kepala kropsla (Lactuca sativa varietas capitata), sedangkan lettuce disediakan bagi leaf lettuce (selada daun), Lactuca sativa varietas cnspa, yang tidak membentuk krop.
"Jadi mengurangi salah paham. Bukan karena soal gengsi," tutur seorang penggemar pemakai istilah lettuce kepada saya. Sejenis lettuce lain yang juga santer membanjiri pasar swalayan kota besar ialah iceberg lettuce, yang sebenarnya kropsla juga, tapi dimuliakan di Amerika menjadi selada yang sangat tahan lama (lebih tahan daripada kropsla biasa). Hijau menarik penampilannya dan renyah segar, rasanya. Lebih manis daripada daun selada kropsla biasa yang agak pahit itu. Mungkin karena alasan ini, iceberg lettuce lebih digemari sebagai lalap segar daripada selada.
Untuk menjaga kesegaran lettuce ini dipakai semacam cold chain system yang canggih dalam pemasarannya. Di kebun selada, lettuce itu dipak dalam dos, lalu diangkut dalam truk berpendingin secepat-cepatnya (pilih jalan yang tidak macet) ke pasar swalayan yang memesannya. Di sini pun, selada kartonan itu disimpan dalam gudang berpendingin, sebelum dijajakan dalam lemari pajangan yang dingin pula.
Dalam wadah-wadah dingin itu, suhu selalu diusahakan hanya serendah beberapa derajat di atas titik beku saja. Itulah syaratnya agar mereka tetap segar dan tidak membusuk. Sebaiknya sayuran segar itu juga kita simpan dalam lemari es rumahan yang suhunya disetel serendah itu. Tidak sampai beku tapi juga tidak terlalu jauh suhunya di alas 0ºC.

v Zucchini dan olua
Sayuran asing yang mengingatkan kita pada mentimun, karena bentuk dan rasanya memang seperti mentimun, tapi tidak pernah dimakan mentah, dijajakan sebagai zucchini (Cucurbita pepo varietas melopepo). Nama itu berasal dari tanaman Italia zucchino yang merupakan bentuk kecil dari zucca, sejenis sayuran seperti waluh Cucurbita moschata kita, tapi ukuran buahnya lebih kecil, sedangkan alurnya kurang begitu nyata. Warnanya hijau dengan bercak-bercak putih. Di Prancis dan negara lain yang keprancis-prancisan, buah ini disetup sebagai sayur rebus courgette bersama buah zaitun, tapi di Yunani yang lebih panas hawanya, buah itu diiris-iris melintang untuk dimakan sebagai "anggota konsorsium" selada.. Akan tetapi ia direbus dulu sebentar, didinginkan kembali, lalu diberi minyak zaitun dan sari jeruk sitrun. Benar-benar menyegarkan, apalagi kalau diuwur-uwuri bubuk merica dan iris-irisan daun peppermint (permen) Mentha piperita.
Karena kurang enak kalau dimakan mentah, buah itu di Indonesia dimasak puding saja, yang dipanggang dalam oven, lalu dimakan dengan saus tomat. Akan tetapi para penggemar masakan Jawa memakai zucchini untuk disayur bening, sayur asam atau sayur lodeh saja, seperti oyong Jawa Barat atau gambas Jawa Tengah.
Sayuran asing yang buahnya beralur seperti oyong, tapi meruncing ujungnya, diedarkan sebagai okra, Abelmoschus escillentus. Dulu ia pernah disebut Hibiscus esculentus oleh Linnaeus. Nama asli buah Afrika Barat ini dalam bahasa tshi (kelompok bahasa Sudan dari Pantai Gading) ialah nkruman, tapi di telinga orang asing bukan Afrika, terdengar sebagai okra. Bentuk buahnya yang runcing dibayangkan sebagai jari putri, imut-imut, sampai ia terkenal sebagai ladies' fingers. Buah ini aneh sekali tumbuh tegak, dengan ujung runcingnya mencuat ke atas. Tanamannya berupa herba semusim setinggi 1,5 m. Bagi kita sebenarnya ia sudah tidak asing lagi, karena sudah sejak tahun 1872 ditanam di Sulawesi Selatan, untuk diambil bijinya. Biji ini terpelanting ke luar, setelah buah itu masak dan meledak pada celahnya yang memanjang. Biji yang digoreng kering ditumbuk (atau digiling) untuk dipakai menyubal bubuk kopi.
Karena biji itu dulu didatangkan ke Indonesia oleh Muslimin yang sudah naik haji di Saudi Arabia, maka biji itu disebut juga kopi Arab. Akan tetapi biji okra Sulawesi yang diekspor ke Singapura, aneh sekali disebut kopi Jawa. Buah okra muda digemari orang sebagai kulup (lalap rebus) yang dimakan dengan sambal jeruk. Di Eropa, okra juga dianggap eksotik dan digemari karena rasanya yang lembut segar cocok sekali kalau dikombinasikan dengan tomat, untuk penyegar masakan daging kambing muda. Sayang sekali, buah itu kalau direbus agak lumer menjadi massa seperti selai. Karena itu, ia hanya boleh direbus sebentar saja, (10 menit) atau dibubuhkan pada saat-saat akhir sebelum masakan utama selesai direbus.

v Lapangan kerja baru
Bagi para petani sayuran pegunungan kita, trend menyantap sayuran eksotik itu jelas memberi peluang bisnis baru. Mang Ujang dari Lembang misalnya, oleh seorang pengusaha yang tidak mau disebut namanya dari Jakarta, diminta menanam rhubarb. Sampai tahun lalu, petani kol itu hanya menanam sayuran Eropa yang sudah lama menetap di Lembang saja, seperti kol, wortel, tomat, radis, tapi sejak ia menerima uang lebih banyak dari rhubarb, ia tak menanam wortel dan kol lagi. Menurut pemodal dari Jakarta itu, rhubarb nanti akan dijual tangkai daunnya yang asam-asam segar, sebagai bahan pembuat puding, penutup acara makan-makan. Asamnya gara-gara asam real dan oksalat. Seperti asam oksalat buah nanas, zat ini pun sebenarnya tidak baik bagi penderita batu ginjal. Namun, ia laris saja di kalangan orangorang yang tidak mempunyai batu dalam ginjalnya.
Tanaman dari Asia Tengah yang dulu dibawa ke Barat oleh pasukan Jenghis Khan sampai akhirnya menetap di Bulgaria itu berupa terna tegak setinggi 50 cm. Ia membentuk akar tinggal yang besar, yang sebenarnya adalah batang. Dan "batang" ini muncul tangkai daunnya yang panjang dan tebal berair. Warnanya hijau muda agak kemerah-merahan. Di Amerika, tangkai daun ini dipakai untuk membuat pie, sampai ia terkenal sebagai common pie plant. Masyarakat di sana diingatkan benar-benar, jangan sampai ikut makan daunnya. Bisa keracunan, karena kadar kalsiumoksalatnya tinggi.
Jenis yang khusus dipakai sebagai sayuran ini jenis Rheum rhaponticum, sedangkan kerabat dekatnya yang dimanfaatkan akar tinggalnya, sudah lama ditanam para petani Jawa Tengah sebagai kelembak, Rheum officinale. Serutan akar ini, kalau dibakar dengan tembakau dan diisap sebagai rokok, bisa merangsang sampai bikin melek orang, karena mengandung asam galat dan emodin yang mengerutkan dinding usus. Dalam jumlah besar, ini begitu merangsang, sampai orang ingin ke belakang. Bukan main nek, baunya. Karena itu, biasanya ia dicampur dengan sebutir kemenyan. Bau rokok kelembak menyan ini lain mengingatkan kita pada upacara memanjatkan doa bersama, demi keselamatan kita semua.
Selain para petani, juga para tengkulak sayur mayur rnendapat obyekan baru. Pak Endang dari Lembang, misalnya, yang sudah lima tahun menjadi pemasok sayuran Eropa bagi hotel-hotel dan restoran, kini juga banting setir, mengumpulkan sayuran eksotik kohlrabi dan broccoli.
Dari kohlrabi, Brassica caulorapa, akan dipanen batangnya yang membengkak seperti umbi. Rata-rata sebesar ubi rambat. Ia bukan ubi-ubian, tapi masih kerabat dekat dengan kol. Ibu-ibu angkatan empat lima menyebutnya koolraap. Batangnya menumbuhkan tangkai-tangkai daun yang munculnya berselang-seling secara melingkar. Warnanya hijau muda keputih-putihan.
Berbeda dengan kol biasa murahan, yang paling-paling hanya dimasak sop atau dilalap, kohlrabi dari daratan Eropa ini terlalu sayang kalau hanya diperlakukan begitu. Di hotel-hotel internasional ia diiris-iris melintang, untuk dimasak sebagai koolraapschotel. Akan tetapi di dapur Indonesia modern, ia cuma diiris menjadi batangan persegi panjang, yang kemudian direbus bersama udang dengan kuah santan.
"Kohlrabi ini mesti dipanen waktu umbinya masih lunak," tutur Pak Endang kepada petani penanamnya di Lembang. Kalau sudah keras, rasanya agak menusuk seperti sawi. Pak Endang itu juga laris berdagang broccoli, Brassica oleracea varietas cymosa (atau italica). Sayuran kerabat dekat kol ini mirip bunga kol, tapi hijau warnanya. Ia terpaksa diberi nama Italia: broccoli (kata jamak dari broccolo: tunas), karena varietas itu memang hasil pengembangan orang Italia. Lagi pula akan rancu, kalau diberi nama terjemahannya: kol tunas, karena nama kol tunas sudah terlanjur diberikan kepada brussels sprout yang bulat-bulat sekecil kelereng itu.
Rasa broccoli lebih gurih daripada bunga kol, sehingga enak kalau diselada (sesudah direbus 20 menit) atau disop seperti bunga kol. Akan tetapi di Belanda dan Jerman, broccoli ada yang cuma direbus saja, tapi diberi saus seperti krem, berisi anggur yang disedapkan dengan pala. Supaya keren, masakannya diberi label Romanesco dengan sauce hollandaise.

v Matang Lebih Baik

Belakangan ini masyarakat sedang gemar masakan gaya Jepang seperti ikan mentah atau setengah matang yang disebut sushi misalnya. Nikmat sih nikmat, tetapi makanan laut macam ikan, udang, kepiting dan kerang bisa bikin kalang kabut orang jika dimasak kurang matang. Ikan misalnya, kalau dimasaknya kurang benar bisa membuat tubuh kekurangan vitamin karena mengandung zat antithiamine atau anti-vitamin B l. Salah satu indikasi yang parah dari kekurangan vitamin itu adalah beri-beri dan gangguan saraf (Wernicke sindrom).
Selain itu dalam tubuh ikan, udang dan kerang juga hidup beberapa jenis cacing yang bisa mengganggu kesehatan jika tidak dimasak. Paru-paru bisa kena infeksi, tubuh bisa alergi atau tubuh bisa kurang darah. Obat penangkalnya adalah obat cacing pita yang namanya yomesan.
Untuk cacing hati yang bisa mengakibatkan pembengkakan, pengerasan bahkan kanker hati, pengobatan dilakukan dengan preparat Antimon. Cacing yang hidup pada kepiting adalah Paragonismus westermani yang merusak paru-paru. Infeksi yang dirasakan adalah batuk dan rasa sakit di dada. Epilepsi, kelumpuhan tubuh, gangguan penglihatan atau rasa nyeri di perut adalah keluhan-keluhan yang suka dikatakan penderita. Pengobatan biasanya dengan makan Bithinol 5 - 10 kali untuk dosis 20 - 40 mg/kg berat badan, setiap dua hari sekali.
Bukan hanya makanan gaya Jepang saja, tetapi hidangan keong mentah yang dimakan bersama lalap sayur mentah dari Sulawesi juga suka mengundang risiko. Cacing Echinostoma ilocanum suka ikut-ikutan masuk perut, biarpun infeksi yang ditimbulkan cuma sakit kepala, tidak enak badan dan anemia. Obatnya adalah Thiabendazol.
Namun demikian, tidak semua cacing terdapat di Indonesia. Jadi, Anda tidak usah terlalu khawatir. Yang penting, domestik maupun impor, jenis makanan laut lebih baik dimasak sampai matang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar