Selasa, 29 Desember 2009

Mematok Kedisiplinan

Mematok Kedisiplinan



Disiplin dapat dikembangkan mulai dari dalam diri setiap orang. Susahnya, ia tidak mungkin kita miliki dengan cepat, tapi melalui tahapan. Tahap akhir yang disebut disiplin tinggi, kita temukan pada orang yang menjalankan peraturan tanpa merasa dikekang, tak perlu pengawas atau polisi lagi, dan juga tak perlu pengakuan dari luar bahwa ia itu berdisiplin.
Disiplin nasional yang kita dambakan, yang kini makin santer dibicarakan orang, bersumber pada disiplin pribadi dari tiap anggota masyarakat yang berbasis awal dari keluarga. Disiplin pribadi merupakan sikap mental untuk mau menyesuaikan diri. Sedangkan hidup berdisiplin pada hakikatnya merupakan suatu kebiasaan yang sebaiknya mulai diajarkan dan dibina di lingkungan keluarga masingmasing. Walaupun manusia itu pada dasarnya tidak ingin dikekang dan dibatasi, namun kalau sejak awal ia dilatih agar mampu hidup bersama dan mau menghargai kepentingan orang lain, maka ia akan menjadi orang yang berdisiplin mematuhi aturan yang diciptakan untuk kepentingan bersama. Sifat ini diperolehnya berkat didikan orang tua atau keluarganya di rumah. Orang tua yang rasa tanggung jawabnya cukup besar, akan berusaha menanamkan perilaku pada anaknya yang dianggap baik dan menghindarkan perilaku yang negatif.

v Berdasarkan pengertian
Sekalipun tujuan penanamun disiplin itu baik, namun mengenai konsep disiplin ini masih terdapat perbedaan paham. Menurut segolongan orang tua, disiplin itu identik dengan kekangan dan pemaksaan dari orang luar terhadap anak. Jadi penegakannya harus secara ketat, dengan hukuman fisik yang keras. Menurut pandangan lain, mendisiplinkan anak berarti mengurangi kebahagiaannya. Jadi tidak sepatutnya anak dipaksa untuk berdisiplin. Anak tidak boleh terlalu dikendalikan, supaya perkembangannya tidak terganggu.
Sialnya, kedua pendapat yang saling bertolak belakang itu semuanya tidak dapat dijadikan pedoman dalam praktek. Penanaman disiplin yang keras dapat membuat anak frustrasi. Sebaliknya, penanaman disiplin bergaya permisif cenderung menghasilkan anak yang manja dan tidak bertanggung jawab.
Dewasa ini timbul anggapan bahwa disiplin hendaknya ditegakkan dengan cara-cara yang manusiawi - namun tetap tegas - dan berorientasi pada self discipline dan self control. Hukuman sebagai alat untuk menegakkan disiplin bukannya sama sekali tidak dianjurkan, tapi hendaknya diingat bahwa hukuman baru efektif kalau ia diimbangi dengan reward bagi perilaku yang positif. Tindakan itu kemudian perlu dibantu dengan pemberian contoh perilaku pengganti bagi perilaku negatif, yang tergolong mesti dihukum tadi.

v Sampai Mendarah Daging
Perkembangan disiplin yang sehat sebagaimana kita harapkan, pada seseorang tidak mungkin terwujud dengan cepat, melainkan perlu waktu dan usaha yang sungguh-sungguh. Ada lima tahap perkembangan disiplin. Tiap tahap yang lebih tinggi menunjukkan peningkatan usia dan kematangan mental (serta moral) individu yang bersangkutan.
1. Pada tahap pertama, disiplin dimiliki anak hanya sekadar untuk menghindari hukuman saja. Aturan masih sering dilanggar kalau pengawas kebetelan tidak ada.
2. Pada tahap kedua, disiplin diwujudkan hanya untuk mendapatkan imbalan. Pada anak kecil, agar ia mendapat pujian. Pada pegawai kantor, supaya bisa naik pangkat.
3. Pada tahap ketiga, disiplin dijalankan demi aturan itu sendiri. Aturan, yang mengenakkan masyarakat bersama, termasuk pelaku disiplin itu sendiri. Tidak ada syarat dan tujuan lain dari pemilikan disiplin itu kecuali untuk menjadi insan yang tahu aturan.
4. Pada tahap keempat, disiplin diterapkan berdasarkan kesadaran bahwa untuk hidup bermasyarakat, setiap warga perlu mengikuti aturan tertentu. Kesadaran ini dilandasi keinsafan, bahwa kepentingan bersama itu lebih penting daripada kepentingan perorangan. Orientasi disiplin pada tahap ini adalah orientasi sosial antarmanusia.
5. Pada tahap kelima, tahap yang paling tinggi, disiplin diwujudkan oleh dorongan kebutuhan dari dalam diri sendiri. Disiplin sudah mengalami proses internalisasi yang sempurna. Kekangan dan pembatasan yang tadinya dipaksakan dari luar sudah berubah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pribadi seseorang melalui proses conditioning (pembiasaan) dan modelling (panutan, contoh dan teladan) dari orang tua, guru atau pemimpin masyarakat. Dikatakan secara sederhana, disiplin itu "sudah mendarah daging."

v Jelas, Adil dan Beralasan
Pada mulanya, disiplin harus ditegakkan dari luar. Kalau perlu dipaksakan terlebih dahulu. Pada orang yang perkembangan disiplinnya masih pada tahap awal, lingkungan kehidupan sosialnya mesti demikian rupa hingga ada seseorang yang bertugas sebagai pengawas dan seseorang lagi yang bertugas sebagai pemberi sanksi. Pengawas mengontrol apakah tindakan tertentu sudah sesuai dengan aturan yang ada (misalnya belajar pada jam belajar), sedang pemberi sanksi memberi hukuman kalau disiplin dilanggar.
Tugas pengawas dan pemberi hukuman ini sudah tentu harus konsisten dan kontinyu. Ketidakhadiran mereka pada tahap awal pengembangan disiplin - sewaktu disiplin itu baru mulai tumbuh dan belum tertanam betul - akan menghambat proses pembiasaan.
Namun, sebelum pengawas dan pemberi sanksi itu bertugas, diperlukan seperangkat aturan yang jelas (yang dapat dipahami), yang adil, beralasan dan teruji kebenarannya. Peraturan yang memperhatikan rasa keadilan akan lebih mudah diterima dan diserap dalam sanubari, sehingga cepat mendarah daging. Sebaliknya, peraturan yang tidak beralasan, apalagi yang berat sebelah dan tidak adil, sampai tak dapat diterapkan secara konsisten, merupakan perangkat yang buruk untuk menanamkan disiplin. Dalam keadaannya yang ekstrem malah dapat mematikan spontanitas dan inisiatif. Pada gilirannya mungkin dapat menghambat pengembangan kepribadian seseorang.
Bukan disiplin semacam ini yang dicita-citakan bangsa kitii, melainkan disiplin yang berguna bagi kebaikan masyarakat bersama, termasuk individu warga masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Cara penanaman disiplin yang paling tepat ialah cara yang memperlakukan anak, orang muda atau individu itu tetap sebagai subjek (seseorang yang diperlakukan secara manusiawi sebagai orang) dan bukan semata-mata sebagai objek (sasaran yang jarang mendapat perlakuan manusiawi sebagai orang):
Perlakuan ini akan mendorong anak makin dewasa makin dapat membebaskan diri dari pengawas, untuk kemudian mengawasi dirinya sendiri.

v Kembali ke Keluarga Hangat
Sebaiknya, hubungan antarkeluarga kita dipertahankan agar tetap hangat. Dewasa ini keluarga Indonesia cenderung menjadi keluarga kecil yang privacy (kehidupan pribadi)-nya makin menjadi-jadi terpencilnya. Tidak ada kehangatan hubungan antara keluarga yang satu dengan keluarga lain yang masih berkerabat. Misalnya hubungan antara keponakan-keponakan dan paman atau bibinya. Juga hubungan antara cucu-cucu dan neneknya. Dulu, ketika hubungan di antara mereka itu masih hangat dan akrab, ada mekanisme kontrol yang saling mengingatkan, jangan sampai ada salah seorang anggota keluarga yang bersikap dan berbuat negatif. Begitu ada anak tidak berdisiplin mematuhi aturan kehidupan bersama sebagai anggota masyarakat baik-baik, kontan sudah ada yang mengingatkan anak itu. Entah itu bibi, paman, nenek atau kakeknya. Orang tuanya yang rasa tanggung jawabnya besar, ikut malu dan mengadakan penertiban sehingga anak itu berdisiplin lagi.

v Soal Kebiasaan
Memang kedisiplinan akan bisa berhasil secara maksimal jika pengembangannya dimulai dari lingkungan keluarga. Kemudian jika ditanyakan, apakah tidak percuma saja mendidik anak berdisiplin di rumah, sementara masyarakat orang dewasa di luar rumah sekarang ini banyak yang tidak berdisiplin? Masyarakat kita memang sedang sakit. Marilah kita sembuhkan bersama-sama, dengan mulai dari mendidik anak kita masing-masing untuk mengenal disiplin di rumah dulu.
Tugas itu lebih dititikberatkan pada ibu, karena anak pada dasarnya lebih dekat dengan ibunya daripada dengan bapaknya. Kalau ada apa-apa, yang dicari lebih dulu
untuk menumpahkan isi hati adalah ibunya, Bukan bapaknya. Namun, ini tidak berarti bahwa bapak itu terus boleh cuci tangan dan membebankan tugas pendidikan anak pada ibu semata-mata.
Di lingkungan rumah, sekolah, kantor pemerintah dan perusahaan swasta, atau lingkungan bermacam-macam organisasi masyarakat, selalu ada peraturan dan ketentuan. Itu diadakan untuk menjamin keselamatan, kemajuan dan kelangsungan hidup berbagai lingkungan itu.
Kepatuhan menjalankan semua peraturan dan ketentuan itu jelas penting dan baik. Akan tetapi tidak kalah pentingnya adalah disiplin pribadi untuk mengendalikan diri sehingga mampu menjalankan kehidupan, yang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi dirinya dan lingkungannya.
Orang yang ingin maju hidupnya perlu belajar. Baik belajar dari pengalaman, dari orang lain, (seperti orang tua, guru, pemimpin masyarakat), maupun dari buku. Untuk bisa belajar dengan hasil baik juga perlu disiplin yang mengharuskannya mematuhi peraturan tertentu. Kalau kepatuhan seseorang pada peraturan ini tinggi, dapat diperkirakan bahwa hasil usaha belajarnya pun akan tinggi.
Hidup berdisiplin itu pada hakikatnya merupakan suatu kebiasaan. Kalau seseorang sudah biasa hidup berdisiplin, mungkin orang tidak akan ramai-ramai lagi bicara tentang disiplin. Sebab, hidup berdisiplin itu sudah dianggap lumrah. Orang Jepang yang berdisiplin (alias merasa lumrah) antre beli karcis bioskop, kalau disuruh nerambul, mencari terobosan mendahului orang-orang di depannya, justru akan bengong.
Ini berarti bahwa untuk menanamkan disiplin di suatu lingkungan, kita harus mengambil langkah-langkah yang mendorong tumbuhnya kebiasaan berdisiplin itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar