Selasa, 29 Desember 2009

Menghargai Perbedaan dalam Keluarga

Menghargai Perbedaan dalam Keluarga


Tayangan di televisi soal tulusnya persahahatan antara Acong, joko, dan Sitorus yang saling berbeda suku sungguh mengundang rasa haru. Diperlihatkan bagaimana tiga sahabat tumbuh bersama dengan semangat tolong-menolong tanpa pamrih. Pada akhir cerita, mereka bertiga meraih kesuksesan dan terus menjalin persahabatan yang tulus.
Adakah cerita itu juga tercermin dalam ke.hidupan nyata? Para pakar dan pengamat psikososial memandang, dalam kehidupan sehari-hari kesadaran adanya pluralitas, tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan produk dari proses relasi psikososiokultural panjang yang akhirnya mempengaruhi khazanah mental manusia. Proses ini berlangsung sejak lahirnya seorang anak di tengah keluarganya sampai kira-kira umur 12 tahun. Menyitir pendapat Robert Gerzon, bahwa konstruksi pikiran dan keyakinan tersebut sebagai menial program. Sementara psikiater M. Scott Peck memakai istilah world view, dan psikiater Eric Berne menggunakan kata psychological position.

v Pentingnya peran orang tua
Betapa mindset anak-anak Indonesia di sana-sini ditebari bekuan-bekuan produk proses relasi psikososial kultural yang ternyata bersifat depresiatif terhadap pluralisme. Hal ini tak sulit ditemukan pada anak Indonesia di desa maupun di kota, yang pada usia SD dan SLTP sudah tertempeli program mental rasialistik picik primordialistik. Ia mencontohkan, di usia semuda itu anak Indonesia bisa bilang sembari mencibir, "Kamu Cina, ya!" Atau anak Indonesia keturunan Tionghoa berujar dalam nada tak bersahabat, "Mereka pribumi, tidak seperti kita." Padahal Islam dengan jelas memaparkan bahwa tidak ada kelebihan bagi sebuah ras pada ras yang lain, melainkan dengan ketakwaan yang prima. Itu saja, sehingga tidak ada kelebihan ras kulit putih terhadap kulit hitam atau coklat. Islam tidak mengenal kasta, berdiri sama tinggi, duduk pun sama rendah. Juga tidak mengenal lembaga partorial, sehingga segala ritual, baik pernikahan, penguburan orang mati, sah-sah saja dilaksanakan ummat secara mandiri, asal memenuhi prsyaratnya. Mudah, fleksbel dan elastis.
Namun faktanya, kehidupan pelajar di sekolah di kota-kota besar seolah terkotak-kotak. Sekolah swasta Kristen atau Katolik biasanya punya murid mayoritas warga etnis Tionghoa.
Hamparan fakta itu mencerminkan betapa dalam penanaman konstruksi pikiran dan keyakinan rasialistik picik primordialistik itu. Ini tentu tidak mendukung apresiasi atau penghargaan terhadap pluralitas. Apalagi pada masa Orde Baru pemerintah gemar memainkan politik pecah-belah dan stigmatisasi (penempalan cap buruk buat insan atau kelompok manusia yang tidak sehaluan dengan pemerintah). Misalnya, dengan mengeksploitasi label dan atribut suku, agama, ras, dan status sosial ekonomi. Penerapan siasat kekerasan dan penghalalan segala cara itu menganak-pinakkan dendam dan sakit hati bernuansa SARA yang terus melingkar-lingkar dalam pusaran setan depresiasi terhadap pluralitas.
Oleh karena itu, salah satu upaya menumbuhkan kesadaran apresiatif terhadap pluralisme adalah lewat peran keluarga. Yakni membina relasi antar anggota keluarga untuk saling mendengarkan, saling menghargai pendapat, serta bersedia menerima perbedaan karakter. World view, menurut Peck, terwujud sedikit demi sedikit, lalu membeku, lewat serbaneka peristiwa budaya yang melingkupi hidup pribadi manusia. Peck berpendapat, lingkungan terpenting dalam pembentukan world view adalah keluarga. Di situ orang tua menjadi culture leader.
Lebih lanjut, segi terpenting dari budaya dalam keluarga itu bukanlah apa yang dikatakan orang tua tentang keserbanekaan dan keberhedaan antar insan. Tapi apa yang dilakukan orang tua, bagaimana mereka berperilaku dan mempertakukan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Juga bagaimana mereka mengejawantahkan sikap dan tindakan dalam interaksi sehari-hari.

v Jauhkan Tiga Sikap Dasar
Tatkala anak-anak bertambah usia dan mulai bersekolah, peran culture leader tidak lagi semata diemban oleh orang tua atau wali. Peran itu kini juga dimainkan oleh guru serta tokoh masyarakat di lingkungan masing-masing. Maka perwujudan world view yang apresiatif atau depresiatif terhadap pluralisme juga amat tergantung pada guru dan tokoh masyarakat dalam menghadapi realitas yang serbaneka.
Pada titik ini dapat ditandaskan, kegagalan publik untuk mengapresiasikan pluralitas adalah cerminan dari peran nyata orang tua, wali, guru, tokoh masyarakat yang masih banyak ditebari sikap dan perilaku depresiatif terhadap pluralitas. Rambu terpenting yang seyogianya diperhatikan adalah jangan bersikap memusuhi, memojokkan, mencerca, dan mengorbankan. Apalagi melakukan semua itu dengan peragaan tindak kekerasan pada siapa pun yang berbeda pikiran, keyakinan, suku, agama, ras, dan status sosial, ekonomi.
Untuk itu perlu diewujudkan relasi psikososiokultural yang dilandasi sikap dasar - meminjam istilah Berne - I'm OK, You're OK, "Aku oke, kamu pun oke, kendati aku dan kamu berbeda pikiran, keyakinan, suku, agama, ras, dan status sosial ekonomi." Oleh karena itu para culture leader, terutama di tengah keluarga dan sekolah, niscaya berupaya keras membebaskan diri dari tiga sikap dasar.
Pertama, sikap dasar "Aku oke, namun kamu tidak oke." Sikap dasar ini melandasi pikiran dan keyakinan bahwa "hidupku herharga namun hidup orang lain tidak herharga". Maka ia merupakan lahan subur untuk pengejawantahan sikap-tindak mencerca, menyalahkan, memojokkan, mengorbankan orang atau pihak lain yang berbeda dengan dirinya.
Kedua, sikap dasar "Aku tak oke, karnu oke." Sikap dasar ini melandasi pikiran dan keyakinan bahwa "hidupku tak berharga". Maka ia menggiring manusia menarik diri dari dunia hidup yang luas. Ia mengungkung diri hanya dalam lingkup primordialnya saja. Dalam lingkup sempit itu ia bisa direbaki fanatisme dan radikalisme yang depresiatif terhadap pluralisme.
Ketiga, sikap dasar "Aku tak oke, kamu pun tak oke." Sikap dasar ini melandasi pikiran dan keyakinan bahwa "hidup siapa pun tak berharga". Insan yang terkurung dalam sikap dasar ini cenderung tidak menghargai siapa pun. Maka ia pun akan cenderung bersikap dan hertindak depresiatif terhadap pluralisme.
Untuk mencegah merebaknya ketiga sikap dasar yang depresiatif terhadap pluralisme itu, hendaklah para culture leader, terutama di tengah keluarga dan sekolah untuk mengindahkan rambu-rambu tadi. Mereka harus (1) berupaya mengejawantahkan relasi-relasi psikososiokultural yang bersifat dialogis-raionil-egalitarian; (2) mendorong setiap anak dan warga memperdalam pengetahuan dan memperluas kerangka acuan berpikir dan memperbanyak sudut pandang; (3) mendorong setiap anak dan warga bergaul dan bekerja sama dengan orang lain tanpa membatasi diri pada lebel agama, ras, dan status sosial ekonomi.

v Belajar di sekolah beda agama
Dalam rangka membebaskan diri dari stereotip perbedaan budaya, agama, gender, fisik, dan sebagainya, hendaklah dilakukan bentuk saling menghargai, misalnya saja pengenalan budaya tertentu mulai TK sampai SMU, belum sekolah dengan latar belakang agama yang (Islam dan Anglikan) di tingkat SMP dan SMU, diskusi dan debat dengan topik perbedaan, pentas dana untuk teman-teman. Dengan berbagai kegiatan itu siswa diajak peduli dengan sesama, apa pun latar belakangnya, tidak sekadar berhenti pada teori.
Mereka akan menyadari pentingnya menciptakan kesempatan para siswa berinteraksi dengan berbagai lapisan atau kelompok melalui kegiatan bersama. Menyadari bahwa manusia adalah unik dan berbeda satu sama lainnya menjadi langkah awal untuk menerima perbedaan yang ada di masyarakat. Sekolah dalam hal ini bisa melakukan kegiatan bersama antarsekolah dengan perbedaan latar belakang agama, gender, sosial ekonomi, atau kondisi fisik. Contohnya, bermain bola bersama murid SLB A (tunanetra) akan memberikan pengalaman komunikasi langsung dan sejajar. Sekaligus menghilangkan stereotipe akan ketergantungan teman yang kebetulan tunanetra pada orang lain. Pengalaman langsung akan lebih efektif dalam menanamkan pentingnya penerimaan perbedaan.
Sementara, ada yang tidak melihat persoalan etnis di sekolah di kota besar. Alasannya, banyak orang tua murid yang tidak sesuku, apalagi mereka juga sudah menikmati pendidikan tinggi, ini membuat wawasannya jadi luas. Berhasilkah pembauran itu? Sulit untuk dinilai segera karena itu merupakan proses panjang.
Alangkah indahnya bila contoh kecil kehidupan yang damai di dalam perbedaan itu bisa menjadi teladan semua warga yang hidup di Bumi Nusantara ini. Pertikaian antarsuku atau antaragama pun menjadi hal yang tabu untuk terjadi.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَتَلَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا *
Bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa membunuh ahli dzimmah, ia tidak akan menemukan bau surga. Padahal aromanya sungguh bisa dijumpai dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun.
(HR. Nasa’i dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 4668).
Sampai begitu perlindungan Islam terhadap warga non Muslim.
Yang lebih penting lagi dalam menciptakan keindahan toleransi beragama, yaitu setiap individu diharapkan sudah berpijak pada keyakinannya masing-masing secara kokoh. Pada taraf seperti itu baru masing-masing melangkah untuk bersikap toleran. Sebaliknya, kalau keyakinan masing-masing individu belum kokoh, kemudian memasuki ranah toleransi, kemungkinan besar upaya ini akan memasuki sinkritisme (pencampuradukan ajaran), sebagaimana yang ada pada agama Sikh. Orang Islam banyak terkecoh dengan serbannya yang gede, yang wanita pun bagaikan muslimat dengan wajah-wajah di balik kerudung yang tersembunyi, baru tahu kalau itu bukan Muslim ketika mereka meliuk-liuk di hadapan patung. Memang agama ini muncul dari adanya keprihatinan Guru Nanak - sang pendiri agama tersebut - atas pertikaian Hindu dan Muslim India, maka diciptakanlah agama baru sebagai pemersatu (maunya), namun yang terjadi malah di luar skenario, yakni munculnya agama ke tiga (sinkretis) yang pada akhirnya menjadi rival dua agama yang telah ada,” begitu kurang lebih tulis Hamka.
ö@è% ¾ÍnÉ‹»yd þ’Í?ŠÎ6y™ (#þqãã÷Šr& ’n<Î) «!$# 4 4’n?tã >ouŽÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ß™ur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang sinkritisme (QS. Yusuf [12]: 108).
v Kiat-kiat Bertoleransi
Siapa sih yang tak ingin disukai orang lain? Dengan disenangi orang lain hidup ini menjadi lebih berwarna dan di mana pun kita berada tak akan mengalami kesulitan yang berarti. Sayangnya, tak semua orang tahu kiat agar disukai orang. Tip di bawah ini holeh Anda coba:
§ Tebarkan salam. Saat bersua dengan seseorang hendaknya mengucapkan salam. Misalnya assalamu'alaikum wr. wb, selamat pagi, dan sebagainya.
§ Jadikanlah orang lain merasa penting. Tanamkan dalam dirinya bahwa keberadaannya cukup penting.
§ Mintalah saran dan pendapat kepada orang yang sesuai dengan profesinya. Selanjutnya perhatikan dengan serius pembicaraannya.
§ Panggil namanya, jangan julukannya yang jelek atau nama yang jelek.
§ Perhatikan nama seseorang, jangan sampai salah ucap dan keliru dalam menuliskannya. Meskipun Shakespeare menulis "Apalah arti sehuah nama", yakinlah nama seseorang merupakan musik yang paling indah di dunia. Berikanlah lebih dari yang diminta.
§ Menolong seseorang hendaknya tidak sebatas yang diminta. Berikanlah sebaik mungkin sehingga orang tersebut merasa puas.
§ Pujilah kelebihannya. Setiap orang, selain memiliki kekurangan, pasti mempunyai kelebihan. Pujilah kelebihan tersebut dengan jujur. Misalnya memuji dalam kerapian berpakaian.
§ Tersenyumlah. Tunjukkan sikap ramah kepada setiap orang melalui senyuman. Sunggingkan seulas senyum maka dia akan merasa diperhatikan, dihargai, dan disenangi orang lain.

v Bangun Citra Baru
Jika pada masa yang lalu anak Anda memiliki latar belakang sosial yang kurang berkenan, baik di hati anak Anda sendiri atau sahabat-sahabatnya, dan sekarang ingin berubah menjadi orang yang lebih menyenangkan dalam pergaulan, ikuti kiat berikut:
- Kenali Diri
Luangkan waktu untuk refleksi: lihat diri kita dengan jujur. Apakah kita dapat mengenali kelemahan dan kelebihan diri dengan baik? Ini penting, sebab orang yang tidak mengenali dirinya akan sulit memperbaiki diri.
- Membuat Catatan
Tak ada salahnya membuat daftar kelemahan diri. Sang anak dapat melakukannya dengan mencatat setiap kejadian atau peristiwa yang membuat kita seperti orang bodoh, atau norak. Misalnya, marah pada teman dengan kata-kata kasar; atau menyepelekan orang lain.
Sang anak pun dapat mengumpulkannya lewat pandangan orang lain tentang diri kita. Apa julukan yang pernah kita terima? Mungkin si comel, si pemberang atau si judes. Tampung saja dan jangan panik apalagi berreaksi yang malah membuat citra itu melekat pada dirinya.
Kalau sang anak yakin dapat bersikap sportif dan orang yang dimintai pendapat mau berterus terang, mintalah kritik dan penilaian terbuka. Anak dapat memancing cerita dengan cara bersikap terbuka lebih dulu. Berceritalah tentang masa lalu atau hal-hal yang terkait dengan pribadi. Keterbukaan akan membuat orang lain semakin memahami diri kita sehingga ia punmau terbuka memberikan penilaian.
- Buatlah Target Citra Baru
Data di atas dapat pergunakan anak sebagai acuan untuk membentuk citra diri yang baru. Mulailah dari hal yang dia anggap paling penting dan realistis. Misalnya, mulai saat ini saya ingin menjadi si peramah atau si santun, bukan lagi si BT.
- Tanamkan motivasi
Segera sang anak mencanangkan niat dan bermotivasi kuat untuk mengubah citra diri. Berdamailah dengan diri sendiri dan yakinkan bahwa sang anak memiliki kebaikan yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Ini akan mensugesti diri, mengeluarkan perila u atau citra diri baru.
Dan sumber motivasi yang tidak pernah kering adalah obsesi untuk menjadi hamba Allah yang selalu berbuat kebajikan; hamba Allah yang meraih surga!
- Memaksa diri
Motivasi saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan langkah konkret. Anjurkan diri anak untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya, memaksa diri untuk tetap tersenyum meski sedang kesal. Satu dua kali kita akan merasa seperti orang berwajah dua. Tapi setelah melihat dampaknya pada orang lain, sang anak seperti mendapat kekuatan tambahan untuk mempertahankan perilaku baru tersebut. Suatu saat ia akan terkejut saat mendapati diri terbiasa bersikap menyenangkan meski pun dalam keadaan sulit.
- Buat sistem penunjang
Selanjutnya, terapkan fording sistem, yaitu lingkungan yang bisa membantu anak memperkokoh citra baru. Carikan teman-teman yang tulus, jujur dan ikhlas mau membantunya. Sang anak jangan malu untuk mengatakan, “Saya sedang belajar mengendalikan diri dari ucapan dan bahasa tubuh yang dapat menyakitkan orang lain. Tolong ingatkan saya kalau melakukan hal itu."
Lebih efektif jika sang anak membentuk kelompok kecil yang anggotanya bersepakat untuk saling membantu pencapaian target perubahan diri. Komitmen bersama ini akan memperbesar peluang terjadinya proses saling menasihati tanpa merasa sakit hati.
Komitmen bersama juga melahirkan penguatan perilaku baru melalui pemberian penghargaan atas perubahan, walaupun sedikit

v Mengakui Kesalahan
Meski kita telah berupaya keras, kadang kala perilaku lama sang anak masih muncul. Jangan putus asa, mengubah diri memang bukan perkara mudah. Allah SWT menyediakan sarana taubat dan minta ampun untuk manusia, karena kita memang tempatnya salah dan lalai.
Tekankan padanya untuk mengakui kesalahan sebelum berdalih panjang-lebar soal penyebab kelalaian tersebut. Mengakui kesalahan merupakan cara efektif untuk memberangus sikap sombong, merasa benar dan ingin dimaklumi untuk menutupi kelemahan diri. Dengan mengakui kesalahan, kita mencoba menundukkan ego diri sebelum bicara soal alasan mengapa saya salah.
Tapi, tetaplah waspada pada sikap 'skeptis' dan 'merasa lemah'. Yang kita inginkan adalah pengakuan kesalahan sebagai cambuk untuk berbuat lebih baik , bukan pengakuan yang berujung pada sikap pasrah dan menyerah pada kelemahan diri.
v Jangan Vonis Diri
Dengan kata lain, jangan pernah memvonis diri. Meski berulang kali sang anak terjebak pada kesalahan, teruslah berusaha. Ia selalu memiliki kesempatan dan harapan untuk mengubah diri menjadi pribadi menyenangkan. Jangan menyepelekan kebaikan, meskipun sedikit, karena kita tidak tahu kapan takdir kematianmenjemput kita. Bukankah Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk menanam benih yang ada meski kita tahu besok adalah hari kematian, meski besok adalah hari kiamat. Tidak ada istilah terlanjur basah untuk mengangkat diri dari kubangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar