Kamis, 24 Desember 2009

Mencermati Buah yang Kualat

Mencermati Buah yang Kualat


lihat, kepalanya di bawah, kualat
Biji jambu mente kualitas utama harus utuh. Sekarang bagaimana caranya supaya biji jambu mente itu bisa dikeluarkan dengan utuh, karena getah kulit keras yang menyelahunginya, bisa menimbulkan keradangan pada kulit manusia.
Sebetulnya yang disebut buah" jambu mente dalam arti buah sebenar-benarnya adalah bagian yang berbentuk ginjal (atawa kepala yang njungkir) dan biasa disebut “mentor." Dalam mentor inilah tersimpan bijinya yang enak. Untuk tujuan komersial, terutama yang mau diekspor, harus bisa disortir dengan teliti. Biarpun dua-duanya utuh, yang besar lebih mahal daripada yang keeil. Sortasi biji utuh didasarkan atas counts, yakni berapa biji utuh yang mencukupi berat 1 lobus (lb). Makin besar makin sedikit. Klasifikasi mutu jambu mente dalam perdagangan adalah sebagai berikut:
1. Golongan utama: biji-biji putih bersih dan utuh, biasa disebut white wholes. Ini dibagi dalam beberapa counts: 200-210, 220-240, 300-320 dan 400-450 per lb.
2. Butts terdiri biji-biji utuh dan sebagian pecah.
3. White splits, kalau biji-biji pecah tetapi memakai aturan, jadi terbelah menjadi dua.
4. Kalau biji pecahnya tidak membelah, tetapi besarnya masih di atas ukuran 0,6 cm, termasuk kelas large White Pieces.
5. White small pieces, biji-biji pecah dengan ukuran lebih besar dari 0,4 cm.
6. Kelas terendah ialah scorched grades, terdiri dari biji biji yang agak keberangas (terbakar).
Jambu mente yang akan dimasukkan kategori wholes masih harus memenuhi syarat lain:
1. Pada waktu sampai di tempat tujuan 90 persen biji harus utuh.
2. Kandungan air dalam biji 5-10 persen.
3. Bebas dari infiltrasi benda lain dan bau-bauan yang bukan jambu mente.

v Caranya Memperoleh Biji Utuh
Yang pertama menyulitkan pembelahan sempurna ialah bentuk biji seperti ginjal. Selain itu kulit buah mengandung cairan (C.N.S.L. = Cashew Nut Shell Liquid) yang pedas dan dapat menimbulkan peradangan pada kulit manusia. Cairan ini juga bisa menodai biji lebih-lebih bila biji pecah itu terinfeksi. Senyawa cardol dalam cairan ini jumlahnya 18,7 persen.
Terbawa karena jahatnya" .C.N.S.L. itu sampai-sampai pada tahun 1942 Amerika Serikat mengeluarkan peraturan bahwa biji-biji jambu mente baru boleh diimpor ke negaranya setelah sebagian besar C.N.S.L. dikeluarkan sebelum pengupasan buah. Berbagai cara perlakuan yang ditempuh untuk memperoleh biji-biji jambu mente yang utuh.

Di Indonesia setelah dipetik, mentor dipisahkan dari buah semunya (apple) kemudian dijemur kurang lebih seminggu. Kalau sudah cukup kering, yang berarti dapat diandalkan bebas dari gangguan hama, buah-buah ditaruh dalam. karung goni dan disimpan dalam gudang, antara 1 sampai 6 bulan menunggu harga pasaran baik sebelum dikupas.
Kalau saat itu sudah tiba, para pekerja, umumnya wanita, dengan sebilah parang dan se.potong kayu sebagai landasan membelah biji satu per satu. Kalau sudah terbelah diserahkan pada pekerja lain untuk dicukil bijinya dengan pisau kecil mirip jarum rajut. Kelemahan cara ini lebih banyak biji pecah daripada yang utuh. Selain itu biji yang diperoleh pun kebanyakan ternoda akibat luka kena parang dan infeksi C.N.S.L.
Cara lain yang lebih maju ialah dengan alat pengupas berbentuk kacip. Alat ini terdiri dari balok kayu yang dilengkapi dengan pisau pemotong yang berhubungan dengan balok sebagai landasan dengan perantaraan engsel pada salah satu ujungnya. Mentor diletakkan dengan bagian cembung menghadap ke atas sedikit miring. Pisau ditekan sampai sedalam kira-kira 3 mm sepanjang punggung mentor. Pekerjaan selanjutnya, yakni pencukilan biji, sama seperti di atas. Cara ini lebih baik, biarpun ada mentor yang terbelah atau cacat dengan tidak sengaja, biji yang diperoleh masih diliputi kulit biji (testa) yang warnanya kemerahan. Untuk menghilangkannya biji harus dijemur satu dua hari dalam niru di lantai penjemuran. Kemudian dilepaskan dengan cara menggosok-gosok biji dengan tangan.
Di daerah-daerah tertentu untuk tujuan konsumsi sendiri, ada sistem pengupasan lain. Mentor dibakar di atas api sampai seluruh permukaan mentor hangus. Sesudah itu didinginkan, sebelum dipukul dengan sepotong kayu. Mentor yang sudah rapuh karena hangus terbakar dengan mudah dipecahkan dan dapat menghasilkan 60 persen mentor utuh. Testa dapat langsung dibersihkan karena sudah kering.

v Prioritas C.N.S.L.
Di luar negeri justru C.N.S.L. yang penting, kebalikan di Indonesia, kulit buah jambu mente hampir dapat dikatakan dibuang, di luar negeri justru kadang kadang lebih berarti nilai komersialnya daripada bijinya. Minyak C.N.S.L. yang dikandung kulit buah jambu mente merupakan sumber phenol alam yang penting bagi industri yakni sebagai pelumas, insektisida, plastik, pernis dan isolasi listrik.
Untuk mendapat isi dan memanfaatkan kulitnya sekaligus, mengolahan buah jambu mente dilakukan secara bertahap, yaitu pembersihan, pelembaban .Ian sortasi buah. Selesai mentor dipisahan darl jsanbu, kemudian dijemur beberapa hari lamanya sampai cukup kering (kadar air kurang dari 5 persen), agar jangan rusak kena hama waktu disimpan. Sebelum disimpan buahbuah harus dibersihkan dulu. Buah-buah kosong dan kerikil misalnya harus dibuang. Ini lebih penting kalau mau dikerjakan dengan mesin. Lama penyimpanan tergantung pada kapan waktu yang baik untuk dilakukan pengolahan selanjutnya. Kalau saatnya sudah tiba, mentor-mentor yang merupakan jatah untuk satu hari pengolahan diangkat dengan gerobak dan ditaruh dalam suatu tempat beralaskan lantai keras dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Di sini buah dilembabkan dengan jalan disemprot dengan air selama waktu-waktu tertentu. Juga bisa direndam dalam tangki-tangki air yang airnya setiap saat dibiarkan menetes keluar. Selesai disemprot atau direndam buah-buah disimpan lagi dalam ruangan yang sangat lembab selama 1-2 hari. Prinsip pelembaban ialah untuk memudahkan proses pemecahan. Makin lembab makin aman bijinya dari bahaya pecah.
Kadar air yang boleh dipertahankan setelah pelembaban ialah 15-45 persen. Perlu diperhatikan bahwa air rendam tidak boleh lebih panas dari 30ºC. Kalau tidak, asam tannin yang terkandung dalam kulit biji akan larut dan beraksi dengan zat pati dalam biji dan biji nampak poleng kebiru-biruan.
Sortasi buah juga penting sebelum pengolahan. Lebih-lebih kalau pengolahan dengan mesin. Keseragaman buah syarat utama supaya basil memuaskan. Sortasi menurut besar buah dapat dilakukan dengan pengayakan. Tetapi cara ini kurang efisien karena lubang saringan sering tersumbat.
Cara lain yang dianggap lebih baik ialah dengan sistem dua silinder yang saling berputar kearah luar. Dengan mengatur lebar celah antara kedua silinder yang bervariasi menurut ukuran buah yang dikehendaki.

v Ekstraksi C.N.S.L.
Pekerjaan berikutnya setelah tahap pelembaban buah, ialah mengeluarkan cairan kulit buah (C.N.S.L.). Untuk ini ada dua, cara dengan dan tanpa pemanasan. Pada, cara. pertama, pemanasan dilakukan di atas api terbuka dalam wajah berlubang-lubang terbuat dari tanah liat atau baja. Supaya jangan hangus buah harus terus diaduk. Cara ini tidak dianut lagi biarpun banyak biji utuh. Alasannya selain C.N.S.L. banyak lenyap uapnya mengganggu kesehatan. Para pekerja terpaksa membelakangi angin.
Cara ini kemudian diperbaiki. Silinder berlubang-lubang yang dapat berputar diletakkan di atas tunghu pemanas, ini lebih baik, tetapi kehilangan C.N.S.L. masih Cukup banyak, yakni separoh dari jumlah yang seharusnya dapat diperoleh. Dalam usaha memperoleh C.N.S.L. sebanyak-banyaknya, model inipun diperkembangkan sebagai berikut: buah dipanaskan dengan- cepat dalam selinder di atas tungku pada suhu 300 ºC dan C.N.S.L. yang kemudian keluar sebagai uap diembunkan kembali dalam kondensor khusus.
Di samping cara tersebut di atas, ekstraksi C.N.S.L. juga banyak dilakukan dengan cara yang semula dikembangkan di Amerika Serikat. Buah-buah justru digoreng dengan C.N.S.L. Caranya dengan menaruh buah-buah dalam wadah kawat lalu dicelupkan dalam C.N.S.L. Lama pencelupan 11/2 menit pada suhu mc 190 ºC sampai 4-8 menit pada suhu 160 ºC. Dengan cara ini C.N.S.L. dalam kulit buah akan keluar dan menambah volume C.N.S.L. semula. Setelah dikeluarkan dari penggorengan buah-buah dimasukkan dalam alat pemusing (centrifuge) untuk diperas lagi C.N.S.L-nya yang masih dalam kulit. Sesudah itu buah-buah dibersihkan dengan cara sebagai berikut:
- Melemparkan ke pasir su paya sisa sisa C.N.SL. terserap. Sesudah itu buah disemproti air atau dicuci dalam bak-bak.
- Diangin-anginkan dalam tempat yang berputar dan sisa-sisa C.N.S.L. dikikis habis dengan cara pemusingan atau dengan menggerak-gerakkannya dalam vericulite (mineral) yang menyerupai mika.
- Dicampur dengan abu dari perapian supaya C.N.S.L. yang tersisa dihisap habis.
- Atau dicampur dengan serbuk gergaji kemudian dilewatkan pada alat pembersih yang berputar.
Selain dengan cara pemanasan, ekstraksi C.N.S.L.pun dapat dilakukan tanpa pemanasan. Dalam cara ini mula-mula lapisan kulit luar buah dilunakkan, kemudian tanpa merusak lapisan dalam (indocarp) buah dikupas sebagian besar kulit luarnya dengan semacam alat penggosok.

v Pengupasan Kulit buah.
Setelah pemerasan C.N.S.L. dengan cara pemanasan maupun tidak, pekerjaan selanjutnya ialah memecah atau pengapasan kulit buah untuk memperoleh hasil biji. Ada beberapa cara:
1. Pemecahan kulit buah dengan tangan.
Cara ini masih dipraktekkan besar-besaran di negara penanam jambu mente utama. yaitu India Cara tertua ini dijalankan pula oleh negara-negara penghasil jambu mente, lainnya. Namun dalam hal efisiensi penggunaan cara ini belum ada satupun negara, yang mampu menandingi India. Selain banyak tenaga kerja dengan upah rendah, India juga mempunyai tenaga terlatih. Kalau di Madagaskar dan Mozambik seorang hanya sanggup memperoleh biji 4-6 kg per hari kerja (8 jam) maka, di India bisa sampai 5-8 kg. Dan rata,rata, biji utuh yang diperoleh ± 70,85 persen.


Selama bekerja buruh mempergunakan abu, kapur, minyak cat, minyak jarak atau pasta khusus lainnya untuk melindungi kulit dari sengatan C.N.S.L. yang masih tersisa dalam kulit buah. Mentor-mentor yang sudah dikeluarkan dari penggodokannya dan sudah dibersihkan, langsung dipecahkan dengan palu kayu

v Dengan Menekan
Cara ini juga macam-macam. Yang paling sederhana mempergunakan alat pemecah yang menyerupai gilingan jagung. Hasil yang diperoleh kurang memuaskan, karena yang utuh hanya sekitar 40 persen. Cara lain yang tampaknya lebih menguntungkan dilakukan pada perusahaan British Resin Products ltd. (BRP) dan Indistria Anacardio ltd. di Mozambik.
B.R:P. menggunakan alat terdiri dari 2 silinder yang berputar ke arah dalam. Lebar celah antara kedua silinder lebih kecil sedikit daripada besar buah yang akan dipecah. Buah-buah yang lolos tidak terpecah diterima semacam alat pemusing dan secara tangensial dihempaskan pada permukaan kepingan-kepingan logam.
I.A. menggunakan sistem sama seperti B.R.P. hanya bedanya di sini buah-buah yang selamat tidak pecah digilas selinder tetapi dengan tangan. Ternyata dengan cara ini persentasi biji utuh yang dihasilkan lebih tinggi kira-kira 16,5 persen dibandingkan dengan sistem B.R.P. Kendatipun dengan kedua cara belakangan itu biji utuh yang dihasilkan kira-kira sama dengan cara dengan penggilingan jagung yang disebut sebelumnya, tetapi kapasitas pemecahan tinggi, yaitu 2.400 kg buah per hari atau ± 300 kg buah per jam.
Kapasitas pemecahan buah yang lebih tinggi lagi, yaitu 1000 kg/jam diperoleh sistem lain yang dikembangkan oleh Carualho & Ibrahim, juga di Mozambik. Dengan cara mereka buah dilewatkan pada permukaan alat penggosok yang menyerupai kerucut. Tidak diketahui berapa persen biji utuh yang bisa dihasilkan.

v Dengan pemusing (centrifuge).
Di sini dikenal tiga sistim: Sicol, Jur dan Barbieri. Dengan sistem sicol, buah-buah diputar dengan kecepatan 1200-1800 rpm, kemudian dilemparkan ke arah pisau-pisau vertikal. Kapasitas pengolahan mesin ini 1070-1200 kg/jam dengan persentase biji utuh yang dihasilkan sebanyak 67 persen.
Mesin jur juga mempergunakan centrifuge, hanya saja buah-buah yang dipusingkan kemudian dihempaskan ke tabir silinder. Sungguhpun kapasitas pengolahan lebih rendah dari mesin Sicol (Yaitu ada 3 tingkatan; 200-300 kg; 300500 kg sampai 500-800 kg buah per jam). Namun biji utuh yang dihasilkan lebih besar, yaitu ± 90 persen.
Dengan mesin barbieri buah-buah yang akan dipecah diiris dulu, lalu dipusingkan. Data selengkapnya belum berhasil diperoleh.

v Dengan Cmengiris Atau Menggergaji.
Tropical Products Institue (T.P.L) di London, mempergunakan pasangan-pasangan pisau berbentuk U untuk mengupas. Pisau mengiris buah pada posisi melintang. Kapasitas pengupasan adalah ± 11,35 kg buah sehari, dengan hasil biji utuh ± 74 persen. Sistem yang sama dikembangkan oleh Machado yang mempunyai daya kupas 22 kg sehari dengan hasil biji utuh juga 74 persen.
Dalam tahun 1966 diberitakan bahwa salah satu perusahaan pengolahan buah jambu mente di Mozambik akan menggunakan alat ungkitan yang dikenal dengan nama Cardoso, dengan kapasitas 400 kg/sehari. Mengapa mereka memilih alat ini tidak jelas. Mungkin, karena persentase biji utuh, tetapi berapa persis juga tidak ada keterangan.
Perusahaan lain yang menganut cara pengupasan dengan mengiris ialah SIMA (Sosieta Iesina Mocoline Agrarie) di Italia. Mereka menggunakan mesin yang dilengkapi dengan pisau-pisau pengupas bermata cekung dengan daya kupas ± 70 kg/jam. per unit. Biji utuh yang dihasilkan 53 persen. Keberatan cara ini ialah buah-buah yang telah dipilih memerlukan pisau-pisau dengan kecekungan yang sesuai dengan lengkungan buah ke arah membujur.
Cara pengupas lain yang dianggap paling berhasil ialah sistem Oltramare, yang dikembangkan di Italia dan akan diperluas pula di Tanzania dan Mozambik. Daya kupas sampai 3 ton sehari dengan persentasi utuh 80 persen.

v Perlu dilembabkan lagi.
Biji-biji yang telah terpisah dari kulit buah, masih diliputi oleh kulit biji atau testa yang berwarna kemerahan-merahan yang agak sulit dilepaskan apabila biji tidak dalam keadaan relatif kering. Karena itu biji-biji perlu dikeringkan lebih dulu untuk memisahkan biji dari testa.
Pengeringan yang sudah agak maju dilakukan di Afrika maupun India. Biji-biji dimasukkan ke dalam oven yang bersuhu 70°C selama 4-8 jam, atau dihempaskan di atas selembar logam yang dipanaskan. Karena panas biji agak mengerut dan melepaskan diri dari testa yang juga akan menjadi rapuh sehingga gampang dikupas. Melepaskan testa dilakukan dengan tangan.
Di samping itu karena kering, biji menjadi rapuh juga sehingga dalam pengulitan tersebut terpaksa 25-3o persen biji pecah. Untuk memperkecil risiko tersebut pabrik Sicol mengembangkan sistem pengulitan memakai mesin yang dilengkapi dengan sikat nylon. Setelah selesai dikuliti, maka untuk menghindarkan risiko biji pecah yang lebih besar, biji.biji perlu dibikin lembab lagi sampai kadar air 5 persen. Caranya ialah dengan menyimpan biji-biji yang selesai dikuliti tadi ke dalam ruangan yang sangat lembab selama beberapa hari. Setelah dikuliti biji-biji masih harus sering dipegang-pegang, misalnya untuk sortasi dan pembungkusan.

v Pengepakan
Setelah disortir seperti diuraikan dimuka, untuk keperluan ekspor biji-biji harus dipak sesuai dengan syarat pemasaran dunia. Demikian pula dengan C.N.S.L. biji-biji ditempatkan dalam wadah yang menyerupai kaleng minyak tanah dengan kapasitas muat 11,25 kg (25 lbs). Sesudah itu udara dalam kaleng dibuat vakum untuk kemudian diganti dengan C02 dan segera kaleng ditutup rapat. Ini supaya jangan terserang hama, terutama hama penggerek biji jambu mente. Setelah itu kaleng dimasukkan ke dalam peti kayu, dua-dua. Jadi dua dalam setiap peti kayu. Biji-biji kini siap untuk berangkat ke tempat tujuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar