Kamis, 24 Desember 2009

Kelapa Jenggi, si Buah Pantat

Kelapa Jenggi, si Buah Pantat

Tanaman misterius ini mempunyai buah yangl paling besar dan tidak ada duanya di seluruh, dunia. Buah yang baru bisa dipetik kalau umur pohon sudah enam puluh tahun itu selain merangsang keinginan tahu kita, juga merangsang seks (cerita burungnya). Namun yang jelas, kentos buahnya mampu menaarkan racun.
Buah kelapa laut yang bentuknya seperti pangkal paha itu tidak hanya sugestif, tapi juga 'gila' mahalnya!" tulis Philip Williams dalam South China Morning Post baru-baru ini. Sampai seharga US $ 80 sebuah, kelapa itu diekspor ke pasar-pasar ASEAN, untuk dipakai sebagai jamu serba bisa. Pengekspornya pedagang kopra dari Seychelles, sebuah republik partai tunggal di utara Madagaskar.
v Buahnya dobel
Kelapa gila itu memang hanya tumbuh asli di Kepulauan Seychelles saja. Buahnya sebenarnya sudah sejak dulu sering terapung-apung ikut arus laut khatulistiwa ke arah timur dan terdampar di pantai pulau-pulau terdekat, seperti Kepulauan Chagos dan Maladiva (sebelah barat Sri Lanka). Di salah satu Pulau Maladiva inilah orang Barat abad ke-17 dulu berkenalan untuk pertama kalinya dengan buah kelapa itu. Tidak mengherankan bahwa mereka heran. Buah yang mereka temukan betul-betul sebesar pinggul orang dewasa, berukuran 40 x 50 cm. Lebih besar daripada kepala orang tua. Beratnya 22 kg. Sama dengan satu kopor yang penuh berisi tetek bengek.

Seorang taksonomis tumbuh-tumbulaan memberi nama Lodoicea maldivica. Maksudnya tentu maladivica (dari Maladiva), tapi mungkin salah cetak dan tidak diralat. Kelapa itu memang ditemukan untuk pertama kalinya di Maladiva, dan dikira tumbuh asli di sana. Padahal di pulau itu tidak ditemukan hutan (atau kebun) tanaman itu. Bertahun-tahun lamanya buah itu dianggap misterius, karena selalu hanya buah saja yang ditemukan, sedang pohonnya tidak ada.
Baru sesudah Prancis menduduki Kepulauan Seychelles pada tahun 1743-1ah (sebelumnya kepulauan itu ditemukan oleh Mascarenhas dari Portugal tahun 1505, dan selama 238 tahun cuma menjadi sarang bajak laut saja), maka terungkap bahwa pohon kelapa itu tumbuh alamiah di Pulau Praslin, salah satu di antara Kepulauan Seychelles itu.
Serta merta seorang taksonomis tumbuh-tumbuhan (yang lain) memberi nama hodoicea sechellarum kepada Lodoicea maldivica itu. Ia merasa lebih betul memberi nama Lodoicea sechellarum (dari Seychelles yang bunyi bacaannya memang sechel). Bertahun-tahun lamanya kelapa itu kemudian beredar dengan dua nama, sampai akhirnya mencuat pendapat bahwa kalau tanaman sudah pernah diberi nama, sebenarnya tidak perlu disandangi nama baru kalau deskripsi (pertelaan) taksonomik dalam nama baru yang diusulkan ini toh sama saja dengan yang lama; walaupun nama baru ini 'lebih betul'.
Maka, kelapa Seychelles itu pun kemudian diedarkan dengan nama lama lagi: Lodoicea maldivica. Memang aneh tapi nyata! Lodoicea dari Seychelles dikatakan maldivica (dari Maladiva). Sementara itu, buah yang dari zaman ke zaman ada yang terapung ikut arus laut khatulistiwa ke arah timur itu tidak hanya terdampar di Pantai Maladiva saja, tapi ada yang sesudah melalui Kepulauan Nicobar terdampar ke pantai barat Semenanjung Tanah Melayu (dulu). Di Tanah Melayu inilah ia dipanggil kelapa laut. Alasannya, buah itu memang berasal dari laut. Tidak dari kebun kelapa tetangga sebelah.
Nama itu kemudian dipindahaksarakan (dulu 'dialihbahasakan', dan dulunya dulu lagi 'diterjemahkan') oleh orang Inggris sebagai sea coconut dan oleh orang Prancis sebagai coco demer.

Ada pula yang dalam perkembangan sejarah terdampar di pantai selatan Jawa Tengah, kemudian disebut kelapa jenggi. Jenggi bahasa kawi (Jawa kuno) ialah orang hitam dari Afrika. Kelapa bersejarah yang terdampar ke tepian pantai barat Sumatra kemudian disebut pauh jonggi.
Karena bentuknya seperti dua buah 'buah' yang melekat menjadi satu, kelapa itu di pantai selatan Jawa Tengah (yang lain) disebut kelapa kembar, sedang di pantai selatan Jawa Tengah (yang lain lagi) kelapa dempet. Apakah nama Inggris double coconut dalam Encyclopedia Americana dan majalah ilmiah pop itu berasal dari kelapa kembar orang Jawa ataukah sebaliknya, tidak begitu jelas dalam sejarah.

v Benar-benar langka
Sesudah lebih terkuak rahasianya, ternyata pohon kelapa laut itu tidak seperti kelapa yang biasa kita kenal. Ukurannya serba raksasa kalau sudah seratus tahun lebih umurnya, dengan daun seperti kipas jumbo yang tangkainya saja sudah sepanjang 3 m, sedang belaian daunnya 2 m. Tinggi keseluruhan pohon 30 m seperti kelapa 'dalam' kita. (Kelapa dalam ialah varietas kelapa yang berbuah lambat; tujuh tahun baru berbuah).
Kelapa jenggi lebih gila lagi lambannya. Ia baru berbunga sesudah berumur tiga puluh tahun, di tempat tumbuhnya yang asli dan subur. Di tempat lain (seperti misalnya Kebun Raya Bogor), ia baru berbunga sesudah berumur setengah abad. Pembentukan buah sesudah bunga diserbuki tepung sari (kalau beruntung diserbuki), minta waktu sepuluh tahun. Jadi pada usia senja enam puluh tahun, buah angkatan pertamanya baru bisa dipetik.
Sialnya, pohon itu berumah dua. Bunga jantan tidak tinggal sepohon dengan bunga betina. Jadi supaya bisa mendapat buah yang betul-betul sah, mampu berkecambah dan tumbuh meneruskan jenisnya, kita harus menanam sepasang yang berdekatan. Susahnya, kita tidak bisa tahu sebelumnya, apakah bibit yang kita tanam berdekatan itu akan menjadi sepasang jantan dan betina, atau dua sejoli betina dan betina. Atau malah menjadi dua perjaka abadi. Semuanya baru jelas sesudah kita menunggu tiga puluh tahun. Ah! Lamban nian!
Karena sulitnya pembuahan dan lamanya proses pemasakan, buah kelapa jenggi benar-benar langka, sampai dikultuskan oleh penduduk pantai beberapa negara yang belum berkembang.

v Penawar racun
Pengkultusan makin sah saja sesudah kelapa itu ternyata berkhasiat, sampai disiarkan sebagai buah bertenaga gaib. Seperti buah kelapa ijo yang degannya terkenal menyembuhkan sakit perut karena keracunan, maka air kelapa jenggi ini pun dipercaya bisa menawar racun. Soalnya, air itu memang steril dan mempunyai daya melarutkan yang besar, dibarengi sifat endotherm (menyerap panas dari lingkungan sekelilingnya), hingga mampu menurunkan suhu badan orang demam. Apakah dengan itu keracunan bisa benar-benar ditangkal, masih menunggu kemampuan badan pasien yang bersangkutan untuk mengatasinya. Namun sementara itu, air kelapa (termasuk jenggi) sudah sempat mengencerkan kepekatan racun dan menggentornya ke luar badan melalui keringat dan air yang dibuang di kamar kecil.
Kekuatan menangkal racun kelapa jenggi tidak terbatas pada air buahnya saja, tapi juga pada kentos-nya. Kentos ialah lembaga (biji) yang kelak akan menumbuhkan akar dan batang baru. Untuk itu ia dikaruniai daya serap yang luar biasa, dan mampu mengeluarkan sejumlah enzym pemecah protein, lemak dan karbohidrat cadangan makanan.

Pada waktu buah kelapa berkecambah, kentos ini tumbuh ke ruangan dalam dan menyerap, memecah dan menyalurkan makanan cadangan dari daging buah ke lembaga yang tumbuh menjadi batang dan akar. Daya serap dan pemecahan bahan yang luar biasa inilah yang menjadi biang keladi mengapa kentos kelapa jenggi dikatakan mampu menawar racun. Gumpalan kentos kuning pucat yang keras seperti sungu itu kalau direndam dalam air beberapa saat (dengan atau tanpa tiupan mantera) dan diberikan airnya kepada penderita keracunan (untuk diminum), bisa menawar racun juga. Ia kemudian dipercaya lebih lanjut sebagai berkhasiat menyembuhkan bagian tubuh yang sedang terganggu, kalau ia digosok-gosokkan (dengan air sedikit) pada bagian itu. Sangat boleh jadi ini hanya kepercayaan tambahan saja.
Kepercayaan itu makin menjadi-jadi, dan menganggap tempurung kelapa jenggi juga berkhasiat menangkal racun. Para pembesar sipil dan militer zaman Hang Jebat dulu suka menyuruh membuat tempat sirih, kotak tembakau dan mangkuk minum dari tempurung kelapa jenggi, karena menurut ajaran orang tua yang bijak bestari, tempurung itu membebaskan sirih, tembakau, minuman dan racun, yang mungkin saja diselundupkan oleh musuh dalam selimut.

v Penipuan lanjutan
Apakah kentos itu juga berkhasiat sebagai penyembuh seks? Para pedagang jamu di kota-kota pantai ASEAN memanfaatkan kepercayaan penduduk kelas bawahan terhadap tenaga gaib dalam buah kelapa jenggi itu sebagai sumber uang kerukan. Karena bentuk buahnya seperti pinggul wanita, ia diiklankan sebagai jamu penambah gairah. Biasanya lalu ditunjukkan gambarnya yang sugestif. Tukang jual jamu di lapangan kaki lima umumnya juga membawa saksi hidup yang diajak berdialog sesuai skenario yang mendukung kampanye.
Kepercayaan itu didasarkan pada ajaran signatuur. Semacam kepercayaan bahwa Tuhan di alam semesta ini memberi signum (tanda) pada tanaman tertentu, yang dapat dimanfaatkan (tapi hanya oleh orang yang mau mengerti dan percaya saja) untuk penyembuhan. Misalnya, 'daun' (yang sebenarnya batang) patah tulang, Euphorbia tirucalli. Kalau ia sesudah digerus, ditempel dan diikatkan pada tulang tubuh pasien yang patah, maka sakit patah tulang itu juga akan sembuh, seperti pertumbuhan tanaman patah tulang itu, yang walaupun patah-patah toh tumbuh normal.
Nah! Sealiran dengan kepercayaan itu, buah kelapa jenggi yang bentuknya seperti pinggul itu juga dipercaya dapat menyembuhkan pihak-pihak yang lemah syahwat.

v Manfaat Batok Bajenggi di Banten
Nenek saya memilihkan nama Djajasentika untuk saya, dan paman saya, Raden Astrasoetadiningrat, memilihkan nama Suchrawardi. Tetapi paman saya yang lain, Raden Hadji Aboebakar, memilihkan nama Achmad. Achmad ialah nama Arab yang berarti: yang patut dipuji.
Nama-nama itu ditulis di atas secarik kertas yang kemudian digulung, diikat dengan benang dan dimasukkan ke dalam batok bajenggi. Batok bajenggi ialah batok kelapa yang besar. Bentuknya seperti biji jambu monyet, tetapi panjangnya 3 dm, dan lebarnya 2 dm.
Batok ini ada kisahnya. Pohon kelapa yang menghasilkannya tumbuh di sebuah pulau rahasia. Sekali-sekali buahnya jatuh beberapa butir ke laut, lalu hanyut dibawa ombak ke pantai Afrika. Di situ pecahlah kelapa itu dan tempurungnya yang kosong diarak ombak ke seluruh dunia. Beberapa di antaranya terdampar di pantai tanah Jawa.
Batok itu jarang didapat dan mahal sekali harganya. Biasanya ditatah dengan emas dan perak, serta diberi bertangkai emas dan perak pula. Kata orang, kalau makanan anak-anak dilumatkan dalam batok bajenggi itu, lalu disajikan dalam batok itu pula, maka anak yang memakannya akan sehat selama-lamanya.
Sambil membaca ayat suci Al-Quran perlahan-lahan sebagai syarat memakai batok bajenggi itu, ibu saya memilih salah satu kertas tergulung dalam batok itu. Kertas yang dipungut dan dibukanya ternyata bertuliskan nama Achmad. Karena itu, Achmadlah nama saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar