Sabtu, 26 Desember 2009

Mendengkur bagai Sepur Langsir

Kegemukan dan Mendengkur
Sembilan persen dari umat manusia tidur sambil mendengkur. Mendengkur menurut kamus Brockhaus ialah: suara yang terjadi kalau orang sedang tidur nyenyak dan orang bernafas dari dengan mulut terbuka. Karena itu rahang yang kendor bergerak-gerak.
Lalu bagimana gerak itu bisa dihindarkan. Solusinya, menurut kamus tersebut, gangguan pada pernafasan hidung harus dihindarkan. Caranya dengan tidur miring dan jangan terlentang. Kalau ini belum berhasil, ikatlah rahang bawah dengan karet. Ini merupakan pekerjaan yang kedengarannya mudah.
Sembilan persen umat manusia dan sekitar sekian lagi yang terganggu setiap malam bisa bernafas lega. Namun kenyataannya lain. Partner yang harus mendengarkan suara mendengkur setiap malam mengetahui bahwa kamar tidur terpisahpun tidak ada gunanya.
Selama ini memang belum ada orang yang serius menyelidiki gejala mendengkur itu. Namun di Italia sekarang ada yang melakukannya. 18 orang pria yang mendengkur telah diselidiki selama berapa malam. Umurnya antara 27 sampai 63 tahun, Tekanan darahnya, pernafasannya diukur dan di atas hidungnya dipasang mikropon untuk merekam suaranya. Otot jantungnya diawasi dengan alat yang tertentu, darah diselidiki untuk mengukur jumlah zat asam setiap jam.
Prof. Lugeresi Coccagna, Farneti, Dr. Mantovani dan Cirignotta dari Univer-sitas Bologna sampai pada kesimpulan bahwa tidur bukan rekan, tetapi lawan bagi mereka yang mengalami kesulitan pernafasan dan peredaran darah.
Para ahli berpendapat bahwa mungkin mendengkur lama kelamaan bisa merusak otot jantung karena saluran zat asam kepada organisme bisa berkurang kalau pernafasan terhenti sebentar-sebentar. Orang gemukl ebih banyak mendengkur daripada yang beratnya normal. Jaringan lemak mereka menekan paru-paru dan saluran nafas, serta membebani tulang punggung dan jantung.
Kesimpulan: Mendengkur keras dan terus menerus bukan gejala biasa, karena bisa mempunyai efek negatif terhadap pernafasan dan peredaran dan juga bisa merupakan stadium pertama penyakit hypersomni yang merupakan penyakit ingin tidur terus. Penyakit ini datang dari bagian otak yang mengatur tidur dan bangun seseorang. Akibatnya pasien tanpa alasan jelas ingin sekali tidur, kendati di siang hari bolong.
Para penyelidik dari Bologna memberi suatu contoh yang menarik: Seorang tukang batu berusia 50 tahun beratnya 115 kilo dan terus mendengkur. Juga tampak gejala permulaan hypersomnia. Sering terjadi bahwa ia tidak bernafas sejenak. Atas anjuran dokter ia .disuruh diet agar bobotnya diturunkan sampai 95 kilo. Ternyata ia lebih jarang mendengkur. Hanya pada permulaan tidur dan akhir dari siklus tidur. Di antaranya ia bernafas normal.
Mungkin diet kurus merupakan resep yang mujarab. Namun yang penting ialah bahwa si pendengkur itu gemuk. Bagaimana dengan pendengkur yang kurus, para ahli belum bisa memberi jawaban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar