Kamis, 24 Desember 2009

Mengamati Panen Sagu

Mengamati Panen Sagu

Dulu memang benar bahwa sagu itu makanan pokok penduduk Maluku dan Irian Jaya. Sekarang tampaknya tepung sagu mulai tergeser beras yang sudah menjadi makanan pokok nasional. Irian Jaya memang tempatnya hutan sagu. Di tepi Danau Sentani, di Wasur, Merauke, di mana-mana sampai di beberapa pulau kecil seperti Pulau Biak dan Kepulauan Padaido. Luasnya jangan ditanya, bisa hektaran. Orang sana menyebut hutan itu dusun sagu. Meski dibilang dusun, tidak ada rumah atau penduduk tinggal di sana, kecuali gubuk-gubuk bagi mereka yang sedang menokok (memanen) sagu.
Menarik sekali menyaksikan langsung pemanenan sagu, terutama buat kita yang tinggal jauh dari Papua atau Maluku. Apalagi kalau sempat mencicipi makanan utamanya, papeda - semacam bubur tepung sagu tetapi sangat kental, persis lem kanji bikinan sendiri. Biasa disajikan panas-panas dan disantap bersama "sup" ikan dengan kuah melimpah. Atau dihidangkan bersama keladi dan sayur. Kalau nekat menyantap papeda tanpa kuah, dijamin bakal kerepotan karena lengket di mulut dan susah dikunyah. Buat lidah yang tidak terbiasa, papeda agak masam rasanya seperti sudah basi. Terkadang saat pembuatan ditambah air jeruk nipis atau sejenisnya yang tumbuh di sana.

v Menyukai rawa-rawa
Dalam khasanah botani, pohon sagu termasuk anggota suku Palmae. Sosoknya agak mirip pohon enau. Perbedaannya di pelepah daun. Pelepah daun sagu ditumhuhi duri-duri seperti pada pelepah daun rotan. Bentuk buahnya mirip sulak berukuran lebih besar dan berpetak tiga. Hanya saja tidak bisa dimakan karena rasanya pahit-pahit asam. Ia termasuk palem yang merumpun, berbatang kasap dengan tinggi menjulang sampai 7 - 10 m. Batangnya lebih besar ketimbang enau sampai tak terpeluk oleh tangan orang dewasa.

Pohon sagu Metroxylon spec. tidak seperti rata-rata anggota suku palem lainnya. Ia menyukai lahan rawa-rawa atau tepi sungai yang sering tergenang air. Tempat tumbuhnya di dataran rendah hingga ketinggian 120 m dpl. T'dak hanya di kawasan Papua, pohon sagu juga banyak tumbuh di Maluku, Sulawesi, Kalimatan Barat, Mentawai, Kepulauan Riau-Lingga, dan Sumatera. Juga di Jawa, meski sangat jarang.
Orang Minangkabau menyebut pohon sagu sebagai rumbia. Sementara di Irian Jaya namanya banyak sekali sesuai bahasa masing-masing suku (menurut para ahli tercatat ada lebih dari 250 bahasa). Ada yang menyebut airabo anam, akiri, atau da. Orang Inggris menamainya sagopalm.
Masyarakat Irian Jaya secara tradisional membedakan pohon sagu sampai dua belas jenis, masing-masing sesuai dengan hatang dan durinya yang terdapat di pelepah. Di antaranya makbon, yang di Ambon disebut sagu nona. Entah kenapa dinamakan sagu nona, yang jelas durinya banyak dan rapat. Lalu amber yang durinya besar-besar dan banyak. Yang pelepahnya polos, tanpa duri sama sekali, namanya Snaaf-e. Yang berbatang dan berpelepah besar disebut sworu, dan masih dibedakan lagi menjadi tiga macam. Ada lagi jenis ronggu, yang berbatang dan berpelepah besar. Di pulau Biak, sagu jenis ini biasa ditanam sebagai pembatas kepemilikan lahan sagu antara satu klan dengan klan lain.
Di Jawa Tengah hanya dikenal lima macam sagu. Sagu kersula, buahnya banyak sebesar jeruk nipis, ada 5 – 8 buah setandan. Rembulung, buahnya satu-satu dalam setliap tandan, sebesar jambu bol, dengan biji seperti kolangkaling. Tembulu, sagu dengan tunas daun muda yang belum lerbuka (janur) berwarna putih. Sagu bulu, tunas daun mudanya berwarna kekuningan. Jenis rajang bungkoan, daunnya dapat dibuat tikar kajang terbaik, warnanya cerah mengkilat, dan tidak getas (mudah patah).

Padahal dalam literatur taksonomi, pohon sagu hanya dibedakan atas beberapa jenis. Metroxylon rumphii forma sagus genuina Rumphius, forma yang paling banyak tumbuh di Maluku dan sekitarnya. Tangkai daunnya berduri banyak, dengan susunan berbaris melintang. Duri-durinya lurus sepanjang I - 4 cm. Mutu sagunya pun sangat baik. Metroxylon longispinum Mart. panjang durinya. Batangnya tidak lebih besar dari pohon kelapa. Metroxylon micranthum Mart. berduri pendek dan besar, dan gumbarnya (hati batang sagu) tahan lebih lama.
Metroxylon sylvestra Mart memiliki batang paling tinggi, gumbarnya lehih keras. Duridurinya panjang dan ramping berjejalan pada pelepah. Sagunya berwarna kemerahan. Metroxylon sagus Rottb (Sagus laevis Rumphms) dengan daun berujung runcing panjang dan tajam. Tinggi batangnya sedang-sedang saja, namun bisa menghasilkan tepung paling baik.

v Sagu dipanen, pohon ditebang
Kata penduduk di Irian Jaya, tanda-tanda pohon sagu siap "dipanen" bisa dilihat pada pelepah daun dan bunga. Jika pelepahnya semakin condong, pertanda batang sagu sudah mengandung banyak pati. Atau, jika pelepah menjadi keputih-putihan seperti ditaburi kapur atau tepung. Begitu pula ketika bunganya mulai muncul, berarti pohon sagu sudah siap ditebang.
Menjelang berbunga, biasanya tangkai daun mudanya memendek sebelum akhirnya pemhentukan daun terhenti. Selanjutnya dari tandan-tandan bunga muncul tangkai-tangkai sepanjapg kira-kira 8 cm. Saat yang tepat untuk memanen sagu diperkirakan antara perkembangan mayang dan munculnya tangkai-tangkai itu, yang waktunya kira-kira satu tahun. Kalau bunga sudah terlanjur menjadi buah, kandungan patinya sudah jauh berkurang.
Secara tradisional orang Irian Jaya "memanen" sagu menggunakan tokok. Bentuknya mirip beliung kecil bertangkai panjang dari kayu dan logam. Batang sagu ditebang pada bagian bawah dekat akar, lalu dipenggal-penggal sepanjang 2 m. Baru potongan-potongan itu dibelah memanjang. Empulur atau gumbarnya dihancurkan dengan tokok, dan dipangkur hingga hancur seperti serbuk gergaji. Serbuk gumbar itu dibungkus kain sebagai tapis, lantas diremas-remas sambil terus-menerus diguyur air banyak-banyak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar