Minggu, 27 Desember 2009

Menghadang Kanker dengan Teh Hijau

Menghadang Kanker dengan Teh Hijau



Apakah minum teh setiap hari sampai bergelas-gelas itu tidak mengganggu kesehatan? Jawabannya sudah tentu bisa mengganggu dan bisa juga tidak. Kalau yang minum itu kebetulan sedang lemah lambung, dan cara minumnya salah, memang mengganggu. Lambung yang tidak kuat (mungkin baru sembuh dari sakit) akan merasa mulas, tapi kalau yang minum itu sehat-sehat saja lambungnya, sedangkan cara minum tehnya juga betul, maka minum teh tidak akan mengganggu. Dulu, ketika pertama kali diumumkan bahwa daun teh mengandung tanin, di antara nenek moyang kita memang ada yang memperingatkan, "Jangan minum teh terlalu banyak! Nanti tipis ususmu karena digerus tanin!" Tetapi itu kekhawatiran yang kadaluwarsa. Sebab, ternyata kemudian, tanin teh tidak berbahaya. Ia tidak seperti taninnya jambe atau gambir yang bisa menyamak kulit kerbau menjadi kulit sepatu. Sejak ditemukan pengetahuan ini, teh lalu tidak ditakuti lagi. Tetapi orang yang ketinggalan cerita sudah tentu masih saja risau terhadap teh.
Daun teh mengandung 3 zat utama: kafein, minyak asiri dan tanin. Kalau di-cong dengan air mendidih, mula-mula minyak asirinya yang larut dan menghasilkan bau sedap khas teh, kemudian kafeinnya (penyebab kesegaran), dan terakhir taninnya, kalau dibiarkan larut sampai berlarut-larut.
Karena penemuan inilah, membuat teh yang benar harus menyeduh sari daun teh dengan air mendidih hanya selama 3 - 5 menit saja. Dulu dilakukan dalam teko, dengan daun teh yang dimasukkan ke dalam wadah berbentuk telur dari porselin atau monel yang berlubang-lubang seperti alat penyaring. Tetapi kalau tehnya berupa teh celup dalam kantung kertas, minuman bisa dibuat langsung dalam cangkir atau gelas minum masing-masing. Waktu celupnya lebih singkat. Hanya sekitar 2 menit. Semuanya dalam rangka usaha mencegah jangan sampai taninnya ikut larut terlalu hanyak.
Minum teh dengan tata cara orang Inggris dan Belanda ini tidak akan mengganggu kesehatan, asal tehnya tidak jamuran atau wayu (sudah menginap dan di-cong lebih dari dua kali). Untuk mencegah jamuran ini, daun teh kering bahan minuman harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat, agar tidak menyerap lembap dan bau-bauan lain dari udara luar. Wadah ini dulu berupa kotak kayu dengan dinding yang di-lak, atau berupa kaleng pembungkus teh itu sendiri, sekarang berupa aluminium foil dalam dos karton. Teh kering (apa lagi yang halus) sangat higroskopis, kuat sekali menyerap air. Kalau disimpan sembarangan, atau wadah penyimpanannya tidak ditutup rapat di lemari bersama terasi, cempedak, atau bawang bombay, teh bisa cepat menjadi sampah.
Sejak Itaro Oguni dari Universitas Shizuoka menemukan fakta bahwa penduduk Shizuoka yang gemar minum teh hijau itu ternyata lebih jarang terserang kanker lambung daripada orang Jepang propinsi lain yang tidak membiasakan diri minum teh hijau, maka teh hijau naik daun.
Teh yang dikeringkan langsung dalam oven tanpa fermentasi itu, sebenarnya juga sudah sejak dulu digemari orang jepang. Bukan karena urusan kanker, tapi karena daya diuretiknya yang besar. Orang yang tadinya sulit buang air, sesudah minum teh hijau akan segera berkeringat, lalu terbirit-birit ke kamar kecil. Tetapi yang lebih penting dari pengamatan Itaro ialah ditemukannya epigallocatechin-galat dalam tanin teh hijau itu. Diduga, zat inilah yang mencegah kanker pada penduduk Shizuoka.
Untuk membuktikan itu ia disuntikkan pada tikus percobaan yang sebelumnya diberi natriumnitrit dan sarkosin pembentuk nitrososarkosin, yang merangsang pembentukan tumor tenggorokan. Hasil penyuntikan tanin untuk melawan tumor (buatan) itu ternyata positif. Tikus itu sembuh tumornya.
Dari dua pengamatan itu (yang satu terhadap orang-orang Shizuoka perninum berat teh hijau, dan yang lain terhadap tikus-tikus percobaan), Itaro menarik kesimpulan hahwa tercegahnya tumor tenggorokan itu gara-gara tanin epigallocatechin-galat ini. Sudah tentu ia baru. bisa dikatakan begitu kalau diberi kesempatan seawal mungkin mencegah setiap tumor yang mau muncul. Jadi minum tehnya sudah harus dimulai sejak kecil. Caranya minum pun mesti seperti cara Jepang dari Propinsi Shizuoka. Yaitu setiap hari, setiap kali kalau haus, dan setiap kali kalau menjamu tamu. Bukan hanya kalau sedang ingat saja.

v Dari Teh Kocok sampai Gi-Tel
Minum teh hijau itu di kalangan masyarakat Jepang lainnya kadang-kadang dilakukan dengan upacara resmi chado. Walaupun dalam kehidupan mereka sehari-hari minum teh dilakukan secara modern dengan teh celup yang praktis, tapi upacara minum teh secara tradisional masih sering digelar di rumah-rumah teh tertentu. Masih hanyak orang (termasuk turis asing) yang ingin mengalami sensasi menghadiri chado (upacara minum) semacam itu di tempat yang khusus ditata sunyi sepi. Alat yang dipakai begitu sederhana tapi juga indah dan bermutu, menimbulkan pesona tersendiri.
Setelah diseduh dengan air mendidih dalam mangkuk besar, teh hijau serbuk dikocok dengan mixer tangan dari bambu sampai timbul busa tipis di lapisan atas teh itu. Ketika sedang berbusa inilah, teh hangat itu diminum. Kalau orang Barat minum bir yang berbusa, para pelestari tradisi chado ini minum teh koook.
Di Indonesia kita yang tidak mengenal tea shop, teh ternyata dihidangkan juga di coffee shop, warteg, kantin murah atau warung bubur kacang ijo dan ketan item. Warung khusus teh tidak ada. Bahkan di Pasundan yang banyak perkebunan tehnya pun tidak ada warung teh. Yang ada ialah warung-warung makan yang menghidangkan enteh (air teh tanpa gula) sebagai minuman gratis pengiring nasi yang dipesan. Enteh diberikan Cuma-cuma, bukan karena pemilik warung itu kebanyakan teh murah, tapi untuk memberi tanda (dengan warna kuning coklat teh), bahwa air minum yang dihidangkan itu bukan air mentah berisi bakteri, melainkan sudah direbus sampai bebas kuman. Baru kalau ada orang yang memesan teh manis, pemilik warung menghidangkan teh yang amis. Bukan en teh lagi!
Di daerah Tegal dan Pekalongan, masyarakatnya gemar minum teh gi-tel yang legi kentel (manis dan kental). Daun teh diseduh dalam poci dari tanah liat. Minuman yang terbentuk pekat sekali sampai terasa agak sepat, tapi tidak pahit. Setelah dituang ke dalam cangkir masing-masing, air teh diseduh dengan gula batu. Ini gula juga, tapi tidak berupa pasir, melainkan gumpalan besar seperti batu split. Tehnya benar-benar terasa gi-tel.

v Amat Mahal
Teh hasil perkebunan sedunia dipasarkan melalui pelelangan dulu di bursa teh. Sesudah dibeli para pedagang besar, teh itu di-blend (dicampur-campur) agar mampu mempertahankan aroma khas tehnya, jangan sampai berubah dan turun mutunya selama diperdagangkan berbulan-bulan kian kemari nanti.
Pencampuran ini dilakukan dengan jasa para pencicip teh di laboratorium pengendalian mutu perusahaan dagang yang bersangkutan. Merekalah yang menentukan, teh varietas hasil perkebunan mana yang harus dicampur dengan teh varietas lain dari perkebunan tertentu. Hasil pencampuran kemudian dikemas sebagai teh lepas (kalau ukurannya besar) dan teh celup dalam kantung kalau ukurannya lembut. Teh kemudian dipasarkan dengan merek dagang perusahaan campur-mencampur ini.
Di antaranya yang terkenal ialah Twining, Lipton, Brooke Bond, Lyons-Tetley. Kebanyakan merek dagang Inggris. Teh mancanegara ini ada yang diimpor ke Indonesia dalam kaleng berwarna-warni menarik sekali, sampai ada yang mengumpulkan kaleng bekas teh ini sebagai klangenan. Harga tehnya sangat mengherankan dan hampir tidak masuk akal. Satu kaleng teh Twining 2 ons lebih sedikit harus kita beli Rp 50.000,-. Bahkan lebih.
Di pasaran dalam negeri, merek dagang teh nasional yang beredar juga bermacam-macam. Ada yang terkenal, ada yang tidak. Ada yang sebentar muncul, tapi kemudian hilang lagi. Mungkin karena kurang promosi, tapi mungkm juga karena teh hasil campur-mencampurnya tidak disukai konsumen.
Sekarang jenis teh apa yang bisa kita nikmati sebagai minuman yang nyaman? Samuel Twining, penerus generasi ke-8 dari pedagang teh Inggris Thomas Twining (yang mendirikan usaha campur-mencampurnya sejak tahun 1706), menganjurkan agar pagi-pagi kita sarapan dengan English breakfast tea. Yaitu teh Assam dari timur laut India yang sudah diramu dengan teh lain sehingga berkurang pahitnya. Teh ini masih terasa agak keras, tapi menyegarkan sampai menggugah semangat bekerja.
Tengah hari, sesudah makan siang, sebaiknya juga minum teh, tapi kali ini teh Darjeeling, dari lereng Himalaya. Ia kurang begitu keras, sampai tidak mampu memelekkan orang, tapi malah menenangkan urat saraf, karena teofilin yang dikandungnya. Zat ini bersifat vasodilator, memperlebar pembuluh darah, sehingga mampu menenangkan ketegangan oleh penyempitan pembuluh darah. Baunya pun sedap bukan kepalang, sampai benar-benar dapat dinikmati sebagai teh.
Tetapi kalau udara siang kebetulan panas sekali (biasanya pada musim kemarau), boleh juga mengganti Darjeeling dengan Lapsang souchong. Ini sejenis teh hitam yang terasa agak seperti mengandung asap, karena tadinya dikeringkan dengan api kayu bakar. Ia lebih ringan lagi daripada Darjeeling.
Pada waktu sore sesudah mandi tapi sebelum makan malam, sebagian orang ada yang suka minum teh sore, sambil menikmati udara sejuk menjelang senja di serambi depan. Bahkan orang mengundang sopir duta besar negara sahabat untuk ngerumpi pun sering memanfaatkan "jam teh" sore-sore ini. Sebaiknya memilih teh yasmin yang lebih ringan lagi. Teh yasmin ialah sejenis teh hijau yang tidak sempurna fermentasinya (sebelum dikeringkan), lalu ditutup kain flanel yang ditaburi kuncup-kuncup bunga melati gambir Jasminum multiflorum (dulu dikenal sebagai J. pubescens). Di India, melati yang dipakai ialah J. officinale. Harum bunga ini diserap oleh daun teh yang sedang mengering itu.
Sesudah makan malam, Twining menganjurkan minum teh Earl Grey. Ini sejenis teh yang dicampur minyak wangi bergamot, dari buah sejenis jeruk manis Citrus bergamia. Ia disebut Earl Grey karena resep pembuatannya yang ditemukan oleh seorang Cina pedagang teh, dikirimkan ke Earl Grey, seorang bangsawan Inggris yang kebetulan menjadi perdana menteri pada tahun 1830-an. Jiwa pedagang Cina itu diselamatkan oleh seorang diplomat Inggris, dan sebagai tanda terima kasih ia memberikan resep pembuatan teh yang sedap itu kepada Earl Grey.
Karena lezat tapi mahal, teh berbau sedap jeruk ini tak terjangkau oleh rakyat berpenghasilan normal. Kemudian kita menirunya saja dengan mencampur langsung air teh celup yang sudah jadi dalam cangkir, dengan irisan buah jeruk sitrun. Bahkan kalau tak ada jeruk sitrun, jeruk nipis pun jadi.
Memang kita tidak jadi minum teh Earl Grey, tapi teh lemon. Tetapi itu serupa rasanya, meskipun tak sama baunya. Belakangan juga sudah beredar teh celup yang diberi bau-bauan jeruk lemon, dan dijual sebagai lemon tea.

v Teh yang Bukan Teh
Daun-daunan lain kalau diseduh seperti daun teh juga akan disebut "teh". Ini dilakukan pada daun tanaman obat, seperti daun tempuyung Sonchus arvensis, misalnya. Daun jamu penggempur batu ginjal ini dijual sebagai teh tempuyung, yang sama sekali tidak mengandung teh, walaupun dikemas sebagai "teh" celup. Biang keladi khasiatnya ialah kandungan kalium dan mannitnya yang sangat diuretik.
Begitu juga dengan daun kumis kucing Orihosiphon spicatus yang dijual sebagai "teh" remujung. Istilah teh lalu berkembang mencakup daun-daun kering lain yang bukan teh, tapi cara minumnya seperti teh.
Di kalangan penjual jamu keringan juga beredar daun-daunan yang mendorong gencarnya pembuangan air kecil. Daun peluruh air seni ini dijual sebagai slimming tea atau herbal tea, yang sama sekali tidak mengandung teh juga. Ia dipromosikan sebagai obat pelangsing, karena takhayul modern, bahwa orang bisa menjadi langsing kalau banyak mengeluarkan air dari tubuhnya (meskipun sebenarnya tidak). Pelangsingan baru terjadi kalau tubuh berhasil membakar lemak kelebihan yang ditimbunnya, dan tetap menjaga keseimbangan antara lemak yang masuk dan lemak yang dibakar. Bukan membuang air.
Terlepas dari kontroversi karena kandungan kafeinnya, ringkasnya, minum teh membawa banyak manfaat. Berikut ini beberapa di antaranya:
1. Menurunkan berat badan (reducing diet). Air teh mengandung serat tinggi sehingga mempermudah pencernaan dan mempunyai efek diuretik (merangsang ekskresi urine) sehingga memperlancar pengeluaran cairan.
2. Bisa mengurangi risiko kanker. Ini dikarenakan teh memiliki zat antimutagen seperti antioksidan dan flavanoid yang dapat mencegah dan menekan pertumbuhan sel kanker.
3. Memperlambat proses penuaan. Antioksidan yang dikandungnya bisa memperpanjang usia sel tubuh dan memperlancar regenerasi sel sehingga dapat meningkatkan usia harapan hidup.
4. Mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Teh mengandung kalium lebih banyak dibandingkan dengan natrium (Na) sehingga dapat menjaga tekanan osmotik darah, keseimbangan asam-basa, dan kandungan zat inhibitor enzym yang menstimulasi tekanan darah.
5. Memelihara kesehatan gigi dan mencegah karies. Air teh mempunyai kadar fluor dan polifenol yang cukup tinggi sehingga dapat mencegah plak gigi dan mengacaukan aktivitas bakteri penyebab karies.
6. Mengendalikan kadar gula. Unsur mangan (Mn) dari teh mempunyai peran sebagai koenzim pada metabolisme gula dalam tuhuh sehingga memperlancar proses pembentukan energi dalam ATF (adenosin trifosfat).
7. Mengobati migren atau sakit kepala. Kandungan alkaloid dalam teh sangat berperan dalam proses pengobatan migren atau sakit kepala.
8. Mengurangi risiko penyakit jantung. Unsur serat yang dimiliki teh mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah sehingga artherosclerosis dapat dicegah. Menurut penelitian doktoral Hertog (1994), konsumsi teh yang tinggi di Jepang (lebih dari 80%) dan di Belanda (60%) membuat angka penyakit jantung koroner di kedua negara itu rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar