Minggu, 27 Desember 2009

Sang Penyembuh Luka

Sang Penyembuh Luka




Meski berasal dari Afrika, tanaman jenis kaktus ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat kita. Bahkan sebagaian besar mengenalnya sebagai tanaman khasiat obat.
Masyarakat umumnya lebih mengenal lidah buaya (Aloe vera) untuk perawatan rambut dan kulit. Namun tanaman ini juga diketahui punya khasiat obat, yakni untuk penurun panas pada anak-anak, obat pencahar, nyeri lambung (maag), radang tenggorokan, dan penyembuh luka, dan sebagainya. Seperti halnya tanaman obat lainnya, kandungan zat-zat yang berkhasiat obat di dalam lidah buaya ini sulit diisolasi. Kalaupun zat-zat itu bisa diisolasi, khasiatnya akan berkurang, bahkan bisa hilang sama sekali. Zat-zat yang terkandung dalam lidah buaya yaitu lignin, saponin, senyawa antra-kuinon, senyawa kuinon, vitamin, senyawa gula, enzim, dan asam amino.
Karena kandungan zat-zat itu pula, tanaman dari keluarga Liliaceae ini menjadi punya nilai komersial. Dari sekitar 300 jenis Aloe, hanya beberapa yang ke-mudian dikomersialkan, antara lain Aloe vera (Aloe barbadensis), Aloe perryi, dan Aloe ferox. Dari ketiganya, Aloe vera mempunyai potensi tertinggi sebagai bahan baku industri farmasi.
Untuk tujuan komersial, lidah buaya ditanam pertama kali di Persia, kira-kira pada abad X. Pengolahan yang dilakukan tidak berubah selama berabad-abad. Pada saat panen, pangkal daun lidah buaya dipotong untuk diambil cairannya. Lalu cairan itu direbus sampai habis, sehingga diperoleh suatu senyawa menyerupai resin berwarna gelap. Belakangan senyawa ini, menurut Farmakope Indonesia, disebut aloe, dan terutama dimanfaatkan sebagai obat pencahar.
Selanjutnya lidah buaya dipergunakan secara luas, antara lain di kawasan Laut Tengah, Timur Tengah, Spanyol, Portugal, dan beberapa negara Karibia. Adanya pengiriman misionaris menyebabkan lidah buaya tersebar semakin luas lagi.

v Sebagai Obat Luka
Tentang penggunaan lidah buaya sebagai tanaman berkhasiat obat tercatat dalam sejarah. Bukti itu tercantum dalam naskah kuno (1522 SM) yang ditemukan di dekat Thebes, Mesir. Dalam naskah tersebut diceritakan penggunaan lidah buaya sebagai penyembuh luka yang terinfeksi, kemerahan pada kulit, dan juga sebagai penghasil obat aloe.
Demikian juga buku DeMateria Medico, karangan Deocorides, seorang pandai Yunani, pada tahun 74, menyebut-nyebut lidah buaya sebagai salah satu tanaman yang mempunyai efek penyembuh penyakit. Dalam buku tersebut, lidah buaya dikatakan mempunyai efek purgative, yang berarti memiliki efek pencahar dan efek menyembuhkan luka.
Sementara suatu penelitian modern tentang manfaat lidah buaya baru dimulai belakangan, yakni setelah menjamurnya pemakaian radiasi sinar-X. Seperti diketahui bahwa radiasi sinar-X dapat menyebabkan luka bakar pada kulit. Luka tersebut nyaris sulit disembuhkan, sampai-sampai para dokter mempergunakan kembali resep kuno, yaitu gel (cairan) yang diambil dari daging daun lidah buaya.
Lidah buaya makin diyakini mempunyai kemampuan untuk mengobati luka terbuka dan efektif dalam menyembuhkan radang kulit. Bisa demikian karena lidah buaya mengandung saponin yang mempunyai kemampuan sebagai pembersih sekaligus antiseptik, serta senyawa antrakuinon dan kuinon sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit. Sifat merangsang pertumbuhan jaringan sel baru dari kulit (epitelisasi) juga dimiliki oleh lidah buaya.

v Cepat Tempel
Senyawa yang terkandung dalam gel lidah buaya mudah teroksidasi oleh udara maupun cahaya. Akibatnya, daging daun lidah buaya yang sudah dikupas dan berwarna hijau jernih itu akan cepat berubah warna menjadi kecoklatan dan sifat fisiknya cenderung berubah menjadi cairan. Oleh karena itu, dalam praktik pengobatan luka terbuka pada kulit dengan lidah buaya, perlu dilakukan dengan cepat.
Mula-mula potong lidah buaya pada pangkal daunnya, kemudian dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran atau tanah. Setelah itu lidah buaya dikupas hingga didapatkan daging daunnya yang berwarna jernih kehijauan. Agar tidak berubah warna menjadi coklat karena teroksidasi, daging daun lidah buaya yang sudah terkupas tersebut segera dicuci kembali, dan langsung ditempelkan pada luka. Kemudian dibebat dengan kain perban supaya tidak jatuh, sekaligus untuk mengurangi kontak dengan udara dan cahaya.
Dari percobaan, penyembuhan luka terbuka dengan mempergunakan lidah buaya segar ternyata menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan sediaan kasa steril yang diberi antibiotik (buatan pabrik). Selain harganya lebih murah, lidah buaya pun mudah diperoleh.
Untuk mengurangi kekurangan yang dimiliki lidah buaya, kini sedang diupayakan pengeringan pada suhu sangat rendah (di bawah 0°C dan tekanan udara minimum). Dengan demikian zat-zat yang terkandung dalam lidah buaya tidak mengalami kerusakan sampai akhirnya didapat bahan sediaan luka yang tahan lama, tidak mudah rusak oleh pengaruh udara dan cahaya.

v Sebagai Pelembap Kulit
Sebagai pelembap kulit, tanaman lidah buaya telah dipercaya sejak zaman Cleopatra. Pada masa itu diketahui bahwa hampir 70% produk kosmetik mengandung gel lidah buaya. Gara-gara gel ini pula, tanaman lidah buaya menjadi begitu istimewa sebagai bahan sediaan kulit. Hal ini juga karena di dalam gel terkandung lignin. Lignin dalam gel mampu menembus dan meresap ke dalam kulit. Dengan begitu gel akan menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit, sehingga kulit menjadi tidak cepat kering dan tetap terjaga kelembapannya. Sedangkan sifat berbuih pada senyawa ini biasa dipergunakan untuk bahan sediaan kosmetik.
Beberapa kegunaan lidah buaya bisa kita temukan pada krim cukur, suntan lotion, pelembap kulit, pembersih muka, penyegar, antideodorant, sampo, dan hair conditioner. Sementara akhir-akhir ini sedang diteliti penggunaan lidah buaya sebagai penghambat pertumbuhan tumor (tumor inhibitor). Bahkan di AS dan Australia, lidah buaya juga dikonsumsi dalam bentuk minuman dengan kadar kalori rendah (4 kal/100 g), yang diperuntukkan bagi orang yang sedang menjalani diet dalam rangka mengurangi berat badan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar