Senin, 28 Desember 2009

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini



Sungguh tak terbayangkan bahagianya saat mengandung, merasakan adanya nafas baru dalam diri kita, dalam diri seorang ibu.
Tak lepas satu haripun, ibu dan ayahnya, membacakan Al-Quranul Karim, selama 9 bulan masa kehamilan. insya Allah, segala nasehat, segala kisah dalam kitab yang mulia itu akan membekas dalam diri mereka untuk seterusnya. Dengan itu, kami yakin mendidik mereka akan jadi lebih mudah, tanpa nasehat panjang-panjang.
Kemudian, melahirkan mereka satu persatu, sampai tiga anak. Seperti keajaiban yang Allah berikan pada seorang ibu. Luar biasa. Tak terungkapkan dengan kata-kata. Allahu Akbar. Sejak saat inilah pendidikan diawali dengan sesungguhnya, guna mencetak mereka sebagai generasi rabbani, mujahid-mujahid muda yang bertakwa kepada Allah.
Sejak usia yang masih amat dini, orangtua hendaknya memberikan contoh ibadah harian yang seharusnya mereka lakukan. Sang Ayah hendaknya selalu mencontohkan untuk selalu shalat Subuh di mesjid. Merekapun segera akan menirunya. Betapa bahagia melihat mereka bangun, mandi, berwudhu dan rapih berpakaian baju takwa. Sebelum adzan berkumandang, hendaknya mereka selekas mungkin bergegas pergi ke mesjid. Dalam kodisi seperti ini, kemungkinan besar si kecil yang yang masih dalam buaian akan mengikuti kakak-kakaknya. Namun jika setelah sampai di mesjid tertidur kembali. Itu tak mengapa, yang terpenting dia menyadari dulu betapa utamanya shalat berjamaah di mesjid. Dengan bertambahnya usia, kesadaran si kecilpun pasti akan tumbuh sendiri.
Selepas mereka pulang kembali ke rumah, hendaklah mereka diajari untuk menghafal Al-Quran sebelum berangkat sekolah. Rumah hendaknya difungsikan sebagai sekolah, tempat belajar, tempat mengajar. Rumah sebagai benteng keluarga, tempat menguatkan ikatan dalam kasih sayang, kemesraan, kebersamaan, musyawarah. Rumah sebagai mushala, sebagai tempat ibadah, bukan sekedar tempat transit dan melepas lelah semata. Dan rumah sebagai surga, tempat indah berisi pangeran, bidadari dan malaikat-malaikat kecil.
Sang ibu hendaknya lebih aktif mendampingi mereka sampai menjelang tidurnya, membacakan dongeng sebaik yang saya bisa. Namun acapkali, seiring waktu mereka punya dunia sendiri, punya aktivitas sendiri, punya teman-teman. Pada titik ini hendaknya sang ibu tetap bisa mengawasi dengan siapa dan dimana mereka bermain.

v Tumbuhkan Jiwa Wirausaha
Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.
Ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.

v Peran Orangtua dan Guru
Wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
Selain itu, peran lingkungan, semisal guru-guru, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Mereka bisa berperan dalam membuat anak agar bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatif mengajar dan membuat soal. Berikan kesempatan untuk berpikir alternatif. Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25.
Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Alternatif tersebut akan melatih anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada.
Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, hal-hal tersebut di sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja. Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan.
Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positif lain dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan. Bila banyak orang di Indonesia memiliki jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor juga akan sedikit. Bila kelak anak tersebut dewasa dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawab mengembalikan dan tidak akan kabur.

v Latihan Bertahap
Menumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, toilet training untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan akhirnya sampai anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara bertahap dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab.
Latihan lain, misalnya melatih anak untuk dapat membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran tentang kepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifat tersebut, menurut Zainun, adalah awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak.
Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif.
Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Misalnya, saat mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainan atau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan itu harus sudah disepakati sejak awal.
Latihan seperti ini sudah dapat dilakukan sejak anak berusia dua tahun. Jangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan mengatakan 'Ah, masih anak kecil'. Padahal sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi.

v Bisnis Kecil-kecilan
Setelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli.
Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil-kecilan. Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. Ini tidak disarankan untuk dilatihkan, tapi sebenarnya bisa. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bila orangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu.
Cara yang dipakai oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owen mengisahkan tentang bagaimana ia mampu mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat "Bank Ayah", khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yang dikembangkan dalam "Bank Ayah" adalah pemberian tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh pada anak sebagai pengelola„ uang mereka sendiri. Uang anak adalah milik anak, bukan milik orang tua. Bahkan anak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan.
Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melakukan kontrol secara tidak langsung, yaitu dengan mengembangkan prinsip-prinsip perbankan seperti bonus yang dapat menarik minat akan untuk menambah saldo tabungan, juga saldo minimal, yang dapat membatasi jumlah pengambilan uang agar tidak terkuras habis. Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
"Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "Bank Ayah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana. Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anak-anaknya. Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang bernama "Dad and Co".
Jadi sejak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan adalah bagaimana menanamkan cara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Tanamkan pula pada jiwa mereka mengenai firman:
Dan tidak ada suatu pun yang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Dalam ayat tersebut Allah menyatakan bahwa Dia akan selalu menanggung rezeki apa pun yang melata di bumi. Perhatikan kosa kata “melata.” Begitu cerdiknya Allah mengistilahkan makhluk yang ditanggung rezekinya. Melata berarti similar dengan merangkak, pergi, berusaha, terbang, berikhtiar. Bukan seperti kepompong yang tidak pernah melata. Tidur melulu. Ini jelas termasuk perkecualian dari mereka yang ditanggung rezekinya. Jangan sampai ayat-ayat seperti ini dijungkir-balikkan maknanya, sehingga anak-anak kita tersihir, “kendati pun tidak berusaha, Allah juga akan menanggung rezeki.” Kalau mereka masih ngeyel, cobalah perintahkan mereka untuk masuk hutan dengan tanpa bekal. So, sudah pasti, seminggu kemudian, pulang pun tinggal nama. Terkeculai jika mereka beralih ujud menjadi kambing yang doyan rumput dan dedaunan, atau memasuki wilayah tajrid, (tulis Syekh Ibnu Athaillah Al-Iskandari dalam Hikam-nya) sebuah martabat yang tidak bakalan dimiliki orang awam.
Jika sang anak masih ngeyel lagi, ‘Toh kepompong juga hidup.’ Benar, tapi kagak punya mulut, tak punya dubur, juga tak ada telinga dan matanya, dan tak punya otak, sehingga kayak bolang-baling. Sedangkan kita punya organ itu semua, berarti akan sia-sia penciptaan Allah atas organ-organ tersebut.
Hendaknya disadari bahwa yang dinamakan tawakal itu bukanlah mesti tidak berusaha dengan hanya menggantungkan kebijaksanaan Allah agar sebuah perut dengan sendirinya kenyang. Ini merupakan sebuah keyakinan yang salah. Sebab semua apa pun aktivitas di dunia ini tidak terlepas dari hukum sebab-akibat (kausalitas).
Bila anak Anda bertanya: Adakah Tuhan tidak mampu memberi kenyang dengan tanpa makanan, memberi kepandaian dengan tanpa belajar, kaya tanpa usaha?.
Allah Maha mampu atas semua itu, namun sekali lagi apa yang terjadi di dunia ini mesti memakai sebab-akibat. Sehingga bila sebab akibat itu tidak dibutuhkan lagi, maka tatanan dunia ini akan kacau. Akibatnya tidak akan ada orang yang belajar. Tidak pula ada orang yang bekerja, dan tidak didapatkan orang yang mau menjadi pembantu, hingga tidak ada orang yang mau makan. Terkecuali bila menjadi sebuah mukjizat bagi seorang nabi atau karamah aulia’ dan sejenisnya.
Dalam mencari dan menghadapi rezeki, peringkat tawakal ini pun berbeda. Jangan salah persepsi, sekali-kali, ikhtiar tidaklah mencederai sikap tawakal kepada Allah. Periksa hadits Rasulullah Saw:
عَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ أَلَا تَرَوْنَ أَنَّهَا تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Dari Umar bin Khathab Ra mengatakan: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika saja kalian itu mantap bertawakal kepada Allah, sungguh Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung. Bukankah kalian lihat, mereka berangkat berpagi-pagi dalam kondisi lapar, namun pulang sore dalam keadaan kenyang.
(HR. Ahmad dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 351).
Kita cermati hadits tersebut, Rasulullah Saw memberi contoh bagi mereka yang bertawakal bagaikan burung yang berangkat pagi (ikhtiar) mencari makan. Beliau tidak membuat tamsil dengan kepompong. Tegasnya, ikhtiar tidak mencederai posisi tawakal, bahkan merupakan media seseorang untuk bertawakal kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar