Senin, 28 Desember 2009

Mengelola Anak Cerdas

Mengelola Anak Cerdas





Keberadaan Emotional Intelligence (EI) di samping Intelligence Quotient (IQ) dalam kehidupan kita adalah sangat penting. Anak-anak yang memiliki EI yang tinggi akan memiliki karakter kepribadian yang kuat. Mereka bisa berempati, mampu mengekspresikan juga mengolah emosi dan memahami orang secara tepat, serta mudah beradaptasi. Karenanya anak seperti ini akan disukai teman-teman sehingga mampu bekerja dengan tim.
Dapat dibayangkan jika anak-anak kita memiliki EI rendah, yang terjadi adalah generasi yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Tingkat kriminalitas anak yang tinggi, tingkat bunuh diri anak-anak meningkat, pelajar yang suka tawuran, anak-anak drop out karena kenakalannya dan lainlain membuktikan tingkat EI mereka rendah. Padahal boleh jadi, anak-anak itu memiliki IQ yang tinggi dan berpeluang untuk berprestasi di sekolahnya.
Rendahnya EI ini bisa disebabkan oleh perubahan sosial masyarakat kita yang semakin cepat, contohnya yang tadinya tabu sekarang tidak lagi. Kedua, kurangnya waktu asuh orang tua karena kesibukan. Lalu banyak orang tua yang mementingkan kecerdasan koginitif semata, asal anakjuara kelas dan nilai bagus maka orang tua akan senang. Meningkatnya angka perceraian, pengaruh media, juga sekolah yang talk lagi dianggap sebagai institusi yang menyenangkan dan dihormati, juga mempengaruhi rendahnya kadar EI anak-anak.
Pola asuh orang tua sangat penting dalam mendorong pertumbuhan EI anak. Orang tua bisa mulai menanamkan EI sejak tahap awal perkembangan anak. Perkembangan optimum EI terjadi saat anak meningkat remaja, dimana pada masa itulah nilai-nilai moral yang ditanamkan akan semakin berkembang. Mereka mulai mengenali siapa diri mereka dan mulai dapat menilai yang benar dan yang tidak menurut ukuran moralitas yang tertanam dalam dirinya. Untungnya, tidak seperti IQ, EI dapat dikembangkan dalam segala tingkat usia.
Peran orang tua dalam mengembangkan EI bisa dilakukan dengan cara membangun sebuah keluarga yang mementingkan rasa berbagi, saling menyayangi antar anggota keluarga dan berorientasi untuk mencari solusi dalam setiap permasalahan keluarga. Komunikasi yang dijalankan juga efektif sehingga anak dirangsang untuk mendengar, mengerti dan berpikir. Disiplin juga jadi nilai yang diterapkan secara konsisten. Kemudian yang paling penting adalah perlunya orangtua memberi contoh langsung nilai-nilai moral yang diajarkan itu pada anak.
Jika EI anak-anak Indonesia tinggi maka perubahan sosial masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik bukanlah mimpi.

v Memicu IQ dengan Musik
Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk me-rangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas, kreatif. Bahkan musik bisa untuk memutar janin sungsang pada posisi normal.
Dibandingkan dengan kemampuan rata-rata anak seusianya, sebut saja Rahimana, jauh lebih baik. Ketika berusia dua bulan, anak itu sudah bisa tertawa terbahak-bahak. Di usia 3,5 bulan, sudah bisa melepas kacamata kakeknya. Bahkan, ketika umurnya menginjak empat bulan, sudah bisa bersalaman. Semua itu bukan tanpa sebab. Ketika hamil, sang ibu ingat cerita orang tuanya bahwa musik klasik karya Wolfgang Amadeus Mozart bisa membuat perkembangan otak belahan kanan janin dalam kandungan menjadi lebih baik sehingga meningkatkan kemampuan afektif si anak.
Dari situlah ia lalu berusaha untuk selalu mendengarkan musik klasik. Dalam perjalanan ke kantornya, musik yang buat banyak orang terasa berat itu terus mengalun dari kaset di dalam mobilnya.

v Otak Kiri-kanan yang Seimbang
Mendengarkan musik klasik sebenarnya merupakan bagian dari beberapa stimulasi yang bisa diberikan oleh ibu hamil kepada janin di dalam kan-dungannya. Stimulasi tersebut meliputi fisik-motorik dengan mengelus-elus jabang bayi melalui kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan bercerita kepada janin, dan stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan bayi. Makin sering dan teratur perangsangan diberikan, makin efektif pengaruhnya. Pada janin, musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. Perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya.
Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Semen-tara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, (calistung), daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis.
Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan menghitung dengan baik. Sementara itu bagi ibu hamil, musik - terutama yang klasik - bisa membebaskannya dari stres akibat kehamilan. Ini sangat baik sebab, stres yang tidak dikelola dengan baik akan berdampak buruk bagi ibu yang bersangkutan dan perkembangan janin di rahimnya. Stres pada wanita hamil akan meningkatkan kadar renin angiotensin, yang memang sudah meningkat pada wanita hamil sehingga akan menghambat sirkulasi darah rahim-plasenta-janin. Gangguan sirkulasi ini menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan janin pun terhambat. Hambatan macam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu mendengarkan mu-sik klasik, terutama karya Mozart.

v Cukup 30 menit sehari
Mungkin semua jenis musik, dari yang tradisional hingga modern, bisa pula dimanfaatkan untuk hal yang sama. Namun, hingga saat ini yang sudah diteliti dan menunjukkan hasil positif baru musik klasik, terutama karya Mozart. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak belahan kanan janin.
Menurut Suzuki (1987), bila anak dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya. Mendengar alunan musik yang tenang, jantung si janin berdenyut dengan tenang pula. Bahkan, setelah dilahirkan mendengarkan musik klasik juga memberi pengaruh baik bagi si bayi.
Sekadar contoh, seorang bayi berusia tiga bu-lan, yang sejak lahir sering diputarkan musik klasik, mampu menggerakkan badannya sesuai dengan iramanya. Jika irama makin cepat menuju klimaks, gerakan bayi lebih cepat dan ahl dan ketka musik berhenti dia menunjukkan ketidaksenangan. Sementara untuk merangsang belahan otak kiri yang bertanggung jawab terhadap kemampuan akademik, musik dengan syair yang mendidik terbukti mem-beri pengaruh baik.
Sedangkan lagu anak-anak yang dipilih untuk terapi cukup dua tiga lagu. Musik bersyair itu misalnya lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud atau lbu Kasur. Pelangi-pelangi merupakan lagu yang bagus. Pada akhir lagu itu ada syair ... ciptaan Tuhan. Jadi sejak janin, calon anak Stimulasi perkembangan otak janin ini bisa dilakukan sejak usia kehamilan 15 - 20 minggu.
Menurut Harold I Kaplan, Benjamin J. Sadock, dan Jack A. Grebb, pada usia itu janin sudah dapat mendengar. Dia juga sudah bisa bereaksi terhadap suara dengan memberi respons berupa kontraksi otot, pergerakan, dan perubahan denyut jantung. Bahkan, pada usia itu perkembangan mental emosional janin sudah dapat dipengaruhi musik.
Mendengarkannya bisa dilakukan di mana saja. Namun, untuk tujuan terapi sebaiknya dilakukan di tempat khusus untuk terapi dan dipandu oleh pakarnya. Di tempat terapi ini akan tercipta suasana kebersamaan. Dengan kebersamaan itu, mereka bisa bertukar pengalaman dan sebagainya, sehingga saat menghadapi persalinan persiapan mental mereka sudah bagus dan rasa percaya dirinya ju-ga bagus. Di sam-ping itu ibu hamil dianjurkan pula mendengarkan musik di rumah secara teratur.
Dalam melakukan terapi musik, ibu hamil mesti melalui tahapan relaksasi fisik dan mental sebelum memasuki tahapan stimulasi terhadap janin. Untuk mencapai rileks fisik hendaklah diberikan relaksasi progresif di mana ibu-ibu mengendurkan dan mengencangkan otot-ototnya, mengatur pernapasan dan sebagainya. Setelah secara fisik rileks, baru memasuki relaksasi mental. Dalam relaksasi mental, hendaklah mengucapkan kata-kata yang bersifat sugesti dan menguatkan.
Jadi secara fisik mereka rileks, dan saya membawa mereka ke dalam suasana di mana mereka bisa melupakan semua konflik yang mereka rasakan sebelumnya. Mereka hanya berkonsentrasi untuk terapi. Pada saat diberi instruksi-instruksi untuk relaksasi, diperdengarkan alunan musik yang bisa membangkit-kan perasaan rileks. Setelah itu, baru memasuki stimulasi untuk janin.
Waktu yang diperlukan untuk terapi sekitar 30 menit, untuk relaksasi 10 - 15 menit, dan stimulasi 15 - 20 menit. Di rumah, lamanya mendengarkan musik yang dianjurkan untuk ibu hamil sekitar 30 menit setiap hari. Sebaiknya, saat mendengarkan jarak loudspeaker sekitar 50 cm dari perut. Si ibu bisa melakukannya dalam keadaan istirahat atau aktif seperti membaca atau melakukan senam hamil.
Untuk memperoleh manfaat dari mendengarkan musik, ibu hamil dianjurkan mendengarkan dengan penuh perhatian dan kesadaran. Musik mesti mendapat kesem-patan untuk merasuk ke dalam pikiran. Bagi yang belum terbiasa mendengarkan musik klasik, sebaiknya dimulai dengan belajar menikmati musik klasik ringan macam gubahan Johann Strauss. Setelah terbiasa bisa dicoba dengan yang lebih berat dan sudah terkenal seperti gubahan WA. Mozart, Fredric Chopin, dan Ludwig van Beethoven. Berikutnya dicoba musik dengan komposisi lengkap, seperti konser atau simfoni.

v Memutar janin sungsang
Uniknya, stimulasi musik klasik juga bisa digunakan untuk memutar posisi janin sungsang menjadi normal. Menurut dr. Ronald David, SpOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan, beberapa jenis musik ciptaan Antonio Vivaldi dan Johann Sebastian Bach, kini digunakan di Kanada dalam upaya memutar letak janin yang sungsang sejak usia 32 - 35 minggu. Semula upaya memutar letak janin ini dilakukan cu-ma melalui senam postural exercise (berbaring dengan pantat disokong tiga bantal hingga tingginya sekitar 30 cm dari lantai dan lutut ditekuk) yang diperkenalkan pertama kali oleh Marianne B.W pada 1983. Atau, dengan cara visualisasi (mengubah posisi janin dengan kemampuan mental). Pada tahun 1987 Penny Simkin PT. menyempurnakan cara senam dengan memadukan senam dan musik.
Dalam memadukan senam dan musik klasik, posisi senam knee chest (menungging dengan dada menempel pada lantai), sebenarnya sama saja. Namun, posisi the breech tilt menimbulkan lebih banyak keluhan pada ibu hamil. Karena itu, akan lebih baik untuk memilih posisi knee chest. Dengan posisi itu ditambah dengan gaya gravitasi, kepala janin akan jatuh ke arah uteri. Gaya gravitasi yang terus-menerus me-nyebabkan kepala janin lebih fleksibel sehingga dagu janin menyentuh dadanya. Berat badan serta penekanan oleh usaha janin sendiri untuk mencari suara musik klasik agar lebih jelas menyebabkan terjadinya perputaran letak lintang dan kemudian menjadi letak kepala.
Untuk tujuan ini, ibu hamil perlu pemeriksaan medis dan pemeriksaan USG terlebih dahulu guna mengetahui letak plasenta. Dari hasilnya bisa diketahui bisa-tidaknya si ibu melakukan senam yang dikombinasi dengan terapi musik untuk mengubah posisi janin. Kalau positif, latihan bisa dimulai. Latihan ini dimulai pada usia kehamilan 32 -endash 36 minggu. Tempat sebaiknya dipilih yang tenang dan bebas bising. Frekuensinya tiga kali sehari, masing-masing 10 - 15 inenit. Latihan sebaiknya dilakukan saat janin aktif dan pe-rut ibu dalam keadaan kosong.
Saat latihan sepasang ear-phone ditempelkan di bagian perut bawah, tempat kepala janin diharapkan akan berada, dengan bantuan plester atau perekat lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan, musik klasik (Vivaldi, Bach, Mozart) lebih baik ketimbang jenis romantic (Chopin, Debussy Beethoven). Musik rock malah mengganggu putaran janin. Pikiran hendaknya membayangkan janin berputar ke arah yang diharapkan. Bila kepala terasa panas, pusing, mual, latihan dihentikan dan diulang keesokan harinya. Setelah dua minggu latihan, perlu pemeriksaan dokter untuk mengetahui keberhasilannya. Bila belum berhasil, perlu dilanjutkan lagi selama dua minggu dengan lama latihan sekitar 30 menit.
Kunci keberhasilan senam yang dikombinasikan musik klasik untuk memutar letak bayi ini tergantung motivasi ibu melakukannya. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan perputaran di antaranya letak sungsang Frank Breech, lilitan tali pusat, plasenta inersi yang berhadapan dengan muka janin, dan kelainan bentuk uteris (bicomis, subseptus).
Saat ini penggunaan musik klasik untuk stimulasi atau terapi bagi janin dan ibu hamil memang bukan hal baru di negara maju macam Prancis dan Jepang. Sebaliknya, di Indonesia baru dicoba sejak beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1994 RSAB Harapan Kita, Jakarta, merintis penerapan cara-cara sti-mulasi atau terapi ini. Setelah itu, beberapa rumah sakit ikut mempraktikkan. Di antaranya RS Atmajaya, RS Pantai Indah Kapuk, dan RS Pluit. Bahkan, terapi musik sudah masuk ke Puskesmas meski baru Puskesmas Tambora, Jakarta Barat.
Namun, jauh dari pusat-pusat pelayanan kesehatan juga bukan berarti ibu-ibu hamil tidak bisa melakukannya. Mereka bisa mencobanya di rumah sendiri, syukur-syukur bila sempat berkonsultasi dengan terapis musik terlebih dahulu Bukan tidak mungkin jika alunan Al-Qur’an lebih signifikan pengaruhnya dibanding musik-musik klasik, sebab sebagaimana firman Allah, Al-Qur’an bukan saja senagai terapi syifa, bahkan lebih dari itu, sebagai petunjuk dari kesesatan dan rahmat bagi manusia.
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu (Al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS.Yunus[10]: 57).
Untuk mengulas fenomena ini, mari kita cermati sebuah penelitian tentang al-Qur'an.

v Pengaruh Al-Qur'an Terhadap Organ Tubuh
Ada pembahasan menarik yang perlu kita bahas di siru, yakni tentang ada tidaknya pengaruh al-Qur'an terhadap diri manusia. Bila ada, apakah berupa dampak biologis atau kejiwaan, atau malah keduanya, biologis dan kejiwaan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita cermati sebuah penelitian tentang al-Qur'an, khususnya mengenai kosa kata "Akbar" di Kota Panama wilayah Florida. Tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik, ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan al-Qur'an. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris. Pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan saraf secara spontanitas.
Penjelasan hasil penelitian ini oleh Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America), pernah dipresentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Universitas Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dari hasil penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa dampak al-Qur'an amat kentara pada penurunan tekanan saraf.
Suara beberapa ayat al-Qur'an dalam bahasa Arab akan berproses, baik pendengarnya orang yang paham bahasa Arab atau tidak, dan juga kepada siapa pun (random). Sedangkan makna sepenggal Ayat al-Qur'an yang sudah dibacakan itu juga berproses, walaupun seseorang yang mendengar penggalan singkat makna ayat itu, pada sebelumnya tidak mendengar bacaan al-Qur'an berbahasa Arabnya.
Kemudian pada tahapan kedua, penelitian ini difokuskan dengan menghilangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak perubahan fisiologis akibat bacaan al-Qur'an, dan bukan dengan selain al-Qur'an semisal suara atau lirik bacaan al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasanya yang diperdengarkan kepadanya itu bagian dari kitab suci atau lainnya.
Tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa kata-kata al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami al-Qur'an, dimaksudkan agar semakin menambah kejelasan hasil penelitian tersebut.
Peralatan. Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan saraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Universitas Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respons-respons perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal:
1. Perubahan gerak napas secara langsung melalui komputer, dan;
2. Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah validitas hasil evaluasi.
Subsekuen. Program komputer yang mengandung pengaturan pernapasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 chanel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak saraf otot; satu chanel untuk memonitbr arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit, intensitas detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan. Sementara monitoring volume darah yang mengalir pada kulit, juga memonitor suhu badan, itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Pirantinya menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan.
Tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitor yang menunjukkan adanya aktivitas jantung yang lebih terpacu. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori pun mengecil, bersamaan dengan mengecilnya suplay darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan menurun, dan detak jantung pun melambat.

v Metode yang Digunakan
Percobaan itu dilakukan sebanyak 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun. Setiap responden diambil dari warga non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Percobaan ini sudah dilakukan sebanyak 42 kesempatan, yang pada setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Pada responden dibacakan kalimat al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan al-Qur'an. Terbukti dari percobaan ini terjadi kejutan/shock ketika merespon bacaan-bacaan ini.
Kemudian bacaan berbahasa Arab (bukan al-Qur'an) disejajarkan dengan bacaan al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telinga, dan responden tidak mendengar satu ayat al-Qur'an selama 40 ujicoba. Selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 ujicoba bacaan berbahasa Arab bukan al-Qur'an. Ternyata, uji coba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan al-Qur 'an dan mana yang badaan berbahasa Arab bukan al-Qur'an. Tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Percobaan dengan tidak memperdengarkan satu ayat al-Qur'an kepada responden, tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dari eksperimen ini kelihatan dengan sangat jelas sejak pertama bahwasanya posisi duduk dan diam dengan tidak mendengarkan satu ayat, terbukti seseorang tidak mengalami perubahan ketegangan apa pun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan al-Qur'an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti al-Qur'an terhadap tubuh.
Metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu ayat al-Qur'an, kemudian bacaan bahasa Arab, kemudian al-Qur 'an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus-menerus. Para responden pun tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: al-Qur'an dan bukan al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya.
Sedangkan metode monitoring pada setiap eksperimen penelitian ini, hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax tadi. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Petunjuk yang sudah dimonitor dan dicatat selama percobaan ini mengandung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.
Memang eksperimen ini memprioritaskan memonitoring, dengan alasan perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel.
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya, terbukti mengandung hasil yang positif untuk mencermati energi listrik bagi otot sampai sekecil-kecilnya. Ini merupakan indikator stabilnya kadar fluktuasi ketegangan saraf, dibandingkan dengan metode yang digunakan responden ketika duduk.
Hasil Penelitian. Ada hasil positif 65% percobaan bacaan al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun ketika eksperimen berlangsung. Dampaknya, ketegangan saraf bisa terbaca di layar monitor, nyatanya, dampak itu hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain al-Qur'an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang sama, kndati diulangi, seperti hasil pengujian pada pendengar bacaan al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan uji coba dengan diacak dalam memperdengarkan antara al-Qur'an dan bacaan Arab, sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.

v Hasil Penelitian dan Kesimpulan.
Dari eksperimen ini sejak awal sudah terlihat jelas hasil mengenai dampak al-Qur'an bahwasanya al-Qur'an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap saraf. Dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh ini pun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. Baik perubahan itu terjadi pada kulit karena energi listrik, perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, volume darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan. Semua perubahan ini menunjukkan bahwa organ saraf otak, secara langsung akan mempengaruhi organ tubuh lainnya
Ketegangan saraf pada lazimnya akan berpengaruh kepada disfungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespons gerakan antara saraf otak dan otot. Dari itu, dalam kondisi seperti ini pengaruh al-Qur'an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badan segar kembali, juga akan mendongkrak stamina yang pada gilirannya akan menghalau berbagai penyakit, yang bahkan bisa menjangkau tumor atau kanker otak.
Juga, dari eksperimen ini menunjukkan bahwa kalimat-kalimat al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya. Sehingga sangat logis bila seorang janin akan mendapat stimulus ketika merespon bacaan Al-Qur’an.
Demikianlah, mudah-mudahan uraian ini semakin menambah kecintaan kita kepada al-Qur'an. Kemudian jiwa semakin terpacu untuk mengetahui hikmah yang terkandung dalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar