Minggu, 27 Desember 2009

Ngaben di Zaman Rasulullah Saw.

Ngaben di Zaman Rasulullah Saw.

‘Alqamah merupakan seorang lelaki shahabat Rasulullah Saw. yang sangat rajin dan tekun beribadah, baik itu berupa shalat, puasa, membaca Al-Qur’an ataupun sedekah.. namun tiba-tiba saja duia sakit parah hingga mendekati ajal. Dalam kondisi kritis itulah isterinya mengutus seseorang untuk mengabarkan keadaan suaminya kepada Rasulullah Saw.. Mendengar laporan ini segera saja Rasulullah mengutus ‘Ammar, Bilal dan Shuhaib untuk pergi kerumah ‘Alqamah sebelum ajal menjemputnya, dan beliau berpesan agar para shahabat itu menuntunnya untuk mengucap la ilaha illal’Lah. Ketiga orang itu pun bangkit pergi kerumah ‘Alqamah dan melaksanakan perintah Rasulullah Saw. namun mulut ‘Alqamah terkatup rapat, tidak bergerak sedikit pun padahal ketika itu dia sudah dalam keadaan naza’.
Demi melihat keganjilan ini, ketiga orang itu betul-betul khawatir jangan-jangan kawan seperjuangan akan mengalami akhir hayat tercela (su-ul khatimah), padahal Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa seseorang akan dibangkitkan diakherat nanti dalam keadaan sesuai dengan isi hatinya ketika mati, dan kematian seseorang akan sesuai dengan isi hati atau amalnya ketika hidup. Dalam arti sosok dan rupa seseorang nanti diakherat akan disesuaikan dengan isi hatinya ketika mati itu dan bukan dalam bentuk ketika didunia ini. Hingga sifat-sifat hati itulah yang akan menjadi rupa, gambar dan bentuk seseorang diakherat nanti. Konsekuensinya manusia diakherat nanti akan ada yang berupa babi, anjing, badak dan tak sedikit yang berperut gunung atau bergusi bukit disamping banyak pula yang berubah menjadi seorang yang begitu tampan, berubah total dari bentuk aslinya sebagaimana orang sombong dan takabur akan berubah menjadi gambar manusia yang hanya sebesar semut yang diinjak-injak kaki dipadang makhsyar. Hal ini disesuaikan dengan perilakunya ketika hidup didunia ini.
Setelah dirasakan tidak mampu mengeliminir kegalauannya maka ketiga orang tadi segera melaporkan kepada Rasulullah Saw mengenai keadaan ‘Alqamah. Sejenak kemudian Rasulullah bertanya :
“ Adakah bapak ibunya masih ada yang hidup kendati telah begitu tua ?.”
“ Wahai Rasulullah, tinggal ibunya saja yang masih ada, sedangkan bapaknya telah meninggal dunia beberapa tahun yang silam.” begitu seseorang menjawab.
Kemudian Rasulullah mengutus orang tadi agar mengatakan kepada ibu ‘Alqamah :
“ Jika ibu masih mampu berjalan menemui Rasulullah, sekarang juga kedatangan ibu dibutuhkan sekali. Namun jika telah tidak mampu, hendaknya ibu jangan pergi kemana-mana, Rasulullah akan segera menemui ibu.”
“ Akan lebih sopan jika aku yang datang menemui Rasulullah Saw.” begitu jawab sang ibu.
Kemudian dengan segera ibu itu mengambil tongkat sebagai penyangga dalam berjalan dan langsung menuju kerumah Rasulullah Saw. Ketika telah sampai dipintu, dia tidak lupa mengucapkan salam pada ahli bait Rasulullah, dimana kebetulan Rasulullah sendiri yang menjawabnya. Maka masuklah ibu itu dan dipersilahkan duduk oleh Rasulullah. Setelah berbincang-bincang seperlunya, kemudian Rasulullah bertanya :
“ Wahai ibu ‘Alqamah, jawablah pertanyaanku ini dengan berterus terang, dimana jikalau ibu berdusta maka akan segera ada wahyu yang akan meluruskannya. Bagaimana sikap kehidupan ‘Alqamah selama ini ?.”
“ Wahai Rasulullah, dia seorang yang begitu rajin melakukan shalat, puasa atau sedekah.” jawab sang ibu.
“ Bagaimana pula sikap ‘Alqamah terhadap ibu selama ini ?.” sambung Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah, aku membenci sekali terhadapnya, dia lebih memperturutkan apa yang menjadi kehendak isterinya sedangkan aku selalu disia-siakan.” jawab ibunya lagi
“ Sesungguhnya kemarahan ibu ini bisa menyebabkabn ‘Alqamah terhalang membaca syahadat. Sekarang wahai Bilal ! segeralah kalian mencari kayu bakar yang banyak.” desak Rasulullah.
“ Untuk apa ya Rasulullah ?.” tanya Bilal.
“ Ia akan saya bakar hidup-hidup.” jawab Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah !, dia merupakan buah hatiku, aku tidak akan tega melihatnya jika saja ‘Alqamah engkau bakar dihadapanku.” sahut ibu ‘Alqamah seraya meratap.
“ Wahai ibu ‘Alqamah, siksa Allah diakherat nanti akan lebih pedih, lagi pula abadi selama-lamanya. Begini saja, jika ibu bahagia melihat ‘Alqamah mendapat ampunan Allah, ibu harus bersikap rela dan memaafkan seluruh kesalahan ‘Alqamah. Demi Allah, shalat ‘Alqamah, puasanya, sedekahnya dan lain-lain, semua itu tidak akan bermanfaat jika saja ibu tetap membencinya.” begitu nasehat Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah, aku bersaksi kepada Allah, kepada para malaikatNya kepada engkau dan kepada seluruh orang Islam yang hadir disini, sekarang aku telah memaafkan dan merelakan ‘Alqamah sebagai putraku satu-satunya itu.” sahut ibu ‘Alqamah dengan mengiba.
Setelah mendengar keterangan ini, segera saja Rasulullah Saw. mengutus Bilal untuk menjenguk ‘Alqamah, apakah dia sudah bisa mngucapkan syahadat atau masih tetap seperti semula, jangan-jangan ibu ‘Alqamah hanya bermanis-manis mulut karena malu ketika berada dihadapan Rasulullah. Maka berangkatlah Bilal menuju rumah ‘Alqamah yang kedua kali. Dan ketika sudah mendekati rumah ‘Alqamah, dari depan pintu telah terdengar dia mengucapkan beberapa kali la ilaha illal’Lah. Dilihatnya pula ketika itu telah banyak orang-orang yang menjenguk dan mengabarkan keadaan ‘Alqamah. Maka dalam kesempatan yang baik ini, Bilal segera menyampaikan sabda Rasulullah Saw. kepada mereka :
“ Wahai saudara-saudaraku, ketahuilah sesungguhnya kebencian ibu ‘Alqamah telah mengunci mulutnya untuk mengucapkan kalimat syahadat, sedangkan ridhanya bisa melepaskan mulutnya dari penghalang itu.”
Beberapa saat kemudian ‘Alqamah menghembuskan nafas yang terakhir, dimana Rasulullah Saw. pun ikut hadir merawat jenazahnya hingga dishalatkan dan dimakamkan. Setelah itu beliau berdiri disamping kubur seraya bersabda :
“ Wahai kaum Muhajirin dan Anshar !, barang siapa lebih mengutamakan isterinya dari pada ibunya sendiri maka dia akan mendapat laknat Allah dan para malaikat beserta seluruh manusia. Allah tidak akan menerima ibadah fardhu dan sunnahnya terkecuali jika dia telah bertaubat kepadaNya diiringi berbuat baik kepada ibu hingga dari hati sang ibu menetes ridha terhadapnya. Yang demikian itu karena tiada lain ridha Allah akan bergantung pada ridha seorang ibu, begitu pula marah Allah akan bergantung pula pada kemarahan seorang ibu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar