Minggu, 27 Desember 2009

Dzin Nun Dan Wanita Ahli Ibadah

Dzin Nun Dan Wanita Ahli Ibadah

Tersebutlah dinegeri Mesir seorang sufi, Dzin Nun namanya. Ia mempunyai seorang kemenakan wanita yang rajin beribadah pula. Pada suatu hari dia mencari-cari wanita tadi, namun kesana kemari telah dijelajahi tidak juga ditemukannya. Ditanyakan pula pada para tetangga, mereka juga tidak mengetahui rimbanya. Maka Dzin Nun mengambil jalan pintas, mohon petunjuk kepada Allah dengan bertekad melakukan puasa disiang hari dan shalat yang panjang dimalam hari. Pada akhirnya dia mendapat petunjuk
“ Anak yang kau cari itu berada dipadang Taih” kata suara tanpa rupa.
“ Akupun tersentak, subhanallah !, bagaimana peristiwa ini terjadi. Namun akupu segera berkemas-kemas mengumpulkan bekal dan air dalam geriba sekira cukup untuk menemouh perjalanan sepuluh hari. Siang dan malam aku menempuh perjalanan yang kurasa amat melelahkan dengan menanggung badanku yang renta. Pada akhirnya aku sampai juga dipadang Taih. Kemudian aku mencarinya kesana kemari sehingga tenagaku terkuras habis, namun belum juga dia kutemukan. Keputus asaan akhirnya menyelimutiku hingga aku putuskan untuk segera kembali saja keesokan harinya.
Malam pun tiba dengan suasana ngeri dipadang tandus yang tidak dapat aku lukiskan lagi, dan aku telah menyerah bulat-bulat kepada Allah untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan mendera diriku. Pada akhirnya mataku tidak dapat aku tahan lagi hingga aku pun tertidur lelap. Ketika itulah ada seorang yang melanggarku hingga aku bangun dengan terkejut. Ternyata dia kemenakanku yang selama ini aku cari. Dengan berdiri tegak dia tertawa seraya bertanya :
“ Wahai paman tambatan hati, apakah yang bergelayut pada punggung paman itu ?.”
“ Begini nak !, sesungguhnya seluruh perbelkalan ini hanya demi untuk mencarimu yang telah sebulan ini kau pergui dengan tanpa seorang pun yang kau pamiti, tidak pula ada yang mengerti kemana tujuanmu, sebenarnya apa yang menjadi maksud ananda yang demikian itu.” begitu tanya Dzin Nun.
“ Wahai paman, ketika aku berada dimihrabku, maka lubuk hatiku mengatakan :
“ Sebenarnya Tuhan langit, Tuhan daratan, Tuhan lautan Tuhan dalam kesunyian, Tuhan ditempat ramai itu merupakan eksistensi Yang Satu, Tuhan mereka itu Satu. Dikala itulah aku bermaksud untuk menyembah dan beribadah kepadaNya secara intensif sebulan ditempat yang sunyi dan sebulan ditempat yang ramai sampai aku melihat sendiri pengaruh kekuasaan dan kemuliaanNya. Maka aku pun menuju padang pasir Taih ini selama empah puluh hari, wahai paman. Dan aku telah melihat sendiri dengan mata kepalaku, terutama aku sekarang sudah tidak memerlukan lagi apapun dari orang lain, seluruh kebutuhanku telah dicukupi Tuhan.” begitu kata wanita itu.
Kemudian dia menuturkan seluruh pengalamannya dengan tersedu-sedu lantas terdiam mendadak. Dan disaat itulah aku merasa lapar yang begitu dahsyat, tenggorokanku begitu kering, sehingga kemenakanku itu mengetahui persis keaadanku. Dengan landai dia bertanya :
“Apakah paman merasa lapar ?.”
“ Sebenarnya paman ingin bertanya : “ Makanan apa yang selama ini telah menyambung hidupmu itu, wahai ananda. ?” sergah Dzin Nun.
Serjenak kemudian, pandangannya kulihat menerawang keatas seraya mengatakan :
“ Wahai Tuhan, sesungguhnya pamanku ini merasa lapar, dimnana dalam kondisi sedemikian ini dia ingin ledekatanbku disisiMu.”
Belumlah selesai do’a itu diucapkan, sekonyong-konyong di langit telah terlihat gumpalan awan putih. Dalam sekejap saja telah berjatuhan butiran-butiran semisal salju. Segera saja aku mengumpulkan dan memakan sampai puas. Dan ketika itulah aku mengatakan :
“ Wahai ananda, inilah manna yang telah disebutkan oleh Al-Qur’an pernah turun kepada Bani Israel, namun anehnya tidak diiringi dengan salwa, mengapa terjadi demikian wahai ananda ?.” sambungku.
Dengan segera kemenakanku itu menyergah :
“ Salwa itu turun setelah manna, wahai paman !.”
Tiada lama, salwa pun turun begitu banyak yang membuatku betul-betul ta’jub dan kegirangan.
Peristiwa inilah yang telah mengilhami diriku untuk lebih dekat lagi kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan kesungguhan hati semaksimal mungkin, akhirnya aku diperhitungkan termasuk mereka yang rajin beribadah kepadaNya.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ma’unahNya kepada kemenakanku itu dan kepada kita semuanya. Dan inilah akhir seseorang yang betul-betul berusaha untuk dekat dan bertawakal kepadaNya.
“ Barang siapa yang bertkwa kepada Allah, maka segala urusannya akan dipermudah olehNya.”
“ Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka akan diberi jalan keluar dan mendapatkan rizki dengan tanpa terduga.”
“ Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Dia yang mencukupi segalanya.”
Demikian Al-Qur’an telah mengatakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar