Kamis, 24 Desember 2009

Pala yang Menjadi Rebutan

Pala yang Menjadi Rebutan



Pala pernah disalahgunakan sebagai narkotik. Untung ada akibat sampingan yang tidak menyenangkan. Ia tidak jadi disalahgunakan, tapi tetap saja membius orang yang salah pakai.
Seorang pembaca Intisari dari Glenmore, ibu Sumandari, melayangkan surat ke Redaksi. Ia tidak begitu mengerti, mengapa pala manis yang pernah dirasakannya di Bogor itu disukai orang, padahal kudapan itu membuat orang mabuk, pusing dan telmi (telat mikir).
Seorang pembaca lain dari Forus, Norwegia, lbu Liza Osmundsen, juga tidak begitu mengerti mengapa hanya Kota Jakarta dan Bogor saja yang menjual manisan pala basah segar. Sedangkan di kota lain, manisan pala dijual kering, dibentuk seperti sukulen hijau, atau kipas merah jingga yang penuh ditaburi gula pasir.

v Supaya bangun
Membaca surat-surat itu teringat kembali anak belasan tahun yang menjajakan manisan pala di kereta listrik Jakarta - Bogor. "Prawan manis, prawan manis,” teriaknya dengan bahasa Indonesia yang salah.
Bapak-bapak yang duduk di depan saya bangun dari tidur lelapnya. "Ini 'kan pala, Jang! Kenapa bilang prawan manis?” tanya seorang bapak berlogat Sunda, tiba-tiba. Sejak tadi ia tidak tidur, tapi berdiri di gang gerbong. "Abis! Kalo cuman ditawarin pala manis, ngantuk jawab penjaja itu seraya berlalu, "Prawan manis! Prawan manis!" Anak itu akan berteriak kalau para penumpang ngantuk terus. Tapi ia akan


menyanjung pembeli sebagai juragan, kalau sudah mengeluarkan duit. Pala manis yang dijajakan itu memang mampu menggugah orang ngantuk. Rebusan daging buah dalam larutan gula itu mengandung minyak asiri myristicin. Asam-asam manis agak pedas dan sepet rasanya. Sungguh mengesankan. Kalau dikunyah, kehangatan yang timbul dalam rongga mulut membuat orang melek.
Karena manisan yang masih basah itu tidak tahan lama, ia terpaksa dijajakan di daerah yang dekat dengan rumah perajinnya saja. Bogor dan Jakarta. Dalam waktu sehari sudah harus terjual semua. Jadi tidak ada yang sempat busuk.
Agar dapat disimpan lebih lama, manisan itu ada yang dikeringkan dan ditaburi gula pasir. Lalu bisa dijajakan ke kota-kota besar lain yang lebih jauh, dalam stoples tertutup, di toko oleh-oleh.

v Eksperimen hippies
Sayang, kalau dimakan terlalu banyak, myristicin bersama elemicin (yang juga terkandung dalam daging buah manisan itu) membuat orang berhalusinasi. Mula-mula melamun seperti berkhayal, lalu mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Wuih, seram juga! Orang lain melihatnya sebagai orang mabuk saja, setengah ngantuk setengah melek. Konon, waktu. mengantuk seperti melihat sesuatu (yang tidak ada), tapi waktu melek tidak. Sifat membius ini pernah disalahgunakan oleh beberapa hippies yang melanda Amerika tahun 1950 - 1960. Kalau kebetulan sukar mencari narkotik LSD (Lysergic dietilamida), mereka memakai serbuk biji pala dalam minumannya, sebagai penggantinya. Ternyata myristicin dan elemicin dalam biji pala itu. diubah dalam tubuh menjadi senyawa yang struktur molekulnya mirip meskalina dan amfetamina. Kedua zat ini dapat membentuk struktur baru yang mirip LSD.
Akan tetapi karena bersifat karminatif (memaksa mengeluarkan gas angin dari "pintu belakang"), serbuk pala jadi pengacau. Mau fly kok perutnya bergolak. Akhirnya pala tidak dipakai lagi sebagai drug.

v So laku!
Mengapa manisan pala hanya dibuat di Jawa Barat? Riwayatnya dimulai dari jaman Belanda sesudah VOC (kompeni) bangkrut, dan monopoli pala dihapus. Setiap orang sejak itu boleh menanam pala, dan kebun pala yang dibangun kecil-kecilan oleh orang Betawi di Kebon Pala, dekat Kebon Kacong dan Kebon Melati di "bilangan" Tanah Abang. Kebun ini kemudian meluas ke Kampung Melayu dan Cililitan. Sampai sekarang Jakarta mempunyai tiga macam "Kebun Pala". Kebun-kebun ini akhirnya meluas ke daerah Bogor. Semula memang tidak diambil buahnya untuk manisan, tapi bijinya. Ini dijual sehagai penyedap masakan Arab, India atau Cina di kota "internasional" Betawi tempo "doeloe".



Tapi karena buah yang sudah diambil bijinya itu menghasilkan limbah daging buah yang melimpah, maka sayang kalau itu dibuang begitu saja. Limbah itu diolah menjadi sumber duit. Pala asin sebagai lauk bersama sambal. Pala golak sebagai kudapan, dan pala manis sebagai pencuci mulut. Perajinnya kebanyakan orang asnawi (asli Cina Betawi), tpi makin lama juga makin banyak penduduk asli dari Bogor yang ikut merajini buah pala.
Ternyata manisan pala dari buah yang belum pecah lebih enak daripada yang sudah meledak. Hasil olahan buah muda ini bisa laku keras. Mengapa harus menunggu memetik buah sampai tua?

v Dari pencuri sampai bui
Buah yang sudah tua memang meledak pada alur yang memanjang pada salah satu sisinya. Di celah yang terbentuk lalu tampak bijinya, yang mintip-mintip diliputi fuli merah karmosen. Fuli ini tidak lain hanya selaput tebal yang meliputi biji seperti jala. Kalau masih utuh dan besar dipakai langsung sebagai bumhu penyedap masakan (setelah dikeringkan), tapi kalau cacat atau remuk, disuling minyak fulinya di pabrik minyak fuli. Minyak yang pahit tapi tidak begitu pedas ini dipakai sebagai penyegar pasta gigi dan penyedap saus tembakau. Oleh pekebun pala, fuli ini disebut "kembang pala", karena merahnya seperti warna bunga. Padahal bunga pala yang sesungguhnya berwarna kuning. Bunga tulen ini mereka sebut bunga pala. Bukan kembang pala. Jadi tidak rancu.
Fuli ini meliputi biji yang berdinding keras, tapi kadang-kadang ada biji yang tidak berdinding sama sekali. Ia tidak disebut pala telanjang, tapi pala pencuri, karena hilangnya dinding "diduga" gara-gara dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pada dasarnya pohon pala itu berkelamin satu, sehingga (terpaksa) berumah dua. Pada sebatang pohon hanya ada satu jenis bunga saja. Bunga jantan saja. Atau bunga betina saja. Masing-masing hidup pisah ranjang dan pisah rumah. Pala lalu disebut berumah dua. Tapi kadang-kadang juga ada pohon berumah satu, yang di samping berbunga jantan banyak sekali juga dipondoki bunga betina sedikit. Buah yang terbentuk dari bunga betina yang mondok ini disebut pala bui.
Di kalangan peracik jamu, myristicin dalam biji pala dimanfaatkan sebagai obat pembius rasa sakit akibat kedinginan, seperti perut mulas don leher kejang. Juga otot pegal yang dikira sakit rematik. Biji pala yang dipakai ialah pala baros atau pala perempuan. Itu biji biasa yang bentuknya bulat telur bagus, diawet dengan kapur. Direbus bersama cengkih yang karminatif, dan gadung cina yang antiseptis, pala perempuan bisa menghangatkan tubuh dan memperlancar peredaran darah. Rasa sakit pegal-pegal linu jadi hilang. Tapi seluruh rebusan perlu diberi sepercik kemenyan, agar jamu godokan yang akan diminum itu lebih sedap.

v Satu laki-laki sepuluh perempuan
Kalau Anda ingin menanam pala juga, kapan-kapan, (tidak untuk dijual bijinya kepada tengkulak, tapi untuk punya-punyaan"), sebaiknya memilih pekarangan yang mudah meneruskan air, seperti bagian kebun yang letaknya paling tinggi, misalnya. Atau lereng lembah dan kaki gunung. Baik di dekat pantai serendah 10 m di atas permukaan laut, maupun lereng gunung setinggi 700 m dpl (dari permukaan laut) baik-baik saja, asal diguyur hujan sepanjang tahun, seperti misalnya daerah hujan sekitar Bogor, Purwokerto atau lainnya.



Sebagai bibit boleh dipakai bijinya yang masih segar, baru. saja dipetik dari buah yang sudah masak benar. Kalau biji ini disemaikan di atas bedengan pesemaian, dengan jarak tanam 60 x 60 cm, biasanya sudah berkecambah dalam tempo 1,5 bulan. Tapi biasanya juga baru pada umur 1,5 tahunlah, bibit itu cukup besar untuk dipindahtanamkan ke lubang penanaman yang tetap, di kebun, dengan jarak 8 m. Sayang, pala manja ini minta dilindungi pohon lain yang lebih besar, seperti kemiri misalnya, atau kenari. Sebab, mereka memang tidak tahan terhadap tiupan angin kencang, apalagi kalau ditanam di lereng gunung. Jadi sebenarnya kalau Anda sudah rnempunyai pohon kemiri yang mapan, sebaiknya juga menanam pohon pala di belakang kemiri ini. Baru pada umur 7 tahunlah, pohon pala mulai berbuah. Tapi karena pohon itu berumah dua, ya hanya polion betina saja yang bisa berbuah.
"Bagaimana kita tahu bahwa yang kita tonton itu pala perempuan yang cantik?" tanya seorang penyuluh perkebunan porno. "Itu gampang!" jawabnya sendiri, "kalau cabang-cabang paia itu mendatar, itulah tandanya pohon betina. Kalau cabangnya agak condong ke atas, itulah pohon jantan!"
Bagi perkebunan pala, pohon jantan boleh dikatakan tidak begitu berguna. Satu batang saja sudah cukup untuk membuahi 10 batang pohon betina. Jadi selebihnya ditebang saja untuk diganti dengan bibit baru. Mudah-mudahan jadi betina. Akan tetapi baru pada umur 6 tahun, pohon itu berbunga. Barulah pemiliknya tahu jenis kelamin apa yang dirawatnya.


v Bahan rebutan
Sudah sejak tahun 700 SM, pala dikenal orang Timur Tengah, karena dibawa oleh orang Cina yang mengambilnya dari Banda. Serbuk bijinya dipakai untuk menyedapkan masakan Timur Tengah seperti gulai dan sop buntut. Baru berabad-abad kemudian juga masakan Eropa, seperti semur, bistik, risolles, spekkoek, podeng roti. Bau masakan jadi harum, sehingga palanya disebut fragrans, ketika ada yang memberi nama Latin Myristica fragrans.
Ketika orang-orang Portugis tahu dari mana asal pala itu, mereka ingin mendapatkannya dari sumhernya langsung, tidak usah lewat pedagang Cina dan Arab lagi. Mereka menemukan hutan pala di Kepulauan Banda tahun 1511 yang bukan main luasnya. Akan tetapi sejak itu pula, penduduk Banda mulai tahu bahwa yang ingin membeli pala bukan orang Cina saja, tapi orang Portugis dan Belanda juga. Ketika mereka tidak mau menjual palanya kepada orang Belanda, karena merasa bebas mempunyai hak asasi berdagang dengan siapa saja, diserbulah penduduk kepulauan itu. Dari jumlah sekitar 15.000 jiwa, tinggal kira-kira 1.000 orang saja yang selamat mengatasi penumpasan etnik zaman itu.
Seluruh hutan dirampas untuk negara, dan kemudian dibagi-bagikan kepada para bekas sersan dan kopral .yang setia pada kompeni. Di kapling-kapling tanah bekas hutan ini mereka berkebun pala baru sebagai perkeniers (dari istilah perk, bagian kebun yang dibatasi), dan tidak boleh mengusahakan tanaman lain kecuali pala itu. Hasilnya harus disetor kepada kompeni dengan harga yang ditetapkan amat rendah, tapi tidak sampai membuat kopral (purn) pekebun itu tewas.
Sejak tahun 1870, monopoli perdagangan pala dicabut. Tidak hanya para perkeniers di Banda yang kemudian menanam pala, tapi juga orang Minahasa, Sangie-Talaud, Bangkahulu, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Di luar Indonesia, Inggris dan Prancis menanam pala di Kepulauan Karibia, tapi yang berkembang pesat sampai sekarang hanya kebun pala di Granada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar