Kamis, 24 Desember 2009

Paprika yang selalu Berulah

Paprika yang selalu Berulah


Paprika terus ngelunjak, harganya bergejolak dan merangkak naik.. Kerap kali perubahan harga terjadi hanya dalam hitungan hari. Paling lama, "Harga hanya bertahan sebulan;' kata Dedi Mulyadi, pekebun di Parongpong, Kotamadya Cimahi, Jawa Barat. Maman membudidayakan paprika di lahan 5.000m'. Di daerah berketinggian 1.100 m dpl itu ia membangun 5 greenhouse, masing-masing seluas 1.000 m-. Sebuah greenhouse diisi 4.000 tanaman sehingga total populasi 20.000 tanaman.
Untuk masa tanam November 2006 panen perdana pada Januari 2007. Pekebun yang menanam paprika sejak 6 tahun lampau itu memetik 200 kg dengan harga jual Rp15.000/kg. Panen berikutnya interval 2 hari selama 6 bulan masingmasing 500 kg, 300 kg, dan 400 kg, hingga total produksi mencapai 50 ton. Menurut ayah 3 anak itu harga jual tertinggi Rp25.000, selebihnya naik-turun di kisaran Rp 15.000-Rp5.000.


v Ekspor menurun
Gejolak harga itu terjadi tidak hanya di Bandung, tapi berlaku di sentra penanaman lain seperti Pasuruan, Jawa Timur, dan Bedugul, Bali. Mengapa terjadi gejolak harga? Menurut Yudha Hery, mantan pekebun paprikayang juga dosen di Magister
Manajemen Agribisnis IPB, fluktuasi harga terjadi karena perubahan pasar. Sebelum 2003, pasar ekspor paprika adalah Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Saat ini hanya Taiwan dan Hongkong, karena Singapura dipasok oleh Vietnam dan Thailand.
"Kuotanya pun tidak terlalu tinggi. Sebulan paling 29,5 ton; kata Wahyudin, manajer pemasaran PT East West Seed Indonesia. Pasar itu terbuka hanya jika ChPna sedang tidak panen. Jika di China sedang panen, pasar Taiwan dan Hongkong memilih produk dari China. "Harganya lebih murah," tambah Yudha.
Biasanya medio Juli-September, paprika China membanjiri pasar Taiwan dan Hongkong. Akibatnya, tidak ada kuota untuk paprika asal Indonesia. Akhirnya, barang yang harus diekspor pun lari ke pasar lokal. Paprika menumpuk, tapi permintaan
tetap, maka harga pun arijlok. September 2007, harga paprika di tingkat pekebun sedang anjlok, Rp5.000/kg.
Jumlah ekspor paprika Indonesia memang menurun. Bahkan pada 2003, ekspor ke Taiwan sempat terhenti total. Negeri Formosa itu mendakwa lalat buah Bactrocera carambolae membonceng paprika Indonesia. Padahal, serapan negeri di Asia Timur itu relatif besar. Data Balai Karantina menyebutkan volume ekspor pada 2001 mencapai 105.124 kg dan meningkat menjadi 190.055 kg setahun kemudian. Menurut Dedi Mulyadi, harga tinggi hingga Rp25.000 per kg pada Januari terjadi karena pasokan minim. Saat itu banyak greenhouse rusak akibat terjangan angin. Di Parongpong, misalnya, tercatat puluhan greenhouse roboh. Sementara permintaan pasar lokal meningkat sehubungan banyak pesta-pesta dan perayaan Natal, Imlek, serta Tahun Baru. Makanya pada bulan-bulan itu biasanya harga paprika menjulang.

Vincentius Yanatha Bagja, kepala pemasaran toserba Yogya di Bandung mengungkapkan hampir setiap tahun lonjakan permintaan terjadi, terutama pada awal tahun dan saat musim pernikahan. "Lonjakan permintaan paprika sampai 25%;' kata Vincent. Jika permintaan stabil, setiap hari toserba Yogya menyerap 100 kg paprika hijau, 75 kg (merah), dan 50 kg (kuning).
Walaupun terjadi lonjakan permintaan pada waktu-waktu tertentu, tapi para pekebun tidak mengantisipasinya sehingga volume pasokan relatif tetap. Akibatnya harga pun turut melambung. Pada saat-saat itu Vincent membeli paprika hijau Rp18.000/kg, kuning dan merah di atas Rp25.000 per kg.

Menurut Ir Edi Sugiyanto, manajer pemasaran PT Joro harga rendah terjadi juga karena ketidakdisiplinan pekebun. "Biasanya pekebun sudah menjalin mitra dengan distributor. Nah, ketika harga tinggi, pekebun menjual ke tempat lain. Saat produksi melimpah mereka kebingungan menjual, karena mitra menolak bekerja sama lagi;' kata Edi.
Yang juga menjadi penyebab banjirnya pasokan adalah waktu penanaman serempak. Masa panen berlangsung berbarengan sehingga produksi tidak terserap pasar. Mereka asal tanam, tanpa memperhitungkan kebutuhan pasar dan luas penanaman;' kata Yudha. Padahal, luasan penanaman bisa dengan mudah dideteksi melalui penjualan benih. Di Indonesia produsen benih paprika terbesar adalah PT Joro dan PT East West Seed Indonesia.
Menurut Sugiyanto, total penjualan benih paprika pada Mei- September 2006, sebanyak 150.000 biji. Penjualan benih menurun pada Januari-April 2007: 75.000-100.000 biji. Itulah sebabnya pada April sampai Oktober diperkirakan produksi paprika menurun.
Wahyudin, SP, manajer pemasaran PT East West Seed Indonesia, mengatakan penjualan benih paprika cukup stabil, "Sekitar 10.000-11.000 biji per bulan': Jika volume penjualan benih kedua produsen itu digabung, mencapai 326.000 biji per tahun setara 8 ha. Dengan produksi, 2,5 kg per batang, total volume panen kira-kira 815 ton. "Volume sebesar itu bisa diserap pasar. Cuma karena permintaan tidak ajek, maka gejolak harga sering terjadi;' kata Wahyudin.

v Masih untung
Fluktuasi harga tidak semata terjadi pada paprika merah. Warna lain seperti hijau dan kuning pun mengalami hal sama. Hanya saja paprika kuning dihargai le.:ih tinggi Rp1.000-Rp5.000 dibandingkan paprika merah. Itu karena pekebun malas menunggu 15-20 hari hingga kulit buah berubah dari hijau menjadi kuning. Sebab, risiko terserang hama penyakit menjadi lebih besar.

Perbedaan harga jual untuk berbagai warna paprika terjadi karena risiko pasar yang berbeda. Paprika kuning penjualannya lebih sulit ketimbang merah dan merah lebih sulit daripada hijau. Sehingga uruturutan harganya kuning lebih tinggi, diikuti merah dan hijau. "Dilihat dari besarnya biaya produksi sama saja;" kata Dedi. Saat ini biaya produksi paprika-apa pun warnanya-hanya Rp10.000 per tanaman. Biaya itu sudah mehputi tenaga kerja, pupuk, benih, dan pestisida, tapi belum termasuk biaya penyusutan greenhouse.
Menurut Dedi, untuk membuat greenhouse berukuran 450 m2 dibutuhkan biaya Rp18-juta. Satu rumahtanam bisa dipakai selama 3-5 tahun. "Biasanya setiap 3 tahun sekali saya merenovasi greenhouse;' kata Maman. Bila ditambah dengan renovasi rumahtanam, maka biaya produksi meningkat menjadi Rp14.000/tanaman atau Rp5.000-Rp7.000/kg. Oleh karena itu ketika harga Rp12.000/kg, laba bersih yang diraup pekebun mencapai Rp10.000 per tanaman atau Rp400-juta dari luasan 1 ha selama 6 bulan.
Sayangnya, fluktuasi harga terlalu tajam, hingga menyentuh angka Rp5.000/ kg, sehingga banyak pekebun gulung tikar. Terbukti menurut Dinas Pertanian Kabupaten Bandung total luas lahan paprika di Kecamatan Parongpong, Cisarua, dan Lembang berkurang, dari 40 ha sekarang tinggal 27 hektar. Itu semua bisa diatasi dengan pengaturan musim tanam.
Pekebun juga mengembangkan paprika beragam warna seperti putih, hitam, cokelat, dan ungu. Selama ini di pasaran hanya terdapat 3 warna paprika seperti lampu lalulintas: hijau, merah, dan kuning. "Jika paprika beragam warna, semakin menarik untuk disantap;' ujar Ichsan. Dengan hadirnya paprika warna lain, ahli kuliner lebih leluasa memilih si buah lonceng itu.

Deden Wahyu pekebun di Bandung, Jawa Barat, tengah membudidayakan sayuran buah anggota famili Solanaceae itu. Deden mengebunkan masing-masing 500 tanaman paprika cokelat, hitam, putih, dan ungu. Bagaimana tanggapan pasar? Permintaan memang mulai berdatangan meski relatif kecil, 20 kg per pekan. Harga jual pada September 2007 mencapai Rp15.000/kg terdiri atas 4 buah. Varietas terbaru itu keluaran produsen benih Enza Zaden dan PT East West Seed Indonesia. Berikut 5 varietas paprika paling anyar sehingga meramaikan pasar Capsicum annum var grossum.

v Bianca
Inilah nama paprikaputih susukeluaran Enza Zaden. Bianca merupakan hibrida paprika pertama yang berwarna putih susu. Varietas baru itu dipanen perdana setelah berumur 3 bulan. Awal panen buah berwarna putih susu. Setelah 15 hari warna buah berubah menjadi jingga. "Seperti warna pepaya," kata Deden. Bentuk tanaman tegak dengan daun-daun kompak. Bianca tahan terhadap Tobaco Mosaic Virus. Bentuk buah blocky dengan diameter 85 mm dan tahan simpan 1-2 minggu. Bianca bisa ditanam di greenhouse atau di tempat terbuka dengan produktivitas mencapai 2,5 kg per tanaman.
v Brownie
Sesuai dengan namanya, paprika ini berwarna cokelat. Ia termasuk varietas terbaru yang dikeluarkan oleh Enza Zaden. Ukuran buah relatif besar, berdiameter 85 mm, warna cokelat terang. "Belum pasti apakah ia akan berubah menjadi merah apabila sudah tua," kata Deden. Varietas ini tidak terlalu tegak, karena itu mutlak diperlukan penyangga. Bisa ditanam dalam greenhouse, tapi tidak dianjurkan ditanam di tempat terbuka. Sejauh ini belum diketahui tingkat ketahanannya terhadap Tobaco Mosaic Virus. Produktivitas tanaman mencapai 2 kg.
v Jaguar
Varietas lain diintroduksi oleh East West Seed Indonesia, warnanya hijau muda. Ukuran buah 80-85 mm. Tanaman sangat tegak, sehingga tidakperlu disangga dengan turus atau ajir. Varietas ini harus ditanam dalam greenhouse walau diketahui sangat resisten terhadap Tobaco Mosaic Virus. Ia dapat dipanen setelah 3 bulan. Keunggulan lainnya walaupun umur menua, warnanya tidak akan berubah: tetap hijau muda.

v Mavras
Buah mavras berwarna hitam. Warna buahnya memang hitam pekat dengan diameter 80-85 mm. Meskipun demikian, bila dibiarkan di batang selama 15 hari, warna buah berubah menjadi merah. Buah dapat dipanen setelah 3 bulan pascatanam. Sosok tanaman tidak terlalu tegar. Penanaman dianjurkan dalam greenhouse. Ia tidak dianjurkan ditanam di tanah atau di tempat terbuka. Mavras varietas yang tahan terhadap Tobaco Mosaic Virus (Tm). Produktivitas mencapai 2 kg/tanaman.
Tequila
Buah lonceng ini berwarna ungu cerah. Diameter buah relatif kecil, hanya 80 mm. Sosok tanaman rimbun, tapi tidak terlalu tegak. Tequila panen perdana setelah berumur 3 bulan. Bila umur panen ditambah 15 hari, warna buah berubah menjadi merah. la adaftif ditanam dalam greenhouse maupun di tempat terbuka dengan media tanah. Hanya saja, penanaman dalam tanah sebaiknya dicampur dengan bokashi. Jika tidak, buah rentan terserangbusukkarena kelebihan air. Keunggulan lain, ia juga resisten terhadap Tobaco Mosaic Virus. Produktivitasnya cukup tinggi, 2,5 kg per tanaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar