Kamis, 24 Desember 2009

Menikmati Keindahan Anggrek

Menikmati Keindahan Anggrek


Anggrek diwartakan sebagai “parasit yang indah" Oleh Charles Darwin, sampai timbul desas-desus bahwa tanaman itu mengisap darah. Sas-sus ini kemudian berkembang menjadi isyu, bahwa anggrek ada yang makan daging.
Orang yang pertama kali menemukan dan menyiarkan anggrek ke “Seluruh dunia" ialah Theophrastes dari Yunani kuno. Jenis yang ditemukannya kebetulan membentuk umbi dalam tanah, yang anehnya selalu berpasangan. Bentuknya nauzubillah, seperti sepasang testis kepunyaan Dewa Apollo, (salah satu dewa yang suka memberi pengarahan di Kuil Delphi). Jenis itu lalu disiarkan sebagai Orchis. Istilah Yunani ini tidak lain berarti "buah anu" itu.
Kelak, semua jenis Orchis-orchisan juga disebut orchids (oleh orang Inggris, yang bahasanya banyak menyerap kata Yunani), sampai suku bunga itu kemudian disebut Orchidaceae. Oleh dokter Dioscorides yang meneliti umbi Orchis itu ditarik kesimpulan, bahwa karena bentuknva seperti itulah, ia berpengasuh besar terhadap seksualitas orang. Kesimpulan irzi diku.tip turun-temurun selama berabad-abad kemudian, sampai para herbalist (ahli tanaman obat) abad ke-18 memasukkannya dengan rapi ke dalam daftar tanaman berkhasiat. Cocok dengan ajaran signatuur. Ajaran ini percaya sekali bahwa bagian tanaman yang mirip dengan bagian tubuh orang, "pasti" mempengaruhi bagian tubuh orang itu juga. Maka, umbi anggrek Orchis itu pun dilahap orang abad ke-15 untuk menambah gairah seks. Sayang, isinya ternyata hanya zat pati, seperti tepung kanji. Kalau direbus terkenal sebagai salep.

v Harganya Menggila
Jenis lain yang juga legendaris ialah Paphlopedilum fairieanum, yang dipamerkan di Royal Horticultural Society London pada tahun 1857. Karena yang memamerkannya Nyonya Fairie dari Liverpool, jenis itu kemudian diberi nama fairieanum. Bertahun-tahun para pemburu anggrek tak berhasil menemukan jenis aslinya yang tumbuh di alam bebas, sampai mereka menganggapnya sebagai the Lost Orchid penuh misteri. Walaupun para orchidiolog menyediakan hadiah 1.000 pon bagi yang berhasil memasukkannya ke Inggris lagi. Namun baru pada tahun 1904 jenis itu ditemukan kembali di pegunungan Bhutan, sebelah timur laut India. Seribu pon untuk sekuntum bunga.

Dari abad ke abad, harga anggrek memang ada yang gi_ la, karena pencarinya di hutan tropik Asia - Afrika, Amerika Selatan atau kepulauan Pasifik, sering diajak bercanda dengan maut. Selain bahaya diterkam macan atau dibelit ular yang menguasai hutan anggrek, juga ada rintangan dari penduduk setempat yang tidak rela anggreknya diborong habis. Rintangan lain berasal dari pesaing sesama pemburu, yang menyabot anggrek pesaingnya.
Menjelang tahun 2000 sekarang ini, jenis yang masih gila bukannya anggrek alam, tapi hibrida baru yang ngetop popnya. Harga $ 25.000, atau kira-kiira Rp. 28 juta, bagi sebatang hibrida anggrek, sudah bukan kejutan lagi.
Mengapa bisa begitu, tidak lain karena tanaman itu mernang cantik dan menawan. Namun, lebih dari itu ia jarang atau langka. Sewaktu sebatang amggrek masih jarang dan tidak setiap orang bisa memperolehnya, harganya mencengangkan mahalnya. Akan tetapi sesudah Georges Morel (yang sebetulnya ahli kimia Prancis) menemukan cara pembiakan dengan kultur jaringan, maka anggrek yang semula mahal jadi murah. Dengan memotong menstem (jaringan sel) titik tumbuh dari tunas anggrek dan menumbuhkannya dengan zat makanan biakan dalam "tabung", ia dapat membiakkan anggrek tak terbatas banyaknya: Setiap kali, hasil biakannya berupa klona (duplikat tanaman induk) selalu persis sama dengan anggrek induknya. Karena dihasilkan dengan meristem culture, tanaman biakan ini lalu disebut merielone. Anggrek hibrida Cattleya warna sunset (gambar 2) misalnya. Ketika baru saja diciptakan sebagai hasil silangan biasa, ia harus dibeli $ 25.000 sebatang di Miami. Begitu ia gampang diperoleh karena dibiakkan masal melalui kultur jaringan, kontan harganya anjlok. Mericlone-nya kini bisa dibeli semurah $ 24,50 saja.

v Licik
Pembiakan anggrek di alam bebas masih berjalan dengan cara konvensional: penyerbukan tepung sari jantan ke kepala putik betina. Namun uniknya, dengan penyerbukan satu kali saja sudah bisa dihasil.kan ratusan ribu benih calon bibit. Itu semua gara-gara serangga yang dipaksa menjadi makelar perkawinan.

Seekor tawon kumbang yang sebenarnya bertugas mengumpulkan nektar untuk kerajaannya, pada suatu saat terpikat mendekati bunga anggrek Catasetum, misalnya. Ia dibuat gampang mendarat di atas makota bunga yang sudah berubah bentuk menjadi bibir memble. Begitu ia mendarat, segera disodori corong yang menghidangkan nektar. Di langit-langit corong ada pollinium (paket tepung sari), yang menggantung seperti papan nama bar saja. Kumbang itu boleh minum-minum seperti pengunjung pub yang duduk di bawah papan nama "Open sky Bar. Bee people only." Namun, ketika ia mau mundur ke luar sehabis menjilati nektar, sungutnya harus menyentuh picu yang membuat "papan nama" tadi lepas seperti ditembakkan. Ia berontak karena punggungnya diiekati paket. Namun, apa mau dikata! Ia terbang sambil dipaksa menggotong bingkisan. Kalau kemudian ada bunga anggrek sejenis sedang menanti di lintas penerbangannya, kumbang itu akan jajan lagi di alas bibir memble, di teras Open sky Bar. Ia tidak ingat pengalaman buruk sebelumnya. Sementara ia minurn-minum, pollinium di punggungnya akan lepas dan melekat pada putik bunga baru itu, yang sudah siap menerima bingkisan tepung sari. Diam-diam di atas punggung Mr. Bumble Bee sudah dipasang lagi "papan nama" baru: Open sky Bar. Bee people only.

Anggrek Coryanthes speciosa bukannya memaksa titip bingkisan, tapi menganiaya. Kumbang yang terpikat mendekati tempat nektar dibuat tergelincir, karena bibir tempatnya mendarat licin.. Kumbang yang baik hati itu jatuh ke taju (bagian dari bibir yang sudah berubah bentuk menjadi kantung becek), dan diam koplo-koplo tidak mengerti duduknya perkara. Sesudah sadar bahwa ia terjebak, barulah ia merangkak menuju ke alam kemerdekaan melalui semacam tunnel of love satu-satunya. Pada saat ia mau keluar itulah, punggungnya ditempeli pollinium dengan paksa.
Anggrek yang lebih tidak senonoh juga ada. Jenis Ophrys insectivora, misalnya, memikat kumbang dengan bentuk bunga yang mirip sekali dengan kumbang betina, lengkap dengan tubuh berbulu dan mata tiruan yang menantang. Baunya juga merangsang seperti kumbang betina yang siap diajak kencan. Melihat bunga itu, kumbang jantan yang sejati akan segera mengawininya, tetapi tidak puas karena tertipu, lalu mundur. Namun, sementara itu ia sudah ditempeli bingkisan berisi tepung sari. Kalau sekejap kemudian ia mencium bau merangsang lagi dari anggrek yang serupa tapi tak sama, ia pun mengawininya lagi. Mundur juga, karena tertipu, tetapi ia sudah diperalat menyampaikan tepung sari.

Anda juga bisa membantu Keranjingan berburu anggrek sudah berjalan sejak tahun 1818, ketika William Cattley sebagai importir tanaman secara kebetulan berhasil menumbuhkan anggrek baru dari umbi yang tak sengaja ikut dipak dalam kemasan anggrek impornya. Bunga itu mekar dengan warna lavender dengan bercak-bercak merah merona dan bibir yang indah sekali mempesona para pemborong. Jenis yang kemudian diberi nama Cattleya labiata autumnalis itu menggelitik pa.ra importir lain untuk mengirim anak buahnya berburu anggrek alam yang seindah itu. Berapa pun biayanya!
Maka, dalam abad itu juga hutan-hutan perawan di Amerika Selatan, Afrika, Indonesia dan ASEAN dijelajahi untuk dicuri permata belantaranya. Sesudah dihitung ternyata, untuk mengumpulkan 4.000 batang anggrek harus ditebang 10.000 batang pohon hutan tempat tumbuhnya, sebagai korban. Namun, ketika ada seseorang yang risau kalau-kalau kekayaan alam itu punah; ia malah ditertawakan. Soalnya, dibanding dengan pemusnahan yang dilakukan oleh para penebang kayu yang membangun jalan untuk mengangkut hasil tebangannya, perburuan anggrek abad yang lalu itu belum apa-apa. Dalam abad ke-20 ini, begitu ada jalan dibangun di tengah hutan, ratusan ribu batang pohon sepanjang kiri-kanan jalan itu tumbang dan jutaan anggrek ikut musnah, karena tak punya tempat hidup lagi. Menurut perhitungan Smithsonian Institution Museum of Natural History di Washington DC, setiap talmn ada 200 milyar batang anggarek alam yang musnah, gara-gara pembukaan hutan semacam itu di seluruh dunia. Belum sampai para botanisi mengetahui, mendaftar dan memberi nama Latin, anggreknya sudah punah. Tentu saja, ada pihak tertentu yang sadar lingkungan, yang berjuang mencegah perdagangan liar anggrek alam itu. Antara lain melalui Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (nama yang bertele-tele ini boleh disingkat sebagai CITES). Di antara sekian banyak kesepakatan bersama itu ada satu yang penting, yaitu: mengajak masyarakat di negara masing-masing, agar hanya mau membeli anggrek hasil biakan budidaya saja, dan tidak sudi membeli anggrek hasil curian, selundupan dan titipan dari hutan lingkungan alami anggrek. Anda juga bisa membantu CITES.




v Sedang makan siang
Akan tetapi marilah kita kembali ke Inggris lagi. Anggrek yang dikumpulkan Charles Darwin (embahnya teori evolusi) di hutan belantara Brasil dilaporkan tumbuh menempel pada batang pohon sebagai "parasit yang indah". Seperti kebanyakan ilmuwan abad ke-19, Darwin juga mengira bahwa anggrek yang menempel erat dengan akar-akarnya pada batang pohon inangnya itu juga mengisap sari makanan dari pohon dengan akar penempelnya. Maka, di kalangan masyarakat ilmiah pada zaman Charles Darwin itu timbul salah tafsir. Anggrek epiphyt dari Brasil dibayangkan sebagai tanaman pengisap darah yang dingin. Isyu ini kemudian berkembang menjadi takhayul modern, sampai embahnya fiksi sains, H.G. Wells, menulis cerpen pada tahun 1895: The flowering of the strange Orchid. Tokoh cerpennya hampir saja pulang ke padang perburuan anggrek yang abadi, karena diringkus oleh akar-akar panjang anggrek raksasa di rumah kaca, dan diisap darahnya pelan-pelan sebelum ditolong.
Sampai puluhan tahun kemudian anggrek lalu dianggap sebagai tanaman cantik pengisap darah. Namun, pada tahun 1930, ketika di London ada Chelsea Flower Show, anggrek sudah naik pangkat. Seorang penjaga pameran didekati oleh seorang istri pembesar bossy. "Mana itu anggrek yang makan daging? Saya mau lihat!" Penjaga stand pameran agak terkejut, tetapi ia ingat cerpen H.G. Wells, lalu dengan cepat menjawab, "Wah, Bu, maaf saja. Anggreknya sedang makan siang!"
Lelucon yang sama legendarisnya ini dapat kita baca dalam tulisan Ogden Tanner: The flowers that afflict us with a sort of madness, dalam Smithsonian November 1985.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar