Selasa, 29 Desember 2009

Penyerobot Rumput Makanan Kuda

Penyerobot Rumput Makanan Kuda

Disaat Al-Mahdi memegang tampuk kerajaan Abbasiyah, pada suatu hari Baginda berkehendak untuk menunaikan ibadah haji. Maka berangkatlah Baginda dari Baghdad menuju kota kelahiran Nabi Ismail itu beserta kafilah yang mengiringinya.
Setelah sampai di Makkah, Baginda menghendaki untuk bermukim di sana sampai beberapa lama. Dan pada suatu senja Baginda pun melaksanakan thawaf. Saat yang demikian itu dipilihnya, karena pada biasanya kepadatan para jamaah haji agak berkurang. Namun para pengawal segera bergerak cepat untuk mengosongkan Masjidil Haram dari para thaaifin, hamba Allah yang mau melaksanakan thawaf, demi keamanan diri Baginda. Sikap yang demikian ini dinilai berlebihan oleh Abdullah bin Marzuqi, seorang ulama yang berada di situ pula. Maka datanglah saat-saat yang dinantikan, Baginda beserta rombongannya melakaukan thawaf dengan tanpa ada seorang pun yang berani melakukan thawaf bersama mereka. Segera saja Abdullah bin Marzuqi meloncat menuju Baginda, kemudian memegang baju luar Baginda dan menggoncang-goncangkan begitu rupa seraya menghadik :
“Wahai Baginda, sadarilah olehmu, mengapa Baginda memposisikan diri seakan lebih berhak mengangkangi Baitullah dibanding mereka yang datang dari negeri-negeri yang lebih jauh dari pada negeri baginda sendiri. Sehingga ketika Baginda mendapatkan kesenmpatan, segera saja Baginda bertindak menghalangi mereka untuk beribadah di sekitarnya.. Padahal Allah telah mengatakan :

Alladzi ja’alnaahu lin naasi sawa-an al-‘aakifu fiihi wal baad.
Masjidil Haram itu yang Kami jadikan dalam jarak sama bagi para manusia, baik yang bermukim di situ maupun yang di padang pasir (Al-Hajj :25 ).

“Dengan demikian, “lanjut Ibnu Marzuqi”, Baginda telah berseberangan dengan kehendak Allah.”
Sejenak kemudian, Baginda pun memperhatikan si pemberani itu. Ternyata ia adalah seorang bekas budak yang menjadi pelayan kerajaan Abbasiyah, sehingga Baginda masih mengenalinya.
“Adakah kau Abdullah bin Marzuqi ?.” tanya Baginda dengan menahan geram.
“Betul, benar sekali wahai Baginda.” jawab Ibnu Marzuqi singkat.
Ibnu Marzuqi pun segera ditangkap oleh para pengawal. Dan setelah prosesi ibadah Haji selesai, ia ikut dibawa ke Baghdad untuk diadili. Namun tampaknya Baginda sangat riskan jika harus menerapkan hukuman terhadap orang yang tamnpak tidak punya kesalahan. Apalagi Ibnu Marzuqi jelas memperingatkan Baginda secara proporsional. Hukuman semacam ini jika saja didengar khalayak jelas akan menjatuhkan citra Baginda sendiri. Salah-salah malah mendapat tuduhan ‘tidak becus mengenai urusan agama’.
Untuk menyiasati semua itu, Baginda segera memasukkan Ibnu Marzuqi dalam sebuah kandang kuda binal, sering menggigit dan menyepak siapa saja yang berdekatan dengannya. Tidak cukup satu kuda di dalam kandang itu, malah dimasukkan kuda-kuda liar yang sering ngompol agar Ibnu Marzuqi lumat menjadi bantalan injakan telapak besi itu dengan bau pesing. Hal ini dimaksudkan agar Baginda tidak secara vulgar dituduh menghukum Ibnu Marzuqi. Sehingga jika ada yang bertanya mengenai keberadaan Ibnu Marzuqi, akan mudah dijawab, ‘ia sedang melatih dan merawat kuda di kandang’. Tiga hari Ibnu Marzuqi bersama kuda-kuda itu tanpa diberi makan, sehingga terpaksa ikut memakan pucuk-pucuk rumput bersama kipat itu, ya kaki empat.
Ternyata usaha Baginda itu sia-sia belaka, dimana kuda-kuda binal tersebut menjadi jinak dan takluk dihadapannya(mungkin saja dianggap sebagai kawannya, terbukti juga makan rumput !).
Setelah usaha yang pertama gagal, Baginda segera menahan Ibnu Marzuqi ke dalam sebuah rumah dengan pintu dikunci yang diyakini tidak akan bisa keluar. Namun setelah tiga hari berlangsung, Baginda melihat Ibnu Marzuqi memunguti sayuran taman yang berada di samping istana. Segera saja Baginda menghardik :
“Siapa yang mengeluarkanmu ?”
“Dia Yang telah menahanku, wahai Baginda !”. jawab Ibnu Marzuqi singkat.
Mengetahui ketegaran Ibnu Marzuqi ini, berang Baginda memuncak, sehingga digertaknya dengan suara parau :
“Tampaknya kau tak takut jika kepalamu menggelinding.”
Menanggapi ucapan Baginda ini, Ibnu Marzuqi malah tersenyum menjengkelkan seraya mengatakan :
“Adakah Baginda yang menguasai kehidupan dan kematian !”.
Mendapat jawaban ini, Baginda tidak mampu lagi menahan amarahnya, sehingga langsung beranjak pergi dan menyuruh para pengawal untuk menjebloskannya dalam penjara. Hukuman ini diterima Ibnu Marzuqi sampai Baginda wafat pada tahun, 169 H. atau 785 M. Ketika itulah ia baru dilepaskan dan kembali lagi ke Makkah. Namun sebelum dilepaskan ia telah bernazar, jika saja dirinya terlepas dari ulah Al-Mahdi itu, ia akan menyembelih seratus onta sebagai ungkapan rasa syukur atas kenikmatan Allah yang dberikan padanya.
Terbukti setelah itu ia bekerja keras dan hasilnya dibelikan onta yang dimaksud, kemudian ia berhasil menunaikan nazarnya itu.
Selamat menuai kemenangan, wahai figur degil dalam pandangan manusia, namun sangat heroik di hadapan Allah ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar