Selasa, 29 Desember 2009

Saat Harun Rasyid Dilantik Menjadi Raja

Saat Harun Rasyid Dilantik
Menjadi Raja




Tatkala Baginda Harun Rasyid bin Al-Mahdi dilantik menjadi Khalifah Abbaiyah , tahun 170 H. atau 786 M. untuk menggantikan saudaranya yang bernama Musa Al-Hadi yang telah wafat. Dalam kesempatan itu banyak sekali para ulama yang bertandang ke istana mengelu-elukan dan memberi ucapan selamat kepada Baginda. Pada kesempatan itu pula kekayaan Baitul Maal dikucurkan untuk perhelatan akbar tersebut, tidak lupa para ulama juga ikut mencicipi kucuran duplikat lailatul qadar itu, sehingga secara politis mereka segera terpaut hatinya untuk mendukung kebijaksanaan kerajaan. Memanglah Baginda sebelum itu sangat dekat dengan kalangan ulama dan ahli zuhud Kehidupan Baginda sendiri tampak sederhana dan gemar berbaur dengan kehidupan orang-orang miskin.
Saat itu sahabat karib Baginda yang senantiasa berdampingan dengannya ketika masih belum dilantik, yaitu Syeikh Sufyan bin Sa’id bin Mundzir Ats-Tsauri yang terkenal dengan Syeikh Sufyan Tsauri. Sebetulnya ketika perhelan itu berlangsung, mata Baginda telah menjelajahi deretan kursi yang dikhususukan untuk para ulama, namun lama dicarinya, ternyata Ats-Tsauri belum tampak pada jajaran itu. Dan ternyata sampai perhelatan itu selesai, Ats-Tysauri tidak pernah hadir. Hal inilah yang menyebabkan Baginda begitu gusar. Pada hari-hari selanjutnya bayangan wajah Ats-Tsauri selalu hadir di benak Baginda sehingga sering menjadi tanda tanya, apa penyebab beliau tak sudi menghadiri perhelatan yang membawa keharuman namanya. Lama berpikir, akhirnya Baginda bertekad untuk berkirim surat kepada Ats-Tsauri, kemudian Baginda pun menulis :

Bismillahir Rahmanir Rahim.
Dari hamba Allah, Harun Ar-Rasyid selaku Amiril Mukminin.
Kepada saudaranya yang bernama Sufyan bin Sa’id bin Mundzir.
Amma ba’du :

Wahai saudaraku, engkau telah mengerti bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menjadikan orang-orang mukmin itu sebagai satu saudara. Dia telah menjadikan persaudaraan itu sebagai amal kebajikan yang akan di beri pahala oleh-Nya jika saja dilakukan dengan penuh keikhlasan. Mengertilah saudaraku, bahwa aku telah menjadikanmu sebagai saudara yang tidak akan pernah aku putuskan selamanya. Kecintaanku pun tiada akan lekang dengan sebab apa pun. Hatiku betul-betul menyimpan kerinduan dan kemauan baik kepadamu. Seumpama aku tidak memegang kendali kerajaan yang telah dibebankan ke pundakku, aku rela bertandang kepadamu kendati tanpa memakai terompah. Semuanya itu tiada lain karena kecintaanku terhadapmu yang tiada habis-habisnya. Mengertilah wahai Abu Abdillah (Sufyan) bahwea seluruh jajaran ulama yang dulu menjadi sahabatku dan sahabatmu telah hadir di tempatku. Mereka mengungkapkan perasaan bahagia atas terlantiknya diriku. Aku pun tidak lupa untuk mengucurkan berbagai hadiah yang cukup memuaskan mereka, sehingga hatiku pun ikut berbahagia mendulang kebersamaan yang menjadikan sebuah hubungan semakin erat. Betapa selama ini dirimu juga telah aku nanti-natikan, namun ternyata kau belum hadir pula. Terpaksa sekarang ini aku berkirim surat kepadamu, demi rasa rinduku yang tak tertanggungkan lagi untuk bertemu denganmu. Engkau sendiri, wahai Abu Abdillah, telah mengerti mengenai keutamaan menyambung tali persahabatan dan pahala berziarah antar mereka. Dengan demikian jika surat ini telah datang kepadamu, aku harap engkau segera datang, ya segeralah…!.

Ketika surat itu telah selesai dituliskan, Baginda pun menebarkan pandangan pada orang-orang yang hadir di sekitarnya. Setelah itu Baginda menunjukkan alamat surat itu dan menyebut nama Sufyan, ternyata para hadirin telah mengenal seluruhnya, siapa Sufyan dan bagaimana kepribadiannya. Kemudian Baginda segera memanggil seorang pengawal yang bernama Ubbad Ath-Thaliqani seraya mengatakan :
“Ambillah suratku itu, dan segeralah berangkat ke Kufah. Dan setelah kau sampai di sana, tanyakanlah mengenai suatu kabilah yang bernama Bani Tsaur. Disana bertanyalah mengenai tempat Sufyan Ats-Tsauri, dan berikan suratku itu kepadanya. Pesanku, jika kau telah menghadap padanya, perhatikan tutur katanya dan resapi dengan hatimu. Kemudian seluruh pesan-pesannya, baik mengenai masalah besar atau kecil harus kau catat untuk kau sampaikan padaku.” begitu kata Baginda.
Ubbad pun segera berangkat menuju Kufah dan menanyakan tempat Ats-Tsauri. Kebetulan saja ketika itu Ats-Tsauri berada di sebuah masjid.
“Aku pun segera menuju masjid’ “kata Ubbad” ,dimana setelah Ats-Tsauri melihatku, segera saja ia berdiri tegak seraya mengatakan :
“A’uudzu billahis Sami’il ‘Aliim minasy syathanir rajiim, wa a’uudzu bika allahumma min thaariqin yathruqu illa bi khairin”.

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari syetan yang terkutuk. Dan aku berlindung pula pada-Mu dari segala apa pun yang datang terkecuali jika membawa kebaikan.

“Kalimat ini, “kata Ubbad selanjutnya” , betul-betuil menghunjam dalam relung hatiku sehingga dadaku terasa sesak dibuatnya. Serasa menanggung beban yang cukup berat, aku segera terduduk di dekat pintu masjid, sedangkan Ats-Tsauri langsung mengahadap kiblat untuk menunaikan shalat, padahal ketika itu bukan saat-saat melakukan shalat. Pada kesempatan itu aku segera menambatkan kuda tungganganku di dekat pintu masjid itu juga. Kemudian aku segera memasuki masjid. Aku lihat para murid-muridnya tampak duduk menekurkan dagu tanpa bergerak bagaikan para pencuri ketakutan yang tertangkap dan sedang diintrograsi. Aku pun segera mengucapkan salam pada mereka, namun tidak seorang pun mendongakkan kepala, dan salamku hanya dijawab memakai bahasa isyarat dengan mengacungkan telunjuk. Dan tidak ada seorang pun yang mempersilahkan aku untuk duduk Dengan demikian aku dibiarkan berdiri saja, sedangkan hatiku betul-betul menyimpan perasaan takut. Sejenak kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka :
“Adakah orang yang melakukan shalat itu Syeikh Sufyan Ats-Tsauri ?”.
Setelah mendapat jawaban seorang dari mereka, segera saja surat itu aku berikan kepada beliau. Namun tubuhnya langsung menggigil dan segera menjauh dari surat itu, seakan berdekatan dengan ular ganas yang sedang tersesat di mihrab beliau. Lantas beliau melakukan shalat lagi, kemudian setelah salam, tangannya dimasukkan ke kantung bajunya untuk mengambil sebuah sapu tangan yang dipakai untuk membebat tangannya. Kemudian baru mengambil surat itu dengan tangan yang terbebat kain dan dibolak-balik sedemikian rupa.Tiba-tiba saja surat itu dilemparkan pada murid yang ada di sampingnya seraya mengatakan kepada murid itu :
“Hendaklah kau ambil dan kau baca surat itu, aku tak akan mau menjamah barang yang telah dipegang orang zalim.”
Kemudian surat itu pun di buka oleh seorang murid tadi dengan rona wajah ketakutan, seakan membuka sarang ular, lantas membacanya. Ketika itulah Ats-Tsauri tampak tersenyum masam, senyum penuh keheranan. Dan setelah selesai dibacakan, beliau mengatakan lagi :
“Tulislah surat jawaban pada si zalim itu di belakang kertas surat itu pula”
Seseorang lantas memberi saran : “Wahai Abu Abdillah (Ats-Tsauri) kiranya akan lebih layak jika jawaban itu ditulis pada lembaran kertas bersih yang lain, sebab yang kita hadapi adalah seorang khalifah.
“Tulislah jawaban pada si zalim itu di balik surat itu, sehingga jika saja surat itu dihasilkan dari uang yang halal, ia akan mendapat balasan pahala. Dan jika dihasilkan dari uang haram, surat itu akan menjadi penyebab masuk neraka. Disamping itu secuil pun tidak akan ada barang si zalim yang tertinggal pada kita, sehingga menjadi penyebab kita binasa.” begitu Ats-Tsauri menukas dengan tegas.
“Wahai guru, apa yang kami tuliskan untuk menjawab surat ini”, tanya murid itu lagi.
“Tulislah, “kata Ats-Tsauri” :
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Dari seorang hamba yang penuh dosa, Sufyan bin Sa’id bin Mundzir Ats-Tsauri, kepada seorang hamba yang tertipu dengan angan-angannya, Harun Ar-Rasyid, selaku orang yang telah kehilangan manisnya memeluk iman. Amma ba’du.
Telah aku tulis balasan suratmu untuk memberi tahu kepadamu bahwa sekarang aku betul-betul telah memutus tali persahabatan denganmu serta menjauhi tempatmu itu. Dengan suratmu itu, berarti kau telah menjadikan aku sebagai saksi atas ulahmu dalam menjarah harta kekayaan ummat Islam yang berada di Baitul Mal, kemudian kau berikan pada mereka yang tidak berhak menerimanya. Namun tampaknya kau belum puas juga, dimana ulahmu itu masih kau teruskan dengan mengajak saya dengan jalan membuat surat kepadaku. Ketahuilah, ulahmu itu nanti akan aku persaksikan di muka Allah beserta sahabat-sahabatku yang telah membaca suratmu. Wahai Harun Ar-Rasyid, kau telah menjarah harta Baitul Mal milik sekalian orang Islam dengan tanpa persetujuan mereka. Adakah orang-orang mu’allaf, para ‘amil zakat di persada ini, mereka yang berjihad di jalan Allah akan rela jika melihat perbuatanmu itu. Adakah para janda, anak-anak yatim, ahli ilmu dan penghafal Al-Qur’an akan mendiamkan begitu saja ketika melihat penjarahan itu. Adakah rakyatmu merelakan perbuatanmu itu. Kalau demikian, hendaknya bersiap-siaplah kau untuk membuat jawaban mengenai pertanyaan Allah yang bakal diajukan kepadamu nanti di akherat Persiapkan pula dirimu untuk menerima bencana kekal. Ketahuilah, bahwa dirimu kelak akan berhadapan dengan Sang Hakim Yang sangat Adil. Padahal sudah merupakan suatu kerugian dan bencana hebat ketika dirimu sekarang sudah kehilangan kenikmatan ilmu dan zuhud, disamping tidak akan bisa merasakan nikmatnya Al-Qur’an dan duduk bersama orang-orang pilihan Allah. Malah kau menggiring dirimu untuk berbuat zalim dan menjadi pemimpin orang-orang zalim pula. Wahai Harun Rasyid, ironis jika kau sekarang duduk di singgasana dengan mengenakan pakaian sutera di balik tirai indah. Dengan demikian kau telah menyerupai Allah seru sekalian alam. Kemudian kau tempatkan pula para pengawalmu yang zalim-zalim itu untuk menjaga pintu-pintu kerajaan sehingga mendapat kesempatan untuk berbuat zalim kepada rakyat. Anehnya para pegawaimu itu sering menyebat orang-orang yang menenggak khamar, sedangkan mereka sendiri begitu leluasa menenggaknya. Mereka juga menyebat orang yang berzina, namun mereka sendiri gemar berbuat zina. Pegawaimu itu juga memotong tangan rakyat yang kedapatan sedang mencuri, namun mereka sendiri merupakan kawanan rampok ganas. Mengapa hukum-hukum seperti itu tidak kau terapkan pada dirimu sendiri dan para pegaimu sebelum kau sosialisasikan pada rakyat. Bagaimana sikapmu nanti di akherat, ketika terdengar suara yang memanggil :
Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta kawan-kawan mereka.(QS 37 : 22)
Kemudian kau maju di hadapan Allah dikelilingi orang-orang zalim dengan kedua belah tangan yang terbelenggu di leher. Padahal hukuman itu tidak akan bisa terlepas terkecuali dengan keadilanmu ketika di dunia. Namun kau sendiri rupanya yang akan menjadi pemimpin mereka memasuki neraka. Aku sudah membayangkan bahwa diriku pasti bertemu denganmu nanti di akherat dalam kedaan seperti itu, malah kau akan menjumpai berbagai tempat yang sangat sulit sehingga bernapas pun sukar. Kau juga akan melihat berbagai amal kebajikanmu telah beralih pada timbangan kebajikan milik orang lain, sedangkan perbuatan jelek orang lain akan kau dapatkan berada di timbangan amal jahatmu sebagai tambahan mengenai kejahatan yang telah kau perbuat. Sungguh keburukan itu akan bertumpuk-tumpuk. Sebelum semuanya kau alami, hendaklah kau camklan pesanku ini, perhatikan nasehatku ini. Ketahuilah, aku telah memberi nasehat kepadamu sehingga tidak ada lagi kalimat lain yang perlu aku sampaikan. Bertakwalah kepada Allah dalam mengurus kepentingan rakyat, perhatikan pula pesan yang telah disampaikan Muhammad Rasulullah mengenai urusan ummat, berlakulah jujur dan benar dalam memegang tampuk kekhalifahan. Mengertilah wahai Harun Ar-Rasyid bahwa jabatan khalifah itu jika saja bisa kekal ketika dipegang orang lain, maka jelas tidak akan pernah sampai kepadamu. Jabatan yang kau pegang itu pula selanjutnya akan beralih pada orang lain sesuai dengan hukum dunia yang selalu bergilir dari orang ke seorang.
Dalam menghadapi akherat itu, sebagian orang ada yang mengumpulkan bekal yang kelak akan bermanfaat di sana, namun banyak pula mereka yang hidupnya bangkrut di dunia dan di akherat, dimana aku meyakinkan dirimu sebagai orang yang akan bangkrut kedua-duanya.. Pesanku, jangan lagi kau menulis surat kepadaku, jangan kau lakukan itu. Jika kau memaksakan diri, aku tidak akan sudi menjawabnya. Wassalam.

Setelah selesai menuliskan, “kata Ubbad Ath-Thaliqani” , surat itu langsung dilemparkan kepadaku dalam keadan terbuka dan tanpa tanda tangan atau pun stempel. Aku pun mengambilnya kemudian pergi ke arah pasar Kufah. Betapa nasehat itu telah aku resapi dan aku terima sepenuhnya. Di sana aku berteriak :
“Wahai penduduk Kufah, siapa yang mau menolongku. Selama ini aku telah lari menjauh dari Allah, dimana sekarang aku berkehendak untuk segera bertaubat.”
Ketika mendengar teriakanku itu, masyarakat pun berkumpul mengelu-elukan taubatku hingga diantara mereka ada yang menaruh iba dan kasihan padaku. Banyak pula yang memberikan uang untuk bekal peribadahanku. Namun segera aku katakan :
“Aku sama sekali tidak membutuhkan uang, hanya membutuhkan pakaian lusuh sebagai ganti pakaian kebesaran yang aku kenakan.”
Dan setelah aku mendapatkan pakaian yang aku maksudkan, segera saja aku lepaskan pakaian kerajaan itu, kemudian berangkat untuk menyampaikan surat kepada Baginda dengan berjalan kaki, sedangkan kuda tunggangan yang masih lengkap dengan bekal dan persenjataannya hanya aku hela dari depan sampai di istana. Ketika para pengawal melihatku dengan pakaian aneh dan tanpa alas kaki, banyak diantara mereka yang tertawa cekikikan. Kemudian aku dipersilahkan masuk menemui Khalifah. Pada saat Khalifah melihatku dengan pakaian demikian itu, Baginda tampak langsung berdiri, kemudian duduk dan berdiri lagi dengan tegak seraya menampar pipi dan kepalanya sendiri, malah berteriak meratapi dirinya.
“Betapa yang disuruh, “kata Baginda” ,telah mendapatkan manfaat lebih dahulu, sedangkan yang menyuruh malah melalaikan semuanya. Kalau sudah begini, untuk apa kemegahan dunia dan kerajaan, semuanya akan segera lenyap dari tanganku.”
Langsung saja surat itu, “kata Ubbad” ‘ aku berikan pada Baginda dalam keadaan terbuka sebagaimana ketika diberikan oleh murid Ats-Tsauri kepadaku. Dan Baginda segera membaca disertai cucuran air mata yang tiada henti-hentinya. Bacaannnya kadang dengan suara keras bercampur teriakan. Mengetahui nasib Baginda ini, seorang pengawal mengatakan :
“Wahai Amiril Mukminin, betapa beraninya Sufyan Tsauri menginjak-injak martabat Baginda. Akan lebih baik jika Baginda segera mengutusku untuk membuat perhitungan. Akan aku pasang bandul besi di kakinya dalam penjara yang sempit agar menjadi peringatan bagi orang lain semisal dirinya.”
“Tinggalkan aku sendirian disini, wahai penyembah dunia, tertipulah mereka yang termakan tipuan kalian. Sufyan merupakan orang yang hidup sebatang kara, tidak memiliki prajurit yang perlu kita perangi. Biarkanlah dia berpegang pada kebajikannya itu”. begitu sahut Baginda.
Setelah peristiwa itu, “kata Ubbad lagi” ,surat Ats-Tsauri selalu berada di sisi Baginda dan dibacanya setiap kali selesai menjalankan shalat maktubah sampai Baginda wafat di tahun, 193 H. atau 808 M.
Semoga amal-amal kebajikannya diterima Allah dengan mendapatkan balasan yang setimpal ◙



Bahlul Majnun

Pada suatu hari Baginda Harun Ar-Rasyid pergi ke Baitullah untuk melaksanakan Haji. Dan ketika rombongan baginda melintasi daerah Kufah, Baginda segera menitahkan agar mereka memasang khemah untuk beristirahat barang beberapa hari dan menikmati keindahan alamnya. Setelah puas dan kepenatan perjalanan yang melelahkan itu berangsur hilang, maka rombongan pun segera diberangkatkan kembali menempuh perjalanan yang lebih panjang. Mengetahui kehadiran orang nomor satu di kerajaan tersebut, masyarakat Kufah berbondong-bondong menyaksikan dan menghormati pimpinannya. Mereka berderet di sepanjang jalan mengelu-elukan kehadiran Baginda dengan berbagai sambutan khas orang Arab.
Namun yang mengherankan, ada seorang yang juga diiringi banyak manusia yang berusia kanak-kanak. Mereka seakan menandingi iring-iringan Baginda, kendati tidak sebanyak rombongan yang dipimpin Baginda. Ternyata anak-anak tersebut membuntuti orang gila dengan berbagai lemparan kerikil dan apa pun yang dijumpai untuk meledek pimpinan mereka. Orang tersebut bernama Bahlul, si gila, sehingga terkenal dengan Bahlul Majnun. Orang gila yang satu ini sangat terkenal di daerah Kufah tersebut, sehingga telinga Baginda juga mengenal nama itu. Kebetulan sekali rombongan Baginda bertemu dengan rombongan Bahlul di suatu persimpangan jalan. Segera saja Bahlul berteriak memanggil Amiril Mukminin. Ternyata Baginda menyambut panggilan itu dengan ramah seraya menyingkapkan tutup wajahnya.
“Labbaikan, aku sambout panggilanmu wahai Bahlul.”
“Wahai Amiril Mukminin, aku telah mendengar sebuah hadits Aiman bin Nail dari Qudamah bin Abdillah Al-Amiri, ia mengatakan :
“Aku melihat Rasulullah Saw. pulang dari melakukan wuquf di Arafah dengan menunggang onta kelabu, ketika itu beliau tidak pernah menyingkirkan manusia untuk mendapat jalan, tidak juga mengatakan ‘minggir, minggir …!’
“Wahai Amiril Mukminin, “kata Bahlul lebih lanjut” , bepergianmu dengan sikap yang ramah dan merendahkan diri adalah lebih baik dari pada dengan sikap congkak dan sombong.”
Mendengar ucapan Bahlul ini, kehalusan perasaan hati Baginda tersentuh, sehingga tidak terasa air matanya bercucuran. Kesempatan hening tersebut malah diperguunakan Baginda untuk mendulang kenikmatan ruhani yang lebih dalam lagi, hingga baginda mengatakan :
“Tambahkanlah nasehatmu itu, wahai Bahlul !”.
“Aku sanggupi permintaan Baginda.” kata Bahlul lebih lanjut.
“Jika saja seseorang itu diberi kekayaan yang cukup dan memiliki wajah yang tampan, kemudian ia sedekahkan hartanya itu, disamping menjaga ketampanannya agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan, sikap yang demikian itu akan ditulis Allah sebagai orang-orang yang penuh kebajikan (abrar) dalam buku catatan amal yang ada di sisi-Nya.”
“Betapa bagus nasehatmu itu, wahai Bahlul.”
Kemudian Baginda memerintahkan agar pengawalnya memberikan santunan pada Bahlul tersebut. Namun seketika itu pula Bahlul segera mengatakan :
“Kembalikanlah harta ini pada orang yang memilikinya, aku tuidak membutuhkan uluran tanganmu, wahai Baginda.” begitu Bahlul menolak dengan sopan.
“Kalau begitu jika kau mempunyai tanggungan hutang yang belum terbayarkan, akan aku lunasi tanggunganmu itu.” tawar Baginda kepada Bahlul.
“Wahai Amiril Mukminin, para ulama telah mengatakan bahwa melunasi hutang dengan hutang (hanya dengan kata-kata dan janji sebelum ditunaikan) itu menurut mereka tidak sah, tidak pula diperbolehkan.” sahut Bahlul kembali.
“Kalau begitu akan aku beri gaji setiap bulan untuk menopang kehidupanmu agar lebih layak.” sambung Baginda kembali.
Seketika itu Bahlul mendongakkan kepala menerawang ke langit, kemudian mengatakan :
“Wahai Amiril Mukminin, engkau dan aku merupakan keluarga Allah. Dengan demikian akan mustahil jika Dia selalu teringat kepada Baginda, sedangkan saya dilupakan-Nya begitu saja.
Mendengar kalimat yang semakin tidak kondusif ini, segera saja Baginda menutupkan tirai sekeduk yang bertengger di atas ontanya, kemudian meneruskan perjalanannya.
Selamat tinggal wahai orang gila, namun tampak waras. Dari pada orang waras namun tergila-gila dan gila beneran ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar