Minggu, 27 Desember 2009

Shaleh Muri dan Seorang Wanita India.

Shaleh Muri dan Seorang Wanita India.

Dikota Bashrah dahulu kala hidup seorang lelaki sederhana namun sangat rajin beribadah, Shaleh Muri namanya. Disaat menjelang fajar - seperti biasanya – dia pergi ke masjid untuk menunaikan shalat shubuh dengan berjamaah. Namun ketika dipagi hari jum’at dimana merupakan hari yang paling istimewa untuk memperbanyak ibadah dan mengurangi aktivitas keseharian, dia pergi kesebuah pemakaman umum. Disitu dia membaca do’a sekedarnya dan beristirahat merebahkan diri dibawah atap sebuah bangunan dipemakaman itu. Udara pagi itu begitu segar dirasakannya, angin pun meniup bunga-bunga kamboja dan puring yang berwarna warni, padahal semalaman dia begitu suntuk melakukan berbagai amal sebagai bekal kepergiannya diakherat nanti, belum begitu lama dia sudah terserang kantuk yang tidak bisa ditahan lagi. Sejenak kemudian, dalam tidurnya itu dia melihat seluruh penghuni kubur keluar dari kuburnya. Dengan sigap mereka segera duduk bersama membuat halaqah-halaqah seraya berbincang-bincang mengenai urusan mereka sendiri-sendiri. Namun dilihatnya terdapat seorang pemuda yang duduk menyendiri dan termenung dengan pakaian dekil. Sesaat kemudian datanglah kepada mereka orang-orang yang membawa nampan yang dipenuhi dengan berbagai kudapan dan buah-buahan. Dilihat seluruh penghuni kubur satu persatu mengambil kudapan itu sampai habis kemudian memasuki kuburnya masing-masing, namun si pemuda tadi tidak bergeming dari tempat duduknya. Diketahui pula tidak ada orang yang membawakan kudapan padanya. Setelah beberapa saat, dia pun beranjak akan memasuki kuburnya dengan raut muka yang begitu sedih. Segera saja Shaleh Muri bertanya padanya :
“ Wahai hamba Allah, mengapa anda begitu sedih, sedangkan kondisi anda juga tidak seperti kawan-kawan yang lain, apa yang terjadi pada diri anda ?.” tanya Shaleh dalam mimpi itu.
“ Wahai Shaleh, adakah anda tadi melihat beberapa nampan yang didatangkan ketempat ini ?.” tanya pemuda balik.
“ Ya, betul aku telah melihatnya.” jawab Shaleh.
“ Apakah semua itu ?.” sambung Shaleh lagi.
“ Semua itu merupakan hadiah dan kiriman dari keluarga mereka yang masih hidup untuk saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia, baik itu berupa sedekah atau pun do’a. Biasanya pada hari jum’at, kiriman-kiriman itu akan banyak berdatangan. Namun aku sendiri berasal dari India, dimana pada suatu kesempatan, ibuku yang sudah janda itu mengajakku untuk menunaikan ibadah haji. Malang menimpaku, dimana setelah kami telah sampai di daerah Bashrah ini ternyata ajal menjemputku. Setelah itu ibuku mendapatkan suami dan menikmati kehidupan barunya itu dengan kekayaan yang cukup melimpah, sayangnya dia sekarang melupakanku. Dengan demikian tidak seorang pun yang mengingatku lagi, apalagi saya belum kawin hingga tidak ada anak yang mewarisiku. Sudah sewajarnya bila aku sekarang dalam keadaan susah.” pemuda itu menuturkan kisahnya dengan tersedu-sedu.
“ Dimana rumah ibumu sekarang ?.” tanya Shaleh Muri.
Dengan segera pemuda itu menjelaskan alamatnya dan mengatakan agar Shaleh menyampaikan salam untuknya.
Setelah hari agak begitu siang, Shaleh pun terbangun dengan hati bimbang. Adakah mimpi itu mengandung kebenaran. Sebuah mimpi yang terjadi setelah shalat shubuh, jangan-jangan hanya sebagai bunga tidur atau malah dari bisikan syetan. Namun akhirnya Shaleh memutuskan untuk mencari alamat si ibu tadi, siapa tahu barangkali ada benarnya. Dengan cermat, Shaleh menelusuri jalan-jalan kota Bashrah, dan ternyata memang alamat itu ada. Kemudian Shaleh memasuki gerbang sebuah rumah yang begitu asri seraya minta izin pada seorang tukang kebun untuk bertamu pada si empunya. Setelah dia diizinkan masuk, Shaleh segera memperkenalkan diri dan berbincang-bincang seperlunya dengan seorang ibu dimana menurut perasaan Shaleh, dialah yang dicari dan ditunjukkan oleh pemuda dalam mimpi itu, dan kebetulan sekali rumah itu dalam keadaan sepi, tidak dijumpai seseorang kecuali hanya ibu itu. Sejenak kemudian Shaleh berbisik :
“ Aku mau bertanya kepada ibu, namun jangan sampai seorang pun mendengar percakapan ini.” pinta Shaleh agak was-was.
Ibu itu lalu membetulkan tempat duduknya dan lebih mendekat ke Shaleh hingga hanya dihalangi sehelai tabir kain.
“ Adakah ibu mempunyai seorang anak yang telah meninggal.” tanya Shaleh.
Dengan menghela napas panjang, dia mengatakan “ tidak” namun Shaleh melihat ada yang tidak beres dalam ucapan itu hingga dipertegas dengan pertanyaan kedua :
“ Adakah ibu pernah melahirkan seorang anak laki-laki ?.” desak Shaleh.
Tiba-tiba saja air matanya membasahi pipi hingga tangisnya tidak tertahankan lagi.
“ Sesungguhnya saya mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah siap berumah tangga, namun beberapa bulan yang lalu dia meninggal dunia ketika aku ajak pergi menunaikan ibadah haji. Apa hubungannya dengan bapak, sampai menyempatkan diri menemui saya ?.” tanya ibu itu pula.
Dengan sejelas-jelasnya Shaleh menceritakan apa yang dialami dalam mimpi dan menerangkan pula keadaan anaknya yang tampak hidup sengsara itu. Demi mendengar kisah ini, sang ibu menangis panjang hingga Shaleh mengkhawatirkan ada orang lain yang akan melihatnya. Diakhir tangisnya itu dia mengatakan :
“ Itu putraku wahai pak Shaleh, buah hatiku sendiri dan pangkuanku ini menjadi tempat ungsiannya.” begitu ratapnya seakan tak berkesudahan.
Kemudian dia bangkit dari tempat duduk dan pergi sebentar lantas kembali di dekat Shaleh lagi dengan membawa sebuah bungkusan seraya mengatakan :
“ Tolonglah pak, uang seribu dirham ini disedekahkan pada fakir miskin untuk putraku satu-satunya yang menjadi tempat gantungan hatiku dan aku berjanji untuk tidak melupakannya lagi baik dengan sedekah ataupun do’a selama hayat ini masih dikandung badan.” sambung ibu itu pula.
Setelah cukup, Shaleh langsung mohon diri dan langsung menyedekahkan uang pemberian itu sampai habis keseluruhannya.
Pada hari jum’at berikutnya, maka Shaleh kembali lagi kepemakaman itu. Setelah melakukan berbagai amal sunnah dan do’a seperlunya, dengan begitu mudah dia dibelai kantuk hingga tertidur lagi disitu. Dimana dalam tidur itu dia melihat para penghuni kubur keluar dari liang lahat mereka dan diantara mereka itu terlihat pula seorang pemuda yang dia temukan dalam mimpi pertamanya, dia berpakaian putih-putih dan tampak begitu ceria sebagaimana kawan-kawan yang lain. Segera saja dia mendekati Shaleh seraya mengatakan :
“ Wahai pak Shaleh Mury, semoga Allah membalasmu dengan kebahagiaan dunia dan akherat, seluruh hadiah itu telah sampai padaku. Betapa aku berterima kasih sekali kepadamu.” ucap pemuda itu seraya menjabat tangan Shaleh.
Kemudian Shaleh bertanya pada para penghuni kubur itu :
“ Adakah kalian mengenal kedatangan hari jum’at ?.”
“ Ya, kami mengenal hari mulia itu bahkan seluruh burung yang terbang di udara saling mengatakan :
“ Selamat menyongsong hari jum’at, hari yang penuh dengan rahmat.”
Itulah ucapan mereka diakhir perjumpaannya dengan Shaleh Muri, semoga kita bisa mengambil hikmahnya hingga hidup kita berbahagia dunia dan akherat.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar