Minggu, 27 Desember 2009

Juraij dan Ibunya

Juraij dan Ibunya.


Juraij merupakan figur begitu rajin beribadah dari kalangan kaum Bani Israel. Bila malam tiba dia segera memasuki mihrab menghadap Tuhan dengan khusyu’nya dan akan selalu berpuasa ketika disiang hari. Demi agar ibadahnya itu tertata lebih baik maka dia membuat tempat ibadah sederhana disamping rumah.
Ia masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua bangka namun tampaknya tidak begitu diperhatikan oleh Juraij. Apalagi kalau sudah didalam mihrab, maka tidak seorang pun yang akan berani mengusiknya.
Namun pada suatu hari ibunya memerlukan bantuan sekali terhadap tenaga seorang lelaki untuk memberesi pekerjaan rumah. Dengan tertatih-tatih terpaksa dia memanggil si Juraij putra satu-satunya.
“ Wahai Juraij, keluarlah kau sebentar, aku memerlukan bantuanmu.” begitu panggilan sang ibu.
Namun Juraij tetap asyik mengerjakan shalat sunnah hingga panggilan ibu itu tidak diperhatikan lagi. Sekali lagi sang ibu memanggil, namun hati Juraij agaknya malah merasa jengkel.
Sebenarnya ibu Juraij itu cukup sabar. Maka ditinggalkannya si Juraij itu kendati pekerjaannya masih terbengkelai.
“ Besok saja kalau Juraij ada kesempatan akan kusuruh untuk membenahi pekerjaan itu sebentar.” gumam ibu Juraij seraya melangkahkan kaki kembali memasuki rumah.
Esoknya ketika diperkirakan Juraij telah ada kesempatan, sang ibu itu pun mendatangi tempat ibadahnya seraya memanggil :
“ Juraij, tolonglah ibu sebentar untuk membenahi pekerjaan rumah.”
Kali ini Juraij mau menjawab :
“ Wahai ibu, shalatku belum sempurna.”
Sebuah jawaban yang begitu singkat dan Juraij langsung mengerjakan shalat lagi hingga sang ibu tampak kecewa.
Dua hari sudah pekerjaan itu belum terjamah tangan, padahal makan dan biaya hidup Juraij masih menumpang pada ibunya. Dan pada hari ketiga ibunya sudah merasa jengkel, namun betul-betul masih memerlukan tenaga anaknya itu. Maka dengan mengintip dari pintu tempat ibadahnya, ibu itu memanggilnya kembali, namun lagi-lagi dibiarkan saja oleh si Juraij. Demi melihat sikap Juraij seperti ini, dengan hati teriris ibunya berdo’a :
“ Ya Allah, jangan matikan dulu dia sebelum terkena kasus dengan perempuan nakal.”
Do’a seorang ibu adalah mustajabah, apalagi dalam keadaan marah.
Diperkampungan Juraij itu ada segerombolan anak muda Bani Israel yang setiap sore senang berkumpul dipinggir jalan memperbincangkan apapun yang menarik perhatian mereka. Namun sering pula berbuat usil terhadap wanita baik-baik, apalagi pada wanita nakal.
“ Wahai kawan-kawan, dikampung ini ada seorang pemuda yang begitu getol beribadah, tampan pula.” seseorang dari kerumunan itu berucap untuk membuka pembicaraan.
“ Itu kan hanya sebagai kedok, mungkin saja kalau ada wanita yang mendekatinya, dia akan lebih rakus dari pada kita.” seloroh yang lain.
Ketika itulah ada seorang wanita nakal yang melintas. Betapa mereka seakan mendapat jalan untuk menggoncang posisi Juraij agar terjadi skandal.
“ Heh non !, mengapa dirimu kau jual murah.” celoteh seorang pemuda.
“ Kau yang ngawur, diri ini aku jual mahal, aku yang menentukan tarip. Kalau murah itu lelaki yang mendekatiku yang menentukan taripnya.” jawab wanita itu sewot.
:” Alaah, paling-paling yang doyan padamu itu hanya lelaki jelek.” tepis pemuda yang lain.
“ Oh, kalian ngeledek aku ya, silahkan siapa yang kalian kehendaki untuk aku datangi, kalau dia tidak bertekuk lutut dibawah pantatku, jangan kalian sebut lagi namaku.” begitu dia menantang.
“ Cobalah nona goda si Juraij itu, kalau kena memang nona jempolan.” sahut pemuda jambul.
“ Ya, akan kulaksanakan katamu itu.” jawab wanita itu dengan ketus.
Wanita nakal itu segera pulang kemudian berdandan begitu cantik dan menyemprotkan parfum termahal kemudian berangkat ketempat ibadah Juraij untuk mendongkel keimanannya. Dengan berani dia memasuki tempat ibadah Juraij itu seraya memasang senyum paling menawan, tubuhnya diperlihatkan sedemikian rupa dan mengajak Juraij untuk berbuat tidak senonoh dengan tidak usah membayar apa pun. Ternyata Juraij berpaling, imannya begitu kokoh, wanita itu malah dinasehati agar selalu bertakwa, badannya agar selekasnya ditutupi agar tidak menjadi santapan nyamuk anopeles jenis lelaki. Begitu malu wanita uitu diperlakukan sedemikian rupa oleh Juraij, padahal nafsunya sudah sampai keubun-ubun, maka segera saja dia beranjak pergi dan langsung mendatangi seorang pemuda yang menggodanya tadi dimana kesehariannya dia berprofesi sebagai penggembala kawanan domba. Begitu wanita itu mengajak berbuat mesum, ternyata dia tidak menolak sedikit pun, malah segera saja menyelinap dibalik rerimbunan tempat ular mengeram. Perbuatan ini tidak sekali, namun sampai beberapa kali hingga perempuan nakal itu berbadan dua. Masyarakat pun gempar dimana terdapat wanita yang hamil dan beberapa bulan kemudian dia pun melahirkan dengan tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab, padahal mereka begitu kental dengan nilai-nilai agama. Maka datanglah seorang tokoh untuk bertanya pada wanita itu siapa ayah si jabang bayi yang akan lahir. Betapa tersentak, ternyata dia mengatakan “ Juraij ” Kali ini masyarakat lebih gempar lagi, karena seorang Juraij yang tampak tekun beribadah dan besikap santun itu ternyata crocodile - seekor buaya darat. Segera saja masyarakat mengadakan musyawarah, akhirnya terjadi mufakat untuk mendemo Juraij. Kampung itu betul-betul menjadi panas, dimana pada akhirnya mereka berhasil menyeret Juraij keluar dari tempat ibadah dengan dipukuli sampai babak belur. Tempat ibadahnya dengan serta merta diratakan dengan tanah.
“ Ini bukan tempat ibadah, namun tempat mesum.” kata mereka ramai-ramai.
Namun nyali Juraij ternyata belum ciut. Dengan berkacak pinggang dia mengatakan :
“ Kalian ngawur, mengapa kalian main hakim sendiri.” gertak Juraij.
“ Kau, kau telah berzina dengan si brengsek itu hingga dia hamil dan melahirkan.” tuduh mereka pula.
“ Sekarang mana bayinya.” pinta Juraij.
Mereka pun mendatangkan wanita itu dengan bayinya, namun Juraij mengatakan :
“ Tunggu sebentar, aku akan melakukan shalat dulu.”
Begitu selesai dia langsung mendatangi wanita yang membawa bonus itu lalu mencubit pusar orok yang digendongnya seraya mengatakan :
“ Wahai jabang bayi, siapa bapakmu ?.”
Tiba-tiba dengan seizin Allah, bayi itu mengatakan :
“ Bapak saya si pemuda penggembala kawanan domba, tuan.”
Tertegun masyarakat mendengarkan jawaban bayi merah ini, mereka menyesali perbuatannya, menuduh sembarangan dengan tanpa bukti, merobohkan tempat ibadah., mencemarkan nama seseorang, pada akhirnya mereka meminta maaf pada Juraij dan mengelu-elukan hingga banyak pula yang menciumi dan merangkulnya dengan haru.
Setelah masyarakat menyadari kesalahannya, maka utusan mereka meminta izin padanya untuk membangun kembali tempat ibadahnya itu dari bahan emas murni, namun apa jawab Juraij :
“ Kembalikan saja seperti semula dan bangunlah dari tanah saja.” Itulah kesahajaan Juraij.
Setelah berganti bulan, bayi haram yang telah merehabilitasi nama Juraij itu pada suatu hari dibawa ibunya menjelajahi keramaian kota dimana ketika itu bertemu dengan seorang lelaki yang menunggang kuda dengan pakaian perlente. Melihat ketampanan lelaki itu, si ibu segera tertarik seraya mengatakan :
“ Ya Allah, jadikanlah anak saya seperti dia.”
Namun bayi yang masih menetek itu segera saja berpaling dari lelaki tadi kemudian berkata :
“ Ya Allah, janganlah hamba Engkau jadikan seperti dia.” kemudian kembali menetek lagi.
Perjalanan pun diteruskan lagi hingga menjumpai seorang wanita yang dipukuli banyak orang dengan tuduhan mencuri dan berzina. Melihat peristiwa ini segera saja si ibu mengatakan :
“ Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku ini bernasib seperti dia.”
Namun betapa terkejutnya, bayi itu berpaling dari tetek ibunya seraya mengatakan :
“ Ya Allah, jadikanlah hamba sebagaimana dia.”
Kali ini ibunya merasa jengkel, kemudian ditatapnya bayi itu dalam-dalam seraya ditanya : “ Hai anak merah, kenapa ketika ibumu berkemauan agar kau hidup bahagia seperti lelaki perlente tadi namun kau malah menolaknya. Sedangkan ketika aku berdo’a agar kau tidak bernasib sial sebagaimana wanita yang dipukuli ini, kau malah menginginkannya ?.” begitu hardik si ibu.
“ Wahai ibu, lelaki tadi merupakan orang sombong, berlaku congkak dan takabur, aku tidak suka hidup seperti itu dimana Allah akan selalu memurkainya. Sedangkan wanita yang dituduh berzina dan mencuri ini adalah orang yang bersih dari segala kemaksiatan, aku ingin hidup seperti itu, ibu. Tiada lain agar selalu mendapat ridha Allah dan hidup berbahagia , tenteram dunia dan akherat.
Demikian kurang lebih saduran penuturan Rasulullah Saw. kepada Abu Hurairah Ra. dalam hadits Muttafaq Alaih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar