Kamis, 24 Desember 2009

Si Biang Kerok Kerusakan Moral

Sudah sejak 6000 tahun yang lalu tanaman Papaver Orientale diusahakan orang. Itu terbukti dari peninggalan batu orang Asirian dan Ninive, Babylonia (irak sekarang). Berabad-abad lamanya getah yang disadap buahnya merupakan satu-satunya analgesik yang efektif bagi penduduk Turki dan negara-negara Timur Tengah. Orang Tibet dan Cina Himalaya pun memanfaatkan getah serupa, tapi dari P. alpinum. Selain meredam rasa nyeri, getah itu juga mampu menutup luka dan memperbaiki kerusakan pembuluh-pembuluh darah karena sifatnya yang astringen (menciutkan) jaringan. Sifat ini juga terdapat pada P. somniferum, yang dimanfaatkan di kedokteran kuno Eropa. Biang keladinya ialah opium yang selain menciutkan luka, juga membuat penderita nyeri itu somnus (tertidur) sampai tanamannya disebut somniferum. Tapi dalam keadaan pekat, opium tidak hanya bikin tidur, melainkan tidur abadi di alam baka.
v Susu Kental
Sampai sekarang sudah ada 90 jenis Papaver yang diketahui hidup liar, setengah liar, dan "berbudaya". Tapi hanya 5 yang dikembangkan. Papaver orientale yang diusahakan di Turki. P. somniferum berikut subspesies hortense dan hibridanya, di Timur Tengah, India, dan Cina. P. californicum di Amerika. P. rhoeas di Balkan dan Rusia, dan P. alpinum di Tibet dan daerah Pegunungan Himalaya lainnya.
Papaver somniferum berupa terna semusim yang berbatang lunak. Tingginya hanya 80 cm, dan pernah merajalela sebagai gulma di ladang gandum pinggir hutan. Bunganya besar. Bisa sampai 18 cm garis tengahnya, dengan warna merah merona, tapi juga ada yang putih kebiruan dengan bercak- bercak nila (pada subspesies hortense). Bentuk mahkotanya seperti piala 10 cm, dan berlaku sebagai semacam cermin parabola untuk menangkap sinar matahari, yang diikuti terus jalannya dari Timur ke Barat. Penangkap sinar ini perlu, untuk menghangatkan ruangan dalam piala itu. Jadi para serangga yang sudi mampir hisa merasa nyaman, dan betah menyerbuki bunga. Di tengah piala inilah kelak tumbuh buahnya yang bulat seperti kapsul. Di dalamnya tersimpan 2.000 - 3.000 butir biji yang rata-rata hanya 1,5 mm. Di negara-negara yang tidak punya sumber minyak makan, seperti kelapa dan bunga matahari, biji poppy dari subspesies hortense, diperas minyaknya untuk minyak goreng. Sebagian lagi dipakai secara utuh untuk menggurihkan kue kering dan roti basah, seperti biji wijen untuk onde-onde Jawa.

Buah Poppy mentah yang sedang disadap getahnya
Tapi sebelum biji itu masak, buah kapsul itu sendiri sudah bisa ditoreh dengan pisau khusus untuk disadap getahnya, beberapa hari menjelang mahkota bunganya rontok. Getah hasil torehan mula-mula masih encer seperti susu kental, tapi esok paginya sudah menggumpal; dan bisa dikerok untuk dikeringkan lebih lanjut menjadi candu kasar.

v Hanya meredam
Pada tahun 1803, seorang farmakolog Jerman, Friedrich Serturner, berhasil memisahkan sejenis alkaloid dari candu opium dalam getah candu kasar itu. Zat ini disebut morfin (dari Morpheus, Dewa Penguasa Mimpi), karena pengaruhnya yang membuat orang tidur bermimpi. Nama kimia resminya ikut memakai nama morfin: di-dehidroepoksi-metil-morfinandiol.
Pemisahan kimia itu di pabrik farmasi modern dilakukan dengan kromatografi pertukaran ion. Tekniknya yang lebih maju daripada cara Serturner ini ditemukan tahun 1954, tapi tahun 1956 dipatenkan di Amerika. Negara lain tidak boleh melakukannya, tanpa bilang nyuwun sewu dulu dan membayar royalti atas pemberian izin meniru.
Para dokter memakai suntikan morfin untuk meredam rasa nyeri hebat pada korban kecelakaan berat, dan pasien luka bedah sesudah operasi besar. Juga untuk meringankan penderita nyeri berkepanjangan pada penyakit kanker stadium akhir. Tapi sayang, dengan morfin ini hanya nyerinya yang ditenangkan, sedangkan kankernya tidak diapa-apakan. Getah candu kemudian diketanui juga mengandung papaverin 0,5 - 2,5%, kodein 0,8 - 2,5%, noskapin 4 - 8%, dan thebain 0,5 - 2%. Masing-masing dipakai sebagai penenang yang lebih ringan dalam ramuan obat melawan penyakit yang disertai rasa nyeri ringan, seperti flu berat, dan radang saluran napas. Untuk mencegah penyalahgunaan, pemakaiannya harus dengan resep dokter. Lebih-lebih morfin dan turunan sintetisnya yang lain. Salah satu turunannya yang dibuat tahun 1932, diasetilmorfin, terkenal sebagai heroin. .Karena sama berbahayanya dengan candu, pembuatan heroin sintetis, yang bisa lebih masal daripada candu alam, dilarang di Amerika Serikat sejak tahun 1954.
v Kalau disalahgunakan
Larangan ini yang justru merangsang peredaran heroin secara gelap di Amerika. Tapi undang-undang pelarangan tetap tidak dicabut. Peredaran gelapnya saja yang ditumpas secara global.
Kalau dipakai dengan dosis tinggi, (pada penyalahgunaan), candu, morfin, heroin membuat mengantuk seperti dinarkosa, sampai zat-zat itu dianggap narkotik yang terlarang. Orang yang bersangkutan tidur pulas, disertai mimpi yang indah dan nikmat sekali. Inilah yang ingin dialami oleh orang-orang frustrasi, untuk melupakan frustrasinya. Tapi begitu mimpi ini berhenti, orang yang bersangkutan lumpuh urat sarafnya, sampai kacau daya pikirnya. Ia merasa sengsara sekali, sampai berusaha mengisap candu lagi, supaya mimpi enak lagi. Kalau dicegah, ia malah sedih sampai menangis meraung-raung seperti orang gila. Sesudah kecanduan, ia cenderung mengabaikan kesehatan, pekerjaan, dan keluarganya. Kesehatannya yang merosot terus inilah yang membuat ia mati muda sebelum waktunya.

Tapi keinginan orangorang tersesat ini dilayani oleh para pengedar candu gelap. Mereka tidak mau mengakui undang-undang monopoli pemerintah negara masing-masing, yang dimaksudkan untuk melindungi rakyat masing-masing jangan sampai sengsara, terjerumus ke dunia narkotik. Para bandit daerah Segitiga Emas (daerah tak bertuan antara Myanmar, Laos, dan Thailand) seperti melecehkan dan menantang aparat pemerintah tiga negara itu. Daerah ini memang bergunung-gunung dan sulit sekali dicapai, sehingga cocok untuk main kucing-kucingan dengan aparat pemerintah.
Yang kasihan ialah para petani pegunungan penduduk setempat, yang dipaksa menanam candu. Kalau tidak mau, diancam dengan hukuman mati tembak di tempat, oleh para bandit pimpinan Khun Sha. Hasil berupa dirty money begitu melimpah (baginya), sampai daerah itu terkenal sebagai Segitiga Emas.
v Untung ada Jiin Haw
Di antara ketiga negara bertetangga itu, Thailand merupakan satu-satunya yang mampu menumpas penanaman candu gelap dengan sungguh-sungguh, di wilayahnya. Tidak dengan tindakan militer saja, tapi juga imbauan kepada petani yang ditinggalkan para bandit yang sudah dihalau ke negara tetangga, agar beralih menanam cash crop, penghasil uang tunai.
Bujukan dimulai dengan kelompok tani penduduk pendatang dari Cina, yang sudah sejak tahun 1961 menetap di Lembah Ang Khang, wilayah Thailand dekat Segitiga Emas yang berbatasan dengan Myanmar. Alasannya, mereka lebih maju daripada petani suku-suku terasing (tapi penduduk asli) daerah pegunungan itu yang masih terbelakang. Petani pendatang ini memang bekas tentara Cina nasionalis yang dulu mengungsi bersama keluarganya ke lembah terpencil di Thailand itu, ketika daratan Cina dikuasai kaum komunis. Orang Thai menyebut mereka Jiin Haw (Cina penunggang kuda), walaupun sekarang sudah tidak berkuda lagi.
Desa Ang Khang tidak ada dalam peta. Letaknya di lembah sebelah barat Kota Chiangrai. Jalan berdebu yang menghubungkan kedua tempat itu berliku-liku menuruti lereng gunung, sampai akhirnya buntu di suatu lembah yang subur. Bujukan untuk beralih tanam itu diproyekkan, dengan bantuan teknis dan pinjaman biaya dari Taiwan. Negeri ini sama-sama Cinanya, dan sama-sama antikomunisnya, yang dimanfaatkan oleh Thailand. Badan yang ditugasi menjalankan proyek ialah VACRS (Vocational Assistance Commision for Retired Servicemen), dipimpin oleh Soong Ching Yun. Anggotanya kebanyakan purnawirawan tentara (Taiwan), dengan bantuan sejumlah pakar agribisnis hortikultura.
Mula-mula juga tidak berjalan mulus proyek itu, karena ditentang sendiri oleh be berapa Jiin Haw tua. Ketika diajak untuk berkebun buah-buahan yang hasilnya bisa untung besar kelak, mereka terbahak-bahak. Walaah! Apa ya mungkin, itu? "Barangkali saya sudah keburu meninggal sebelum pohonnya berbuah!" kata ketua mereka.

Tapi VACRS tetap nekat mendatangkan ribuan bibit okulasi apel, pir, persik, dan kesemek dari Taiwan ke Ang Khang, pada tahun 1982. Bibit okulasi ini sudah bisa berbuah dalam waktu 5 tahun saja. Tapi Jiin Haw yang terbahak-bahak dulu itu belum juga meninggal.
Melihat kebun percontohan di Ang Khang, (yang selain ditanami pohon buah juga sayuran semusim, seperti wortel, kubis, tomat, dan brokoli, di samping bunga hias seruni dan anyelir), baru mereka percaya bahwa menanam buah-buahan, sayuran, dan bunga hias legal bisa mendapat uang lebih banyak daripada candu yang ilegal. Candu ini hanya boleh dijual kepada gerombolan monopolis Khun Sha, dengan harga yang amat memelas rendahnya. Keuntungan terbesar diraih oleh gerombolan itu sendiri.
Dengan terdesaknya candu oleh tanaman cash crop hortikultura itu, pada tahun 1989 dilaporkan bahwa candu selundupan tinggal 5% dari seluruh hasil Segitiga Emas tiga negara. Dari 150 ton candu (tahun 1960), sudah menurun menjadi 20 ton dalam tahun 1989. Mengenai laporan penurunan sarrbpai 87% ini, ada yang percaya, dan ada yang tidak, karena laporan itu dibuat oleh polisi perbatasan Thailand yang sering tidak tahu penyelundupan candu lewat jalan lain.
Tapi pemimpin proyek Soong Ching-yun (yang karena kesabarannya yang luar biasa dipanggil "Papa Soong") menerima Hadiah Magsaysay dari Magsaysay Foundation, Filipina, tahun 1988, atas jasanya yang luar biasa dalam mengentaskan kemiskinan para petani pegunungan, dan sekaligus mencegah penanaman candu kembali.
v Untuk pariwisata
Sesudah proyek itu berhasil, pada tahun 1989 dimasukkan lagi varietas unggul baru stroberi Taiwan, aprikot Jepang, cantaloupe Amerika, dan kiwi Selandia Baru yang mahal harga jualnya, tapi laris. Buah kiwi yang asam ini memang aneh. Kulitnya yang coklat berbulu pendek dibayangkan sebagai bulu burung kiwi. Kalau dikupas dan dibelah melintang, daging buahnya yang bening hijau muda tampak seperti diberi dekorasi bagian tengahnya, sampai dipakai sebagai hiasan (yang bisa dimakan juga), pada masakan yang dihidangkan di meja pesta, dan meja makan hotel berbintang.
Di Desa Sob Ruak, sebelah utara Changrai, dan yang paling dekat dengan Segitiga Emas perbatasan Laos, juga dibanguni hotel-hotel lereng gunung, restoran, tempat peristirahatan, taman rekreasi dan sarana wisata pegunungan lain yang menyerap buah kiwi itu. Ke sana pula hasil sayuran, buah-buahan dan bunga hias dari Lembah Ang Khang dan sekitarnya itu mengalir, di samping ke Chiang Mai, untuk diteruskan ke Bangkok. Turis asing dari Bangkok hanya bisa terbang sampai ke Chiangrai. Dari sana mereka rela naik bus ke Sob Ruak. Hanya untuk melihat bekas daerah Segitiga Emas yang pernah kondang sebagai sarang gerombolan Khun Sha, pengedar candu gelap! Ada rasa bangga campur sensasional di kalangan turis asing itu, bahwa mereka sudah menginjak daerah menakutkan yang legendaris, walaupun sambil duduk saja dalam bus ber AC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar