Senin, 28 Desember 2009

Abu Hurairah Menyaksikan Mu’jizat Rasulullah.

Abu Hurairah Menyaksikan Mu’jizat Rasulullah.


Nama asal Abu Hurairah dimasa jahiliyah adalah Abdu Syams bin Shakhr – si hamba matahari – namun ketika dia masuk Islam, nama itu diganti dengan Abdur Rahman oleh Rasulullah Saw. Ia berasal dari suku Daus diantara berbagai suku yang berada di Yaman. Sedangkan nama Abu Hurairah – si ayah kucing kecil – itu diambil ketika dia menggembalakan kambing dengan membawa seekor kucing yang begitu disayanginya. Jika malam telah tiba, kucing itu ditaruhkan di rerimbunan pohon, dan jika siang diajaknya bercengkerama hingga orang-orang menyebut Abu Hurairah.
Ia masuk Islam ketika umurnya telah mencapai 30 tahun dimana ketika itu dia datang ke Madinah dengan tanpa membawa harta atau keluarga sebagaimana para shahabat yang lain. Ketika itu bertepatan Rasulullah baru saja menyelesaikan tugas peperangan Khaibar. Ia dengan tabah harus bertempat tinggal di serambi Masjid Nabawi (ash-habus shuffah ) namun begitu rajin beribadah dan mendalami ajaran Rasulullah dan bersabar dalam menghadapi rintangan hidup dan perjuangan.
Abu Hurairah mengatakan : Pada suatu hari aku mengalami lapar yang begitu dahsyat hingga seolah tidak mampu untuk berdiri. Dalam keadaan itu aku hanya berjongkok saja dan perutku aku ganjal dengan batu yang dililit dengan kain. Ketika itulah sengaja aku menghadang shahabat yang lain. Sejenak kemudian Abu Bakar pun melintas. Dalam kesempatan itu aku pura-pura bertanya mengenai suatu ayat dari Al-Qur’an dengan maksud pembicaraan itu nantinya akan kusisispi dengan perihal perutku ini, namun pertemuan itu tampaknya dingin-dingin saja hingga aku biarkan dia berlalu. Selanjutnya giliran Umar yang datang. Akupun berbuat padanya sebagaimana terhadap Abu Bakar tadi. Disaat itulah Rassulullah Saw. datang dan mengetahui persis apa yang kualami, mungkin saja tanda-tanda itu terbaca dirona wajahku. Namun herannya Rasulullah Saw. malah tersenyum, kemudian dengan halus beliau memanggilku :
“ Wahai Abu Hurairah, kesinilah kau !.”
“ Labbaika kusambut panggilanmu wahai Rasulullah.” jawabku.
Kemudian aku diajak beliau memasuki rumahnya dimana ketika itu ada air susu satu mangkuk, Rasulullah pun bertanya kepada keluarganya :
“ Dari mana susu ini kalian dapatkan ?.”
“ Seseorang mengantarkan kesini untukmu wahai Rasulullah.” jawab mereka.
“ Wahai Abu Hurairah !.” seru Rasulullah lagi.
“ Ya” jawabku.
“ Sekarang pergilah kau menemui ahlus shuffah di serambi masjid, panggillah mereka kesini seluruhnya.” begitu kata Rasulullah.
Perintah ini begitu berat bagiku, hatiku terasa diaduk-aduk menggerutu, bagaimana satu mangkuk susu akan dibagikan pada manusia yang hampir tak terhitung jumlahnya, apalagi yang namanya ahlus shuffah, mereka merupakan penyandang perut yang selalu lapar, juga tidak pernah memiliki harta atau perhatian dari keluarga. Mestinya aku yang lebih berhak minum kendati hanya satu teguk, namun bagaimana lagi, sebagai seorang Muslim aku harus selalu taat kepada Allah dan RasulNya.
Kendati dengan menggerutu, akhirnya aku sampai ditempat ahlus shuffah, dimana mereka segera kupanggil memenuhi undangan Rasulullah. Maka segera saja mereka berduyun-duyun memenuhi undangan itu. Dan setelah sampai didepan pintu , mereka meminta izin untuk masuk. Rasulullah pun memberi izin dan mempersilahkan diuduk berderet. Sialnya, Rasulullah menyuruhku :
“ Wahai Abu Hurairah, ambillah air susu dimangkuk tadi, berilah minum mereka satu persatu.” Mampuslah diri ini, gerutuku. Akupun dengan kecut memberi minum mereka satu persatu hingga mereka tampak puas seluruhnya. Padahal ketika itu aku belum diperbolehkan minum setetes pun, herannya susu itu tidak habis.
Setelah itu tiba-tiba Rasulullah memegang mangkuk itu kemudian ditaruhkan dihadapannya seraya memanggilku :
“ Abu Hurairah !.” seru beliau.
“ Ya, wahai Rasulullah.” jawabku.
“ Bukankah sekarang tinggal aku dan kau.” sambung Rasulullah lagi.
“ Betul.” jawabku.
“ Sekarang minumlah.” suruh Rasulullah.
Akupun meminum sepuas-puasnya.
“ Minum lagi wahai Abu Hurairah.” desak beliau lagi.
Aku pun minum lagi, namun kali ini perutku telah begitu penuh.
“ Minum terus wahai Abu Hurairah.” sambung beliau lagi.
“ Sudah, demi Allah Yang telah mengutus engkau, perutku sudah tidah muat lagi wahai Rasulullah.” jawabku dengan begitu malu.
Segera saja mangkuk itu aku serahkan pada beliau. Dan ketika telah berada ditangannya, beliau memuji kebesaran Allah lantas meminum sisa susu dimangkuk itu.
Beberapa hari kemudian aku berusaha menjumpai Abu Bakar dan Umar mengenai peristiwa ini. Ternyata keduanya mengatakan, sebenarnya mereka mengerti keadaanku yang kelaparan ketika itu, namun mau berbuat apa lagi, karena mereka juga sedang kelaparan.
Itulah sedikit keterangan mengenai figur-figur yang kita ternyata sangat berkompeten dengan mereka. Mereka merupakan sumber hadits Rasulullah sebagai tuntunan kita dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akherat, namun kehidupan mereka ternyata begitu mengenaskan. Allahumma, ya Allah, teteskan pada hati kami untuk mampu menyintai mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar