Senin, 28 Desember 2009

Misteri Kuali Ajaib.

Misteri Kuali Ajaib.

Rasulullah dan para shahabatnya bukanlah figur-figur yang selalu bertudung nikmat duniawi. Bahkan seringkali tungku dapur beliau sendiri hanya berasap beberapa kali saja dalam seminghgu sebagaimana kesaksian Ummul Mu’minin ‘Aisyah Ra. Yang mengatakan bahwa acapkali dalam tiga hari yang ada hanya air dan sedikit kurma. Kita dengar pula bahwa beliau tidak pernah kenyang selama dua hari berturut-turut. Dan ketika wafat, beliau tidak meninggalkan apapun kecuali hanya sebuah pedang, seekor keledai dan tanah yang sudah diwaqafkan pula. Tidur beliau pun hanya beralas kulit yang disamak. Acapkali tidur diatas tikar daun kurma hingga jika terbangun tampak guratan-guratan ditubuhnya. Sering pula tidur malam dalam keadaan lapar, namun paginya tidak terhalang untuk berpuasa. Padahal jika saja beliau berkehendak untuk bernikmat-nikmat didunia ini, semuanya akan terwujud. Itulah zuhud Rasulullah Saw. Hingga ‘Aisyah pernah mengatakan :
“ Seringkali perut Rasulullah aku usap sedemikian rupa, tiada lain karena kulihat beliau tampak lapar. Ketika itu aku pun mengatakan : “ Diri ini rela menjadi tebusanmu wahai Rasulullah.Alangkah baiknya jikalau engkau mempunyai bekal yang cukup untuk makan kita sehari-hari. Namun beliau menjawab :
“Untuk apa saya bersusah payah mengurusi dunia. Bagaimana jika aku bersandingan diakherat nanti dengan para Ulul ‘Azmi dan para Rasul yang lain ?. Mereka telah berlaku begitu sabar dalam menghadapi kesulitan perjuangan melebihi apa yang aku alami. Terbukti mereka bisa lolos dan menghadap Allah dengan membawa kemuliaan yang besar. Aku sendiri akan malu jika saja bahagianku diakherat nanti lebih sedikit dari pada mereka. Padahal harapan terbesar yang selama ini menjadi cita-citaku adalah bisa berdiri sama tinggi dan duduk pun sama rendah dengan mereka itu.”
Sikap seperti itu jelas akan berlawanan dengan perilaku kita, dimana seringkali perut ini lebih keras dari pada punggung, memiliki perut gendut malah merasa bangga. Padahal sebagaimana sabda Rasulullah bahwa seluruh penyakit itu sebagian banyak tersebab dari akibat makanan, hingga Rasulullah tidak pernah sakit terkecuali sekali saja menjelang wafatnya. Herannya, Islam menyebar sedemikian hebat dimasa beliau, shahabat dan tabi’in melalui figur-figur yang sering kelaparan, namun hati mereka betul-betul bagaikan baja dalam setiap memperjuangkan kebenaran. Acapkali Rasulullah beserta para shahabatnya kehabisan makanan, dan seakan tidak berdaya menghadapi situasai yang tidak kondusif itu, namun sering pula beliau mendapat bantuan Tuhan berupa mu’jizat hingga makanan yang sesdikit dapat mencukupi berpuluh-puluh orang. Diantaranya apa yang disebutkan oleh shahabat Jabir ketika mengerjakan penggalian parit menjelang perang Khandak. Ia bertutur demikian :
Ketika kami menggali parit menjelang perang Khandak, penggalian yang menjadi bagian kami terhalang oleh batu hitam yang begitu besar sehingga kelancaran rencana kami terganggu. Maka dengan segera saja kami melapor kepada Rasulullah Saw. Secepatnya pula beliau turun sendiri mengatasi batu itu, padahal perut beliau tampak kempis hingga diganjal sebuah batu yang dililit dengan kain. Tiga hari tiga malam perut kami tidak terisi makanan.
Setelah berhadapan dengan batu itu, Rasulullah berdiri tegak kemudian batu itu dihantamnya dengan gancu hingga hancur berkeping-keping. Demi menyaksikan sendiri keperkasaan beliau semacam ini, kami merasa takjub sekali, begitu cepat penghalang itu bisa teratasi.
Setelah pekerjaan itu selesai, maka aku mohon izin beliau untuk pulang sebentar. Dan begitu beliau memberi izin, akupun segera pulang menemui isteriku seraya aku katakan :
“ Dinda, aku melihat perut Rasuluullah begitu rupa, tampaknya kelaparan beliau sudah tidak bisa ditolelir. Adakah dinda masih mempunyai sedikit makanan ?.” tanyaku.
“ Oh ada, gandum sedikit yang belum ditumbuk dan seekor anak kambing.” jawab isteriku.
Kemudian dengan segera anak kambing itu aku sembelih dan kupotong-potong sedemikian rupa. Sementara isteriku menumbuk gandum itu dan memasukkannya kedalam kuali. Daging kambing itupun kami campurkan dalam kuali tersebut kemudian kami masak diatas tungku. Setelah kami perkirakan hampir matang, segera saja aku pergi menemui Rasulullah Saw. seraya kukatakan :
“ Wahai Rasulullah, aku mempunyai sedikit makanan, untuk itu aku mohon engkau pergi kerumahku disertai satu atau dua orang saja.” pintaku.
“ Berapa banyak makanan itu.” tanya Rasulullah.
“Satu kuali yang tidak besar, ya Rasulullah.” jawabku.
“ Oh, itu banyak sekali, enak pula.” tukas beliau.
“ Sekarang juga katakan pada isterimu, janganlah kuali itu diangkat dari tungku, jangan pula nasi gandum itu dituangkan sampai aku datang kesana.” sambung beliau.
Namun sebelum aku beranjak, betapa terkejutku dimana ketika itu beliau berteriak memanggil :
“ Wahai para shahabat Muhajirin dan Anshar, pergilah kalian kerumah Jabir.”
“ Celaka ini, padahal porsinya hanya untuk dua atau tiga orang.” gumamku.
Dengan tergopoh-gopoh aku pun berlari pulang menemui isteriku dan aku beri tahu mengenai kehendak Rasulullah Saw. seraya kukatakan padanya :
“ Celakalah kau, betapa seluruh shahabat Muhajirin dan Anshar ditambah kawan-kawan mereka akan datang kemari bersama Rasulullah untuk menyantap makanan yang hanya cukup sedikit orang. Namun dengan tenang isteriku bertanya :
“ Apakah Rasulullah telah menanyakan porsi makanan kita ?.”
“ Ya, sudah.” jawabku.
“ Kalau begitu kanda tak perlu panik.” sahut isteriku lagi.
Mereka pun datang didepan pintu dimana Rasulullah mengatakan :
“ Masuklah kalian seluruhnya dan jangan berdesakan.”
Setelah seluruhnya duduk berjajar, maka Rasulullah mulai mencibuk sedikit demi sedikit beserta daging yang menjadi lauk, kemudian dihidangkan didepan para shahabat satu persatu, namun aku lihat kuali dan tungkunya itu selalu dalam keadaan ditutupi. Beliau terus bertindak demikian sampai seluruh yang hadir merasa kenyang dan malah masih bersisa. Sejenak kemudian Rasulullah memanggil isteriku seraya menyuruh :
“ Makanlah kau juga, dan berikan sisanya pada mereka yang belum makan, sebab situasi tampaknya tidak kondusif, kebanyakan mereka belum makan.
Itulah sebagian dari mu’jizat Rasulullah. Hal ini bukan termasuk hipnotis atau sihir yang bisa dipelajari atau yang kini dikenal sebagai black atau white magic. Mu’jizat seperti ini pada sekali kesempatan diperlihatkan beliau pada para shahabatnya, diantaranya akan berfungsi sebagai pengakuan Allah terhadap kerisalahan beliau.


Si Juling Menantang Tuhan.

Nabi Musa As.merupakan seorang Nabi yang termasuk jajaran Ulul ‘Azmi dan bergelar pula dengan Kalimul’Lah, Nabi yang pernah diwawancarai Allah secara langsung, tidak melalui malaikat Jibril atau mediator yang lain Dalam sekali kesempatan, pernah beliau dituduh berbuat zina oleh Qarun berhubung beliau mengumumkan kewajiban zakat. Pernah pula dituduh pelirnya besar sebelah karena tidak mau beramai-ramai mandi bersama kaumnya laki-laki dan perempuan dengan telanjang, namun ditepis oleh Allah dengan cara pakaian beliau dibawa lari oleh batu yang menjadi tempat menaruh pakaiannya ketika mandi. Kemudian batu itu pun dikejarnya, namun anehnya arah lari batu itu menuju keramaian hingga banyak orang tahu bahwa Nabi Musa bukan termasuk orang yang cacat. Batu itu pula yang akhirnya membalas budi bertandang di hadapan Nabi Musa ketika kaumnya kehausan dipadang Taih. Lantas Allah menyuruh beliau untuk memukul batu tersebut hingga memancar dua belas mata air.
Seorang Nabi yang betul-betul telah kenyang penderitaan dan begitu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan sehingga ketika Rasulullah Saw. membagi harta ghanimah dimana ada sementara pihak yang mengatakan bahwa pembagian beliau tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah. Maka beliau tersentak dengan rona wajah merah padam, namun segera saja teringat pada Nabi Musa As. hingga beliau bersabda seraya menekan gemuruh dadanya :
“ Semoga rahmat Allah tetap terlimpahkan pada Nabi Musa, dia lebih banyak disakiti oleh kaumnya namun tetap bersabar.”
Didalam Al-Qur’an sendiri sering kita menjumpai, bagaimana cara kaum Nabi Musa memanggil beliau, biasanya langsung saja menyebut nama “ ya Musa ” tidak dengan “ ya Nabiyal’Lah atau ya Rasulal’Lah” Hal ini sebagai petunjuk bahwa kaum Nabi Musa tidak begitu mengacuhkan, tidak pula respek terhadap kredibilitas seorang Nabi padahal beliau bukanlah figur yang lemah bahkan sangat-sangat tegas. Sebagai seorang manusia, Nabi Musa sampai pernah meratap “ Wahai kaumku, mengapa kalian seringkali menyakitiku padahal kalian telah mengerti bahwa diriku ini merupakan utusan Allah.”
Penjelasan ini tidak bermaksud menggiring pikiran kita untuk mengkultus individukan seseorang, namun secara proporsional kita wajib menghormat figur yang dihormati Allah ( wa man yu’adhdhim sya’airal’Lah ) dimana para Nabi Allah itu sendiri termasuk tanda agungnya agama Allah. Itulah sikap Bani Israil, sebuah kaum yang sering berbuat onar, bukan sekarang saja, sejak dahulu memang demikian perilakunya hingga ketika telah sampai klimaksnya, Allah pun mengirim bencana yang memporak porandakan mereka. Namun sekali-kali kita tidak boleh bertopang dagu membiarkan kebiadaban mereka dengan hanya mengandalkan atau menunggu saja Allah berbuat. Itu bukan tawakal namanya, namun lebih pantas disebut malas. Sebaliknya mereka pula yang paling besar menerima karunia Allah dimana banyak sekali para Nabi yang diutus dari kalangan mereka.
Daerah Timur Tengah kebanyakan merupakan kawasan kering dan padang pasir tandus dimana sering kita dengar bala keparan melanda daerah tersebut hingga menelan beribu-ribu korban.
Tersebutlah dalam suatu kisah bahwa Bani Israil tertimpa kekeringan yang panjang , langit seolah-olah hamparan merah jingga dan bumi beralih fungsi bagaikan logam penghantar panas ketika tidak pernah tersiram hujan. Dalam kondisi seperti ini seluruh penduduk mengadukan perihalnya kepada Nabi Musa. Agar beliau memohon hujan kepada Allah SWT. Demi melihat kaumnya yang tertimpa bala’ itu, Nabi Musa menyuruh mereka untuk keluar rumah, pergi bersama menuju sebuah bukit dan berkumpul disana.
Mereka segera menurut apa yang telah diperintahkan Nabinya itu, hingga bukit itu pun tampak bagaikan hamparan manusia. Namun tiba-tiba saja Nabi Musa mengumandangkan maklumat :
“ Barang siapa yang pernah berbuat dosa tiga kali selama hidupnya, hendaklah sekarang juga segera pulang !.”
Seluruh yang hadir tersentak kaget alang kepalang padahal keringat pun belum kering, dan dengan menggerutu akhirnya sebagian besar dari mereka pun beranjak pulang, dimana memang Nabi Musa juga segera mengusir hingga hanya tinggal beberapa kelompok kecil yang kebanyakan mereka terdiri dari para rahib.
Kemudian Nabi Musa meneruskan maklumatnya lagi :
“ Barang siapa yang pernah berbuat dosa dua kali selama hidupnya, hendaklah segera pulang sekarang juga."
Demi mendengar maklumat ini, manusia yang tinggal sedikit itu pun beranjak pulang kendati hati mereka betul-betul kebingungan, tidak mengerti apa yang berada dibenak Nabi Musa. Kali ini pengikut Nabi Musa tinggal lima atau sepuluh orang dengan perasan kecut.
“ Sekarang, barang siapa yang pernah berbuat dosa sekali saja dalam hidupnya, saya minta dengan tidak hormat supaya segera pulang.” serunya lagi.
Maka seluruh pengikutnya tadi dengan hanya bisa tolah-toleh akhirnya juga pulang kecuali seorang laki-laki juling, hilang sebelah bola matanya, dia Barkhu namanya.
“ Mengapa kau tidak ikut pulang, tidakkah kau mendengar ucapanku tadi !” begitu hardik Nabi Musa.
“ Apakah kau belum pernah berbuat dosa !.” cecar Nabi Musa lagi.
Akhirnya dengan tenang Barkhu itu pun menjawab :
“ Aku pernah melakukan suatu perbuatan, namun belum jelas benar bagiku, apakah termasuk dosa atau tidak.”
“ Apa itu, segera sebutkan !.” desak Nabi Musa lagi.
“ Pada suatu hari aku melintasi suatu jalan perkampungan dimana ada sebuah rumah yang pintunya terkuak. Ketika itulah mataku yang telah hilang ini melirik bayangan sosok tubuh, namun aku sendiri belum mengetahui, apakah sosok itu merupakan tubuh seorang wanita atau pria. Disaat itulah hatiku mengatakan kepada mata yang jalang ini :
“ Kau merupakan bagian tubuhku, mengapa kau rakus benar untuk berbuat kesalahan, sekarang kau harus lepas dariku.” Maka segera saja jariku ini aku masukkan kedalam rongga mata kemudian aku tarik sedemikian rupa hingga bola mata itu terlepas. Maka jika saja lirikanku tadi sudah merupakan maksiat, sekarang juga aku akan pulang wahai Kalimullah.” demikian Barkhu beralasan.
“ Lirikanmu itu belum termasuk dosa, sekarang cukup kamu saja yang memohon hujan kepada Allah.” begitu desak Nabi Musa.
Dengan segera Barkhu berdo’a dimana Nabi Musa yang mengamini dari belakang, maka terdengarlah dia berkata :
“ Quddus – Quddus, wahai Yang Maha Suci, sebenarnya apa yang ada disisiMu tidak akan pernah habis, simpanan karuniaMu juga tidak pernah sirna, tidak pula Engkau bisa dituduh pelit. Apakah Engkau belum tahu kondisi kami, sekarang juga Engkau harus, ya harus menurunkan hujan pada mereka.”
Demi mendengar do’a Barkhu yang kasar ini, hampir saja Nabi Musa lepas kendali menumpahkan kemarahannya, dan Barkhu pun akan ditinju. Namun sejenak kemudian dilihatnya awan beriringan dan kilat bersahutan, hingga belum sampai di rumah, kedua pembesar itu telah basah kuyup terguyur hujan.
Dalam kondisi tertentu, seseorang yang betul-betul telah dekat kepada Allah, acapkali memperlakukan Allah sebagaimana karibnya sendiri hingga keluar ucapan yang tidak layak menurut pandangan orang lain sebagaimana ucapan Barkhu tadi. Dermikian Imam Ghazali menjelaskan dalam Ihya’nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar