Senin, 28 Desember 2009

Wafat Rasulullah Saw.

Wafat Rasulullah Saw.


“Pada hari ini terlah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan nikmatKu kepadamu dan telah Ku ridhai Islam itu sebagai agamamu. ( 5 : 3 ).”

Ayat ini turun ketika wuquf di Arafah pada hari jum’at sesudah ‘ashar ketika Rasulullah menjalankan haji wada’. Disaat itu beliau merasakan betapa berat beban wahyu itu hingga onta yanga bernama ghaswa’ yang ditungganginya menderum seketika. Setelah itu Jibril pun mengatakan :
“ Wahai Muhammad , urusan agamamu selesai sudah, perintah dan larangan Tuhan juga berhenti. Untuk itu hendaknya segera engkau kumpulkan seluruh shahabat kemudian berilah tahu mereka bahwa saya tidak akan turun lagi kepadamu.”
Dikala Rasulullah telah kembali ke Madinah maka beliau segera mengumpulkan para shahabat dan membacakan ayat tadi, dan tidak lupa menyampaikan pesan Jibril As.
Kebanyakan para shahabat kegirangan mendengar bahwa Islam telah sempurna, namun Abu Bakar malah sebaliknya, dia segera saja pulang menutup pintunya kemudian menumpahkan tangis siang dan malam. Sikap Abu Bakar ini kemudian didengar para shahabat lainnya, kemudian mereka beramai-ramai mendatanginya seraya mengatakan :
“ Mengapa anda menangis dalam kondisi yang semestinya bersuka cita, terutama agama kita sekarang telah sempurna.” begitu mereka berkata seakan memprotes sikap Abu Bakar.
“ Wahai para shahabat Rasul, kalian betul-bwetul belum menyadari mengenai musibah yang akan menimpa kita. Mengertilah kalian bahwa jika suatu perjuangan itu telah dikatakan sempurna, tentu saja hanya tinggal menunggu saat merosotnya. Dan ayat yang baru turun itu jelas sebagai indikasi bahwa Hasan dan Husein sebentar lagi akan tidak memiliki kakek, tidak lama pula para isteri Rasulullah akan menjadi janda." begitu Abu bakar menjawab.
Demi mendengar keterangan Abu Bakar ini, mereka tersentak dan melolong bertangisan, sedangkan Abu Bakar yang ketika itu berada dalam bilik, juga bertambah deras air matanya.
Sebagian shahabat ada yang segera memberi tahu Rasulullah mengenai sikap Abu Bakar dan kawan-kawannya yang bersedih ini. Maka secepatnya Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya :
“ Gerangan apa yang membuat kalian menangis seperti itu.”
Ali Ra. yang masih agak tegar menjawab :
“ Begini ya Rasulullah !. Abu Bakar dan kawan-kawannya berpendapat bahwa wafat baginda telah diambang pintu dan ayat yang turun itu merupakan indikasi kearah itu.”
“ Kiranya memang begitulah adanya, dan Abu Bakar itu pada pihak yang benar. Memang kemangkatan saya telah dekat, sudah saatnya pula aku harus berpisah dengan kalian.” begitu penjelasan Rasulullah.
Ketika Abu Bakar mendengar sayup-sayup keterangan Rasulullah ini, dia tidak lagi mampu menahan pergolakan hatinya hingga beban itu dilepaskan dengan jerit yang begitu keras kemudian pingsan ditempat, Ali sendiri pada akhirnya gemetaran, sementara para shahabat yang lain kebingungan hingga terjadi hiruk pikuk dan desah yang panjang. Akhirnya mereka menumpahkan tangis yang sejak tadi tertahan, seolah-olah gunung-gunung dan bebatuan, para malaikat dan hewan dilauatan dan yang merayap didaratan mengiringi tangis mereka.
Setelah keadaan dirasakan kondusif, Rasulullah berjabatan tangan dengan mereka satu persatu dan berpamitan seraya menitipkan berbagai pesan yang akan menjadi pegangan hidup mereka.
Delapan puluh hari dari terjadinya peristiwa ini, Rasulullah pun wafat. Namun sebelum itu para shahabat masih sempat berkumpul dirumah ‘Aisyah Ummul Mu’minin dimana Rasulullah berdiam disana. Ketika beliau melihat kami, kedua belah mata beliau tampak sembab seraya mengatakan :
“ Bahagia bertemu kalian, semoga kalian tetap mendapat rahmat Allah. Kali ini aku berpesan pada kalian, hendaklah kalian selalu bertakwa kepada Allah. Saat ini telah begitu dekat perpisahan antara kita, aku akan segera kembali keharibaan Allah menuju surga Jannatul Ma’wa. Nanti setelah aku wafat, Ali agar memandikan jenazahku. Fadhal bin Abbas hendaknya yang menuangkan air dibantu oleh Usamah bin Zaid. Kafanilah aku dengan bajuku ini, boleh juga ditambah kain putih negeri Yaman. Dan jika kalian telah memandikan, taruhlah aku diatas tempat tidurku ini didalam rumah ini juga, kemudian turunkanlah keliang lahat. Setelah itu hendaknya kalian menyingkir sebentar dimana Allah akan mencurahkan rahmatNya. Jibril juga akan berdo’a lantas Mikail, Israfil, Malaikat Maut beserta bala tentaranya, kemudian baru malaikat-malaikat yang lain. Setelah itu kalian bisa masuk secara berkelompok melakukan shalat.
Demi mendengar keterangan yang memilukan ini, para shahabat tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dan ketika itu pula ada yang bertanya :
“ Wahai Rasulullah, engkau sebagai utusan kami, laksana lilin yang menyinari kegelapan kami serta pembimbing segala urusan kami. Jika engkau wafat, kepada siapa kami mengadu ?.”
Dengan terbata-bata Rasulullah menjawab :
“ Aku telah meninggalkan untuk kalian sebuah jalan yang begitu terang. Aku titipkan pula kepada kalian dua pesan. Yang satu berucap dan yang satunya lagi diam, yaitu Al-Qur’an dan maut. Dengan demikian jika saja kalian menemui kesulitan, segeralah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan jika hati kalian terasa kesat, maka segera lunakkan dengan menghayati kematian.”
Rasulullah mulai sakit hanya berupa pening dikepala kemudian sedikit demi sedikit meningkat menjadi berat selama delapan belas hari. Disaat itu banyak sekali para shahabat yang menjenguk. Namun ketika menginjak hari Senin, sakit beliau bertambah berat. Sehingga ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan azan shubuh, setelah itu dia berdiri dimuka pintu Rasulullah menunggu beliau keluar seraya mengucapkan salam pada beliau. Namun salam itu dijawab oleh Fathimah seraya mengatakan :
“ Rasulullah masih sibuk.”
Bilal pun kembali memasuki masjid dan belum memahami apa yang akan terjadi. Hingga ketika telah dirasa lama menunggu, dia datang pula kepintu dengan mengucapkan salam lagi. Kali ini Rasulullah mendengar salam Bilal hingga beliau menyuruh Bilal untuk masuk. Dan ketika telah berada disisinya, Rasulullah mengatakan :
“ Aku merasa sakit agak berat wahai Bilal, Abu Bakar saja hendaknya kau suruh untuk memimpin shalat bersama para shahabat.
Melihat kondisi seperti ini, Bilal pun keluar rumah menuju masjid dimana air matanya tidak bisa ditahan lagi, ketika itu pula dia bergumam :
“ Ini betul-betul suatu musibah, harapan pun akan sirna. Alangkah baiknya jika ibuku dulu tidak pernah melahirkanku.”
Setelah bertemu Abu Bakar, dia mengatakan :
“ Rasulullah menyuruhmu untuk memimpin shalat, beliau pagi ini sangat sibuk sekali.” begitu Bilal mengatakan.
Dengan segera Abu Bakar maju ke mihrab Rasulullah. Namun ketika melihat mihrab dalam keadaan kosong, batinnya begitu terenyuh kemudian berteriak tidak sadarkan diri. Melihat keganjilan ini, para shahabat lain terperanjat, dimana setelah mengerti persoalannya, mereka terdiam lalu serentak menangis panjang. Suara gaduh ini sampai terdengar oleh Rasulullah hingga beliau bertanya kepada Fathimah :
“ Suara apa ribut-ribut itu wahai Fathimah. “
“ Suara tangis karena engkau tidak tampak diantara mereka.” jawab Fathimah.
Demi mendengar jawaban ini, Rasulullah segera pergi ke masjid ditopang oleh Ali Ra. Dan Fadhal bin Abbas hingga masih bisa memimpin shalat shubuh bersama mereka. Dan setelah salam beliau berwasiat pada mereka :
“ Wahai kaum Muslimin, kalian akan tetap dijaga Allah selama kalian tetap bertakwa kepadaNya. Telah dekat perpisahanku ini. Dan hari ini merupakan hari pertamaku memasuki akherat dan hari terakhirku hidup didunia.”
Begitu pesan singkat yang beliau sampaikan, kemudian secepatnya berpaling menuju kediamannya.
Sejenak kemudian, Allah segera memerintahkan Malaikat Maut untuk turun ke dunia;
“ Sekarang kau harus turun kebumi. Ambillah nyawa kekasihKu. Berdandanlah dengan sebaik-baik perhiasan. Dan pelan-pelan saja dalam mengerjakan pencabutan itu. Namun kau harus meminta izin lebih dahulu. Jika saja dia memberimu izin maka masuklah kerumahnya dan jika tidak, janganlah kau memaksakan diri. “ demikian Allah bertitah.
Dengan segera Malaikat Maut turun menyerupai orang padang pasir ( A’raby) seraya mengatakan :
“ Assalamu ‘Alaikum wahai keluarga Nabi, pusat pancaran risalah, bolehkah saya masuk.”
Dari dalam Fathimah menjawab :
“ Wahai hamba Allah, Rasulullah dalam keadaan sakit berat.”
Diulangnya lagi salam itu : “ Assalamu ‘alaika ya Rasulallah, wahai kediaman Nabi, bolehkah saya masuk. ! “
Kali kedua ini Rasulullah mendengar, maka Fathimah ditanya :
“ Siapa gerangan yang didepan pintu ?.”
“ Seorang lelaki A’raby memanggil engkau, namun telah aku katakan bahwa engkau dalam keadaan sakit berat.” begitu Fathimah menjawab.
“ Sejenak kemudian salam itu diulanginya lagi, dan aku jawab pula sebagaimana jawaban yang pertama. Namun setelah aku memandangnya, bulu kudukku terasa berdiri dan hati merasa takut. Dengan tidak kusadari pula seluruh sendiku terasa gemetar dan rona wajahku berubah pucat seketika.” begitu Fathimah menjelaskan.
“ Wahai Fathimah, tahukah kamu, siapa dia ?.” tanya Rasulullah.
“ Tidak, tidak ayahku.” jawab Fathimah.
“ Dialah pemutus nikmat, pemangkas syahwat, figur yang sering menceraikan suatu kumpulan, pengosong penghuni rumah dan sangat ahli meramaikan kubur. “ jawab Rasulullah.
Demi mendengar jawaban ini, Fathimah menangis sejadi-jadinya. Kemudian dengan terisak pula dia meratap :
“ Betapa berat musibah hari ini, menyaksikan kematian seorang Nabi diakhir zaman , penghulu sekalian orang yang bertakwa. Wahyu jelas berakhir sudah dan sabda-sabdanya tidak akan kedengaran, salam darinya pun akan segera hilang.”
“ Janganlah kau menangis Fathimah. Kau merupakan keluarga yang akan segera menyusulku. “ begitu Rasulullah menghiburnya.
“ Masuklah wahai Malaikat Maut !.” Rasulullah mempersilahkan.
“ Adakah kehadiran anda untuk mengambil ruhku atau hanya sekedar berziarah. “ sambung Rasulullah.
“ Untuk keduanya jika saja engkau memberi izin.” jawab Malaikat.
“ Wahai Malaikat maut, dimanakah Jibril sekarang ?.” tanya Rasulullah.
“ Aku melihatnya dilangit pertama dan banyak sekali para malaikat yang hadir disana.” jawab Malaikat Maut.
Sejenak kemudian Jibril pun turun dan langsung berada disisi Rasulullah Saw. ketika itu Rasulullah mengatakan :
“ Belumkah anda tahu bahwa kepergianku telah begitu dekat ?.”
“ Ya , sekarang saya baru tahu.” jawab Jibril.
“ Wahai Jibril, kabarkanlah kegembiraan padaku. Apa kenikmatan yang akan saya terima disisi Allah nanti.” tanya Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah, seluruh pintu langit telah dibuka dan para malaikat telah berbaris dengan berbanjar untuk menyambut kedatangan ruhmu. Seluruh pintu surga juga telah dibuka, sedangkan seluruh bidadari telah siap untuk menyongsong kedatanganmu.”
“ Alhamdulillah.” tukas Rasulullah.
“ Namun bagaimana nasib ummatku nanti kelak dihari kiamat, berilah kabar gembira wahai Jibril.” desak Rasulullah.
“ Bahagialah wahai Rasulullah, Allah telah memberitakan bahwa surga tidak akan dimasuki seorang nabi pun sebelum engkau memasukinya terlebih dahulu. Begitupun ummat terdahulu tidak akan bisa mendahului ummatmu memasuki surga.” tutur Jibril.
“ Sekarang sudah cukup puas hatiku.” sambung Rasulullah kemnbali.
Kemudian Rasulullah memanggil Malaikat Maut untuk segera mengerjakan tugasnya. Dengan segera dia pun bekerja hingga ketika ruh telah sampai dipunggung, Rasulullah meratap :
“ Betapa pahit kematian itu.”
Dan ketika itu pula Jibril berpaling hingga ditegur Rasulullah :
“ Wahai Jibril, adakah anda membenci wajahku.”
Maka Jibril dengan lembut menjawab :
“ Wahai kekasih Allah, siapa yang akan tega menatap wajahmu dalam keadaan menanggung pahitnya sekarat.”
Dan ketika ruh telah sampai didada, Rasulullah masih sempat bersabda :
“ Aku berwasiat pada kalian, kerjakanlah shalat dengan sebaik-baiknya, dan santunilah para hamba yang membantu meringankan beban hidup kalian.”
Dan setelah itu suaranya semakin samar yang akhirnya terputus sama sekali. Namun Ali Ra. Memberanikan diri untuk mendekat. Ketika itulah dilihatnya bibir Rasulullah Saw. dengan samar mengatakan :
“ Ummatku .. ummatku … !.”
Rasulullah Saw. wafat dengan tenang dihari Senin, 13 Rabi’ul Awal 11 H. bertepatan dengan, tgl. 8 Juni 633 M.
Semoga kita kita mendapat syafaat dan diakui sebagai ummatnya dihari kiamat nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar