Minggu, 27 Desember 2009

Akhir Hayat si Penggali Mayat

Akhir Hayat si Penggali Mayat


Pada suatu hari Umar bin Khathab memasuki rumah Rasulullah dalam keadaan menangis.
“ Gerangan apa yang menyebabkan anda menangis, wahai Umar.” tanya Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah, didepan pintu ada seorang pemuda yang kondisinya betul-betul memprihatinkan. Apa yang ia ceritakan membuat hatiku pilu, dia terus menerus menangis dan tidak dapat aku hibur.” begitu Umar mengadukan.
“ Wahai Umar, alangkah baiknya jika dia kau suruh masuk kemari, siapa tahu hatinya akan terobati.” sahut Rasulullah.
Sejenak kemudian, Umar telah menyuruhnya masuk dan dipersilahkan duduk disamping Rasulullah Saw. hingga terjadi dialog antara keduanya.
“ Siapa namamu. ? tanya Rasulullah.
“ Saya. saya … Mudznib, ya Rasul.”
“Gerangan apa yang menyebabkan kamu menangis, wahai pemuda ?.”
“ Begini, ya Rasulullah, saya telah melakukan dosa yang besar sekali hingga aku sendiri begitu takut membayangkan siksa akherat yang akan aku terima nanti.” jawab Mudznib.
“ Adakah kau menyekutukan Allah ?.” tanya Rasulullah.
“ Tidak, tidak pernah aku berbuat begitu.” sahut pemuda itu.
“ Adakah kau pernah membunuh seseorang dengan tanpa alasan yang benar.” tanya Rasulullah lagi.
“ Juga belum pernah.” jawab pemuda itu.
“ Allah masih bisa mentolelir dosamu itu kendati sepenuh tujuh langit dan tujuh bumi dan ditambah semisal gunung yang tertancap dimuka persada ini.” sabda Rasulullah.
“ Dosaku lebih besar lagi dari pada langit, bumi dan gunung yang baginda sebutkan itu, ya Rasulullah. “ tandas pemuda itu.
“ Adakah dosamu lebih besar dari pada Kursi Allah ?.” tanya Rasulullah lagi.
“ Dosaku masih lebih besar lagi wahai Rasulullah.” jawab pemuda itu.
“ Adakah dosamu lebih besar dari pada ‘Arsy Allah ?.” tanya Rasulullah.
“ Bahkan dosaku masih lebih besar dari pada ‘Arsy Allah.” jawabnya lagi.
“ Adakah dosamu lebih besar dari pada rahmat Allah selaku Tuhanmu. ?“ tanya Rasulullah.
“ Saya kira akan lebih besar rahmat Allah.” tukas pemuda itu.
“ Sesungguhnya tidak akan ada yang mampu mengampuni dosa-dosa besar selain hanya Allah. Dia Yang Maha Besar, besar pula ampunanNya.” sambung Rasulullah.
“ Bolehkah saya tahu, apakah dosamu itu.” tanya Rasulullah lagi.
“ Saya sangat malu untuk menceritakannya wahai Rasulullah.” tukas pemuda itu.
: “ Sekarang ceritakan saja, apa dosamu itu.” tegas Rasulullah.
Kemudian pemuda itu menceritakan :
“ Wahai Rasulullah !. selama tujuh tahun ini saya telah melakukan perbuatan durjana, yaitu jika saja ada seseorang yang mati, maka akan kugali lagi kuburnya untuk kuambil kafannya. Namun pada suatu ketika matilah seorang gadis dari kaum Anshar. Begitu dia dikuburkan, malamnya langsung aku bongkar kuburnya dan aku keluarkan dia lalu kuambil kafannya. Sejenak kemudian aku pun beranjak untuk pergi meninggalkannya, namun syetan berhasil meniupkan rayuannya kepadaku. Maka aku pun kembali mendekati gadis itu lagi lalu kusebadani beberapa kali. Dan setelah puas, dia kugeletakkan begitu saja. Namun belum sampai aku beranjak jauh, mayat gadis itu bangkit berdiri tegak seraya berteriak :
“ Celakalah kau wahai biadab !, adakah kau tidak malu terhadap Yang Maha Membalas, dimana Dia akan menaruhkan KursiNya. untuk memutus keadilan bagi orang-orang yang teraniaya terhadap mereka yang menganiaya. Apalagi kau tinggalkan aku dalam keadaan telanjang berkumpul dengan kawan-kawanku yang telah mati. Dan kau biarkan aku dalam keadaan berhadats mengahadap Allah Azza wa Jalla.” begitu pemuda itu menuturkan ceritanya.
Demi mendengarkan cerita ini, Rasulullah tersentak sampai terpental dari tempat duduknya kemudian memegang kuduk pemuda itu seraya bersabda :
“ Celaka kau, betapa rakusmu untuk memasuki dan memakan api neraka. Keluarlah dan menjauhlah dariku dengan segera agar tidak ada siksaan yang akan ditimpakan Allah ditempat ini.”
Dengan hati yang remuk redam, akhirnya pemuda itu tadi pun segera beranjak pergi. Seakan langit lebih baik runtuh menimpa dirinya, lebih baik bumi menelannya hidup-hidup. Tidak ada harapan bahagia lagi didunia, masa depan akherat pun begitu kelam. Namun dia punya satu keyakinan : “ Semoga taubatnya diterima Allah SWT.” Selanjutnya dia terus berlari ke sahara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ditinggalkan anak bininya, dia terus berkelana empat puluh hari empat puluh malam seraya menyesali seluruh perbuatannya. Dan setelah malam terakhir itulah dia berani mendongakkan kepalanya kelangit seraya mengadukan nasibnya kepada Allah :
“ Wahai Tuhan Nabi Muhammad, Tuhan Nabi Adam dan Hawa, aku bertaubat kepadaMu ya Allah. Betapa hina hambamu ini, hamba yang penuh beban dosa. Namun hamba akan sanggup menerima apapun hukuman yang akan Engkau timpakan pada hamba didunia ini. Sekali lagi aku bertaubat atas segala dosa itu kepadaMu, kemudian jikalau taubatku ini Engkau terima, aku mohon agar Engkau memberi tahu terhadap NabiMu beserta para shahabatnya. Dan bila Engkau tolak, kiranya akan lebih baik jika Engkau kirim saja api dari langit yang akan membakarku. Namun pintaku, hendaklah diri ini jangan Engkau bakar diakherat dengan nerakaMu. Engkau Maha Pemurah ya Allah.” Begitu rintih si Mudznib itu
Disaat itulah Jibril As. datang kepada Rasulullah SAW. seraya bersalam kemudian mengatakan :
“ Allah membacakan salam sejahtera untukmu wahai Rasulullah.” begitu Jibril membuka percakapan.
“ Memang Dia yang memberi keselamatan, dan dariNya pula kesejahteraan kemudian pada akhirnya seluruh yang ada ini akan kembali kepadaNya.” sahut Rasulullah.
“ Allah bertanya : Adakah anda yang menjadikan makhluk ?.” kata Jibril.
“ Bahkan Dia yang telah menjadikanku dan menjadikan mereka.” jawab Rasulullah.
“ Adakah anda yang memberi rizki mereka ? “ tanya Jibril lagi.
“ Bahkan Allah yang memberi rizki kepadaku dan kepada mereka.” jawab Rasulullah.
“ Adakah anda yang menerima taubat mereka.” cecar Jibril lagi.
“ Bahkan Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka. “ jawab Rasulullah yang telah menyadari arah pembicaraan.
“ Allah telah mengatakan : Hendaknya anda segera menerima taubat seorang pemuda dimana pada beberapa waktu yang lalu telah anda usir, Allah telah menerima taubatnya.” lanjut Jibril.
Kemudian Rasulullah segera memanggil para shahabat untuk mencari pemuda itu. Dan setelah diketemukan, dia pun segera diajak untuk menghadap Rasulullah serta diberi kabar sedikit tentang nasib dirinya yang akan diterima baik. Dan ketika telah menghadap Rasulullah itulah beliau memberi kabar gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya. Maka segera saja pemuda itu bersujud syukur atas segala karunia yang telah diterimanya.


Nadzirah Yang Hidup Didalam Kubur.

Seorang ibu dari kaum Bani Israel mempunyai seorang anak yang hidupnya selalu sakit-sakitan, wanita itu Nadzirah namanya.
Hati seorang ibu akan begitu berduka mengetahui buah hatinya dirundung penderitaan, begitu pula akan berbahagia bikala anaknya tampak ceria. Begitu lamanya anak itu berbaring ditempat tidur hingga ibunya bernadzar :
“ Demi Allah, jika saja anakku sembuh dari sakitnya, aku akan sanggup dikubur selama tujuh hari tujuh malam.” begitu ucapnya.
Lambat laun anak itu pun sembuh total dan normal seperti keadaan semula, namun wanita iu ternyata melalaikan nadzar yang telah disumpahkannya. Begitu ringan dia mengucapkan namun betapa berat melaksanakan sebagaimana sikap kebanyakan kaum Yahudi.
Pada suatu malam, si ibu tadi merasa didatangi seseorang yang mengatakan :
“ Tunaikan janjimu dengan segera. Dan kalau tidak, maka tunggu saja saatnya bencana akan memporak-porandakan kehidupanmu.” begitu suara itu menggetarkan batinnya.
Maka pagi-pagi sekali dia memanggil anaknya dan mengutarakan terhadap mimpi yang dialaminya semalam. Dan tampaknya anak itu juga mendukung si ibu untuk menunaikan apa yang telah diikrarkan. Maka dengan kebulatan hati dan dan menguatkan tekad serta mempersiapkan keamanan seperlunya, dia menyuruh anaknya untuk menguburkannya hidup-hidup, dimana liang kubur itu akan dipasangi dua bilah bambu yang setiap ruasnya dilobangi begitu rupa sebagai jalan pernapasan, dalam istilah lain tapa ngeluang namanya.
Maka anak itu pun segera membuat liang kubur sesuai dengan perintah sang ibu . Dan setelah si ibu tadi betuil-betul siap, sebelum memasuki liang kubur dia mengucapkan do’a :
“ Ya Allah, aku telah berusaha untuk menunaikan nadzarku kendati dengan hati galau. Namun pintaku ya Allah, hendaklah Engkau jaga diri ini dari segala mara bahaya yang akan mencelakakanku.” ucap wanita itu yang sebenarnya merasa takut juga.
Begitu do’a itu selesai diucapkan, dia langsung berbaring diliang lahat kemudian sang anak memasang dua potong bambu yang dihubungkan keatas. Tidak lupa seutas benang dipegang dan dihubungkan keatas pula sebagai tanda si ibu masih bernyawa jika saja sewaktu-waktu benang itu masih bergerak sebagai alat komunikasi dengan anaknya yang diatas. Kubur itu kemudian ditutup dengan papan dan diuruknya dengan tanah sampai rata seraya berdo’a agar ibunya selamat sampai waktu penggalian kembali.
Setelah pengurukan itu selesai, beberapa saat kemudian sang ibu tadi merasakan adanya cahaya tepat disebelah kepalanya, dimana setelah ditengok ternyata teerdapat sebuah terowongan yang menuju ke sebuah taman , dan disitu ada dua orang wanita yang sedang duduk.
“ Wahai ibu, kesinilah.” begitu panggilan dua wanita tadi.
Tiba-tiba saja terowongan itu melebar hingga si ibu itu bisa mendekati keduanya. Didekat taman itu ada sebuah kolam yang begitu jernih. Lantas si ibu itu berjabatan tangan dengan keduanya. Namun betapa heran, keduanya tidak menjawab salam sepatah pun.
“ Mengapa kalian tidak mau menjawab salam, padahal tadi kalian bisa memanggilku.” tanya si ibu dengan tertegun.
“ Salam merupakan sebuah ibadah dimana kami sudah tidak bisa dan sudah tidak diterima ibadahnya, dalam arti ibadah sudah tidak bermanfaat lagi bagi kami.” jawab kedua wanita itu.
Selanjutnya si ibu tadi duduk disamping keduanya. Sesaat kemudian datanglah seekor burung yang langsung hinggap dikepala salah seorang dari kedua wanita itu dengan mengibaskan sayapnya begitu lama dengan maksud mengipasi wanita itu agar merasa sejuk. Namun tidak begitu lama, datang lagi seekor burung yang langsung hinggap dikepala wanita yang lain, namun burung ini selalu mematuk kepala wanita yang dihinggapi hingga banyak sekali darah yang keluar. Sebenarnya wanita itu telah berusaha sekuat tenaga untuk menghindar namun usaha itu selalu sia-sia, mengherankan …!. Tertegun si ibu melihat kejadian ini hingga segera bertanya :
“ Wahai kawan !, mengapa ada seekor burung yang selalu mengipasimu hingga hidupmu tambak begitu ceria ?.” tanya si ibu.
“ Dulu ketika aku hidup didunia, aku selalu berusaha agar suamiku bahagia. Terbukti memang demikian dimana hingga aku mati, dia begitu menyintaiku. Ternyata setelah aku didalam kubur ini, Allah memberi kemuliaan yang begitu berharga bagiku.” begitu jawab wanita baik budi itu.
Selanjutnya si ibu tadi bertanya pada wanita sebelahnya :
“ Dan kau mengapa tampak bermuram durja, berbeda sekali dengan kawanmu ini, dimana siksaan tidak henti-hentinya kau terima ?.” tanya si ibu.
“ Sebenarnya ketika didunia aku termasuk wanita yang rajin sekali mengerjakan kebajikan, hanya saja aku sering menyalahi dan menyakiti suamiku. Sedangkan ketika aku mati, dia begitu membenciku hingga kematianku dianggap sebagai pelepas penderitaannya. Namun Allah masih menaruh belas kasihan terhadapku dimana kuburku masih berupa taman surga sebagai balasan kebajijkanku tadi. Sementara itu aku masih mendapat siksa sebagai balasan kesalahanku pada suamiku. Nanti setelah ibu keluar, tolonglah ibu sudi menceritakan nasibku ini pada suamiku dan mintakan maaf padanya, sebab Allah tidak akan menghentikan siksaan ini selama suamiku belum memaafkan.” begitu jawab wanita yang satunya.
Kemudian si ibu tadi menanyakan nama dan alamat suaminya dengan harapan bisa ditemukan hingga pesan-pesan tadi bisa disampaikan.
Setelah tujuh hari berlalu, kedua wanita itu pun mengatakan :
“ Ibu hendaknya segera pulang dan memasuki kubur kembali, sebab anak ibu sudah waktunya untuk menggali kubur guna menemukan ibu kembali.”
Maka segera saja si ibu itu kembali, dan ketika itulah bertepatan sang anak menggali untuk mengeluarkannya hingga nyawanya masih bisa diselamatkan dan pulang kembali bersama-sama.
Peristiwa aneh ini begitu cepat tersiar keseluruh penjuru hingga banyak sekali orang yang berziarah kepadanya. Berita ini pun sampai pada sang suami yang isterinya tersiksa tadi dimana tidak ketinggalan, dia juga berziarah pada si ibu. Dan setelah mengenalkan diri seraya menyebutkan nama isterinya, segera saja si ibu itu menceritakan keadaan sang isteri hingga suami itu terharu dan merasa kasihan serta meratapi nasibnya. Seketika itu pula dia langsung memafkan seluruh kesalahan sang isteri.
Ketika malam telah tiba, si ibu bermimpi melihat wanita malang itu dimana dia mengatakan :
“ Aku sekarang telah terlepas dari penderitaan dan siksaan kubur yang selama ini kualami. Semua ini tiada lain karena jasamu wahai ibu. Namun aku tidak bisa lagi membalas kebajikanmu. Semoga saja Allah memberi maaf atas segala dosa-dosamu dan dilipat gandakan pahala seluruh amal baikmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar