Minggu, 27 Desember 2009

Si Fajir Dari Bani Israel

Si Fajir Dari Bani Israel


Tersebutlah dalam kisah bahwa terdapat seorang pemuda yang telah melampaui batas dalam melakukan segala kemaksiatan, Fajir namanya. Seluruh penduduk desa sudah tidak mampu lagi menghentikan perbuatan durjananya itu. Begitu dilarang, dia malah menambah kejahatan dengan modus operandi yang baru lagi, sehingga mereka sepakat untuk mengusir saja dari perkampungan. Namun kesepakatan mereka itu lagi-lagi sia-sia – tidak efektif. Maka sampailah pada titik kulminasi dimana mereka harus segera melaporkan kejahatan ini pada Nabi Musa As.
Salah seorang dari pimpinan masyarakat akhirnya menemui Nabi Musa seraya mengatakan :
“ Wahai Nabi Musa, kami merupakan penduduk suatu kampung dimana peribadahan sudah menjadi tradisi kami. Majlis-majlis ta’lim selalu penuh dikunjungi mereka, baik yang tua atau pun yang muda. Sementara itu anak-anak mereka selalu dididik dengan penuh kearifan, terutama mengenai hukum-hukum Taurat dan sopan-santun yang kental dengan nilai agama. Namun ada seorang pemuda yang menjadi duri dalam kehidupan kami. Perbuatannya tampaknya sudah tidak bisa ditolelir lagi, selalu melanggar undang-undang agama maupun adat budi pekerti. Dalam hal ini seluruh penduduk telah sepakat untuk mengusirnya, namun wahai Nabi Musa, kami ternyata tidak mampu menghentikan kefasikannya itu. Dari permasalahan itu kami mengadu kepada engkau, apa tindakan yang perlu dilakukan agar kedurjanaannya tidak mengotori lingkungan kami. ?” begitu tokoh masyarakat tadi mengadu.
Nabi Musa akhirnya mengatakan :
“ Tunggulah beberapa saat lagi, aku akan bermunajat dan mohon petunjuk kepada Allah lebih dahulu untuk menindak lanjuti ulah pemuda yang kau adukan itu.” jawab Nabi Musa.
Maka setelah Nabi Musa usai bermunajat, beliau mendapat mandat bahwa pemuda itu memang harus diusir dari perkampungan itu dengan alasan jangan sampai ada api yang akan turun dari langit membakar suatu desa yang penduduknya berlaku munkar atau membiarkan perilaku munkar berlangsung tanpa ada yang berani menghentikan.
Dengan dibantu oleh seluruh penduduk desa itu, akhirnya Nabi Musa berhasil mengusir pemuda itu. Selanjutnya si Fajir itu harus harus hidup merana dan berkelana dari satu desa kedesa yang lain, dimana pada setiap desa yang disinggahi, maka segera saja penduduknya mengusirnya dengan paksa. Pada akhirnya dia memasuki padang sahara yang betul-betul tandus, tiada burung atau pun hewan yang lain bahkan hewan liar pun akan enggan melintasi tempat itu. Berhari-hari perutnya sudah tidak terganjal oleh sesuap makanan hingga dia terjatuh dan lemas di padang pasir yang dipanggang terik matahari, ,akhirnya dia pun jatuh sakit.
Dalam keadaan seperti ini hatinya mulai mencair dan mendapat petunjuk Allah. Ia pun teringat atas kebesaran Allah. Dengan lemah lunglai ia merasakan penderitaan hidupnya seraya mengatakan :
“ Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, jika saja ibuku berada didekatku, tentulah dia akan mengasihani penderitaanku dan kehinaanku ini. Dan jika saja aku mati dikampungku sendiri, tentulah bapakku akan memandikan dan merawat janazahku. Dan jika saja isteriku mengetahui keberadaanku, tentulah dia akan menangisi perpisahan ini. Kemudian jika saja anak-anakmu berada disisiku, tentulah mereka akan menangisi kepergianku serta akan mendo’akanku selaku ayahnya sebagimana lazimnya do’a seorang anak kepada bapaknya ketika meninggal dunia. Ya Allah, ampunilah aku yang mengembara ini, sebagai seorang yang dha’if dan pelaku maksiat yang terbuang dari satu desa kedesa yang lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain sampai kepadang tandus ini. Seorang yang akan keluar dari dunia menuju akherat dalam keadaan terputus dari segalanya terkecuali dari rahmatMu. Ya Allah, kini aku telah terputus hubungan dengan orang tuaku dan anak biniku, namun aku mohon Engkau jangan memutusku dari rahmatMu. Dan jika Engkau telah membakar hati ini dengan perasaan sedih karena berpisah dengan mereka, maka janganlah Engkau bakar diri ini dengan nerakaMu karena buah kemaksiatanku. Engkau Maha Pengasih dan Penyayang !.”
Demi melihat do’a si Fajir yang tulus ini, ketika itulah Allah mencurahkan pertolonganNya. Maka diutuslah seorang bidadari surga yang menyerupai ibunya, diturunkan pula seorang malaikat yang menyerupai ayahnya, sementara bidadari yang lain diperintahkan menyerupai isterinya. Kemudian anak-anak surga diserupakan dengan anak-anaknya. Mereka mengelilingi si Fajir itu dengan mengiba dan menangisi kepergiannya seakan keluarganya sendiri. Hingga dalam keadaan mendekati ajal ini, hatinya begitu teduh. Pada akhirnya dia pun meninggal dunia dengan mendapat ampunan dan maghfirah dari Allah.
Selanjutnya Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa :
“ Wahai Musa, berangkatlah dipadang tandus begini, disana seorang kekasihKu telah meninggal dunia, uruslah janazahnya baik-baik sampai dimakamkan.” begitu isi wahyu.
Maka berangkatlah Nabi Musa bersama kaumnya ketempat yang ditunjukkan itu. Namun betapa heran, ternyata yang mati disana seorang pemuda dimana beberapa waktu yang lalu telah diusir dan dienyahkan dari suatu desa dengan perintah Allah sendiri, aneh. Dilihatnya pula disekeliling pemuda itu berjajar beberapa bidadari yang sedang menangisi kepergian pemuda itu.
Dengan galau juga akhirnya Nabi Musa memberanikan diri bertanya kepada Allah :
“ Bukankah mayat itu pemuda yang telah kami usir beramai-ramai beberapa waktu yang lalu sesuai dengan titahMu itu, ya Allah !.”
“ Betul wahai Musa, namun dia telah Ku maafkan dan Ku ampuni berkat rintihannya yang menyentuh kalbu setiap orang yang mendengar, apalagi dia telah berpisah dari orang tua dan anak bininya. Telah Aku turunkan pula bidadari dan malaikat yang menyerupai bapak ibu dan anak-anaknya, tiada lain Karena Aku merasa kasihan atas kehinaan dirinya dalam pengembaraan yang meprihatinkan itu. Padahal jikalau seseorang itu meninggal dunia ketika sedang mengembara, maka seluruh penduduk langit dan bumi akan menangisi kepergiannya karena melihat penderitaan lahir dan batin yang dialami. Apalagi Aku sebagai Tuhan Yang Pengasih lagi Penyayang.”
Setelah mendengar penjelasan ini, Nabi Musa beserta kaumnya pun segera merawat janazah pemuda itu dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar