Selasa, 29 Desember 2009

Anak Suka Berbohong

Anak Suka Berbohong
.

Bohong alias dusta jelas merupakan sikap buruk dan salah satu dari tiga tanda orang munafik. Ironisnya, pemahaman kebohongan sebagai hal yang buruk, kini terasa pudar sehibngga publik seakan terbiasa dengan pernbuatan dusta. Apalagi jika menyangkut perpolitikan, seorang politikus bisa saja ketika pagi mengatakan dele, tiba-tiba sorenya berbalik menjadi tempe. Bisa saja seorang pemain politik di muka rivalnya tampak berbinar, namun keesokan harinya, sang rival sudah terkapar. Dan ketika mereka diperolok atas tindakan biadabnya, tindakan zalimnya terhadap rakyat, pada wajah mereka juga tidak menyiratkan rasa malu. Ini jelas kontradiksi dengan ajaran Rasulullah Saw, dimana ketika kondisi hati beliau amat mudah terbaca pada rona wajahnya.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا
Dari Aisyah Ra mengatakan: Adalah Rasulullah Saw ketika memerintah para sahabat, maka beliau memerintah mereka mengenai amal yang mampu dilaksanakan. Ketika itulah mereka menyanggah: Sesungguhnya kondisi kami tidak seperti engkau, wahai Rasulullah. Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan juga yang akan datang. Mendengar bantahan ini, beliau tampak marah sehingga dapat dilihat pada rona wajahnya, kemudian bersabda: Sesungguhnya, orang yang paling takwa dan paling alim dari kalian adalah saya.
(HR. Bukhari, dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 19).
Dalam hadits yang lain:
Adalah Rasulullah Saw ketika marah, kedua pipinya tampak memerah.
(HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud an Ummi Salamah, Jamius Shaghir, hal. 248).
Kebohongan juga sering tampak pada seorang anak. Sebut saja Hana dan Hani dua anak kembar yang berbeda sekali. Hana pintar menyanyi, berani tampil di depan umum dan cerdas di sekolah. Sedangkan Hani sering berbohong, bodoh di sekolah, gembrot karena hobinya makan. Suatu hari psikolog menemukan bakat besar Hani di bidang seni. Gurunya diberi tahu supaya memupuk bakat seni Hani secara khusus. Berangsur-angsur Hani makin menonjol di bidang seni dan anak-anak lain mulai menyadari kelebihannya itu. Pada saat bersamaan, Hani juga tidak 'bodoh' lagi dalam pelajaran lain. Nafsu makannya tidak sehebat dulu dan ia tidak lagi suka berbohong.
Semua anak memang mengalami masa sulit membedakan kenyataan dengan imajinasi. Namun, dalam kasus di atas Hani memang sengaja sering berbohong. Ia berbohong karena resah, karena merasa terancam oleh Tati yang serba sempurna. Kebiasaan buruk itu lenyap, begitu perasaan terancam tadi hilang.
Menurut Psikolog Tom Crabtree, pada dasarnya anak tak mungkin berbohong kepada orang dewasa yang dekat di hatinya. Soalnya, kalau ia berbohong, ia memutuskan hubungan baik dengan sahabat yang melindungi dan menyayanginya. Ia tahu kalau la berbohong tidak akan dipercaya lagi. Jadi kalau seorang anak sampai jatuh dalam kebiasaan berbohong, tentu ada sebab yang kuat sekali dan itu biasanya karena ia mulai kurang menghargai diri sendiri.
Sebenarnya ada banyak cara orang tua membangkitkan rasa harga diri pada anak. Misalnya anak diberi tugas-tugas tertentu di rumah dan memujinya, jika ia telah berusaha mengerjakannya dengan baik. Daripada terus-menerus mencela karena ia tak becus ini itu dan suka berbohong, lebih baik memberinya tugas membereskan tempat tidurnya setiap hari.
Soalnya, setiap kali anak berhasil menguasai kecakapan tertentu, ia bangga, berbesar hati. Ini menambah penghargaannya terhadap diri sendiri.
Meskipun kita yakin anak berbohong, menginterogasinya ternyata kurang efektif dibandingkan dengan memangkunya setiap malam sekitar sepuluh menit. Sambil memangkunya mungkin kita secara tak langsung dapat mengajarkan mengapa kita tidak boleh berbohong. Kisah tentang anak yang sering berteriak "Ada serigala!" sampai akhirnya serigala benar-benar datang, tapi tak ada orang datang menolong karena menganggap anak ini pasti berbohong lagi, mungkin kisah yang mengena sekali. Konon kalau kita bisa menciptakan suasana saling mengerti dan menerima di dalam keluarga, sehingga anak tidak perlu ketakutan setengah mati jika berbuat kesalahan, maka kecenderungannya untuk berbohong pun surut.

v Motivasi Berbohong
Mengetahui motivasi anak berbohong mungkin akan sangat membantu kita dalam menghilangkan kebiasaan buruk anak itu. Di antara berbagai motivasi berbohong adalah sebagai berikut:
· Berbohong untuk menarik simpati dan perhatian.
Farid tak yakin ia bisa diterima kawan-kawannya, maka ia membual. Katanya, ayahnya kenal dengan si Anu, bintang sepak bola itu, dan ibunya peragawati. Kalau bualannya sudah tak mempan lagi, Farid 'sakit', sehingga kawan-kawannya datang menengok.
· Berbohong untuk melindungi teman.
Raihan melihat kakaknya tadi membolos dari sekolah, tetapi ketika ayah bertanya, Tono menjawab, "Kakak tadi masuk sekolah, kok." Raihan merasa harus berbohong, karena jika tidak kakaknya tidak akan mengajaknya bermain lagi.
· Berbohong karena meniru orang tua.
Ini terjadi jika kita kadang-kadang menyuruh anak kita berbohong. Misalnya, "Bilang saja kau sakit hari Sabtu kemarin, sehingga tidak masuk sekolah." Padahal si anak tahu, ia tidak sakit, melainkan diajak bepergian akhir minggu oleh orang tuanya.
· Berbohong karena ingin membalas dendam atau mempermalukan orang.
Biasanya berbohong yang ini menggunakan metode 'maling teriak maling'. Aldi jengkel karena ia merasa ibu terlalu memperhatikan adik, sehingga ia diacuhkan. Ia melempar kaca jendela hingga pecah, lalu mengatakan adiklah yang melakukannya.
· Berbohong untuk menipu.
Anak membantah tegas-tegas kenakalan yang sudah diperbuatnya atau tidak melaksanakan apa yang disuruh orang tuanya, tapi mengaku sudah mengerjakannya.

v Bagaimana Cara Mengatasinya
Semua orang tua mengharapkan agar anaknya menjadi orang jujur. Maka bila anak melakukan kebohongan, betapa pun kecilnya, orang tua perlu segera bertindak meluruskannya. Tapi bagaimana cara mengatasi ketidakjujuran itu? Barangkali saran-saran dan pengalaman dari para orang tua berikut ini dapat kita simak.
Pertama, Saran dan pengalaman dari Ibu Bety, Bandar Lampung. Dari pengamatan saya selama ini sebagai guru, banyak hal yang menyebabkan anak berbohong. Dengan mengenali penyebabnya lebih dulu, akan mudah bagi kita untuk mengatasi masalah ini. Saya ambil 2 contoh penyebabnya berikut ini:
(1). Anak terbiasa melihat/mengalami kebohongan yang dilakukan orang lain, seperti orang tua, kakak, saudara atau tetangga. Hal-hal yang oleh sebagian orang di-anggap lumrah, tanpa kita sadari telah menjadi contoh kebohongan bagi anak. Misalnya: (a). Bila ada tamu ia disuruh mengatakan bahwa ayah atau ibu sedang pergi, padahal sebetulnya ada di rumah. (b). Janji-janji orang tua untuk membujuk anaknya agar tidak menangis bila mereka pergi, sering tidak dipenuhi.
(2). Karena rasa takut, misalnya takut dipukul karena mendapat nilai jelek atau takut mengecewakan orang tua. Bila Anda melihat anak berbohong, jangan langsung panik. Selidikilah dahulu penyebabnya. Sikap marah dan keras kepala hanya akan membuat suasana menjadi ruwet. Ajaklah anak berbicara empat mata. Katakan dengan lemah lembut tapi tegas bahwa perbuatannya itu tidak benar. Tanamkan pengertian tentang kejujuran dengan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari. Bila di antara anak dan orang tua sudah ada hubungan yang erat dan terbuka, masalah ini akantlebih mudah dan cepat teratasi. Kalau anak biasa terbuka dengan orang tua, kemungkinan besar ini dapat mencegah mereka berbohong. Setidak-tidaknya mereka tidak terbiasa "berahasia" dengan orang tuanya.
Kedua, saran dan pengalaman dari Ibu Sri Watisari, Bandung. Saya mempunyai pengalaman mengatasi masalah anak berbohong dengan kedua anak saya. Bila anak saya berbohong langsung saya tanyakan mengapa ia berbohong. Jawaban yang mereka berikan selalu karena rasa takut dimarahi. Saya jelaskan pada mereka agar selalu mengatakan yang sebenarnya dan jangan takut karenanya, sebab kalau memang ia benar, saya pun tidak akan marah. Cara penyampaiannya tentu saja sesuaikan dengan usia anak. Saya juga sedini mungkin memberi contoh pada mereka. Misalnya, anak saya yang kecil tidak mau minum obat karena pahit, saya pun tidak mengatakan kepadanya bahwa obat itu manis agar ia mau minum obat tersebut. Tapi saya katakan: "Memang obat ini pahit tapi harus diminum biar cepat sembuh." Bila saya berjanji pada mereka, selalu akan saya tepati walaupun lelah dan sibuk. Agar saya tidak lupa selalu saya katakan pada mereka: "Nanti tolong Mama diingaikan lagi, ya, takut lupa." Dengan cara demikian hingga sekarang anak-anak saya tidak pernah lagi berbohong.
Ketiga, saran dari ibu Metta Sudjoyo, Bandung. Mengatasi anak berbohong dapat dilakukan dengan langkah berikut:
Langkah pertama: Anak diberi pengertian tentang ruginya berbohong. Dengan catatan keuntungan berbohong merupakan keuntungan sesaat, terlebih lagi berbohong ke-pada orang yang disayangi, dalam hal ini orang tuanya.
Langkah kedua: Anak mulai diberi ganjaran bila berbohong. Orang tua hendaknya memberi peringatan lebih keras kepada anaknya yang berbohong dibandingkan dengan anak yang berkata jujur. Selain itu, memberi semacam dispensasi, apabila ia menyadari kesalahannya dengan meminta maaf secepatnya.
Langkah ketiga: Mengajak anak untuk lebih terbuka, menyatakan isi hatinya. Baik keinginannya, keluhan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu hal. Mulai dari hal kecil-kecil sampai masalah kejadian di sekolah. Dengan cara ini anak rnerasa dihargai, dan diharapkan kebiasaan berbohong akan berkurang sedikit demi sedikit.
Keempat, saran dan pengalaman dari ibu Nana Sudarto, Semarang. Menurut pengalaman saya, untuk menghindari
supaya anak tidak berbohong, sejak dini saya sudah menerapkan beberapa langkah berikut ini:
(1). Menanamkan kejujuran. Sejak bayi anak saya latih untuk tidak berbohong. Misalnya, dengan selalu pamit dan menciurn anak bila akan pergi ke kantor, walau ia me-nangis minta ikut. Saya tidak pernah meninggalkan anak secara diam-diam tanpa pamit.
(2). Tepati janji. Bila berjanji pada anak, tepatilah selalu. Memang tidak mudah. Jangan suka mengobral janji pada anak, Namun, misalnya bila di sekolah ada acara dan anak merengek minta diantar, cara ini sering saya lakukan. Saya pergi ke kantor dulu, lalu datang ke sekolah sebentar, untuk kemudian kembali lagi ke kantor meneruskan pekerjaan dengan hati tenang.
(3). Disiplin. Saya berusaha menanamkan disiplin dengan selalu konsisten dengan keputusan yang diambil. Misalnya, saya mengajak anak ke Supermarket hanya untuk jalan-jalan dan bukan berbelanja. Tapi dasar anak walaupun sudah janji tidak minta apa-apa melihat mobil-mobilan, boneka, tetap merengek minta dibelikan. Saya tetap tidak mem-belikannya, sekalipun anak menangis. Saya biarkan dia selesai menangis, kemudian saya ajak pulang.
Pada prinsipnya, Islam mendidik ummatnya agar bertanggungjawab terhadap setiap apa pun yang dikerjakan mereka, gentle, terjauh dari hipokrit dan bermuka dua, bahkan menjadi penjilat.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ
Dari Abu Dzar mengatakan: aku diperintahkan kekasihku, Rasulullah Saw untuk melaksanakan tujuh perkara. 1. Untuk menyintai orang-orang miskin dan berdekatan dengan mereka. 2. Beliau juga memerintahkan untuk melihat pada orang yang sebawahku (dalam konteks duniawi) dan tidak melihat pada orang di atasku. 3. Juga menyuruhku untuk menyambung tali persaudaraan, kendati mereka berpaling. 4. Menyuruhku untuk tidak pernah meminta apa pun pada pihak lain. 5. Memerintahkan agar aku berkata jujur (haq) kendati pahit dirasa. 6. Memerintahkan agar aku tidak perlu takut untuk memperjuangkan agama Allah atas celaan pihak penghujat. 7. Memerintahkan memperbanyak ucapan la haula wala quwwata illa billah, sebab kalimat itu dari simpanan di bawah Arsy.
(HR. Ahmad [Musnad Anshar] dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 20447).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar