Selasa, 29 Desember 2009

Problema Anak Tunggal


Anak semata wayang tak selamanya manja, egois, atau badung. Malah banyak terbukti, mereka berhasil jadi "orang." Asalkan tahu cara mendidik anak ontang-anting tanpa saudara kandung ini.
Anak Anda cuma semata wayang, alias sendirian tanpa adik tanpa abang? Kala.u ya, Anda boleh bersyukur. Soalnya, stereotipe anak tunggal yang selama ini dicap sebagai bocah manja, egois, badung atau tukang jail - dan karenanya cenderung sulit mandiri ketika kelak jadi orang - agaknya terlalu dibesar-besarkan.
Anak tunggal malahan kerap lebih pandai, lebih ambisius, dan lebih berhasil dalam hidup ketimbang anak yang punya satu atau lebih saudara kandung. Beberapa contoh bisa dikemukakan. Menurut pengamatan Walter dan Eleonore Toman, ilmuwan dari AS, pada dekade tahun 60-an persisnya tahun 1957 - 1968, 117 dari 215 pria yang jadi berita di halaman satu Majalah Times adalah anak-anak semata wayang. Di situ misalnya ada nama-nama Anders, Bormann dan Lovell, astronot Apollo 8 yang pada tahun 1968 lantas terpilih sebagai Man of the year. Beberapa orang terkenal lain yang dari sononya diberi peran sebagai anak ontang-anting bisa disebut misalnya Hans Dietrich Genscher (Menlu Jerman), Anja Fichtel (jago anggar pemenang Olimpiade) atau Bjorn Engholm (calon pimpinan SPD).
Kok bisa begitu? Menurut kesimpulan Prof. Dr. Thomas von Kurthy dari Jerman, dalam penelitiannya terhadap 839 mahasiswa, sejak usia dini anak tanpa saudara kandung mampu mengungkapkan pendapatnya secara baik karena dia banyak bergaul dan berkumpul di tengah orang dewasa. Otak mereka lebih encer ketimbang anak yang bersaudara, sebab mereka sering kesepian. Untuk mengusir rasa kesendirian itu, mereka lalu memilih kegiatan membaca. Tambahan lagi, mereka banyak mendapat bimbingan langsung dari orang tua yang memang punya banyak kesempatan untuk itu, karena anaknya toh cuma satu. Dalam soal perilaku pun, mereka biasanya lebih kalem karena pada masa kecil di rumah tidak pernah merasakan bagaimana semrawutnya acara berebut mainan misalnya.
Di tengah kesendiriannya, demikian Prof. Von Kurthy menekankan, anak tunggal berorientasi pada orang tuanya. Mereka ingin seperti orang dewasa. Karenanya, pada usia dini mereka sudah menunjukkan sikap ambisius, sehingga tidak heran setelah mereka dewasa lebih banyak yang berhasil mencapai posisi penting dalam karier daripada mereka yang punya abang atau adik.
Konon, 85% dari anak ontang-anting tanpa saudara kandung ini punya sifat ambisius, sedangkan anak yang bersaudara cuma 55%. Juga dari sisi kecerdasan, menurut penelitian Dr. Gunther Esser, ilmuwan dari Manheim, IQ rata-rata mereka 6 point lebih tinggi dari anak yang punya saudara.
Di Jerman misalnya, saat ini ada sekitar 6 juta anak tunggal. Tampaknya, tendensi ini akan naik. "Kini trend anak tunggal memang lagi mode di sana," tutur Von Kurthy. "Soalnya, orang tua merasa lebih bisa mencurahkan perhatian pada anaknya yang cuma satu." Bahkan dirasakan, kehidupan perkawinan dan irama pekerjaan mereka tidak terganggu, di samping keadaan ekonomi menjadi lebih baik.
Sementara itu, para ilmuwan menambahkan, mereka yang bukan anak tunggal tidak perlu kecewa. Sebab umumnya anak yang bersaudara akan memiliki sifat-sifat positif lain seperti punya rasa sosial lebih besar, mudah membagi milik pada orang lain, dan tidak banyak menerima tekanan harus berhasil, baik yang datang dari dalam ataupun luar dirinya.

v Suka Mendebat
Namun, bukan berarti anak semata wayang otomatis kelak menjadi orang sukses macam contoh-contoh tadi. Semua itu tentu tidak bebas dari pengaruh pola pendidikan yang diterapkan orang tua di rumah, misalnya. Karena itu Prof. Von Kurthy lalu wanti-wanti agar orang tua tidak terlalu memacu anak dalam banyak hal, atau selalu menuruti permintaannya. "Ini bisa merusak mental mereka," katanya.
Anak-anak seperti itu sebenarnya tidak secara otomatis akan lebih pandai, lebih ambisius dan sebagainya. Semua itu tergantung pada lingkungan tempat anak dibesarkan.
Di negara Barat, kondisi lingkungan sosial dan budayanya berbeda dengan negeri kita. Di sana anak cenderung lebih cepat matang dan mandiri. Antara lain karena mereka tidak memiliki pembantu rumah tangga. Mereka pun menghargai budaya individualisme, sehingga mereka menilai tinggi orang-orang yang segera dapat hidup mandiri. Hal ini mestinya belum (banyak) diterima di sini.
Di dunia Barat anak yang cepat dewasa dinilai positif, sementara di negeri kita belum tentu. Di sekolah, misalnya, yang nota bene merupakan wadah pendidikan formal, kita hampir tidak pernah menemukan anak yang dianggap "hebat" karena berani berdebat atau berbantah (yang sering dianggap cermin salah satu nilai kedewasaan seseorang) tentang suatu masalah, dengan guru. Toh andaikata itu terjadi, murid justru akan lebih sering dicap sok tahu, sok mau mengajari guru dan sok-sok lain lagi. Kenyataan sosio-budaya kita memang (masih) begitu. Artinya, kita ini hidup dalam satu lingkup budaya dengan nilai-nilai positif yang sangat berlainan dengan di dunia Barat, di mana penelitian tadi dilakukan.

v Forsir, Membahayakan
Di sisi lain, anak tunggal memang mendapat kesempatan lebih banyak untuk membaca dan juga belajar dari orang dewasa yang sehari-hari hidup bersama di rumah. Tapi ini pun tergantung dari bagaimana orang tuanya. Kalau sedari awal orang tua menyadari akan adanya sejumlah hambatan sebagai konsekuensi melahirkan anak cuma semata wayang, tentunya orang tua bisa secara sengaja merancang kegiatan anak untuk mengisi segala kekurangan yang mungkin dimilikinya.
Tapi yang perlu ditekankan, menurut Prof. Von Kurthy tadi, seyogyanya diingat jangan mentang-mentang anak cuma sendirian, lalu dicekoki seabrek kegiatan yang melebihi kemampuan fisik dan mentalnya. Misalnya saja setiap pulang sekolah, anak dijadwalkan ikut kursus mulai dari komputer, tari balet, bahasa Inggris, sampai les piano, menyanyi dan bahkan berenang, belum lagi baca Al-Qur’annya. Buntutnya, kita sendiri sudah paham: anak menjadi kurang atau tidak punya kesempatan secuil pun untuk bermain-main dengan teman sebaya, yang sering kali berkepentingan membentuk kepribadian yang utuh di masa dewasa kelak.
Kalau anak Anda mendadak muntah-muntah atau sakit perut kalau mau berangkat les atau kursus, boleh jadi itu pertanda anak sudah over programmed, dia sedang stres. Segala macam les tidak soal, asalkan anak itu sendiri berminat dan senang. Kalau si anak tampak terpaksa, ya lebih baik dihentikan saja.
Pengalaman saya sendiri, ketika kakak dan adik-adik telah keluar dari rumah, dan yang di rumah hanya saya doang, seringkali mendapat semprot dari orangtua, padahal jika saudara-saudara saya masih berada di rumah, mestinya semprotan itu terbagi. Jadi kuping ini merupakan satu-satunya wahana penangkap kekesalan orangtua. Segi positifnya, kalau pas ada jatah kenikmatan, juga saya doang yang menerima.
Kecuali itu, anak yang terlalu diprogram macam komputer oleh orang tuanya bisa-bisa akan kehilangan jati dirinya. Bukan tidak mungkin perilaku dan pola pikirnya lalu tidak beda dengan robot. Baru mau jalan kalau dipencet tombolnya, tanpa inisiatif karena sumber kreativitasnya dipasung. Selain itu, ia menjadi anak karbitan: terlalu cepat matang, termasuk pula libido seksnya. Jadi, jangan kaget kalau di SD anak tipe ini sudah mulai menaksir cowok atau cewek sebayanya dengan serius.
Anak semacam itu tidak lain merupakan produk interaksi dengan lingkungan sosialnya yang hanya terbatas di tengah orang tua atau orang dewasa lainnya di rumah, seperti sopir atau pembantu rumah tangga. Terlalu cepat menjadi dewasa bukan lalu berarti anak lebih cerdas dan lebih baik segalanya dari anak lain.

v Intensitas Melindungi
Agaknya benar kalau disebut-sebut kebanyakan anak tunggal kurang memiliki rasa sosial, dan ini wajar karena ia selalu "sendirian" di rumah. Akibatnya anak kurang memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan anak sepantaran. Ia lebih banyak berpikir tentang "aku", bukan "kami" atau "kita". Ini bukan soal yang perlu dicemaskan. Malah kalau mendapatkan pengarahan dan dikelola secara positif, keadaan itu akan tambah memacu ambisi dalam diri anak. Ia bisa menjadi orang yang high achiever, salah satu motivasi (inner motivation) yang bisa mendorong orang sukses di kemudian hari.
Sebaliknya kalau pengarahan atau cara pengelolaannya kurang tepat, misalnya anak terlalu dilindungi, ia bisa menjadi kurang peka, cenderung tergantung pada orang lain, manja, amat penuntut, bahkan menjadi terlalu egois dan karakter negatif lainnya.
Pola keluarga luas di Indonesia sebenarnya menguntungkan bagi anak tunggal. Pola keluarga besar ini memberi kemungkinan tumbuhnya hubungan akrab di antara anggotanya, yang biasanya terdiri atas orang tua dan kerabat dekat lain seperti sepupu, paman, bibi, kakek-nenek. Rasa kesepiannya bakal terobati, dan kekhawatiran bahwa ia akan kurang memiliki keterampilan sosial: tepo sliro, tenggang rasa atau kemampuan bergaul yang memadai, agaknya tak perlu terlalu dipersoalkan dalam pola hubungan keluarga besar macam ini.
Jadi, ketunggalan anak pada umumnya di sini bukan merupakan alasan utama menjadikan anak bersifat egois. Mempunyai anak tunggal atau tidak, kiranya sama saja. Yang penting anak itu jangan sampai kehilangan dunia atau masa kanak-kanaknya. Anak-anak lebih bisa enyoy dalam hidupnya kalau ia berada dalam lingkungan yang sesuai dengan perkembangan diri dan usianya.
Pada setiap tahapan usia, ada tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Semakin tinggi usia anak, keterampilan sosial semakin dibutuhkan, misalnya keterampilan untuk bisa bergaul dengan orang lain. justru ini yang sering kali tidak diperoleh oleh anak tunggal, terlebih lagi anak yang tidak berada atau bukan merupakan anggota sebuah keluarga besar.
Oleh sebab itu sebaiknya diusahakan agar anak tunggal tipe ini mendapat banyak kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya, supaya perkembangan jiwanya sesuai dengan usianya. Kalau ada orang tua senang melihat anaknya yang berusia 10 tahun misalnya, bergaya atau berdandan mirip mami-mami, ya tentu ini salah. Ini berarti orang tua membiarkan ada sesuatu yang hilang dalam perjalanan hidup anaknya. Bisa saja terjadi kelak, ketika ia beranjak dewasa atau tua, timbul gaya-gayanya yang kekanak-kanakan, naif, bahkan cenderung tolol. Sebab di masa kanak-kanak perkembangan jiwanya tidak seimbang dengan usianya, atau ada sesuatu yang hilang di waktu kecil tadi.
Anak tunggal yang sulit menyesuaikan diri di sekolah, sukar menuruti peraturan, sulit berbagi milik dengan orang lain, tidak mudah tunduk pada guru, kurang sabar dan sebagainya, mungkin karena di rumah ia terlalu sering dilayani atau dituruti segala permintaannya.
Gambaran seorang anak yang aktif, suka bergerak, lebih senang bermain daripada belajar, ngomong seenaknya, jangan sampai hilang sebelum masanya. Biarkan anak cukup banyak waktu untuk bermain dan bergaul dengan anak seusianya. Kita tahu bermain itu perlu, termasuk bagi anak tunggal, karena di sanalah ia mendapat kesempatan mengembangkan antara lain keterampilan sosialnya.
Anak tunggal pun sering diharapkan oleh orang tuanya supaya kelak jadi "orang". Namun, jangan sampai harapan tersebut tidak disesuaikan dengan kenyataan yang dimiliki anak itu sendiri. Di samping itu perhatian orang tua atas segala kebutuhan bagi perkembangan anak tanpa saudara kandung ini agaknya perlu diterjemahkan secara benar dan wajar. Kalau tidak, harapan agaknya akan tetap tinggal impian.

v Ajak Bicara
Yang penting anak tunggal jangan dimanja," kata Pak Sanusi. Sejak kecil Naufal (19 tahun) anak satu-satunya, sudah dilatih untuk mandiri. Umur 2,5 tahun kamarnya sudah terpisah dengan orang tua. Kalau libur, ia dititipkan pada salah seorang saudaranya di Bandung supaya mandiri. SD kelas V, Naufal tidak mau lagi diantar ke sekolah. Sekarang kalau kuliah ia naik bus, kecuali dalam keadaan terpaksa ia boleh memakai mobil. Uang saku pun tidak berlebihan.
Karena anak cuma satu, kata Sanusi, adakalanya sulit untuk mengukur sampai batas mana anak boleh mendapatkan sesuatu dan bilamana tidak. "Tapi kami menyadari bahwa terlalu memanjakannya malah bisa merugikan kami atau anak itu sendiri," tambahnya.
Waktu masih di SD, cerita Sanusi, Naufal bandel bukan main, sangat penuntut dan keras kepala. Mereka hampir kewalahan menghadapinya. Namun dengan tindakan yang tegas dan tepat mereka berhasil menguasainya.
Orangtua Naufal, mengaku sering cemas dan khawatir kalau anaknya keluar rumah bersama teman-teman, apalagi sampai larut malam. "Kami takut kehilangan dia. Mula-mula kecemasan itu merupakan beban bagi kami, tapi akhirnya kami pasrah. Yang penting, kami tahu ke mana perginya, dengan siapa dan jam berapa pulangnya. Kalau tidak pulang pada jam yang dijanjikan, dia harus menelepon," tutur Sanusi.
Hubungan kami dengan Naufal cukup akrab. Tapi bukan berarti ia harus meniru kami. Saya berusaha dekat dengan teman-temannya. Saya perbolehkan teman-temannya menginap di rumah. Saya biarkan ia bergaul dengan teman-temannya asalkan dalam batas normal. Kalau ia berbuat salah, lebih banyak kami ajak bicara daripada dimarahi. Pak Sanusi sangat berharap Naufal sukses di sekolah, tapi ia mengatakan tidak pernah memaksakan kehendaknya.

v Ajari Mandiri
Zakiah (30), ibu seorang anak ditinggal ayahnya ketika masih berusia 5 tahun. Ia berkisah bagaimana ibunya mendidik dirinya sampai ia sukses dalam studi.
"Sejak kelas III atau IV SD saya diajar mandiri oleh ibu. Karena ditinggal ibu bekerja dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari, bagaimana kalau saya tidak mandiri? Saya tidak sempat bermanja-manja dengan ibu," tuturnya.
PR (pekerjaan rumah) harus selesai sebelum ibunya pulang. Demikian pula belajar untuk ulangan keesokan harinya. Malah waktu di SMTP, Zakiah diajar bagaimana mengatasi listrik mati karena konsleting. "Saya tidak boleh minta bantuan pembantu kalau tidak terpaksa," tambahnya.
Begitu ibunya pulang dari kantor, ia diharuskan menceritakan seluruh pengalaman selama di sekolah maupun di rumah. Karena begitu akrab dengan ibunya, tidak ada rahasia yang perlu ditutupi. Sebaliknya, ibunya juga menceritakan semua pengalamannya selama di kantor kepada Zakiah. "Ibu saya juga tidak pernah lupa memeriksa PR atau mengetes pelajaran untuk ulangan."
Zakiah mengakui bahwa waktu kecil ia merasa kurang bergaul dengan teman sebaya di luar sekolah, walaupun adakalanya ada teman bermain ke rumah. Di rumah ia lebih banyak bermain dengan pembantu yang usianya tidak jauh berbeda. Kalau ingin mengutarakan perasaan, ia disarankan oleh ibunya berbicara dengan cermin atau boneka kesayangannya. "Memang tidak mendapat respons karena dengan. barang mati, topi paling tidak saya bisa mengimajinasikan diri saya berbicara dengan teman sebaya."
"Waktu menginjak remaja, saya mulai bertanya-tanya, apakah saya tidak terlalu dekat dengan ibu." Ia hampir tidak mempunyai teman pria. Zakiah masih ingat ia agak tertekan ketika ibu melarang teman pria masuk ke dalam rumah, hanya sampai batas pagar rumah. Namun, untungnya hal itu akhirnya mencair.
Bahwa anak tunggal mendapat sarana lebih banyak dibandingkan dengan anak yang bersaudara, memang betul. Tapi apakah sarana yang ada itu betul dipakai atau tidak, ini tergantung pada rangsangan orang tuanya dan bagaimana mengolah rangsangan itu. Walaupun banyak sarana, kalau tidak dipakai, tentu saja percuma. "Saya banyak membaca, tapi saya kira bukan cuma membaca saja yang menyebabkan saya selesai dalam studi."
Ibu Zakiah juga tidak memaksa anaknya untuk belajar ini dan itu di luar sekolah. Les yang menyita terlalu banyak tenaga dan waktu malah dlhentikan. Namun, ia merasa sosialisasinya cukup baik, mungkin karena faktor bawaan dan motivasi dari ibunya bahwa ia harus selalu bicara terus terang, tidak malu dan sebagainya.
Bahwa ia diharapkan sukses dalam pendidikan memang benar. Apalagi pendidikan ibunya tinggi. Sampai di SMTP pun setiap kali ada ulangan ibunya tidak pernah lupa mengetesnya. Semua hasil ulangan dicatat nilainya. Sampai pada saat rapor diberikan ia tahu betul nilai-nilai putri tunggalnya ini. Kalau tidak sesuai dengan catatannya, ia mengklaim ke guru.
"Saya merasa sebenarnya itu kurang baik. Tapi kemudian ibu menyadari bahwa saya tidak bisa terlalu ditekan. Ia melunak dan saya mengerti ibu saya berlaku demikian untuk mendidik agar saya berdisiplin," tambahnya pula.
Waktu akan memasuki universitas, Zakiah harus bisa memilih dan memutuskan sendiri apakah ia ingin terus menari sesuai bakat dan kegemarannya atau meneruskan sekolah. "Saya pikir sebaiknya meneruskan sekolah karena masa depannya lebih jelas daripada menjadi seniman"
Anak tunggal hendaknya tidak terlalu dilindungi atau diberi uang terlalu banyak Zakiah sendiri malah pernah berjualan brondong kacang untuk menambah uang saku. Ibunya menjualkannya di kantor.
Anak satu atau lebih saya kira hendaknya kita menjadikan anak mandiri sejak dini, supaya keterikatan serta ketergantungan anak pada orang tua tidak berlebihan.

v Bersikaplah Tawasuth
Tawasuth, iqtishad (bersahaja) adalah suatu derajat yang terletak di antara dua derajat, yakni derajat sedang antara yang terendah yang yang tertinggi. Mendidik dan mengarahkan kemaslahatan anak kiranya juga dapat diuraikan menjadi tiga bagian: a. taqshir (lalai). b. israf (melampaui batas). d. iqtishad antara keduanya. Periksa firman Allah:
Ÿwur ö@yèøgrB x8y‰tƒ »'s!qè=øótB 4’n<Î) y7É)ãZãã Ÿwur $ygôÜÝ¡ö6s? ¨@ä. ÅÝó¡t6ø9$# y‰ãèø)tFsù $YBqè=tB #·‘qÝ¡øt¤C
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (Al-Isra’: 29).
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (Al-Furqan: 67).
Khudzaifah Ra. mengatakan:
الْحَسَــنـَة ُبَـيْـنَ السَّــيـِّـئـَتـَيـْنِ
Kebajikan itu terletak di antara dua keburukan.
Yakni lalai merupakan keburukan, melampaui batas juga keburukan, kebaikan adalah terletak di antara keduanya, yaitu pada derajat yang sedang. Dengan demikian seseorang janganlah membebani tugas seorang anak melainkan dengan aktivitas yang bisa dilaksanakan secara berkesinambungan, langgeng, istiqamah dan kontinu, juga tidak menyebabkan jenuh dan bosan.
Periksa sabda Rasulullah Saw. mengenai shalat malam:
لـِيُصَلَّ اَحَدُكـُمْ نـَشـَاطَهُ فـَإذَا وَجَدَكـَسْلاً اَوْفـُتـُوْرًا فـَلـْيـَقـْعـُدْ اَوْقـَالَ فـَلـْيَرْقـُدْ
Hendaklah seseorang darimu melakukan shalat selama masih bersemangat. Kemudian jika mengalami malas atau mengendor, hendaklah ia duduk. Atau Nabi bersabda: Hendaklah ia tidur.
Jika anak terbebani tugas yang tidak mampu ditanggungnya, ini sama saja dengan membuat sebab kebencianpada aktivitas itu. Apalagi dalam urusan agama anak, Rasulullah Saw. melarang membebani mereka dengan ibadah yang terlalu berat. Sebagai contoh, Rasulullah Saw pernah menjumpai Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash yang selalu berpuasa di siang hari dan selalu shalat panjang di malam hari, ditambah lagi dengan sang isteri yang tidak pernah dijamah. Seketika itu Rasulullah Saw. bersabda:
“Apakah engkau membenci sunnahku, wahai Abdullah?!,” tanya Rasulullah Saw.
“Bahkan sunnah baginda yang saya kagumi,” sambung Abdullah.
Selanjutnya Rasulullah Saw. mengatakan:
فـَإنِّي أصُوْمُ وَاُفـْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَنـْكِحُ النـِّسَاءَ فـَمَنْ رَغِـب عَـنْ سُنـَّتِيْ فـَلـَيْسَ مِنِّي َ
Sesungguhnya aku melaksanakan puasa, juga tidak puasa, juga shalat, juga tidur, juga menikah. Maka barang siapa membenci sunnahku, tidaklah ia termasuk golonganku.
Adapula segolongan sahabat yang berkendak untuk terus menerus berpuasa, malah mengharamkan diri untuk tidur dan makan, sebagaimana ‘Usman bin Mazh’un. Ini karena adanya prasangka bahwa sikap itu merupakan amal yang akan mendekatkan diri kepada Allah (qurbah). Terbukti sikap mereka dilarang Allah karena termasuk melampaui batas dalam beragama atau dalam menerapkan syari'at. Allah pun berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah dihalalkan Allah bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-Maidah: 87).
Sebagian ahli tafsir menginterpretasikan: Janganlah engkau melampaui batas dengan berlebih-lebihan. Atau janganlah engkau melampaui batas kesanggupanmu.
Contoh-contoh iqtishad yang lain masih bayak, bukan hanya dalam memberi beban pendidikan pada anak, sebagaimana mempergunakan air untuk berthaharah, bersahaja dalam berdoa, makan, minum, beribadah dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar