Selasa, 29 Desember 2009

Menyiasati Anak Sulit Belajar

Menyiasati Anak Sulit Belajar


Ini sebuah kisah seorang ibu yang binggung mengatasi anaknya. Menurut penuturannya, konon anaknya sangat malas belajar. Karena itu dia meminta pertolongan kepada seorang psikolog untuk membantu mencarikan jalan keluarnya. Kepada sang psikolog si ibu bercerita begini:
Seperti kata pepatah, kasih ibu sepanjang jalan, begitu pula kasih sayang Farida (30 tahun) pada anaknya. Tetapi tampaknya tidak demikian dengan kasih anak tunggal yang berumur 6 tahun kepada sang ibu. Masalahnya berawal dari semangat belajar anak tersebut yang cukup buruk. Ia susah sekali disuruh belajar, sehingga setiap sore sepulang kerja Farida selalu memarahinya agar ia mau belajar. Akibatnya, setiap kali belajar, anak itu menangis dan bilang, "Mama galak!"
Yang membuat Farida bertarnbah bingung, suasana rumah yang penuh ketegangan tersebut akhirnya merembet ke hubungan antara Farida dan suami. Tak dapat dielakkan, hubungan kami kini tidak harmonis. Bagaimana Farida bisa mengatasi persoalan ini?
Sang psikolog pun menjawab begini: Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai karakteristik anak usia 6 tahun. Ia masih tergolong dalam usia pra sekolah atau usia bermain. Melalui bermain anak bisa memperoleh kesenangan dan mempelajari bermacam-macam hal, sehingga sangat dianjurkan untuk mengisi kegiatan bermain mereka secara terarah. Yaitu yang melibatkan aktivitas fisik seperti berlari, berguling, melompat, memanjat, meniti dan juga kegiatan bermain yang lebih banyak melibatkan aktivitas mental, di mana anak perlu menggunakan akal/pikiran, kreativitas dan imajinasinya.
Rentang perhatian anak biasanya masih pendek, dia tidak tahan duduk lebih dari 30 menit. Kalau anak Anda sulit duduk diam, maka bisa dicari alternatif dengan memberi tugas yang dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Kalau ia terlalu aktif, perlu dikonsultasikan ke psikolog dan neurolog untuk diamati apakah ada gangguan organis.
Dalam proses berpikir, untuk memahami sesuatu, anak perlu diberi penjelasan secara kongkret. Sesuatu yang bisa dia lihat sendiri secara nyata, bukan hanya dengan membayangkan. Hal-hal yang bisa dia alami/rasakan sendiri akan lebih mudah dimengerti dan dipahami, ketimbang penjelasan-penjelasan yang abstrak sifatnya. Misalnya, bila Anda mengajarkan penjumlahan, sebaiknya Anda gunakaii alat bantu seperti batang lidi atau kelereng.
Anak senang bermain khayal, pura-pura menjadi jagoan, guru, ibu dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam bermain khayal, anak perlu menggunakan daya ingat tentang apa yang pernah dia lihat atau alami sehari-hari, anak juga perlu menggunakan imajinasinya. Karena itu, melatih daya ingat anak. Dengan menyuruhnya menceritakan kembali hal-hal yang pernah ia alami, dengar atau lihat sangaliah besar manfaatnya. Bacakan cerita anak-anak dengan gambar yang besar dan berwarna serta menarik, dengan tulisan yang dicetak besar-besar serta kalimatnya singkat tentu merupakan kegiatan yang menarik.
Anak juga perlu terampil dalam menggunakan tangannya untuk melakukan gerakan-gerakan yang halus dan lebih terkendali sebagai persiapan menulis. Untuk melatihnya bisa diberi kegiatan mewarnai gambar, menyusun balok, menggambar apa saja seperti rumah, orang atau lainnya, karena dengan demikian ia belajar mengoordinasi mata dan tangannya.
Selain itu semua, anak perlu juga menguasai bahasa ibu dan jangan diberi bahasa lain kalau ia belum mampu. Anak perlu mengerti makna kata-kata, dan memaliami pembicaraan orang lain. Bagaimana dia bisa membaca dengan lancar dalam arti mengerti bahan bacaan kalau dia belum memahami makna dari kata dan perbendaharaan katanya terbatas? Anak perlu dilatih berbicara dalam kalimat yang jelas, susunan kalimat teratur sehingga memudahkannya untuk mengemukakan pendapat pada orang lain.
Kalau keterampilan dasar tersebut sudah dikuasai, maka anak akan lebih siap mengikuti pendidikan di sekolah dasar. Jadi, Anda dapat melatih anak giat belajar melalui kegiatan bermain sambil belajar, tidak melulu pada kegiatan menulis, membaca, berhitung, dikte yang sifatnya lebih akademis. Menghitung, misalnya, bisa dilakukan dengan menyuruh anak menebak mana yang lebih banyak dan lebih sedikit, berapa banyak kue yang dia dapat, berapa sisa kue yang ada setelah dikurangi jumlahnya. Membaca bisa dirangsang dengan membaca label tertentu, membaca nama orang tuanya, saudaranya dan namanya sendiri.
Ada data yang kurang mengenai anak Anda, yaitu bagaimana kemampuannya untuk mengingat atau memahami apa yang diberikan, apakah daya tangkapnya cepat atau lambat. Keadaan ini bisa memengaruhi minat belajar Anak.
Setelah Anda sukses mengantarkan buah hati pada ketekunan belajarnya, setelah remaja, lanjutkan dia dengan berpikir freatif
Kreatif hanyalah sebuah kata pendek dan sederhana, namun berkat pemikiran kreatif, kesuksesan besar, semisal kemajuan teknologi, industri dan bidang lain bisa terwujud. Tidak berlebihan jika dikatakan, berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan.
Lalu, bagaimana cara untuk bisa berpikir kreatif? Berikut ini cara yang bisa dicoba.

1. Berpikir, Semua Bisa Dilakukan
Yakinlah bahwa sesuatu yang akan kerjakan anak Anda akan mampu diselesaikanbya. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada pesimis. Misalnya, katakan pada sang anak "Saya mungkin tidak bisa mengerjakan". Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, "Saya pasti bisa mengerjakannya", "Bagi saya tidak ada kata menyerah".
Pernyataan optimis melatih anak berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu.

2. Hilangkan Pikiran Konservatif
Pola berpikir bonservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya bonservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, sang anak takut akan mengalami berugian.
Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dihekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir elektif.
Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir bonservatif. Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat herharga. Lalu, kita dan anak kita hendaknya mengolahnya menjadi "barang jadi" lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif.
Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita dan anak kita. Untuk "memperkaya" diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Ketiga, harus proaktif. Anak kita dituntut "menjemput bola" dalam menghadapi sesuatu, dan bukan "menunggu bola". Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.

3. Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas
Jangan cepat puas. Semakin cepat puas berarti menutup diri terhadap pekerjaan lain yang dapat memperbaya perkembangan pemikiran. Kesanggupan menerima pekerjaan lain, berarti anak kita membuka diri pada tantangan baru. Untuk itu sang anak dituntut berpikir cerdas dan efektif.
Dua hal perlu dilakukan. Pertama, tambah kuantitas pekerjaan anak. Artinya, tidak perlu mengeluh bila di luar besibukan, sang anak masih menanggung hal lain yang perlu diselesaikan. Keterbukaan untuk menerima tambahan pekerjaan membuat sang anak melatih diri. Apakah dalam situasi tertekan, ia masih mampu berpikir? Yang berpikir kreatiflah yang mampu membangkitkan daya pikirnya. Kedua, perbaiki kualitas hasil kerja. Ini mengandung makna, sekecil apa pun pekerjaan, anak kita tidak boleh mengabaikan kualitas hasilnya. Karena dari kualitas pekerjaan itu tercermin mutu pemikiran sang anak. Artinya, balau pekerjaannya berkualitas, itu menunjukkan mutu daya pikir anak yang semakin bagus. Semakin berkualitas hasil pekerjaannya, semakin berkualitas pula pola berpikirnya.

4. Perbanyak kebiasaan bertanya
Bertanya merupakan indikator bahwa pikiran anak masih "jalan" dan selalu dinamis. Dengan bertanya, berarti mencoba menguji daya kritis. Kebiasaan bertanya jangan dipahami bahwa kita "tidak mengerti". Tetapi harus dipahami sebagai munculnya dinamika pikiran.
Bertanya merupakan sarana melatih pengembaraan daya kreativitas. Dengan bertanya, pemikiran kita bertemu dengan pemikiran orang lain yang mengandung hal-hal baru, sehingga cakrawala berpikir kita semakin luas. Juga membuat kita tidak terpaku pada pemikiran diri sendiri. Sebaliknya, kita mencoha meyakinkan apakah pemikiran kita sejalan dengan pemikiran orang lain? Hal ini membuat anak semakin kreatif karena berusaha terbuka terhadap pemikiran dari luar.

5. Jadi Pendengar yang Baik
Menjadi pendengar yang baik berarti sanggup mendengarkan setiap informasi dari luar. Dengan demikian kita mempunyai "kekayaan", banyak kesempatan untuk berpikir mengenai yang didengarnya.
Apabila ingin menanggapi yang didengar, sudah tersedia banyak konsep pikiran untuk digunakan. Menjadi pendengar yang baik berarti mengerti betul setiap informasi yang masuk ke alam pemikiran. Kita dan anak kita dituntut untuk herpikir kreatif, sehingga sanggup merespons sesuatu yang dikehendaki oleh dunia luar.
uŽ|³÷èyJ»tƒ Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ÈbÎ) öNçF÷èsÜtGó™$# br& (#rä‹àÿZs? ô`ÏB Í‘$sÜø%r& ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur (#rä‹àÿR$$sù 4 Ÿw šcrä‹àÿZs? žwÎ) 9`»sÜ2#=Ý¡Î0 ÇÌÌÈ
Hai golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (QS. Ar-Rahman [55]: 33).

v Sukses Ilmu Pengetahuan di Jepang
Salah satu kunci sukses ilmu pengetahuan di Jepang, di antaranya mereka menyukai belajar secara berkelompok. Belajar merupakan kegiatan sosial yang berlanjut terus seumur hidup dan berusaha memperoleh pengetahuan yang dibina secara berkelompok. Di setiap organisasi dan kelompok sosial yang penting, semua rakyat mempunyai kepentingan bersama. Mulai dari pemerintah nasional sampai perusahaan swasta, dari kota sampai ke pelosok desa, para pemimpin yang bertanggungjawab mengkhawatirkan masa depan organisasinya.
Pada saat Peter Drucker, Daniel Bell serta yang lain menyambut kedatangan masyarakat sesudah periode industri, di mana pengetahuan menggantikan modal sebagai sumber daya masyarakat yang paling utama, konsep baru ini menjadi kegemaran besar di kalangan pemimpin di Jepang. Kalangan pemimpin ini semata-mata hanya menandaskan formula paling baru dari yang telah menjadi kebijaksanaan konvesional Jepang, yakni memandang usaha menguasai pengetahuan menjadi perihal yang sangat penting.
Sebagai contoh, kalau dua orang berkumpul, salah seorang memberikan informasi dan yang mendengarkan jadi pelajar. Setiap orang diharapkan menjadi pelajar pada sebagian waktunya. Seorang pelajar yang baik akan dikagumi walau bcrapa pun usianya. Seorang pelajar yang baik memperlihatkan kerendahan hati, kesabaran dan ketekunan.
Dalam tata-tata kelompok, bila seorang murid berpikir bahwa sang guru kurang menarik, dia boleh mengantuk, tidur secara diam-diam. Bilamana dia berpendapat bahwa sang guru kurang cakap, dia sembunyikan pendapatnya. Dia tidak boleh melawan kebijaksanaan sang guru. Bila si murid mengajukan pertanyaan, dia memilih satu pertanyaan yang akan memungkinkan sang guru memperlihatkan kecakapannya. Sang pelajar terikat dalam peranannya sebagai pelajar dan berusaha untuk belajar sedapat-dapatnya. Belajar merupakan kegiatan sosial yang berlanjut terus seumur hidup.
Setelah dia dipekerjakan, lulusan sekolah siap untuk menerima latihan spesialisasinya dan dia tetap terbuka untuk menerima pendidikan umum yang lebih luas. Di tempat kerjanya karyawan baru pertama-tama harus menjalani latihan tertentu untuk jangka waktu lama dengan kedudukan rendah. Sepanjang karirnya di kemudian hari seringkali harus turut serta dalam berbagai grup belajar. Seorang karyawan dianjurkan melakukan studi yang berhubungan dengan pekerjaan-nya, walaupun tidak terdapat kelompok belajar.
Di luar pekerjaan, sang karyawan mencari kesempatan untuk belajar sesuatu yang mungkin bcrguna bagi pekerjaannya. Te-tapi dia pun berusaha untuk belajar hal-hal yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pekerjaannya, karena hal itu mungkin akan berguna untuk jangka panjang.
Bila seorang pengunjung asing datang ke Jepang, kebanyakan.orang Jepang berpikir secara naluriah. "Dapat belajar apakah saya dari padanya?" Dan tiga juta orang Jepang yang tiap tahun bepergian ke luar negeri bagaikan mencari sekelumit petunjuk untuk lahirnya gagasan baru yang mungkin bisa mereka terapkan di negaranya sendiri. Surat kabar, televisi, majalah berkala juga diharapkan untuk memberikan pengetahuan umum dalam jumlah yang banyak.
Herbert Passin, ketua Departemen Sosiologi Universitas Columbia, mengatakan bahwa apabila dia ingin menyatakan pikiran-pikiran baru untuk diketahui umum di Jepang, dia dan kaum cendekiawan Jepang dapat menunjukkan banyak penerbit di mana pikiran mereka akan segera dicetak.
Televisi pendidikan diberi dana yang berlimpah, sebagian besar acaranya dicurahkan untuk kursus-kursus pendidikan dasar, bukannya untuk hiburan elit. Kursus dalam lima bahasa asing, bahasa Inggris (dalam berbagai tingkat, dari Sesame Street sampai ke acara-acara untuk orang dewasa), bahasa Jerman, bahasa Cina, bahasa Prancis, dan bahasa Rusia dapat ditemukan dalam acara mingguan tetap di jaringan pendidikan nasional. Para pemirsa televisi pendidikan mengharapkan peta-peta, grafik serta gambar-gambar. Meskipun pelajaran dasar teruus dilanjutkan di mana-mana dan terhadap semua umur, pengumpulan informasi menjadi terpusat dan mempunyai kehebatan mirip kampanye khusus bila sebuah organisasi mengakui sebuah persoalan sebagai sesuatu yang sangat penting.
Selama beberapa tahun, suatu persoalan tertentu menjadi dominan, seperti merencanakan sebuah jalan kereta api atau mempromosikan modal yang banyak mengandung risiko atau meninjau kembali sistem pajak daerah. Hampir setiap anggota organisasi menangani aspeknya, menyelidiki segi-segi baru serta mencari dan menyampaikan informasi-informasi yang baru.

v Ilustrasi Pendidikan Dasar
Proses untuk menguasai ketrampilan pada skala nasional yang dapat dilukiskan di sini ialah pendekatan Jepang pada bidang olahraga dengan mengambil standar terhadap olahraga Barat terkemuka yang mereka harapkan akan dapat dikuasainya. Olahraga utama yang dipilih adalah baseball yang mulai diperkenalkan pada tahun 1873, lima tahun sesudah Restorasi Meiji dan dipopulerkan pada peralihan abad mi.
Orang Jepang mengirimkan pengamat-pengamat untuk mempelajari regu-regu Amerika yang terkuat dan menjalani latihan di bawah pengawasan mereka. Bukan suatu kebetulan, bahwa pemain baseball Amerika yang paling disanjung-sanjung sebelum Perang Dunia II, yakni Babe Ruth, mendapatkan sambutan yang semarak di Jepang dan tetap menjadi salah seorang pahlawan Jepang yang besar. Sesudah Perang Dunia II orang Jepang cepat-cepat mengundang untuk pertunjukan yang lengkap ke negaranya. Secara berangsur masing-masing regu Jepang berusaha untuk mengambil satu atau dua orang pemain Amerika.
Untuk jelasnya, beberapa dari para pemain Amerika itu telah habis masa jayanya, tetapi itu bukan menjadi masalah bagi mereka. Permainan mereka sendiri mungkin hanya sedikit membantu permainan regu dalam waktu yang pendek, tetapi mereka dapat membantu melatih anggota-anggota lainnya, memberikan teknik permainan yang akan membuat regu-regu Jepang menjadi kuat di masa-masa mendatang.
Apapun bentuk olahraganya, pendekatan dasar belajar adalah sama dan tetap sama. Sebagai contoh lain, orang mencatat bahwa bowling yang dipelajari dari Amerika, menjadi begitu populer pada tahun 1960-an, sehingga untuk beberapa waktu dua tempat permainan bowling yang terbesar di dunia terdapat di Tokyo dan lebih banyak orang Jepang yang bermain bowling dibandingkan dengan orang Amerika.
Orang Jepang belajar senam dari Uni Sovyet, Hockey dari Kanada, tenis dari Australia dan Amerika, sepakbola dan rugby dari Inggris, sky dari Australia, basket dari Amerika Serikat dan tenis meja dari Cina. Pendatang baru dalam kelengkapan jenis olah raga Jepang adalah football Amerika. Negara mana pun tidak dapat menyamai Jepang dalam usaha mempelajari olahraga ini. Jepang hanya menjadi tuan rumah regu-regu football profesional Amerika yang datang ke Jepang untuk saling bertanding, tak lain karena belum ada regu Jepang yang sudah mencapai tingkat kemampuan bertanding dengan regu Amerika.
Sementara olahraga baru ditambahkan pada perbendaharaan Jepang, maka olahraga tradisional pun tidak pula diabaikan. Sumo, judo, karate, serta aikido tetap populer, meskipun kadang-kadang terjadi gelombang mode. Ketika mode baru berkecamuk dan usaha untuk menguasai olahraga baru mencapai titik puncaknya, olahraga yang lama tetap dapat mempertahankan kedudukannya dalam cakrawala olahraga yang semakin meluas.
Merupakan kekecewaan yang besar bagi orang-orang Jepang bahwa regu-regu atletik mereka belum mendapatkan prestasi yang luar biasa, seperti halnya perusahaan-perusahaan mereka dalam persaingan ekonomi internasional. Terus-menerus mereka melakukan kritik terhadap diri sendiri serta menganalisa sebab-musabab kegagalannya.
Mereka tidak membuat alasan dengan bentuk tubuh mereka yang kecil. Mereka juga tidak berhenti dalam usaha untuk memperbaiki diri sendiri, meskipun mereka telah mencapai taraf persaingan internasional dalam semua cabang olahraga dan tidak jauh ketinggalan di belakang Uni Sovyet, Amerika Serikat, Jerman Barat dan Jerman Timur. Para ahli olahraga asing yang mengamati orang-orang Jepang meramalkan adanya kemajuan yang berkesinambungan dalam menguasai olah raga Barat.
Unsur-unsur yang sama terdapat di bidang olah raga, yaitu kepemimpihan grup, studi yang berorientasi pada grup, jangkauan jangka panjang, rendah hati dan didorong ambisi yang tinggi. Hal ini juga terdapat pada kasus-kasus belajar yang lain, apakah itu diatur oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan swasta ataupun oleh kelompok sosial setempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar