Senin, 28 Desember 2009

Belajar Membaca yang Menyenangkan

Belajar Membaca yang Menyenangkan


Banyak metode pengajaran membaca untuk anak anak. Namun, tidak semuanya menggunakan cara yang menyenangkan. Memilih cara belajar baca yang menyenangkan merupakan awal bagi anak untuk rajin membaca.
Tahun 2004 ketika indeks kenaikan Ujian Nasional anak SMU dinaikkan, banyak siswa yang tidak lulus. UNESCO membuat riset ternyata jangkauan bacaan anak Indonesia hanya 0,91. Artinya, kalau mereka membaca 100 kata, hanya 9 kata yang mereka kuasai! Dalam keadaan seperti itu, bagaimana anak-anak mampu membaca buku teks, membaca soal dan membaca berita? Lalu, bagaimana membenahi kondisi ini?

v Bukan Hanya Cepat Membaca
Tingkat kemampuan membaca terkait erat dengan cara pengajaran membaca yang dipraktikkan sejak awal. Ada banyak cara pengajaran membaca menawarkan hasil anak cepat bisa membaca. Namun, hendaknya orangtua tidak begitu saja mudah tergiur pada metode cepat membaca, tapi sebenarnya menimbulkan beberapa kejenuhan dan berpengaruh negatif pada minat serta kemampuan baca anak.
Orangtua dan guru perlu mencari metode belajar berbahasa yang sesuai dengan kerunutan cara berpikir anak dan kekhasan bahasa Indonesia sesuai dengan tata bahasanya. Dengan metode yang komprehensif seperti itu, anak akan menguasai bahasa pertama (first language) secara utuh. Selanjutnya, akan memudahkan anak untuk mempelajari bahasa kedua (second language) dan seterusnya.
Logika bahasa ini adalah modal penting bagi anak untuk mudah membaca, menganalisa dan menjelaskan sesuatu dengan bahasa lisan atau tulisan.
Tentang rendahnya logika berbahasa, ini contohnya juga dialami oleh beberapa guru yang pernah secara sengaja diuji logika berbahasa. Hasilnya ternyata, banyak guru yang tidak memiliki cara berpikir yang runut dan kurang mampu menjelaskan gambar dengan bahasa yang jelas kepada muridnya.

v Tahapan Belajar Membaca
Ada perbedaan pendapat terkait dengan kapan anak mulai diajarkan membaca. Ada yang berpendapat bahwa mengajarkan anak membaca di usia dini ditakutkan menjadikan anak itu bosan. Sebaliknya ada yang berpendapat justru anak harus diajarkan membaca sedini mungkin.
Berdasarkan beberapa pengalaman ternyata masing-masing anak punya tahapan, dalam kaitannya dengan membaca. yang berbeda-beda. Sebenarnya masa yang paling bagus untuk belajar bahasa pada anak-anak adalah di usia 4-6 tahun. Belajar bahasa. bukan hanya membaca. Tapi. mulai dari menyimak. berbicara, menulis. dan terakhir membaca. Sementara. kalau kemampuan membaca itu bisa diperpanjang sampai usia 9 tahun. Sehingga kalau anak usia 9 tahun belum bisa membaca, itu sama saja dengan dia tidak bisa mengerti bacaan seumur hidup.
Tentang usia dini belajar membaca, sebenarnya sudah bisa dimulai pada usia 2,5 tahun yaitu pada saat kognitif anak sudah mulai berkembang. Sementara menyimak, bisa dimulai sejak usia 6 bulan. Sebagai persiapan. orangtua juga dapat melakukan beberapa tahapan sebelum anak belajar membaca.
1. Menyimak. cara yang dilakukan adalah dengan bercerita dan menyanyi.
2. Berbicara, yaitu dengan memberikan buku gambar seri dan pertanyaan kritis. Guru atau orangtua dapat bercerita mengenai gambar yang ada selama 3 menit. Kemudian, guru meminta anak menyebutkan satu kata dari gambar yang ada. Bila anak sudah mahir, maka dapat beranjak ke dua kata, misalnya, baju kuning dan seterusnya. Tujuan cara ini adalah untuk melatih menyimak, memperkaya kosakata dan konsentrasi.
3. Menulis. Kegiatan ini sudah dapat dimulai saat anak mulai mencoret-coret. Tujuannya untuk persiapan motorik. Alat yang dibutuhkan adalah bentuk geometri. kertas. krayon, pensil warna dan pensil 213. Kegiatan ini dimulai dengan menggaris bentuk geometri dari bagian atas ke bawah. Lakukan secara bertahap. Ini adalah latihan konsentrasi, koordinasi mata dan tangan serta mengembangkan persepsi.
4. Baru belajar membaca. Untuk melihat kapan anak siap belajar membaca. orangtua bisa melihat dari ciri-ciri berikut: yaitu, saat anak sudah mulai mencoret-coret. Itu artinya orangtua sudah bisa mulai melatih motoriknya untuk menulis. Belajar menulis dapat kita mulai dengan mengajarkan anak memegang pensil. mengarsir, membuat garis lurus, garis zig-zag. garis lengkung. dan seterusnya. Ciri lainnya adalah bila anak sudah mulai mengenal warna, konsep bentuk dan sudah bisa konsentrasi. Itulah saatnya anak siap untuk belajar membaca.

v Kenalkan Metode Fonik
Dalam berbahasa, seorang anak akan mengalami berbagai tahapan. Untuk menerapkan metode pengajaran berbahasa yang komprehensif, hendaknya dicoba mengembangkan metode fonik. Metode ini, ia adaptasi dari metode Montessori yang kemudian diaplikasikannya untuk pengajaran bahasa Indonesia. Metode ini bagus karena sangat runut, dari mulai mengenal bunyi, suku kata, kata sampai kalimat.
Metode fonik terbagi menjadi 3 level, mulai mengajarkan bunyi-bunyi dalam bahasa Indonesia. Pada level 1 anak diajarkan untuk mampu menggabungkan bunyi-bunyi menjadi kata. Pada level 2, anak sudah mulai lancar membaca karena di sana sudah tidak ada proses mengeja lagi. Pada level 3 anak sudah mulai membaca bermakna, karena dia sudah mengenal intonasi, mengenal kata inti dan bukan inti, mengenal kata depan, mengenal kalimat, jika ada tanda baca titik harus selesai, koma belum selesai. Selain itu, anak juga sudah tahu mana subyek, predikat dan obyek.

v Usia Keterampilan Berbahasa ......
0-2 bulan menyimak bunyi dan intonasi.
2 - 3 bulan mengucapkan bunyi vokal a. a. a.
3 - 4 bulan menyimak bahasa tubuh oraug dewasa di sekitarnya.
4 - 6 bulan mengucucapkan bunyi bilabial ma ma.
6-9 bulan mengucucapkan bahasa bayi babbling.
10 bulan mengucapkan bahasa pertama yang bermakna.
1½ - 2 tahun kosakata berkembang sampai 2000 kata , mengenal kata benda, mengenal kalimat sederhana.
2 - 2½ tahun anak tertarik dengan buku, anak tertarik dengan kegiatan menulis dan coret-coret.
2½ - 5 tahun kemampuan menyimak. bebicara, menulis dan membaca berkembang pesat.
- 9 tahun masa akhir anak belajar membaca.

v Ajari Membaca, bukan hanya Menghapal
Resminya, anak usia prasekolah belum “wajib" bisa membaca, tetapi, dengan berbagai alasan, banyaknya calon siswa dibanding kelas yang tersedia misalnya, banyak SD memberlakukan ujian masuk bersifat kemampuan calistung (membaca. menulis dan berhitung) pada calon siswa.
Efeknya, orangtua pun sibuk mengajar anak pandai calistung sejak dini. Tak heran diliriklah berbagai metode yang diharapkan bisa membuat anak cepat pandai membaca, menulis dan berhitung, bahkan kalau perlu sejak bayi!
Menanggapi banyaknya orangtua bersemangat mengajarkan para balita (bahkan bayi mereka) agar pandai membaca, cukup banyak psikolog yang menyatakan ketidaksetujuannya. Sebab, perkembangan anak sesungguhnya memiliki tahap kematangannya sendiri. Logika berpikir anak akan berkembang dengan sendirinya. Yang penting bagi orangtua justru menyiapkan stimulus-stimulus yang sesuai dengan kondisi tumbuh kembangnya anak:
Pada dua tiga tahun pertama, tumbuh kembangnya anak yang sehat akan berfokus pada perkembangan fisik-motoriknya, lalu relasi dengan orangtua kenyamanan diri, rasa aman yang terbangun, lantas kemampuan berkomunikasi termasuk kemampuan berbahasa, mengelola ekspresi verbal-nonverbal, yang semua ini bisa didapat lewat eksplorasi dan interaksi dengan lingkungan.
Kapan anak bisa disebut siap belajar calistung? Setelah anak mampu mengkomunikasikan kebutuhan, bisa berkomunikasi 2 arah, kemudian motorik halusnya sudah baik, bisa menggenggam, menarik garis, bikin lengkung, ini adalah perkembangan kemampuan artistik anak sebelum belajar menulis.
Begitu juga halnya dengan membaca dan matematika. Anak mulai mengenal bentuk-bentuk standar itu pada sekitar usia 3 tahun. Kenal segitiga, segiempat, itu kan dasar untuk membaca. karena setiap huruf kan punya keunikan, misalnya ada yang bentuk lingkaran, ada yang bersudut-sudut. Begitu juga untuk mengajarkan konsep angka, harus tahu dulu konsep banyak sedikit, yang merupakan dasar penggolongan dalam matematika.
Dan lagi-lagi, cara menstimulasi perkembagan logika ini pun yang terbaik adalah dilakukan lewat bermain, bereksplorasi, sesuai tahap awal tadi; ada perkembangan motorik-sensasi-komunikasi dan kemampuan mengekspresikan diri.
Lantas bagaimana dengan beberapa metode yang disebut-sebut bisa membuat balita atau bayi pandai membaca? Dengan metode flashcard misalnya? Metode itu diciptakan untuk mempermudah proses belajar. Tapi yang harus dipahami, basicnya, yang harus dibangun adalah interaksi yang berkesesuaian dengan tahapan tumbuh kembang anak. Sementara metode penggunaan flashcard atau showcard yang dimaksudkan untuk mengajarkan anak membaca pada usia dini justru mem-bypass tahapan-tahapan ini.
Sebab, pada tahapan balita, anak sesungguhnya belum paham makna kata pada showcard, bahkan belum memahami apa artinya titik-titik, apa artinya lengkung, dan sebagainya.
Kalau sebelum emosinya berkembang, sebelum anak tahu bagaimana mengekspresikan diri, kita sudah memasukkan hal-hal yang bersifat kognitif yang terjadi kemudian anak bukan bisa membaca melainkan hanya sekedar memiliki hapalan. Dan kalaupun anak bisa menghapal, tetapi karena hal itu tidak meaningfull, tidak bermakna, ya tidak berguna juga buat kehidupan dia sehari-hari nantinya.
Memang diakui. kalau membangkitkan minat baca memang bisa dilakukan sejak bayi. Dengan mengenalkan. memperlihatkan, atau membacakan buku, misalnya. Tetapi, untuk mengajarkan membaca, menulis serta berhitung yang bermakna. jelas harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan khas tadi.
Kalau anak sudah baik motoriknya. baik komunikasinya, emosinya dikembangkan. pengajaran konsep yang terdapat dalam pelajaran membaca, menulis dan berhitung bisa dimulai tanpa dibatasi kekhususan metode-metode tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar