Senin, 28 Desember 2009

Peran Orangtua dalam Mencintai Buku

Peran Orangtua dalam Mencintai Buku


Buku adalah jendela dunia
Kita sering membaca berbagai slogan berisi sanjungan terhadap buku. Memang, siapa pun tahu betapa buku amat sangat bermanfaat. Sanjungan-sanjungan terhadap buku membuktikannya.
Namun, sering dikeluhkan di berbagai kesempatan tentang rendahnya tingkat minat baca anak anak atau tentang buku yang bukan menjadi media yang dekat dengan anak-anak. Ketimbang buku, anak-anak kita kebanyakan lebih menyukai media TV, videogame, internet atau HP. Kalau toh membaca buku, yang disukai anak-anak adalah komik.
Sebenarnya, kunci kedekatan anak-anak dengan media ada pada orangtua. Termasuk buku. Anak menyukai media tertentu umumnya karena dikenalkan atau dikondisikan oleh orangtuanya. Ini makna eksplisit yang kita tangkap dari keterangan Rasulullah Saw bahwa setiap anak itu dilahirkan dalam kondisi fitri, hanya saja kedua orangtuanya yang membentuk pribadinya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (Muttafaq Alaih).
Karena itu tidak heran jika para ahli menyebutkan bahwa kunci penumbuhan minat baca sesungguhnya ada pada orangtua. Orangtualah yang harus mempersiapkan kondisi-kondisi yang membuat anak menyukai buku sejak kecil.
Banyak sekali orangtua yang menyadari ini, namun melakukan cara yang salah sehingga sasaran utama (yakni anak menyukai buku) menjadi tak tercapai. Padahal, yang seharusnya dilakukan orangtua sebenarnya sederhana saja: pengkondisian. Ini seharusnya dilakukan dengan cara yang halus.
Cukup sering dilakukan orangtua adalah hanya menyuruh anak-anak. Anak-anak didesak untuk membaca, membaca, membaca. Anak-anak dikuliahi tentang manfaat buku. Tetapi si orangtua sendiri tidak membaca buku. Dengan kata lain, orangtua tidak memberikan teladan bahwa dirinya juga menyukai buku.
Anak-anak adalah peniru orangtua. Jadi, jika ingin anak membaca, salah satu yang harus dilakukan orangtua adalah menjadikan dirinya sendiri untuk dekat dengan buku. Anak yang melihat orangtuanya terbiasa dengan buku juga umumnya akan melakukan imitasi.
Cara lainnya adalah dengan memberikan gambaran kepada anak bahwa karena demikian pentingnya buku maka buku adalah bagian hidup yang tak terpisahkan. Karenanya buku "harus hadir di mana-mana'".
Jadi, buatlah buku hadir memenuhi rumah. Anak harus hidup di lingkungan buku. Jadi, penuhilah rumah dengan buku. Kalau perlu, tempelkan stiker, "Ruang tanpa buku sama seperti tubuh tanpa jiwa".
Di rumah, buku harus diletakkan di tempat yang mudah dijangkau anak-anak. Ironisnya, sebagian orangtua amat menghormati buku. Demikian hormatnya, sehingga buku ditata sangat rapi dan ditaruh di tempat yang tak mudah dijangkau (agar tak berantakan). Akibatnya, anak-anak hanya akan menganggap buku sebagai hiasan pemanis rumah, bukan benda yang ramah bagi mereka dan dapat dibuka-buka kapan pun mereka mau. Pengkondisian lainnya adalah melalui kebiasaan rutin. Misalnya. melalui kegiatan belanja bulanan. Untuk menanamkan ke anak bahwa buku itu penting dan wajib kita baca, tak usah dengan kata-kata, tetapi cukup dengan misalnya setiap kali menyelipkan buku di antara daftar belanja bulanan. Dengan demikian kita memberikan gambaran bahwa buku sama pentingnya dengan makanan yang kita harus konsumsi.
Hal lain yang dapat dilakukan orangtua adalah selalu memberi hadiah buku jika ingin menghadiahi anak-anak. Kalau toh buku tidak menjadi hadiah tunggal. paling tidak buku menjadi salah satu dari hadiah yang diberikan. Ini, lagi-lagi dapat membentuk kesan tentang betapa pentingnya buku. Sayangnya harga buku tidak murah. Tak semua keluarga dapat memberikan kondisi ideal kepada anakanaknya dengan menyediakan buku sebanyak-banyaknya di rumah. Karenanya. diperlukan siasat lain.
Untuk mendekatkan anak dengan bacaan, yang dapat dilakukan adalah sering-sering mengajak anak ke perpustakaan atau ke taman bacaan. Tetapi, dalam rangka memberi teladan tadi, yang seharusnya dilakukan orangtua di perpustakaan atau taman bacaan adalah ikut memilih buku dan membaca. Anak-anak senang melalukan kegiatan bersama dengan oranotuanya. Sayangnya, di perpustakaan atau taman bacaan, banyak orangtua yang hanya sekedar mengantar anaknya. Mereka tak ikut membaca.
Siasat lainnya adalah rajin-rajin mendatangi pameran buku. Saat pameran buku kita dapat memperoleh buku dengan harga lebih murah karena biasanya ada diskon.
Yang lainnya adalah membeli di pasar buku bekas atau loak. Jika kita jeli, banyak buku bagus dijual di pasar loak dan tentu harganya jauh lebih murah. Tak jarang buku masih baru. cuma terlalu lama di gudang.
Walaupun buku adalah media yang sehat, sama seperti media lainnya, tetap saja orangtua memantau buku apa yang dikonsumsi anaknya. Tidak semua muatan buku baik bagi anak-anak. Seleksi tetap diperlukan agar anak mengkonsumsi isi buku yang baik baginya. Karenanya, orangtua juga harus juga membaca buku-buku yang dikonsumsi anaknya. Syukur-syukur orangtua dapat membaca lebih dahulu, baru jika "aman" memberikannya kepada anaknya. Seleksi nomor satu ada di tangan orangtua.
Jika orangtua dan anak sama-sama membaca, terbuka peluang untuk mendiskusikan buku tersebut. Dan ini adalah kesempatan emas yang baik sekali untuk mempererat komunikasi antara orangtuaanak.
"Buku adalah jendela dunia" kata orang bijak. Nah, menghadirkan "dunia" bagi anak kita kuncinya memang ada pada kita, orangtuanya.

v Kuasai Buku lebih Efektif
Seorang anak yang telah pandai membaca bisa kita maksimalkan untuk melahap beberapa buku dalam sebulan Minimal tiga, lima atau hanya satu. Dengan semakin banyaknya buku yang bisa kita akses, dengan membeli yang bekas maupun yang baru, pinjam dari teman atau dari perpustakaan, hanya menghabiskan satu buku dalam sebulan jelas terasa kurang. Perlu cara yang lebih efektif agar setidaknya isi satu buku bisa cepat dkuasai pikiran seorang anak. Untuk mengoptimalkan maksud tersebut, orangtua bisa menerapkan berbagai kiat sebagai berikut:
1. Kukuhkan Motivasi
Motivasi memang memainkan peran penting dalam setiap pekerjaan. Menetapkan motivasi yang jelas akan membantu mendongkrak minat baca anak dari ogah-ogahan menjadi penuh semangat. Membaca akan memperluas wawasan, membaca adalah gerbang ilmu, banyak baca akan banyak tahu yang akan menggiring banyak kesempatan banyak income, membaca adalah tuntunan Islam. Apapun, kekuatan motivasi ini akan membuat seorang anak siap "berlelah-lelah" tanpa keluh kesah.

2. Skimming Reading
Membiasakan seorang anak untuk membaca prakata penulis, pendahuluan, daftar isi dan penjelasan yang umum terdapat di sampul buku akan membantu dia mendapatkan gambaran tentang isi buku. Begitu sang anak mulai membaca bab satu, otaknya akan segera tahu, ke arah mana buku ini mengajak pikirannya berkelana.

3. Jangan Berhenti dan Berbalik
Satu hal yang seringkali menghalangi kecepatan membaca seorang anak adalah berhenti membaca dan kembali pada kalimat sebelumnya karena merasa belum paham. Seorang anak pada lazimnya merasa perlu mengulang untuk memperoleh pengertian, tetapi yang sering terjadi, ia tetap merasa belum paham, sehingga kembali pada kalimat atau paragraf sebelumnya dan akhirnya menjadi lelah atau bosan. Akibatnya satu buku bisa dibaca berbulan-bulan lamanya karena tak kunjung tamat.
Yang paling baik, sarankan pada seorang anak, hendaknya jangan tergoda bolak balik membaca satu kalimat atau paragraf. Bila ingin beristirahat, batasi halaman dengan pembatas buku dan lanjutkan kemudian dari batas bacaan terakhir hingga buku tamat.

4. Baca Satu Blok Kata
Hindarkan seorang anak terpancang satu dua kata yang tidak sempat tertangkap fokus penglihatan mata. Perlu diingat, mata pada dasarnya mampu menjangkau kata di kiri-kanan fokus penglihatan tanpa harus ikut bergerak ke kiri atau ke kanan. Jadi, saat membaca, tak perlu menggerak gerakkan bola mata tetapi cukup berfokus pada satu kata dan bacalah beberapa blok kata yang ikut "terjaring" di dalam jangkauannya.
.
5. Tangkap Intisari Paragraf
Menguasai isi buku artinya memahami isi bacaan, bukan mengenali kata dan huruf di dalamnya. Jadi, tak masalah bila tak semua kata tidak terbaca olehnya, karena makna paragraflah yang penting. Bahkan, kesalahan kecil dalam penulisan pun tak menjadi soal karena otak anak akan terlatih untuk melakukan "pembenahan kodifikasi" saat memahami isi tulisan.

6. Kurangi Kelelahan yang tak Perlu
Bergumam saat membaca sehingga telinga kita menangkap isi bacaan yang terlafazkan, mufut komat-kamit tanpa suara, kepala bergerak mengikuti arah bacaan ke kiri dan ke kanan, telunjuk mengikuti kata yang jadi fokus penglihatan. Semua ini cuma berujung pada satu kenyataan ABCD: Aih bikin cape deeeeeh.... Kalau sudah capek, semangat membaca tentu memudar. Alhasil, baru sepertiga buku, mungkin kita sudah ingin melempar si buku.
.
7. Pilih Kondisi paling Nyaman
Kondisi tubuh dan lingkungan baca seorang anak juga penting untuk diperhatikan. Membaca dalam kondisi rileks, posisi badan tegak namun nyaman (tidak bungkuk, miring, atau berbaring), dan dengan pencahayaan yang cukup akan membuat tubuh kita lebih slap mencerna isi bacaan dan siap melahap isi buku tanpa cepat lelah.

8. Bawa Buku Kemanapun
Ingin menguasai buku lebih cepat dan lebih banyak, kesempatan membacanya jelas harus ditingkatkan. Yang paling baik, bawa buku kemanapun kita pergi karena anak kita tak pernah tahu kapan kesempatan membaca itu datang. Saat dalam kendaraan umum, saat menunggu teman dalam sebuah janji bermain. Bukan tak mungkin kalau semua waktu ini digabungkan, sebuah buku bisa kita tamatkannya dalam sehari.

v Kiat Menjadikan Buku lebih Awet
Yang namanya ilmu pengetahuan atau fiksi sekalipun, meski lama disimpan, bisa tetap awet jadi bahan bacaan. Tetapi kualitas fisik bukunya sendiri belum tentu sama tahan. Karena itu, agar koleksi buku bisa lebih panjang umur, urusan perawatannya harus pula jadi perhatian.
1. Musuh utama buku adalah debu. kelembaban dan ngengat/kutu buku. Kelembaban bisa merusak buku. memunculkan jamur, bahkan memancing ngengat atau kutu buku untuk tinggal dengan leluasa. Maka, pilihlah tempat penyimpanan atau rak buku yang kering, dan letakkan pada ruangan yang cukup lapang, berjendela atau paling tidak memiliki ventilasi udara yang baik.
2. Sebaiknya pilih rak buku yang terbuka atau tanpa penutup. Bila perlu memiliki penutup, lebih baik bila memilih yang terbuat dari kaca dan mudah dibuka tutup atau digeser.
3. Sedapat mungkin, jangan meletakkan buku terlalu dekat dengan lantai karena bisa memancing kelembaban, kecuali rak buku itu memiliki kaki.
4. Agar halaman buku tidak cepat melekat satu sama lain, apalagi untuk buku-buku yang jarang dibaca ulang, usahakan posisi buku diletakkan berdiri dengan punggung buku mengarah vertikal.
5. Jangan membariskan buku terlalu rapat dan jangan pula membebani buku dengan tumpukan benda-benda berat di atasnya. Buku akan mudah kusut, melengkung, halamannya melekat atau bahkan rapuh jilidannya.
6. Bersihkan rak buku dari debu secara teratur. Bukan hanya di bagian atas dan luar rak buku tetapi juga di bagian dalam rak buku, bahkan pada buku itu sendiri.
7. Sesekali angin-anginkan buku di udara terbuka. Bukan hanya dengan menurunkan buku dari raknya, tetapi juga dengan cara membuka dan mengangin-anginkan lembaran halamannya. Cara ini akan mencegah kemungkinan terjadinya kelembaban sekaligus untuk mewaspadai kalau-kalau ada jamur, ngengat atau kerusakan yang terjadi "diam-diam" pada buku. Jadikan ini sebagai sebuah kegiatan rutin keluarga, misalnya sebulan atau dua bulan sekali sambil membersihkan rak buku dari debu.
8. Taburi pojok-pojok rak buku dengan kamper atau kapur barus demi mencegah datangnya kutu buku atau ngengat. Pilih yang tidak berwarna, karena kamper atau kapur barus yang berwarna bisa meninggalkan noda pada buku sesudah bahan utamanya habis.
9. Untuk mencegah kelembaban dapat juga dimanfaatkan bahan penyerap kelembaban semacam silica gel atau serap air dan ganti setiap kali sudah penuh dengan air.
10. Jangan melipat halaman buku ke arah belakang saat membaca buku, karena bisa memunculkan bekas guratan dan mempercepat kerapuhan jilidan buku. Gunakan pembatas buku sebagai penanda halaman bacaan Anda.
11. Begitu pula, jangan membiasakan diri meng-kopi buku karena akan merapuhkan jilidan buku yang ditekan kuat-kuat saat difotokopi.
12. Akan sangat membantu perpanjangan umur buku bila setiap buku yang baru kita miliki diberi sampul plastik yang agak tebal (sampul mika, dapat dibeli gulungan di pasar tradisional), diberi nama dan dicatat dengan jelas setiap kali ada yang meminjamnya. Sayang sekali kan, kalau buku yang sudah kita beli, kita sampul, dirawat dan dibersihkan malah hilang tak tentu rimbanya karena kita lupa siapa yang meminjamnya.
Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa. Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka (QS. Maryam [19]: 12 – 14).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar